Rasa yang Hadir

1263 Kata
Pagi yang cerah. Matahari mulai muncul dengan leluasa. Burung pun tak henti-hentinya berkicau. Mungkin sedang bernyanyi, atau mengobrol, namun kicauannya terdengar merdu, meski semua insan tak mengetahui artinya. Muhammad Ikhsan Abdullah, lelaki dingin ini adalah anak dari usdadz yang cukup terkenal di ibu kota Indonesia ini. Abinya memiliki sebuah pondok pesantren yang cukup besar. Namun anehnya, Ikhsan tidak dibolehkan sekolah di pesantren. Tapi justru abinya menyuruh Ikhsan sekolah di SMA terfavorit di Jakarta ini. Yaah, itu adalah keputusan abinya, agar kelak Ikhsan bisa sukses. Tapi saat ini Ikhsan harus fokus dengan UN yang tinggal 2 Bulan lagi agar dapat membanggakan abinya itu. "Kak Umar!! Ayo cepat!!" teriak Ikhsan pada kakaknya yang berbeda 2 tahun itu. "Iya bentar ini lagi pake sepatu." seru sang Kakak. Umar mengantar adiknya ke sekolah, karena sekolahnya diliburkan, akhirnya ia harus mengantar Ikhsan ke sekolahnya. Mungkin bisa dikatakan lucu, kenapa Ikhsan tidak mengendarai motornya sendiri, tanpa diantar? Jawabannya cukup simple bagi Ikhsa. Belajar pake motor mah gampang, nanti juga bisa. Sekarang mah fokus dulu belajar buat UN, mungkin itu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Sesampainya di sekolah, Ikhsan bertemu dengan Jelita, hingga akhirnya mereka ke kelas bersama. Banyak laki-laki dan perempuan yang terpaku melihat mereka berdua, mereka iri dan cemburu. Secara kan Jelita dan Ikhsan adalah orang yang banyak disukai kaum adam dan hawa. Di sisi lain, Rischa baru saja keluar dari mobil putih miliknya. Dan didapatinya pemandangan 2 orang populer di sekolah. Siapa lagi? Mereka Ikhsan dan Jelita. Semakin hari, titik di hatinya semakin membesar. Iti adalah titik kecemburuan. Entah karena apa. Apa itu tanda Cinta?? Rischa? Cinta? Mr. Dingin itu?? Hatinya terus menolak bahwa itu Cinta. Tapi bagaimana bisa seorang hamba menolak keputusan yang Allah buat? Ya... Fitrah itu hadir di hati Rischa. Tapi Rischa berusaha untuk tidak peduli. Meskipun hatinya merasa sesak dan sakit. Tapi Rischa terus beraggapan bahwa Ikhsan hanya temannya, tidak lebih dari itu. **** Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi murid kelas 9-F. Free class 4 jam pelajaran adalah hal yang membahagiakan tiada tara. Sebagian siswi ada yang mengobrol, menggosip, ada juga yang memainkan ponselnya. Sedangkan para siswa sudah persiapan membawa laptop untuk main PS. Mendengar adanya kabar itu, Rischa malah ke luar kelas. Dia lari ke Taman untuk duduk dan membaca novel yang selalu dibawa nya. Udara yang sejuk pagi ini membuat Rischa semakin nyaman berada di sana. Meskipun matahari telah menyinari sekolah itu, namun keadaan disana tetap sejuk karena terdapat banyak pohon yang rimbun di Taman itu. "Ternyata kamu denger aku juga, kalo aku benci wanita menangis." Ucap lelaki misterius itu berhasil membuat Rischa terpaku. Rischa tidak bisa menoleh dan entah itu kenapa. Mungkin dia terlalu gugup untuk menoleh. "Makasih udah balas pesan kemarin." Lanjut lelaki misterius itu lagi. Jantung nya semakin berdegup kencang. Rischa berusaha menoleh namun sangat sulit sekali menggerakan badannya saat itu. Dengan penasaran, Rischa pun berusaha menoleh. ???? Apa?? Tidak ada siapapun disana. Rischa kesal karena tidak menoleh tadi. Rischa mendengus kesal, dia kira lelaki misterius itu akan tinggal diam untuk menunggunya. Rischa memandangi keadaan sekitarnya, dia melihat... Jelita.. Dan.. Ikhsan? Mereka berdua tertawa ria. Deg! Kali ini jantung Rischa kembali berdegup kencang. Sakit. Kenapa Ikhsan bisa tertawa dengan wanita cantik itu? Sedangkan ketika bersama ku sikapnya sangat dingin... Ah kurasa ini benar-benar fitrah yang Allah anugerahkan kepada ku. Em... Mungkin juga ini cinta. Batin Rischa. *** 3 Bulan kemudian.. UN sekolah telah terlaksanakan dengan lancar, semua murid di sekolah itu alhamdulillah lulus 100%. Dan peraih nilai tertinggi adalah Rischa, Rischa selama ini hanya fokus pada UN. Sedangkan nilai tertinggi kedua adalah Ikhsan. Rischa dan Ikhsan memang murid yang cerdas. Bahkan nilai UN mereka hanya selisih sedikit saja. Rischa sedang duduk di bangku depan kelas 9-H. Ia tengah menunggu Salsha yang sedang ke toilet. Tiba-tiba Ikhsan datang. "Haii. Selamat, kamu emang hebat," ucap Ikhsan dengan garis lengkung tipis dibibirnya. Kenapa? Kenapa bukan senyuman lebar yang kamu Kasih san?? Batin Rischa. "Kamu mau lanjut sekolah ke mana Cha?" tanya Ikhsan. "Insyaallah ke pesantren," jawab Rischa. "Ooh, semoga sukses ya Cha." "Amiin.. Makasih, kamu sendiri mau dilanjut kemana?" kali ini Rischa yang bertanya. "Aku ke SMA dekat rumahnya Fahri, kamu tau kan?" "Oh ya.. Semoga sukses juga di sekolah favorit itu." "Ya makasih." Itu adalah ucapan terakhir Ikhsan. Lantas Ikhsan pergi, meninggalkan Rischa tanpa pamit. Wajahnya kembali datar. Berbeda jauh ketika bertemu dengan Jelita yang selalu ceria bila bertemu, dan itu membuat Rischa kesal. Hati Rischa sangat sakit. Perlakuan Ikhsan itu terlalu pilih-pilih. *** Acara perpisahan telah selesai. Dan Rischa tidak berbicara lagi dengan Ikhsan sejak pertemuan itu. Namun, Rischa selalu melihat Ikhsan dan jelita berbincang, bercanda, dan tertawa bersama. Hatinya sakit. Meski perasaan dalam hatinya belum terlalu tumbuh, namun kecemburuannya semakin kuat. Rischa selalu berharap, kelak apabila dia di pesantren tidak ada lelaki, agar tidak ada rasa yang tumbuh lagi dalam hatinya. Hatinya terlalu berharap pada manusia yang selalu berujung dengan kekecewaan. Tanpa sedikit ia berpikir, bahwa berharap pada Allah akan selalu berujung dengan ketenangan tanpa kegelisahan sedikitpun. Berharap kepada manusia selalu berujung kekecewaan. Namun, kenapa hati ini masih berharap pada dia?? Jelita mendekati Rischa yang sedang membaca buku. Rischa asik membaca buku yang ditulis oleh penulis idolanya, sedangkan teman yang lainnya tengah sibuk berfoto ria untuk kenang-kenangan. "Hai Cha, ko kamu ga ikut foto sih?" tanya Jelita. "Emm. Engga Jel, malas. Lebih baik baca buku aja," ucap Rischa sambil melanjutkan bacaannya. "Ayolah Cha, aku mau foto bareng kamu sama yang lainnya. Ayuk!" ajak Jelita. "Enggak ah," jawab Rischa malas. Tiba-tiba Ikhsan datang dengan wajah yang.... Tentu saja datar.. "Udah kamu ikut aja Cha, lagian kamu disana cuman senyum terus udah kalo udah beres difotonya," ucap Ikhsan. "Memangnya apa pengaruhnya jika aku ikut berfoto? Ga ada kan? Mendingan kalian aja deh yang foto. " "Ayo Cha jangan egois," pinta Jelita. Hingga akhirnya Rischa menurut. Itu semua sebab Jelita memohon dengan wajah memelas, bukan karena Mr. Dingin itu. Dengan berat hati Rischa menuruti permintaan gadis yng lahir di Belanda itu. Di sebuah aula sekolah yang pintunya tertutup, Rischa mencoba membuka pintu itu. Jelita dan Ikhsan menyuruhnya untuk pergi ke aula duluan. Rischa membuka pintu, dan.... Gelap? Ada apa ini? Apa dirinya sedang dikerjai?? Saat itu Rischa sudah masuk ke dalam. Dan tiba-tiba pintu aula itu tertutup dengan sendirinya. Sedangkan Rischa hanya berdzikir, terus menyebut nama Allah. Aula itu sangat gelap sekali, tak ada titik terang sekalipun. Rischa semakin ketakutan. Tiba-tiba.... "HAPPY BRITHDAY RISCHA!!!" Semua teman-temannya mengucapkan itu, sedangkan Rischa sendiri tidak ingat dengan ulang tahunnya itu. Rischa tersenyum. Maniss sekali. Dan senyumannya itu membuat jantung seseorang yang baru masuk ke aula berdebar. "Makasih ya teman-teman," ucap Rischa. "Makasihnya sama Ikhsan aja," seru Salsha. "Kenapa?" "Soalnya kita ga akan ngucapin kamu kalo bukan karena Ikhsan." Deg! Jantung Rischa berdebar 5 kali lebih kencang dari biasanya. Bagaimana tidak? Mr. Dingin itu kenapa bisa tau ulang tahunnya? "Em.. Makasih San," ucap Rischa ragu. Ikhsan tersenyum manis. Untuk pertama kalinya bagi Rischa, "Ini hadiah buat kamu. Jangan lupa diamalkan," ucap Ikhsan sambil menyodorkan kotak sedang berwarna biru muda. Apa? Biru muda? Itu adalah warna kesukaan Rischa. "Lebih baik kamu buka di rumah kadonya," ucap Ikhsan. "Mm... Iya... Eh makasih ya san," ucap Rischa malu. Dan itulah pertemuan terakhir Rischa dan Ikhsan. Rischa tidak menyangka bahwa dia akan mendapatkan hari istimewa seperti saat itu. Harinya semakin istimewa saat yang merencanakan semuanya adalah Ikhsan. Jantung Rischa terus bedebar, bahkan sampai rumahpun jantung nya masih berdebar. Sampai di rumah Rischa mengucap salam, setelah ada yang menjawab Rischa pergi ke kamar sambil senyum-senyum sendiri. Di kamar, Rischa mencoba membuka kado dari Ikhsan yang berisi.... Deg!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN