CHAPTER 11

1540 Kata
Axel kembali ke vila dan gadis api itu sedang mondar-mandir di sekitar api unggun miliknya. Pada saat Axel berbalik tadi, iblis wanita itu putus asa sekali, ia kaget dan tidak terima dengan pernyataan pria itu, wajah cantiknya mengerutkan kening dan terus menjerit. Orang-orang di dalam vila berlari keluar kamar berkumpul di lobi vila ingin melihat apa sebenarnya yang terjadi, tetapi mereka juga takut. Tentu saja di tengah malam ada teriakan dari luar yang pasti membuat kaget dan terbangun, tetapi mereka mengurungkan niat mereka untuk melihat, karena tidak berani keluar meski penasaran. Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan tidur mereka. Axel dan kedua kakak beradik itu juga kembali ke kamar mereka, apalagi Marion langsung menjatuhkan diri ke kasur karena terlalu mengantuk, tetapi untuk Axel dan Maria mereka tidak langsung tidur walau malam ini telah larut. *** Pagi-pagi sekali, Axel tidak bisa bangun, tetapi kedua kakak beradik itu mendekatinya dan mencoba membangunkannya. Setelah Axel membuka matanya, Marion langsung memberikan begitu banyak pertanyaan kepada pria itu. "Bagaimana denganmu? Apakah kau sudah melamarnya? Apakah Kakakku setuju? Apakah dia mengatakan bahwa dia mencintaimu? …." Marion membisikkan sederet pertanyaan beruntun untuk laki-laki itu. “Jelas tidak melamarnya, tapi segera akan memiliki segelnya …” Pangeran menjawab masih dengan rasa mengantuk. "Kapan?" tanya Marion penasaran. "Minggu depan," jawab Axel singkat. Jawaban Axel mengejutkan Marion. "Bagaimana dia bisa melakukannya pada hari itu? 31 Oktober? Hari Halloween? Apa gerbang neraka terbuka dan semua setan turun ke dunia?" batin Marion. Pertanyaan di benak Marion semakin bertambah, fokusnya tetap kepada tingkah Axel. "Mengapa hari itu dan bukan hari yang lain?" tanya Marion. Axel dengan lesu duduk, dan dengan rambut panjang bawaannya yang tergerai indah. "Aku ingin manusia dan iblis tahu bahwa Maria adalah milikku, calon Ratu Dunia Iblis," ucap Axel. Gadis itu tidak mengerti apa-apa tentang dua orang pria yang berbisik-bisik di sebelahnya, tetapi Marion pasti mengerti bahwa Yang Mulia ini ingin semua orang tahu bahwa Putra Mahkota Dunia Iblis sudah akan resmi menikah. "Pertanyaanmu itu terlalu berat! Apakah kau akan membunuhku?" ucapnya kesal kepada Marion. Karena faktanya bahwa iblis itu tidak mengerti tentang prosesi lamaran tersebut, ia merasa tertekan akan pertanyaan Marion, jadi ia memutuskan pergi pagi-pagi sekali. *** Setelah beberapa hari di rumah setelah berkemah, Maria menyeret Axel keluar untuk membeli barang. Di pusat perbelanjaan, Maria memulai tawar-menawar itu, ia terus memilih sesuatu yang tanpa beban, dan bersedia membayarnya serta memperbolehkannya untuk mengambilnya. Setelah mendapatkan barang-barang dengan harga sesuai, Maria meminta pria itu untuk memengangi semua belanjaannya. Ada banyak tas belanjaan di tangan Axel, tetapi Maria tetap ingin melanjutkan belanjanya. "Astaga! Ini masih sedikit dan aku akan memilih yang aku suka .…" Maria masih berkata dan belum menyelesaikan perkataannya tetapi langsung dipotong oleh Axel. "Cukup, aku akan pulang!" ucap Axel dengan marah dan berbalik untuk pulang. Takdirnya adalah Raja Iblis masa depan, tidak mungkin Yang Mulia Pangeran harus membawa barang-barang seperti ini, dalam benak Axel. "Hei, hei? Kenapa kau meninggalkanku?" Maria mengejar iblis yang hampir menghilang itu. Pria s****n ini benar-benar membiarkannya tinggal sendiri di sini, pria itu langsung pulang dan berhenti berbicara dengan Maria. Maria masih di luar untuk membeli makanan lagi, setelah membelinya, lalu ia kembali ke mansion. Marion melihat kakaknya datang, ia segera berlari ke gerbang dan meraih tangan kakaknya kemudian berlutut. "Maria, aku mencintaimu! Maukah kau menikah denganku?" ucap remaja pria itu. Maria membuka lebar matanya, lalu mencubit telinga Marion. "Apa yang merasukimu! Apa yang kau katakan?" teriak Maria sambil menjewer telinga adiknya. "Ai Kakak! Aku hanya memberi contoh untuk Kakak Axel saja!" teriak anak itu balik. "Contoh?" tanya Maria bingung. "Aaa …. Tidak! Tidak ada," ucap Marion langsung menutup mulutnya karena keceplosan. "Anak ini ingin aku melamarmu!" ucap Axel keluar dari rumah dengan piama. Melihat Axel melangkah ke arahnya, wajah Maria memerah dan tiba-tiba pria itu membungkuk ke arah Maria. Menyadari bahwa dirinya adalah seekor nyamuk di sana, Marion segera mundur dari adegan tersebut. "Kamu membungkuk untuk apa?" tanya Maria. "Aku tidak akan melakukannya," jawab Axel sambil mencondongkan tubuh ke telinganya Maria dan berbisik kepada gadis itu, Maria tampak tersenyum dan kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Marion tidak mendengar itu, apalagi mendengar bahwa Axel melamar kakaknya, ia berteriak dengan kencang di halaman mansion. "Siapa yang akan merestui kalian? Apa kau meminta pernikahan dengan Kakakku, kami belum setuju!" teriak anak itu kepada dua orang yang sudah berada di dalam rumah. Marion menginjakkan kaki kesal sambil masuk rumah, ia berjalan ke sofa dan merosotkan diri ke bawah. Maria melihat Marion seperti itu tetapi ia hanya menghela napas dengan bingung. "Kacau! …. Oh ya, aku memiliki cerita lain, aku yakin kau akan bersemangat," ucap Maria kepada Marion sambil menggelengkan kepala melihat ke arah adiknya. "Apa?" tanya Marion. Mendengar ucapan gadis itu, mata Marion menjadi berbinar, dan melupakan amarahnya karena penasaran. "SMP kalian. Sekolah itu dikabarkan memiliki hantu! Terakhir kali, ada seorang anak yang lewat di sudut tersembunyi itu, ia merasakan ada sesuatu yang lewat, dan ada yang berteriak keras di belakangnya, anak itu berteriak lalu lari kembali ke kelas. Malam ini, dia dan teman-temannya akan pergi ke sekolah pada malam hari untuk membuktikannya," jelas Maria. "Kakak, apakah kau akan pergi?" tanya Marion penasaran. "Pastinya!" Maria menjawab singkat. Mendengar jawaban kakaknya, Marion tampak bersemangat. "Yuhu …" ucap Marion langsung bergegas ke arah kakaknya kemudian menjabat tangannya. "Maksudnya?" tanya Maria bingung. "Aku ingin ikut juga!" ucap Marion dengan semangat. "Serius, kau setuju begitu cepat?" tanya Maria kepada adiknya. "Apakah kau akan pergi?" tanya Maria lagi untuk memastikan. "Aku ikut!" teriak Marion senang. "Mau pergi ke mana?" tanya Axel turun dari lantai atas dan melihat kedua saudara itu yang duduk berdekatan sambil berbicara. "Kakak! Ayo pergi ke sekolahku malam ini! Ada sesuatu yang bagus!" ucap Marion dengan mata berbinar-binar dan berkata dengan penuh semangat. "Baiklah. Lagi pula aku sedang tidak ada pekerjaan," jawab Axel. Tak lama kemudian mereka pergi ke sekolah Marion untuk membuktikan kebenaran hantu itu. Pukul sebelas malam, ketika semua orang pergi tidur, ada tiga bayangan gelap yang menggantung di sekitar sekolah. "Kakak Axel, bisakah kau menggendongku dan terbang ke sana?" pinta Marion kepada Axel. Axel langsung menoleh ke arah kekasihnya. "Tidak apa-apa," jawab Maria sambil menggelengkan kepala. "Kakak, kami duluan!" ucap Marion dengan semangat kepada kakaknya. "Ya! Masuklah, lagian kau juga tidak bisa memanjat," jawab Maria. Kedua pria itu saling berpegangan tangan dan dengan kekuatan Axel mereka berdua tiba di lantai atas lebih dulu, sementara Maria melihat ke samping, ia berlari ke area yang strategis dan memanjat untuk masuk. Di masa lalu, Maria suka membolos sekolah sepanjang waktu sehingga memanjat pagar adalah cara yang paling mudah. "Aku akan kembali untuk menjemputnya!" ucap Axel kepada Marion setelah memasuki area aula itu. "Pergilah Kak, agar Kakakku bisa masuk," ucap Marion. Axel pergi lagi ke bawah. "Hah?" ucap Marion terkejut dan hanya menoleh ke jendela aula, ia melihat bagian atas hitam kepalanya muncul dari bawah, Marion membungkuk untuk melihat wajah kecil itu, ternyata Maria yang sedang ada di depannya. Maria tiba lebih dulu sebelum Axel datang menjemputnya. Marion terus menatap wajah gadis itu heran. "Mengapa melihatku seperti itu? Temukan iblis wanita itu!" perintah Maria kepada adiknya. “Kakak, ada yang bilang setan ada di WC, ada yang bilang itu di sudut tersembunyi aula, ada juga rumor yang muncul di bawah tangga. Kita cari di sebelah situ dulu, bagaimana?” ucap Marion sambil melihat ke sudut ruangan aula. Aula itu tersembunyi dan berada di paling belakang sekitar sekolah. "Aku akan melihat di aula, kalian berdua pergi melihat ke kamar kecil!" perintah Maria. Ketiga orang itu berpisah. Setelah dua lainnya pergi ke WC. Maria berjalan sendirian ke sudut ruangan, tiba-tiba sesuatu lewat di belakangnya, dan ketika ia menoleh, tidak ada siapa-siapa. Maria berlari cepat ke sudut ketika tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh dari tangga menuju anak tangga lainnya. "Apa itu?" batin Maria tampak penasaran, jadi ia pergi ke dekatnya. Tangga memiliki bau amis yang mengarah dari atas dan ke bawah hingga ke dasar tangga. Namun, itu tidak berakhir di situ, itu mengarah ke bawah tangga juga. Maria menyalakan senter, tampak ada cairan di sana, cairannya adalah darah, tidak setetes demi setetes tetapi seperti aliran air. Cairan itu jatuh menuruni tangga dari lantai dua. Maria melihat ke dalam, mata hitamnya yang indah semakin melebar, ia buru-buru menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan jeritan atau suara mual. Maria segera melangkah mundur, pemandangan itu menarik perhatiannya. Kepala seorang siswi berlumuran darah, rambut menutupi wajahnya, tetapi masih terlihat apa yang terputus dan salah satu sudut wajahnya berdarah, matanya terbuka lebar, dan luka di wajahnya masih terbuka. Tiba-tiba kepala itu bergerak dan berpindah ke arah Maria tanpa kesulitan apa pun. Kepala itu bergulir padanya. Rambutnya tidak bisa lagi menutupi wajahnya yang berlumuran darah, dan menampakkan wajah yang samar—satu mata hilang, sebagian besar kulit hilang, wajahnya berlumuran darah dan perlahan menunjukkan senyuman horor yang terdistorsi. Maria berlari, tetapi kepalanya menggelinding lebih cepat. *** WC pria di lantai 3, Axel dan Marion terjebak di dalamnya, mereka berdua mencoba mendobrak pintu untuk melarikan diri. Kedua orang ini bersama mencari hantu di sini karena keberanian Marion tidak sebaik Maria. Mereka berdua terus mendobrak pintu sampai membuat Marion menangis, tetapi tidak ada hasil untuk pintu itu terbuka. Di luar, pintu terhalang oleh mayat tanpa kepala, darah berlumuran di lantai, tubuhnya terluka compang-camping sehingga membuat genangan darah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN