CHAPTER 10

1521 Kata
Malam yang hening, semilir angin bisa terdengar di sekeliling pepohonan, karena saat ini bulan Oktober, jadi hutan ini cukup dingin. Axel melangkah keluar, dan mengenakan pakaian setelan hitam, serta mengenakan jubah hitam pekat. Perkemahan mereka kali ini tidak memakai tenda mereka hanya membuat acara di hutan tetapi untuk tidur mereka semua menyewa vila di dekat hutan. Ketika Axel keluar dari vila, hal pertama yang ia rasakan adalah baunya. Bukan bau manusia, bukan bau bunga, tetapi aroma kebakaran. Selain itu, ia merasakan napas yang tidak asing itu ada di dekatnya. Dalam semak-semak itu pasti ada seseorang. Axel bergerak cukup cepat tanpa suara, indranya bekerja terus menerus untuk mendeteksi bahaya. Itu benar, karena ia adalah orang yang menjalani begitu banyak pelatihan iblis seperti sekarang. Tubuh itu adalah satu-satunya pewaris Raja Iblis, bahkan ia telah menanggung hal yang paling mengerikan. Menyadari bahwa orang di semak-semak tidak dapat menyakitinya sepenuhnya, ia merasa lega. Axel memanjat pohon terdekat untuk mengetahui bahwa yang ada di semak itu adalah Maria. "Untuk apa si bodoh ini datang ke sini," pikir Axel. Tiba-tiba, Axel dalam mood yang buruk dan ingin menggodanya, dan langsung melompat dari atas. Axel terjatuh tepat menimpa Maria. "Apa kau akan membiarkanku mati?" teriak Maria berjuang di bawahnya karena sulit bernapas, keduanya berbaring tengkurap. Bagaimana tidak, Axel seperti melompat ke atas kasur, padahal itu tubuh manusia. "Bagaimana kau tahu ini aku, Nak?" tanya Axel tersenyum pada gadis yang diremukkannya. "Kenapa aku tidak tahu? Hanya kau yang punya keberanian untuk menggodaku di sini!" ucap Maria marah sambil terengah-engah, suaranya hampir kehabisan napas. "Hei! Berapa lama kau akan mempermainkanku?" tanya Axel dan secara sadar cepat meninggalkan tubuhnya. "Aku sesak napas, kau mau membuatku mati! Apa kau tahu kau berat?" ucap Maria sambil menarik napas dalam-dalam dan memelototinya. "Kenapa kau ada di sini?" tanya Axel. Sepertinya ia tidak peduli dengan apa yang Maria katakan dan menanyakan pertanyaan itu secara langsung. "Tentu saja, aku … karena aku ada urusan!" jawab Maria tanpa mendengarkan pertanyaannya, ia menjawab secara acuh tak acuh. "Jangan bercanda denganku! Jadi sekarang ini kau ingin menyelidiki rumor itu sebenarnya terjadi atau tidak, kan?" tebak Axel. Maria sepertinya ditebak dengan hati yang hitam milik Axel dan tetap mencoba membantahnya. "Bukan! Aku .… Em pemandangan malam di sini benar-benar keren," jawab Maria terbata-bata. Namun, pakaian yang Maria kenakan saat ini bukanlah pakaian saat hendak tidur tadi, tetapi itu adalah pakaian yang ia kenakan saat pertama kali pergi ke dunia iblis. "Gadis Kecil! Jangan membodohiku, aku tidak bodoh!" Axel mengatakan itu, kemudian berbalik dan berjalan menuju tempat asal bau tadi, Maria melihat bahwa pria itu begitu serius dan ia mengikuti Axel dari belakang. Melihat bayangan punggung Axel dan dirinya di bawah sinar rembulan, itu tinggi tetapi tidak jelas. Tiba-tiba Maria teringat perkataan Marion saat berada di dalam kamar vila. “Kalau kau suka dia, katakan saja, kalau tidak nanti kau akan menyesal! Mungkin setelah kau mengaku, pria itu pasti akan senang. Katakanlah!" Mengingat itu Maria tersipu, jantungnya berdebar kencang. "Menyatakan cinta? Aku menyukainya, tetapi apakah dia menyukaiku? Haruskah aku menyatakan lebih dulu?" Banyak pikiran muncul di benak Maria, sehingga wajahnya memerah. "Hei!" Axel memanggilnya setelah melihat Maria yang melamun, wajahnya yang tampan sangat dekat pada wajah kecil Maria, membuat Maria kaget. Melihat wajah mereka hampir tanpa jarak, jantung Maria seperti akan melompat keluar, wajahnya bahkan lebih merah dari sebelumnya. Menyadari ekspresi ini di wajahnya, Maria tersenyum malu. "Apa kau tertawa? Mengapa melihatku seperti itu? Aku memang cantik!" ucap Maria membingungkan dan menanyakan ini dan itu. "Hahaha .... Gadis ini, apa menurutmu kau memiliki nilai seperti itu? Dan bahkan, seburuk apa pun aku, sepertinya kau tetap tidak akan melarikan diri!" goda Axel sambil berbalik. "Axel!" teriak Maria. Kata-kata Axel sungguh menggodanya, tetapi membuat Maria kesal jadi ia meninju pundaknya dan menendangnya. Posisi mereka juga sudah cukup jauh dari lokasi perkemahan, tetapi aromanya semakin dekat. "Berhentilah bercanda, mari kita lihat dari mana bau itu berasal!" Axel memanfaatkan kesempatannya dengan menggenggam tangan Maria untuk melaju ke depan. Bau terbakar semakin intens, dan asap menyebar ke mana-mana, menyengat matanya tetapi mereka masih berusaha melihat ke depan untuk pergi. Pemandangan di depan mata mereka berdua benar-benar tidak bisa dipercaya. Ini musim dingin, tetapi apakah beberapa hari ini begitu gersang sehingga pepohonan bisa terbakar. Tiba-tiba sebatang pohon besar tumbang, rumor itu muncul di depan matamu. Jauh dari apa yang Maria pikirkan. Dalam imajinasi Maria, seluruh tubuhnya adalah api. Tapi tidak, iblis ini adalah gadis yang sangat cantik, wajahnya lancip, rambut merah panjang melambai tertiup angin, dan mata cokelatnya yang menarik adalah ciri yang paling menonjol dari dirinya. Standar kecantikan, itulah menurut pendapat setiap pria yang ada di dunia ini, ia benar-benar cantik tanpa cela. Gadis itu mengenakan gaun renda hitam ketat yang memamerkan loop seksi yang membuat pria jatuh cinta. Khususnya seorang Axel, ia tetap bersyukur dalam hati ketika melihat keindahan ini, sedangkan Maria tercengang melihat keindahan di depan matanya. Pria di depannya mundur, Maria juga mengikutinya. Tak! Kaki Maria tiba-tiba menginjak cabang pohon kering di dekatnya. Setan itu mendengar suara itu dan berbalik ke arah keduanya. "Siapa ya? Oh, Yang Mulia Axelio, mengapa kau di sini?" ucap gadis itu. Tampaknya Axel tidak peduli tentang keberadaannya, Iblis itu tampak memegang api di pelukannya dan berlari menuju Axel, kemudian memegang salah satu lengan Axel dan menggosok-gosok lengan Axel di sekelilingnya. "Cantik itu indah, tapi mengapa dia berperilaku seperti penggoda?" bisik Maria merasa merinding, ia menatap iblis di sebelah Axel, tetapi melihatnya dengan mata berbinar heran. "Apakah kau cemburu?" tanya Axel sambil tersenyum padanya. Axel harus menjauh, ketika melihat ular betina yang menggeliat di sampingnya. Axel ingin pergi menjauh. Axel mengesampingkan tangannya dan menariknya ke dalam, ia tidak pernah meliriknya dan ia berkata kepada gadis itu. "Vexy, ini tunanganku Maria. Maria ini Vexy. Vexy kau terlihat seperti laki-laki, karena kau jarang bisa mengendalikan kekuatanmu dan juga emosimu," ucap Pangeran Iblis kepada gadis itu. Vexy sedikit terkejut mendengarnya bisa berbicara begitu sekarang, karena yang ia tahu Pangeran sangat pendiam. Namun, tak disangka Ratu masa depan telah membuatnya berubah. "Tapi sekali lagi Putra Mahkota adalah milikku, Maria tidak layak mendapatkannya, hanya Vexy ini orang yang tepat." Vexy berpikir sambil tersenyum. "Pangeran, aku sudah menunggu di tempat ini sejak lama, akhirnya kau ingat untuk mengunjungiku!" ucap Vexy, kemudian api membengkok dan menutup tubuh Axel seperti ular. Vexy melirik Maria sambil tersenyum jijik. Namun, Maria menarik perhatiannya, Maria juga menunjukkan senyuman ramah. "Ah Api … kau adalah seseorang ... tidak, iblis yang cantik dan berbakat. Kau harus sadar bahwa orang yang kau rengkuh adalah seseorang yang sebentar lagi akan memiliki istri. Aku harap kau tidak menyebalkan. Cantik tapi berpikiran kecil atau otak yang termakan api!" ucap Maria dengan tegas. Vexy membuka lebar matanya setelah mendengar kata-kata ini, pupil matanya menyipit, alisnya juga berkerut. Wajah cantiknya begitu keriput dan hitam seperti telah terbakar dalam waktu lama. Axel juga cukup terkejut ketika gadis di dalam hatinya bisa mengucapkan kata-kata tajam seperti pisau. Tiba-tiba Axel merasakan lengannya yang panas, kemudian berbalik dan melihat Vexy sudah menjadi hitam. Seluruh tubuhnya yang putih bersih, tiba-tiba menjadi lautan gumpalan batu bara bergerak. Pang … pung … pang … pung …. Suara gerakan bara panas itu. "Ah dia terbakar, seluruh tubuhnya terbakar. Satu-satunya, gaun renda itu sepertinya tidak terbakar sama sekali, itu adalah kekuatan pedang miliknya. Tapi ini tidak enak dipandang, wanita api itu mengenakan pakaian ketat, dan pakaian ini tidak terbakar sama sekali," ucap Axel. Axel menendang api itu, dan menoleh pada Maria. "Maria, lari, dia bisa saja bergerak cepat seperti ini! Aku di sini berbicara denganmu!" teriak Axel. "Tapi?" ucap Maria ragu. "Apa kau lupa siapa aku? Bagaimana jika dia bisa menyakitimu?" ucap Axel sambil membelai kepalanya dan tersenyum. Maria melihat itu, ia segera lari kembali. Setelah Maria menghilang dari bayangannya, ekspresi Axel segera berubah, dan tatapan dinginnya diarahkan pada wanita api itu. Namun, Vexy dengan cepat merengkuh tubuh Axel. "Dia sudah pergi! Kau bisa bicara denganku seperti biasa!" ucap Axel dengan dingin. "Yang Mulia! Bagaimana kau bisa menyukai anak fana itu? Dia tidak memiliki bakat, tidak memiliki warna. Secara umum, dia tidak secantik aku, mengapa kau harus menikahinya?" ucap Vexy yang sudah kembali ke wujud manusia, kulit putih yang mulus dan wajahnya cantik kembali. “Dari segi kecantikan, di mataku Maria selalu yang terbaik. Dia punya tubuh yang bagus, bisa melindungi dirinya sendiri. Kontrol emosi tinggi dan tidak minta dikasihani oleh orang lain. Singkatnya, dia tidak bisa dibandingkan denganmu!" jawab Axel. "Aku? Apa yang membuatku tidak berharga di matamu? Aku memiliki kekuatan dan kecantikan. Aku tidak ada kekurangan apa pun daripada dia!" ucap Vexy marah. "Kau salah, pada dasarnya kau tidak memenuhi syarat untuk membandingkannya denganmu!" ucap Axel dengan dingin dan mendorong tangan Vexy dari tubuhnya. Vexy menjatuhkan diri ke tanah, rumput hijau di sekelilingnya terbakar. Di benaknya, ada kata-kata kebesaran cinta Axel untuk Maria yang membuatnya sakit dan marah. Kalimat yang baru saja diucapkannya, yaitu "kau tidak layak membandingkan dia denganmu!" Kalimat ini terjebak di kepalanya. Sosok Axel telah hilang dari hadapannya, ia mencengkeram tangannya, kuku-kukunya yang panjang tersangkut di telapak tangannya sendiri. "Yang Mulia adalah milikku! Yang Mulia hanya milikku! Maria, kau harus mati!" teriak wanita api itu bergema di hutan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN