Dalam perjalanan kembali ke mansion, Maria mampir ke sebuah toko untuk membeli penutup mata. Di tempat sepi di taman, ia memanggil Iris.
"Iris! Keluar, aku berikan ini untukmu!" Iris segera muncul dan berlutut di depannya.
"Apa yang Nona katakan kepadaku?" tanya Iris keluar dari tubuh Maria.
"Letakkan ini ke matamu, kau terlalu tinggi untukku memakaikannya. Pakai di sisi kiri untuk menutupinya!" jawab Maria memberikan benda penutup mata itu.
"Baik," jawab Iris menerima penutup mata dari tangannya dan menaruhnya di matanya, balutannya didesain seperti bajak laut tetapi tidak bergambar, hanya dikelilingi warna hitam. Rambut matanya berwarna coklat, bola mata sebelahnya berwarna ungu, wajahnya melekat seolah-olah ia tidak mengalami cedera otak, ia memakai ikat kepala itu untuk menutup bagian otaknya. Maria memberinya tampilan yang keren dan tampan, iblis itu mengenakan pakaian—jeans dan kaos putih yang robek dan berlumuran darah yang membuatnya menakutkan. Seperti tampang orang yang dirasuki setan.
“Dulu, ketika tubuh ini masih utuh, aku sangat nakal sehingga seluruh keluarga tidak bisa menanganiku. Aku mengulang kejadian ini beberapa tahun yang lalu, dan bermain dengan gadis-gadis di sini. Aku mati dan bosan, aku harus pergi ke dunia iblis, dan pengkhianatanku merugikan banyak iblis, jadi aku pergi dan dibuang ke dunia ini, di sini aku mencoba mendapatkan mata kanan dari manusia di dunia ini," jelas iblis menceritakan kisah hidupnya.
"Iris, kau paham kalau aku ini hanya orang biasa, karena keberadaanmu berhubungan dengan duniaku. Jika kau takut mati lagi, jadi aku izinkan kau tinggal di sisiku. Ayo buruan masuk, kita akan pergi!" ucap Maria kepada iblis itu kemudian Iris kembali ke dalam tangannya.
***
Axel pergi ke suatu tempat yang sangat menyeramkan. Di perjalanan banyak ditemukan mayat membusuk dan tulang tengkorak. Ia pergi ke sebuah mansion besar di Dunia Bawah Tanah. Tempat ini sangat kelam, banyak iblis yang berjaga di sana.
"HALO!" Iblis raksasa menyerang Axel, dua detik kemudian ia jatuh dan berguling ke Sungai Asam. Ya, pintu masuk ke mansion hanya memiliki satu jalur, dan dua jalur utama lainnya adalah Asam. Iblis itu jatuh seketika terkorosi tanpa peluang untuk bertahan hidup.
"Siapa? Yang Mulia, angin apa yang membawamu ke sini?"
Seorang pria berdiri di depan gerbang mansion itu, mata birunya menoleh untuk melihat ke arah Axel, sudut mulutnya mengangkat senyum menawan. Tidak peduli bagaimana Axel berpakaian, dari luar ia hanya bisa melihatnya mengenakan celana jeans hitam, kaos lebar bersulam matriks yang terlihat membingungkan.
"Aku datang ingin menanyakan sesuatu padamu, Haww!" ucap Pangeran Axel kepada pria itu.
"Masuk dan katakanlah," ajak Haww.
Bagian dalam mansion itu juga besar sekali, ruangan khusus yang luas untuk para tamu, tetapi jika untuk Axel harus di ruangan kedap suara. Hari ini juga, ruangan suram itu tampak seperti rumah tingkat tiga yang penuh dengan perabotan lengkap. Begitu Axel masuk, Haww mengajaknya ke tempat duduk. Adapun Axel, ia langsung pergi ke sofa, dan mengambil sebotol anggur untuk dituangkan ke dalam gelas kemudian mengocoknya.
"Apakah ada yang masalah dengan Axel?" tanya Haww.
"Ya, aku ingin bertanya tentang seseorang yang bisa dikuasai dan membiarkan iblis tinggal di dalam tubuhnya?" ucap Axel.
"Biasanya, orang seperti itu akan tersedot oleh aura iblis hanya dalam satu hari, dan sehat selama beberapa hari," jelas Haww.
"Tapi hari ini, dia menambahkan lagi iblis untuk tinggal di tubuhnya?" tanya Axel.
"Dia? Bukankah dia calon Putra Mahkota? Jika dia bisa membiarkan iblis tinggal dan tubuhnya bertahan begitu lama, hanya dia yang bisa melakukannya?" ucap Haww.
"Hm … itu …" jawab Axel ragu-ragu mengatakannya.
"Dia adalah orang dalam ramalanku yang bisa menyelamatkanmu," jawab Haww lagi.
"Menyelamatkanku?" tanya Axel bingung.
"Apakah kau melihat tanda tersembunyi di tubuhnya atau apa?" tanya Haww memastikan.
"t**i lalat berbentuk bunga," jawab Axel singkat.
"Bunga labu?" tanya Haww lagi.
"Aku tidak tahu bunga apa itu," ucap Axel sambil menggelengkan kepalanya.
"Jika dia memiliki jejak bunga di pergelangan tangannya, dia akan menyakitimu. Apakah kau juga tahu bahwa orang yang membawa bunga berwarna merah di tangannya akan membahayakan nyawamu?" ucap Haww.
"Kata-katamu plin-plan! Sebelumnya kau mengatakan dia akan menyelamatkanku, kalimat berikutnya mengatakan dia akan menyakitiku. Aku tidak tahu harus percaya yang mana, ayolah!" ucap Axel sambil meminum anggurnya.
"Singkatnya, kau masih harus bersama gadis ini," jelas Haww singkat.
"Baik, aku tahu itu, permisi …" ucap Axel langsung berdiri dari sofa.
"Apa kau tidak tinggal sebentar?" ucap Haww.
"Dia menungguku," ucap Axel.
"Baik," jawab Haww.
Axel kembali ke dunia manusia dan memasuki ke kamar Maria. Melihat Maria sudah tertidur, ia pun berbaring di sampingnya, memeluk dan mencium rambutnya.
"Kau tidak mampu menyelamatkannya, bahkan lebih tidak mampu dari kami, kan Maria?" ucap seseorang kepada Maria.
"Kau berani menghancurkanku, kau bahkan mencuri Putra Mahkotaku! Kau harus mati!" ucap iblis raksasa itu lagi, kemudian Maria merasa jatuh ke dalam perangkap di hutan terakhir kali. Iblis itu berteriak dengan keras kepada Maria, wajahnya setengah terbakar, tubuhnya berubah menjadi ungu, Mulutnya tercabik-cabik oleh tawa buas yang bergema di hutan dan bergegas menghampiri Maria.
"Aaa …" teriak Maria langsung duduk dengan kaget, ia melihat ke sekeliling. Ini kamarnya, Axel memegangi bahunya. Melihat mimpinya barusan, Maria berkeringat dingin yang membuat Axel gugup.
"Kenapa? Mimpi buruk?" tanya Axel.
"Tidak apa-apa, aku akan tidur lagi," ucap Maria.
Namun, nyatanya Maria tidak bisa tertidur lagi. Ia teringat saat kasus jenazah yang hilang yang baru mereda, bahkan adiknya besok akan terlibat di sana. Maria besok akan ikut pergi ke tempat acara perkemahan kelas adiknya yang terdengar angker. Tujuannya agar rasa penasaran mereka dengan rumor yang beredar di hutan ini terjawab.
Beberapa minggu lalu, sekelompok orang datang ke hutan itu untuk mengadakan perkemahan. Namun, keesokan harinya ada yang berubah menjadi mayat hitam. Beberapa orang beranggapan karena tempat ini angker, yang lain mengira bahwa mereka tidak hati-hati dengan api unggun sehingga mati terbakar. Mereka penasaran sehingga ingin mencoba berkemah di sana. Tapi masalahnya harus ada orang dewasa yang mendampingi, dua guru dari sekolah itu mendampingi, Marion tidak yakin karena ada rasa sedikit takut, maka ia memanggil Maria ikut bersamanya.
Keesokan harinya, mereka berangkat dari pagi hingga hampir tengah hari, akhirnya sampai di tempat perkemahan. Beberapa anggota komite termasuk Marion mencari jejak minyak iblis dalam rumor tersebut. Sisanya tinggal di perkemahan bersama guru. Axel tentu tidak ikut bersama karena menganggap rumor ini omong kosong tetapi ia hanya tinggal di perkemahan, Maria juga penasaran, tapi baru akan beraksi pada malam hari.
Setelah berjalan beberapa saat, Marion melihat beberapa ranting dan daun terbakar. Marion mengeluarkan ponselnya, dan mengambil beberapa foto dan kemudian lari pulang ke kakaknya.
"Kakak, aku menemukan ini," Marion berlari ke arah Maria, sehingga ia ditertawakan guru dan beberapa siswa. Sedangkan sejumlah siswa perempuan ada di sekitar Axel, ada kalanya seorang gadis iblis meniupkan udara dingin ke arah mereka tetapi mereka tidak peduli. Andai saja Axel menyadarinya sejak awal, ekspresinya membuat gadis iblis itu sangat puas. Gadis ini sudah lama mulai menyukai pria itu.
Marion berlari ke arah Maria berdiri, tangannya mengulurkan teleponnya dengan gambar yang baru saja diambilnya. Di dalam foto itu—semua pohon terbakar hitam, tetapi hal yang tidak terduga adalah bahwa hal itu menciptakan garis puntir hitam yang tidak mengarah ke kepala. Jadi, kemampuan itu sangat tidak menentu sehingga pemiliknya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Maria asyik melihat foto-foto itu tapi melupakan tunangannya. Axel melihat bahwa Maria tidak lagi peduli tentang ia menyikat gadis-gadis itu, Axel memancarkan aura dingin yang membuat mereka tidak berani mendekat, hanya berani menjauh dan bermimpi. Axel mendekat ke arah Maria, dengan penuh kebencian ia merebut telepon dari tangannya. Foto-foto ini juga membuat Axel tertarik, tidak tahu apa penyebabnya dan sangat ingin mendatanginya.
Pada malam hari, setelah semua orang makan malam, mereka bertiga kembali ke satu kamar di sebuah vila di dekat hutan itu, hanya untuk keselamatan masing-masing orang. Semuanya sudah tertidur, hanya hiasan dua burung bangau yang bersinar karena ada lampu di dalamnya.
Di sisi kiri ada Axel, Marion di tengah dan sisi kanan Maria. Marion mengajukan pertanyaan ke kakaknya tentang segala macam hal di dunia. Namun, kemudian berbalik menanyakan kisah cinta antara Axel dan dirinya. Maria tidak tahu bagaimana mengatakannya karena Marion pasti tidak akan percaya. Maria melihatnya dengan ekspresi berbeda, maka Marion langsung menanyakan cerita lain.
"Kapan kalian berdua akan menikah?" tanya Marion kepada Axel.
"Menikah?" tanya Axel bingung.
"Ini adalah kebiasaan di dunia. Dua orang saling mencintai, berpacaran, maka mereka akan menikah. Saat pernikahan, pengantin wanita akan mengenakan pakaian cantik seperti seorang putri dan pengantin pria mengenakan jas. Seluruh dunia akan tahu tentang pernikahan mereka. Mereka milik satu sama lain. Percaya atau tidak cincin yang kalian berdua pakai, menandakan bahwa kalian berdua milik satu sama lain," jelas Marion kepada Pangeran Iblis itu.
"Apakah kau berpikir itu bagus?" tanya Axel merasa aneh. Setelah mengatakan itu, Marion menoleh ke arah Axel.
"Dan pria yang mengenakan jas pasti akan sangat tampan," ucap Marion juga menertawakannya, tetapi Axel tetap benci kalau menurutnya itu aneh, tetapi juga menarik.
"Tapi sebelum itu, Kakak Kedua melamar Kakak Maria dulu," ucap Marion dengan cepat dengan matanya berbinar.
"Benar-benar aneh," ucap Axel singkat.
"Pertama, berikan dia karangan bunga." Marion berbicara sambil mendeskripsikan. Marion mengambil setangkai bunga sebagai contoh dan berpura-pura memberikan bunga kepada Axel sebagai model untuknya. Kemudian melihat iblis itu bangun, Marion meraih tangan Axel dan berkata untuk mempraktikkannya.
"Lalu berlutut di depannya seperti ini dan katakan 'Aku mencintaimu dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Maukah kamu menikah denganku?', seperti itu," ucap Marion sambil terus mempraktikkannya.
"Oh, aku sangat bahagia. Kakak tampan telah datang kepadaku dan akan menemaniku sampai akhir hidup ini. Aku mau! Aku mau menikah denganmu," ucap Marion sambil menunjukkan ekspresi lemah gemulai seperti wanita muda sejati.
Axel melihat adegan ini dan merasa ini menyeramkan, rambutnya berdiri tegak saat melihat ini. Namun, melamar juga merupakan ide yang tidak buruk, untuk mengetahui apakah Maria mencintainya atau tidak, tetapi tentunya Axel tidak akan menggunakan cara romantisnya, ia akan menggunakan caranya sendiri.
"Baiklah, saatnya tidur! Setelah mendengarkan pembicaraan kalian berdua tetapi aku tidak mengerti apa-apa." Axel mendesak dua orang lainnya untuk tidur, dan dirinya memilih kesempatan untuk pergi keluar.