"Apa di dunia ini ada iblis yang berbuat jahat?" jawab gadis yang lain.
“Sumpah, aku tidak bohong. Pada hari Minggu pagi minggu lalu pengelola taman hiburan menemukan mayat. Wajahnya berdarah, dan hancur tanpa bentuk, mata kirinya hilang. Anggota keluarga korban mengatakan bahwa mata korban normal dan sehat, selain itu aku juga tahu bahwa dia sangat penasaran dengan anaknya yang sangat disayanginya, jadi aku masuk ke sana pada malam hari untuk mencari tahu," ucap gadis itu. Dua gadis itu tidak memperhatikan bahwa di belakang mereka ada orang lain yang sedang memasang telinganya untuk mendengarkan cerita mereka.
"Yang Mulia, apakah kau mendengar itu?" ucap Maria kepada pria di sebelahnya.
"Dengar apa?" tanya Pangeran sambil masih menyesap es krimnya yang lezat.
"Rumah berhantu. Aku ingin pergi ke rumah itu malam ini," ucap Maria.
"Pergilah jika kau mau, tapi aku tidak mau menemanimu," ucap Axel dengan santai.
"Tidak apa-apa!" jawab Maria sambil memelototinya dan terus memakan es krimnya.
Pukul 11 malam.
Maria berada di semak-semak dekat rumah yang ditinggalkan itu. Pakaiannya tetap yang ia kenakan tadi ketika ia mencapai dunia iblis. Adapun pemandangan di sini yang membuat orang merinding—burung hantu terkadang menjerit, beberapa tikus berlarian. Di depan rumah terdapat sebuah kuil kecil yang telah dihancurkan, pada pandangan pertama terlihat bahwa anjing-anjing tersebut dimusnahkan, namun belum ada yang menguburnya. Rumah kosong itu dikelilingi oleh pepohonan dengan daun yang lebat, jadi rumah itu tampak tertutup. Ini adalah pemandangan di luar penglihatan manusia normal dan rumah ini terlihat misterius dan menakutkan. Namun, di luar itu hanya rumah tingkat 4 biasa, tapi pintu kacanya rusak, pintunya bergaris merah yang tampak seperti darah kering. Dan dinding luar rumah memiliki banyak noda darah yang berbeda, setiap sepuluh sentimeter ada noda darah baru, Seolah-olah ada banyak orang yang mati di sini.
Tikus-tikus itu berlari ke arah yang sama, apakah ada sesuatu di sana yang mereka hindari atau mereka datangi. Anehnya, Maria mengikuti mereka dan ia menemukan mayat membusuk beberapa meter dari rumah. Tubuhnya terpotong-potong dan hancur, tubuh itu tergeletak di atas tumpukan daun yang berguguran diwarnai dengan darah merah, tulang-tulangnya nyaris patah, bahkan organ dalam mencuat keluar, tikus-tikus itu seakan-akan memakan organ dan daging busuk mayat wanita itu. Daging di wajah dan perutnya tampak hilang. Mata kanan tetap ada tapi mata kiri tidak bisa dilihat di tempatnya, mungkin sudah hilang dari tubuh itu.
Setelah satu jam di sana, Maria mencoba mendapatkan kembali keberaniannya. Sampai akhirnya pintu terbuka, teriakan seorang gadis terdengar di dalam rumah. Maria dengan cepat mendekati pintu dan berlari masuk. Jeritan terdengar dari arah dapur. Maria berjalan perlahan karena ketakutan.
"Nona, aku di sini! Aku akan melindungimu." Suara Ares terdengar di dekatnya membuatnya tidak terlalu takut untuk masuk.
Maria menjulurkan kepalanya ke dalam, pemandangan itu membuatnya takut. Maria dengan cepat menutup mulutnya dan bersembunyi di balik dinding pemisah. Ini menjijikkan, iblis berambut ungu menjarah seorang gadis, di sekitarnya dipenuhi dengan mayat berlumuran darah, identitas dari mayat gadis itu adalah hilangnya mata kirinya, darah dari mata itu terus mengalir ke luar. Ada tubuh yang kehilangan anggota tubuh dan tanpa tulang
Maria harus keluar dari sini. Tetapi ketika ia bangun, ia menabrak sesuatu, ia kaget dan mengangkat tangannya ketika ia mencium bau darah. Maria kaget, menjerit, segera menutup mulutnya. Iblis yang di dapur mendengarnya dan berbalik, ia datang tanpa mata kirinya, taringnya terlihat jelas, wajah dan seluruh tubuhnya berlumuran darah yang diterangi oleh sinar rembulan dari luar menjadi lebih menakutkan.
"Nona! Cepat lari!" teriak Ares. Maria mencoba berlari menuju pintu. Iblis itu mengejarnya, kecepatannya tentu saja tidak sebanding dengan makhluk itu, tetapi iblis itu tersandung tubuh mayat dan tepatnya tersandung di wajahnya. Maria melihat iblis itu terjatuh, setelah itu iblis itu menjambak rambut mayat itu dan menyeretnya ke dapur horor itu.
TAK!
Tangan mayat itu dipotong oleh iblis itu, kemudian ia menyingkirkan tangannya yang patah, mencoba bangkit dan lari mengejar Maria kembali. Maria menikmati larinya kembali jauh ke dalam hutan. Ketika iblis itu hampir mendekat, Maria dengan cepat hendak memanjat pohon itu. Denyut nadi Maria seakan-akan meninggalkan tangannya, Maria melemparkan jarum untuk menghentikan kecepatan iblis itu sehingga Maria bisa melarikan diri ke atas pohon. Maria hanya berharap kali ini, Axel bisa muncul dan menyelamatkannya.
"Gadis bodoh! Selalu membuat orang khawatir!" ucap Axel kesal.
"ASTAGA!" teriak Maria mencoba mencerahkan matanya saat melihat orang di depannya.
"Apakah ini ilusi?" ucap Maria. Axel merasa terganggu karena ia harus jatuh di dahan pohon karena gadis itu memanggil namanya. Axel segera melompat ke bawah sambil membawa gadis itu di pelukannya. Maria merasakan kehangatan yang akrab, ia membenamkan wajahnya di d**a Pangeran.
"Putra Mahkota," ucap iblis itu segera berlutut ketika melihat Axel.
"Yang Mulia, iblis ini ingin mengambil mataku!" rengek Maria.
"Aku pikir matanya indah jadi aku menginginkannya," jawab iblis itu.
Iblis dapat berhubungan dengan diri mereka sendiri melalui otak, tetapi hubungan ini tidak banyak gunanya. Leah menggunakan koneksi ini untuk menertawakan iblis itu.
"Hehehe …. Nona adalah Ratu masa depan, yang berani menyentuhnya hanya untuk mati!" ucap Leah, iblis itu merinding mendengar ucapan Leah.
Pangeran terkenal berdarah dingin dan secara tidak sengaja sangat kejam. Mungkin Axel akan melakukannya. Ini sulit untuk dijalani. Iblis itu ingin lari tetapi tidak bisa karena temperamen Axel yang rendah hati saat ini. Dan Pangeran Axel diam-diam mendengarkan apa yang ada dalam benak iblis itu.
"Jika itu masalahnya, aku akan mencabut sisa matamu menjadi buta seutuhnya!" Axel berbicara dengan tegas.
"Jika aku hanya mengambil satu matamu, jadi kau juga bisa mengambil mata orang lain?" ucap Axel lagi dengan dingin kepada iblis mata satu itu.
"Diambil ... dan dikeluarkan? Apa mungkin kau yang membuatnya kehilangan matanya?" tanya Maria terkejut kepada Axel, dan mencoba melepaskan diri dari pelukannya.
"Dia telah merugikan rakyatku, aku hanya menghukumnya sedikit!" Axel berkata sambil memeluknya kembali, kekuatannya tidak hanya tangguh tetapi juga kuat.
"Tidak bisakah kau mengembalikan matanya?" ucap Maria memandang iblis yang berlutut di tanah dan kemudian memandang ke arah Axel.
"Kau ingin mengambil matamu dariku, bodoh! Aku tidak ingin keabadianku terlewatkan!" jawab Axel dengan kejam sambil melihat iblis yang berlutut.
"Hamba memohon ampun kepada Yang Mulia. Ampuni nyawa hamba," ucap iblis itu bersujud di depan Axel dengan ketakutan.
"Hm … kau ingin aku memaafkanmu?" tanya Axel dengan dingin.
"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi dan tidak akan mengganggu pasangan Yang Mulia," ucap iblis itu lagi kepada Axel.
"Baiklah demi kekasihku, aku akan memaafkanmu!" jawab Axel masih harus menyerah pada harta karun di hatinya.
"Terima kasih, Yang Mulia! Terima kasih, Yang Mulia!" Iblis berbicara dengan gembira. Suara Pangeran Axelio seperti menuangkan madu ke telinga iblis itu.
"Mulai sekarang, kau harus mengikuti dan melindungi kekasihku," ucap Axel masih sedingin aslinya, tetapi memancarkan gaya sedikit royal.
"Siapa namamu yang bisa aku panggil dengan mudah?" tanya Maria sambil memandang iblis itu.
"Ya, namaku Iris," jawab iblis itu.
"Iris? Iris mata? Sangat cocok untuk kepribadiannya," Maria bergumam sambil mengangguk.
"Kalau begitu, Iris kau bisa istirahat di sini," ucap Maria.
Ketika Maria selesai berbicara, Leah masuk lebih dulu melalui t**i lalat berbentuk lavender di tangan Maria. Iris melihat itu juga langsung mengikuti Leah memasuki tubuh Maria. Melihat kedua iblis itu memasuki tangannya, Axel merasa aneh.
"Dia hanya manusia biasa, bagaimana bisa dia membiarkan setan itu tinggal di tubuhnya tetapi tanpa kehilangan kekuatannya?" batin Axel.
"Hei Axel! Ayo kita akan pulang!" teriak Maria mengejutkannya.
"Kau pulang dulu, aku masih punya pekerjaan, aku harus kembali ke dunia iblis sebentar. Hati-hati di jalan!" ucap Axel kepada gadis itu.
"Hm … baiklah. Cepat pulang ya," ucap Maria sambil mengangguk dan kemudian pulang kembali ke mansion.