CHAPTER 7

1087 Kata
Soat! Soat! Soat! Suara itu semakin sering saja, Maria segera berlari, tetapi kecepatan seseorang di semak-semak juga meningkat. "Ehem, ehem!" Suara sesuatu di semak-semak membuatnya tersedak. Maria langsung menoleh, ia merasa sangat kecewa. Hal ini pada dasarnya tidak sebanding dengan ketakutannya. "Tuan! Apakah kau mengajakku untuk berurusan denganmu?" ucap Maria dengan ketus. "Tidak perlu, aku hanya sedang bersantai saja seperti ini." Suara Ares terdengar mungkin melalui pikiran Maria. "Oh," jawab Maria singkat kemudian melangkah pulang ke rumahnya. Maria memasuki rumah, ia berlari ke kamar untuk menemuinya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, tetapi ada seseorang yang terlihat sangat malas sedang terlelap di atas tempat tidurnya. Belanjaannya ia lempar ke atas meja, sepatunya dilempar ke lantai. Pria yang berbaring di tempat tidurnya terlihat sangat tampan ketika ia memejamkan mata seperti itu. Maria benar-benar tidak memedulikannya dan melompat ke tempat tidur. Dari jarak yang sangat dekat Maria merasa pria itu lebih tampan. "Sangat tampan," ucap Maria sambil meletakkan jarinya pada wajah pria itu, tiba-tiba Axel mendengarnya mengatakan itu, ia langsung membuka matanya. "Apakah aku tampan?" tanya Axel sambil tersenyum setelah melihat gadis bodoh yang terbaring di atas dadanya. Wajah seseorang di depan Axel memerah ketika ketahuan sedang memperhatikan ketampanan pria itu. Sontak gadis itu langsung loncat dari tempat tidur. "Ini hadiah untukmu," ucap Maria langsung memberikan belanjaannya kepada Axel. "Gadis yang tidak jujur," pikir Axel setelah mendengar ucapan Maria yang membuatnya tidak senang. Ia malah ingin bermesraan dengan gadis itu namun nyatanya gadis itu berpura-pura tidak terjadi sesuatu. "Hei Gadis Kecil, mengapa tadi kau di atas dadaku apakah kau ingin merayuku?" tanya Axel lagi. Wajah Maria langsung merona merah mendengar pertanyaan Axel. Namun, ia langsung mengeluarkan pakaian yang baru saja dibelinya, dan meletakkannya di tangan Axel, lalu mendorong pria itu ke kamar mandi. "Cepat pakai kemudian turun bersamaku!" ucap Maria. Sekitar sepuluh menit kemudian, Axel keluar dari kamar mandi kemudian Maria membawanya ke bawah. Di lobi ada neneknya, ibunya, adiknya, dan kepala pelayan. Mereka melihatnya turun bersama dengan pria tak dikenal, mereka melihat aura asli pria itu sangat tidak masuk akal. "Nenek, Ibu, Marion, dan Paman Weng, kalian mungkin tidak percaya, tapi inilah orang yang menyelamatkan hidupku. Putra Mahkota Dunia Iblis—Pangeran Axelio," ucap Maria memperkenalkan pria di sampingnya. Nenek dan ibunya melebarkan mata mereka dan melihat roh tua di depan mereka yang sangat tidak sepele, mendengarkan perkataan putrinya mereka juga tahu betapa menakutkan orang ini. Namun, beberapa saat kemudian ketika mereka bisa melihat wujud manusia Axel dan roh menyeramkan itu telah hilang, mereka melihat ke arah Maria. "Apakah Pangeran ini hanya penolongmu?" tanya Merry kepada anaknya. "Ya, dia menolongku dan juga sudah melamarku," jawab Maria. "Panggil dia Ibu. Jika kau sudah menjadi tunangannya maka kau harus memanggil kami seperti dia memanggil kami," ucap neneknya kepada Axel. "Iya," jawab Merry. "Betul," jawab Maria juga. Axel hanya diam ketika ia melihat ketiganya berbicara satu sama lain. "Tunangan? Mengapa mereka mengaku bahwa diri mereka yang lebih tua? Padahal, dia adalah manusia generasi keseratus, bahkan manusia generasi pertama yang seusiaku sudah mati sejak ribuan tahun lalu?" batin Axel heran dalam diamnya. "Baiklah. Kalian berdua sudah tumbuh dewasa, meskipun mansion ini memiliki banyak kamar, tetapi semua kamar sudah terisi, jadi kalian berdua bisa berbagi kamar," ucap Merry kepada pria di depannya. "Bu, karena kau memiliki menantu laki-laki, apa kau melupakan anak gadismu?" batin Maria kesal kemudian berjalan ke kamarnya. Axel baru saja naik ke kamar, ia langsung membuka kancing kemejanya dan memperlihatkan tubuhnya, kemudian berbaring di tempat tidur. Tempat tidur milik Maria ditempati olehnya. "Apakah aku harus berbaring di lantai? Oh tidak, ini tempat tidurku, kamarku, tapi dia mengambilnya," batin Maria kesal. "Aku seorang perempuan, kau saja yang tidur di lantai!" ucap Maria berdiri di depan tempat tidur, ia meraih tangan pria itu dan mencoba menarik Pangeran untuk bangun dari tempat tidur. Ia tidak berhasil membuatnya bangun malah tubuh langsingnya yang jatuh ke atas tempat tidur, jatuh tepat di atas d**a pria itu. Maria merasakan pelukannya, ia ingin melarikan diri dari tubuh yang dekat dengannya. "Apakah aku harus tidur di sini sepanjang malam? Aku tidak pernah dipeluk oleh seorang pria saat tidur, terutama sang iblis," teriak Maria dalam hati. Axel membalikkan badan, membiarkan Maria berbaring di tempat tidur dan memeluknya hingga tidur. Pipi Maria menempel di dadanya, ia mendengar detak jantung pria yang terlelap di depannya membuat jantung gadis kecil itu berdegup kencang. "Apakah aku menderita penyakit jantung? Atau apakah aku benar-benar menyukainya? Tetapi aku manusia dan dia iblis, bagaimana kami bisa bersama?" batin Maria sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, hidungnya menempel di d**a pria itu. "Diamlah! Kalau tidak, aku langsung memakanmu!" Suara serak Axel terdengar. Maria merasa heran mengapa suhu tubuh iblis di sampingnya begitu hangat. "Mengapa tubuhmu begitu hangat? Bukankah kau bangsa iblis?" tanya Maria. "Sederhananya, aku adalah Putra Mahkota, aku bebas meminta Raja Iblis untuk memberiku suhu tubuh seperti manusia. Tapi aku tidak bisa menggunakannya dalam waktu yang lama, aku hanya bisa menggunakannya selama 100 tahun," ucap Axel. "Oh," jawab Maria singkat. "Tidurlah!" ucap Axel. *** "Gadis malas! Bangun!" ucap Axel sambil mengguncang tubuh Maria. "Hm … nanti!" ucap Maria kemudian menutupkan selimut ke kepalanya dan kembali tidur. "Kucing malas! Bangun!" teriak Axel. "Nanti!" Maria dengan malas menjawab sepatah kata dan meringkukkan kakinya kembali. Axel menanggalkan selimut dari tubuh Maria dan tertawa melihatnya. "Gadis ini meringkuk seperti kucing sungguhan," ucapnya sambil tertawa. Terpaksa Axel melakukan jurusnya—mencium pipi dan bibir gadis itu kemudian menggigit pelan lehernya untuk membangunkan gadis itu. "SUDAH! SAKIT!" teriak Maria langsung bangun. "Ternyata kau mau bangun juga?" ucap iblis itu sambil tersenyum menyeringai. “Hm," Maria dengan lesu menjawab, ia turun dari atas kasur dan berdiri melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. *** Keduanya setelah selesai sarapan. Maria segera menarik tangan Axel untuk keluar rumah untuk bermain. Cuaca hari ini sangat bagus, membuat mereka berdua dalam suasana hati yang baik. Melihat ketampanan itu, gadis lain yang menatap Maria dengan pandangan iri, Maria juga tahu alasan mereka menatapnya seperti itu. "Baiklah. Jika demikian, aku akan membuat kalian semakin iri saja," batin Maria. Ia mengambil inisiatif untuk memegang tangan Axel sambil tersenyum cerah, membuat gadis-gadis di jalan menjadi kesal menatapnya. Dari pagi sampai siang keduanya menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar jalan dan membeli makanan. Sore harinya, mereka berdua pergi ke taman hiburan. Setelah memainkan beberapa permainan menegangkan untuk sementara waktu, ia pergi ke tempat jualan es krim di taman hiburan. Sambil makan es krim cokelat yang disukainya, ada suara dua gadis yang cerewet terdengar di belakang pasangan itu. "Tahu tidak rumah kosong di dekat area bermain, rumah itu berhantu?" ucap salah satu gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN