"Mata buruknya selalu menciptakan sinar merah yang bisa menyerang pedang pelindung. Bagaimana aku bisa menyerangnya? Dia melompat ke semak lain untuk bersembunyi, dalam waktu singkat dia juga harus menemukan adiknya itu, lebih baik menemukan kelemahan lain dari pada harus terus melawannya," usul penyusup itu kepada Axel.
"Berpikir bagaimana dia mendisinfeksi lukanya, merobek ruang sihir dari perutnya dan membungkusnya di sekitar luka. Apakah dia sehebat itu? Hm … tubuh bagian bawah yang sejuk? Sepertinya kekuatannya tidak bisa menutupi itu. Aku akan gunakan itu untuk menyerangnya," batin Axel dalam benaknya.
"Apakah ada jadwal penyiksaannya di Hutan Kematian sore ini? Aku harus bertaruh untuk menyelamatkannya? Jika tidak, dia juga akan mati," ucap Axel kepada pelayan suruhannya itu.
***
Maria menarik napas dalam-dalam, ia harus melewati semak-semak dan bergegas mundur. Iblis itu segera berbalik karena merasakan kehadiran manusia yang begitu dekat.
BANG!
Pisau mengenai Maria, ia berlutut dan menjerit kesakitan kemudian terjatuh. Iblis bernapas dengan segera, tak sabar ingin segera memangsa hasil buruannya. Tak lama setelah itu, seorang anak lain yang bisa dikatakan seperti kurcaci meraung kepada Maria.
"GADIS KECIL! SIAGA!" teriak kurcaci itu.
Saat ia hendak mengangkat kakinya untuk berlari, ada sesuatu yang mengejutkannya, ia hampir tersandung sesuatu. Maria melihat ke bawah untuk melihat bahwa itu adalah tali pengangkut untuk membawanya ke atas pohon.
"Ya Tuhan! Akhirnya ada tujuh anak ini yang membantuku," batin Maria.
"Seharusnya tidak ada tujuh kurcaci di pohon itu yang membantunya. Tapi bagaimana aku bisa memanjat pohon itu untuk mendapatkan manusia itu?" ucap iblis bodoh itu.
"Halo!" Suara seorang kurcaci yang mendekat ke arah Maria.
"Iblis-iblis kecil ini pasti sangat kejam. Kenyataannya, kekuatanku bahkan tidak bisa lagi untuk berlari, aku pasrah jika hidupku akan segera berakhir," batin Maria sambil melihat kurcaci-kurcaci itu. Mata hitam dan bersayap dari kurcaci yang mengawasinya dari atas mencerminkan nyawa Maria saat ini untuk Raja, Pangeran dan juga para jenderal lainnya yang membuat gadis itu nyaris pasrah.
Hanya melihat Maria terluka, Axel berdiri dengan sangat cepat, dengan perasaan khwatir ia ingin lari ke tempat Maria saat ini. Namun, kemampuan mereka juga mengejutkannya. Seorang gadis itu sepertinya akan mati begitu Axel memasuki hutan, ia hanya berharap gadis itu bisa bertahan bersama ketujuh anak kecil itu. Walaupun Axel pergi ke sana akan membahayakan kondisi Maria, karena tujuh anak kecil itu adalah iblis bodoh yang bisa menghancurkan Axel sendiri.
"Dia sekarang dalam bahaya besar?" ucap ucap Axel kepada pelayan kepercayaannya—Ares.
"Dia tidak begitu lemah. Melihat di sekeliling gadis itu, ada anak-anak kecil, itu tidak berbahaya. Aku tiba-tiba tadi melihat ketujuh anak itu di hutan, mungkin mereka akan membantu gadis itu," jawab Ares kepada Pangeran Axel.
***
Maria mencoba mengeluarkan sebuah alat dari dalam tasnya. Itu seperti tali yang memiliki benda tajam di ujungnya yang bisa membunuh ratusan iblis saat ia coba mengayunkan tali itu di atas kepalanya.
Tiba-tiba Maria memikirkan ide itu, ia hendak kembali dan memikat iblis lapar itu ke sini. Tidak apa-apa, butuh banyak pekerjaan. Bahkan berlari ke arah iblis, merasakan batu dilemparkan dengan keras pada iblis itu. Iblis itu akan marah dan kuda-kuda raksasa itu bergerak ke arahnya, ia berlari cepat ke tempat aman dan bersembunyi. Adapun iblis itu, ia tersandung pada tali ini dan jatuh ke sisi lain. Maria tersenyum sambil terus memikirkan ide itu dalam benaknya. Ia segera mengambil langkah untuk turun dari atas pohon.
Ketika Maria hendak mendarat dari atas pohon, ia malah terpeleset karena ia tidak memiliki pegangan di pohon itu. Betapa bodohnya Maria. Namun, untungnya ia tidak patah tulang atau mati, tapi ia jatuh ke pelukan Pangeran Iblis.
"Aaa …. Apa aku sudah mati?" teriak Maria.
"Apa kau tidak tahu aku ada di sini, tapi mengapa sekarang kau berteriak?" tanya Axel kepada gadis yang ada dalam pelukannya.
"Tadi itu aku takut jadi lupa rasa sakitnya! Aaa …." Maria teriak lagi sambil menendang Axel setelah melihat wajah siapa yang ada di depan matanya. Namun, yang tertendang merupakan barang berharga milik pria itu.
"Kenapa kau menendangnya!" ucap Pangeran Iblis meringis sambil memegang bagian kejantanannya.
"Siapa yang menyuruhmu memelukku!" teriak Maria lagi.
"Apa? Kau harus bertanggung jawab karena menyelakakan aset berhargaku!" ucap Axel masih meringis kesakitan.
"Hanya sebuah otot yang tak bertulang, bagaimana kalau mengganti saja alatmu itu dengan mengambil alat milik tumbal pria lain untuk ditempelkan di sana?" ucap Maria dengan santai sambil menunjuk ke arah aset milik Pangeran Iblis.
"SEBUAH OTOT?" teriak Axel kesal.
Setelah berseteru beberapa saat akhirnya Maria berterima kasih karena telah dibantu oleh pria itu.
"Terima kasih," ucap Maria dengan santai.
"Soal adikku. Sekarang aku ingin dia bersatu kembali dengan keluarga kami," ucap Maria memohon.
"Tolonglah …" ucap Maria memohon lagi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Selain mengatakan kata terima kasih, kau tidak punya cara lain untuk berterima kasih kepadaku?" tanya Axel sambil tersenyum menyeringai.
"Aku ... aku akan tetap di sisimu dan menjadi budakmu, aku akan menggunakan seluruh hidupku untuk membayar permintaanku. Aku ingin adikku kembali dalam keadaan hidup dan sehat," ucap Maria memelas.
"Bagaimana dengan cinta?" tanya Axel.
"Itu …. Kita adalah orang dari dua dunia yang berbeda. Itu pasti tidak akan mungkin," ucap Maria terbata-bata.
"Aku adalah Putra Mahkota, dan akan menjadi raja nanti, raja penguasa hidup dan mati. Aku tidak masalah soal itu," ucap Axel.
"Aku tidak menyukaimu!" jawab Maria ketus.
"Baiklah. Aku akan membuatmu mencintaiku!" ucap Axel dengan sorot mata tajam. Pria itu mengabulkan semua permintaan Maria termasuk mengembalikan adiknya ke keluarganya.
***
"Leah, aku bosan—"
Sosok kurus berbaju putih tampak berguling-guling di atas tempat tidur. Maria telah berada di dunia gaib dalam waktu yang singkat tetapi ia belum terbiasa dengan perpisahannnya dengan keluarganya di mansion.
Pelayan itu memberi laporan kepada Axel bahwa gadis itu merindukan keluarganya. Setelah pernyataan itu, Leah tidak menyebutkannya lagi. Putra Mahkota sangat baik padanya, ia membantu Maria sedikit demi sedikit. Untuk jiwa semangatnya Maria membuat pangeran itu benar-benar tersentuh. Namun, Axel tidak sama sekali membuat agar Maria melupakan rumahnya yang tercinta. Nenek, ibu, saudara laki-laki masih menunggu kepulangannya dengan selamat. Tempat itu menyimpan banyak kenangannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Leah kepada Maria.
"Aku rindu," jawab Maria.
"Rindu? Apa itu?" Leah bertanya pada iblis di sebelahnya.
"Itu—" ucap Ares tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Ia harus menghela napas untuk melihat ruang tak berujung dalam pikiran Maria. Tatapan Maria dipenuhi dengan nostalgia dan sedikit kesedihan. Ares adalah iblis kelas tinggi, tetapi ia tetap iblis, ia tidak dapat memahami emosi manusia yang rumit. Melihat penampilan Maria saat ini, sepertinya ia sudah mengerti sedikit.
“Otak manusia itu benar-benar sepele, tetapi bisa membuat pemiliknya depresi seperti ini. Mereka terus berpikir, mungkin perasaan ini hanya terjadi pada manusia, sedangkan iblis selalu baik-baik saja," pikir Leah langsung ingin membusungkan dadanya dengan puas setelah mengetahui isi pikiran Maria. Leah menatap pandangan kosong itu lagi. Ia melihat ada permata transparan mengalir dari mata Maria yang indah. Leah hanya menghela napas melihat itu.
"Nona, aku punya ide, bagaimana jika kau terus menyelinap dalam kegelapan. Aku rasa tidak ada yang menyadarinya," ucap Leah kepada Maria.
"Jika Raja Iblis tahu, aku akan mati!" ucap Maria sambil menghela napas, ia heran terhadap Leah yang menyuruhnya menghidupkan genderang perang.
"Jadi aku baru saja menerima pesan. Mungkin besok atau malam ini, Pangeran baru akan mengunjungimu, saat itu kau harus kembali ke sini," ucap Leah.
"Baik. Kalau begitu aku pergi sekarang!" ucap Maria dengan semangat. Kakinya yang ramping menyentuh tanah dan dengan cepat berlari ke lorong gelap. Tangan putih mulusnya berada di perutnya dan semuanya menjadi hitam saat ia tiba di sini.
Jika Maria pergi sekarang, maka ia akan segera kembali, pasti tidak ada yang tahu. Saat ia berpikir, tangannya berkibar melalui gaun di tubuhnya, ia mengenakan pakaian hitam agar aman di kegelapan.
Kakinya dengan cepat berlari keluar ruangan dan menyusuri lorong. Tiba-tiba, ia melihat para penjaga sedang berpatroli, itu sulit dilalui. Maria mencoba menemukan cara untuk melewatinya, tiba-tiba sebuah jalan setapak muncul di depannya. Mungkin Leah yang membuatnya pikir Maria, tanpa ragu-ragu ia langsung masuk ke sana.
Maria tidak tahu itu, entah iblis atau yang lainnya yang telah melihat bayangannya saat ia bersembunyi dari penjaga di aula utama. Ia memberi tahu Raja Iblis bahwa Maria menciptakan jejak kakinya, begitulah cara ia berjalan, lapornya kepada Lucifer.
Ketika Maria tiba di dunianya, tubuhnya yang kecil langsung terpental dengan hebat, ia keluar melalui seutas cahaya.
"Nona, apakah kau sudah tiba?" tanya Leah kepada Maria.
"Ya! Berkat buatanmu itu!" teriak Maria dengan semangat.
"Aku akan segera—" ucap Maria sambil mengerutkan kening. Leah bertanya-tanya, gadis itu tidak menyelesaikan kalimatnya tapi ia berteriak kegirangan dan berlari menuju mansion.
Hal pertama yang ia lakukan adalah ia ingin bertemu neneknya, bertemu ibunya, dan bertemu adiknya. Begitu ia memasuki halaman mansion, ia bertemu dengan kepala pelayan, ia berlari untuk memeluk orang yang sudah ia anggap pamannya. Namun, apa yang terjadi di sini, pria itu melewatinya, ia juga tidak bisa melihat kehadiran Maria.
"Paman Weng aku datang, cepat panggil Ibuku, aku sudah pulang!" ucap Maria dengan penuh semangat.
"Ibu … Bu? Ibu?" panggil Maria ketika melihat ibunya. Ibunya masih berjalan melewatinya dan berjalan keluar gerbang.
"Apa yang terjadi? Mengapa semua orang tidak bisa melihatku? Bagaimana dengan adikku?" ucap Maria.
Maria berlari ke dalam melalui pintu. Ia menemukan adiknya di kamar.
Marion—bocah itu masih aman dan sehat. Mungkin ia bisa melihat kakaknya, ia tertawa pelan kemudian melangkah maju dan menyentuh Maria di belakangnya.
"Kucing ini! Hebat sekali!" ucap suara asing yang sangat dikenal Maria, tetapi itu bukan berasal dari suara adiknya.