CHAPTER 20

1694 Kata
Orang-orang di mansion itu masih baik-baik saja dan pulang, beberapa dari mereka mengeluh karena pestanya tidak menarik dan mereka tidak tahu bahwa peristiwa hari ini harus terjadi. Tubuh mayat yang merupakan gadis itu ditemukan oleh seorang tamu pesta. Beberapa hari kemudian, ketika kisah hantu pengantin mereda, Marion menarik tangan kakaknya untuk keluar dari kamar, ia ingin mengajak kakaknya pergi bermain. Maria mengikuti langkah adiknya, tetapi ini hal yang tidak menyenangkan sama sekali. Karena pagi-pagi sekali, Maria harus bangun dengan tujuan bermain, tetapi ia sendiri dalam keadaan mengantuk dan tidak semangat. Beberapa waktu yang lalu Maria bolak-balik dipanggil ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian, sehingga ia tidak sempat tidur. Maria akan tidur ketika siang hari untuk menggantikan waktu begadangnya di malam hari. Melihat ekspresi kantuk kakaknya, Marion menghela napas. "Kakak! Tidur terlalu banyak itu tidak baik! Ayo kita pergi keluar untuk menghilangkan penat! Kakak Axel jika melihatmu seperti ini juga pasti dia akan menarikmu keluar untuk jalan-jalan!" Marion yang menyebutkan nama Axel, membuat Maria semakin terkejut. Axel sebenarnya baik-baik saja, tetapi tubuh iblis pangeran itu terus menyiksanya sepanjang malam sehingga Maria tidak cukup tidur. Hari ini Maria terus menguap dengan mata merahnya seperti pecandu obat-obatan. Setelah sarapan pagi. Marion menyeretnya untuk pergi membeli beberapa camilan dan kemudian pergi ke taman hiburan. Marion memilih game yang memiliki tantangan kuat, karena kakaknya juga menyukai mesin game ini. Setelah itu mereka pergi ke rumah hantu. Saat membeli tiket ke rumah hantu, bayangan dari dalamnya langsung melintas. Memalukan, kedua orang pemberani itu membeli tiket masuk ke rumah hantu untuk melihat hantu palsu. Serangkaian setan muncul di jalan depan rumah hantu itu, Marion terkejut hingga berteriak, sedangkan kakaknya tidak menunjukkan ekspresi sama sekali, dan tidak berteriak, ia tidak takut kepada mereka. Setan palsu ini bagi iblis bukanlah apa-apa, hanya saja untuk penggambaran tentang bangsa iblis di kehidupan nyata, lantas apa yang harus ditakutkan. Maria dan adiknya mulai memasuki rumah hantu, suara adiknya menjadi sedikit serak karena berteriak, sedangkan Maria merasa telinganya berdengung karena mendengar teriakan Marion. Ekspresi wajah Maria terasa dingin, seolah tak terjadi apa-apa, ini masih di area paling depan rumah hantu belum masuk ke intinya. Maria menatap orang-orang di sekitarnya dengan tatapan aneh. Mereka menjerit ketika keluar dari dalam rumah hantu, bahkan ada sepasang kekasih berlari keluar ketakutan dengan penampilan keduanya yang sangat tidak sedap dipandang. Wanitanya dengan rambut berantakan dan air mata yang membasahi pipinya, sedangkan mata prianya terbuka lebar, wajahnya pucat, dan napasnya sesak. Marion dan kakaknya mulai memasuki bagian "terseram" dalam rumah hantu itu. Maria memandang adiknya, sekarang ia merasa ada sesuatu yang mencengkeram kakinya, ia menjatuhkan dan menendang sesuatu yang bergelayut di kakinya. Ternyata tangan seorang pria yang menyamar menjadi mayat dengan kostum yang begitu menyeramkan sehingga tidak dapat disangkal itu seperti mayat sungguhan. Mereka melangkah lebih jauh ke dalam, ada zombi yang mencoba menangkapnya dari dekat, setelah itu Maria yang menggigit balik zombi itu kemudian dilemparkannya ke tanah. Ekspresi Maria masih dingin, kemudian ia menertawakan zombie palsu itu, dan ia menarik adiknya keluar dengan cepat. Mereka meninggalkan rumah hantu, dan berjalan ke mesin penjual minuman otomatis. "Kakak, mereka hanya orang-orang yang berpura-pura menjadi setan, mengapa Kakak menggigit tangannya dengan keras?" ucap Marion menyalahkan kakaknya. "Aku kaget. Lagi pula, aku tidak suka orang-orang itu menyentuhku," jawab Maria. Ada adegan di mana zombi ingin memeluknya, dan bahkan dadanya nyaris tersentuh. Hantu-hantu itu menyalahgunakan tugas mereka dalam hal menakut-nakuti pengunjung, mereka kadang menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Sangat beruntung Maria tidak mencakar wajah hantu palsu itu. "Aw … sakit!" ucap Marion ketika membuka kaleng minumannya. Marion menggelengkan kepalanya ke arah kakaknya. Maria mengambil kaleng minuman di tangan adiknya. "Hei! Apanya yang sakit? Itu hanya luka ringan!" ucap Maria kemudian membuka kaleng itu kemudian malah meminumnya. Kedua saudara itu pergi makan dan kemudian pergi ke bioskop sampai larut malam. Dalam perjalanan pulang dalam musim hujan begini, tiba-tiba sebuah bayangan kecil muncul di ujung g**g. Maria berlari ke g**g tetapi tidak melihat siapa pun. "Kakak! Kenapa kau mengejarnya? Apakah itu hantu?" Suara adiknya yang rendah di jembatan belakang bertanya kepada Maria. Mendengar ucapan adiknya yang khawatir, Maria menjulurkan kepalanya. "Apa yang harus ditakuti? Kita tidak boleh tunduk sama mereka, jadi jangan takut," ucap Maria. "Oke! Ayo Kakak! Ayo pulang sekarang!" ucap Marion sambil menarik tangannya pulang, mereka melewati jalanan di dekat taman, sehingga mereka harus melewati tempat sepi ini sebelum sampai rumah. Di sini lampu jalan sudah ada yang mati sejak kemarin, karena belum diganti bohlamnya, jadi lampu flash telepon yang bisa digunakan oleh kedua saudara itu. Marion merinding, ia tahu bahwa mereka seharusnya tidak pulang selarut ini. Bagaimana jika ada hantu di sini, ia berpikir tentang ia ditangkap oleh hantu. Namun, tiba-tiba terjadi sesuatu, Marion tersandung sehingga membuatnya terjatuh. Maria melangkah maju untuk membantu adiknya yang canggung itu bangun "Apa yang membuatmu terjatuh?" tanya Maria. "Aku tersandung sesuatu," jawab Marion. “Kau menabrak mayat …” ucap Maria dengan dingin. "Kau pergi menjauh!" Maria menyelesaikan kalimatnya, ia menggunakan telepon untuk memeriksa di bawah kaki mereka. Cahaya ponsel bergerak naik dari paling bawah tubuh itu. Berhenti sejenak di bagian tengah, tampak darah mengalir dari s**********n orang ini dan menyebar. Sedangkan, Marion berkedip-kedip ketakutan dengan wajah yang pucat. Senter ponsel kembali bergerak ke perut mayat itu, lampu senter berhenti di wajahnya. Wajah Maria menunjukkan keterkejutan saat melihatnya dengan matanya yang membelalak, dan tatapannya dipenuhi ketakutan saat melihat sesuatu yang menakutkan. Marion buru-buru menggunakan teleponnya untuk mencari nomor telepon dengan tangannya, ia hendak melapor kepada polisi bahwa ada mayat di sini. Namun, tiba-tiba ada suara angin mendesis, pohon-pohon digerakkan angin dan punggung mereka berdua terasa dingin. Tawa anak menjerit dalam malam gelap itu, membuat mereka berdua terkejut. "Marion! Dengarkan Kakak! Tenanglah dan pegang tanganku," ucap Maria langsung menggendong adiknya di punggungnya setelah itu ia menarik napas dalam-dalam. "KABUR!" teriak Maria berlari cepat, cekikikan terdengar hampir di sepanjang jalan. Suara daun gemeresik juga di dekat kedua saudara itu. "Kakak! Ada apa?" tanya Marion menatap kakaknya, sedangkan kaki wanita itu masih tidak berhenti berlari. "Menurutku itu bukan hanya mayat tapi iblis! Aku harus lari cepat agar cepat sampai rumah!" ucap Maria terus berlari sambil menggendong adiknya. Kedua orang itu berlari ke gerbang, dan melompat ke dalam rumah kemudian mengunci pintu dan menyalakan listrik. Keduanya seperti kehabisan napas, mereka berjalan ke meja untuk minum air. Dan berharap iblis itu tidak akan masuk ke rumah. *** Syukurlah, hantu itu benar-benar tidak masuk ke dalam rumah, kedua saudara itu hanya mengobrol dan pergi ke kamar mereka. Tiba-tiba, lampu listrik berkedip membuat mereka bingung. Marion meraba-raba ponsel di sakunya dan menyalakannya untuk memeriksanya. Marion mencari-cari kakaknya dalam kamar lain, tetapi senter ponselnya menerangi sesuatu yang lain. Ketika Maria menyalakan listrik, ia melihat adiknya duduk di lantai dengan wajahnya yang pucat dan bibirnya bergetar. Maria maju untuk membantu adiknya berdiri. "Apa kau takut?" tanya Maria. "Kakak! Hantu itu ... ada di dalam rumah!" ucap Marion meraih bahu kakaknya dan mengguncangnya dengan kuat. "Apa? Tapi aku tidak melihat apa-apa?" ucap Maria sambil melihat sekeliling. "Ayolah Kakak! Dia benar-benar ada di sini!" teriak Marion. "Baiklah kalau begitu, kembali ke kamarmu, gunakan pesona dan tidurlah!" perintah Maria masih tidak percaya ucapan adiknya, ia bersikeras menyuruh anak itu pergi ke kamarnya. Marion berlari kembali ke kamarnya, menempelkan azimatnya, kemudian ia menaburkan garam, dan melakukan hal-hal lain, ia berharap hantu itu tidak akan memasuki ruangan pribadinya. Namun, tak ada yang tahu bahwa di kaki tangga ada dua bayangan kecil yang bersembunyi, mereka tersenyum mengerikan dan menuju ke atas. Maria meletakkan pantatnya di pinggir ranjang, ia baru selesai mandi, sehingga rambutnya masih basah. Bayangan muncul dari belakangnya, tangan dingin di bahunya membuat Maria merinding, ia langsung berbalik ke belakang. Maria menghela napas karena itu adalah Axel, ia selalu muncul di malam hari dan kemudian menghilang di pagi hari. "Ada apa denganmu hari ini?" tanya Axel. "Tidak ada apa-apa," jawab Maria menghadapi dirinya sendiri, ia menggelengkan kepalanya sebagai penyangkalan. Axel tidak bisa membantu tetapi ia melompat ke tempat tidur. Axel juga membaringkan tubuh di tempat tidur, dan Maria membenamkan kepalanya di d**a suaminya dan kemudian tidur. Rupanya kedua saudara perempuan itu berlari masuk dengan wajah yang pucat. "Hi … hi … hi … hi … hi …." Tawa datang dari suatu tempat, dan bergema di telinga Maria. Menampilkan sisi kematiannya yang gelap dan di sekitarnya dingin. Maria mundur, ia berlari dengan cepat, ia ingin keluar dari sini secepat mungkin. Di depan Maria tiba-tiba ada cahaya, ia berlari ke sana dengan ekspresi penuh harapan, tetapi di depan mata Maria ada pemandangan yang begitu menyedihkan. Seorang pria berusia empat puluhan sedang menyiksa seorang anak. Perut buncitnya membenturkan tubuh anak itu ke lantai, sedangkan gadis kecil itu cegukan dan meminta bantuan. Namun, Maria tidak tahu apa tontonan di depannya ini. Maria mencoba lari ke sana untuk menyelamatkan gadis malang itu, tetapi ada penghalang untuknya berlari. Orang tua itu memukul anak itu tanpa henti, ia terus-terusan memukulinya, sampai anak itu pingsan kemudian meninggal dunia. Pemandangan itu menghilang dari depan matanya, dan digantikan oleh pemandangan gelap lainnya. Tiba-tiba seberkas cahaya muncul di dekatnya. Seorang gadis 10 tahun dengan sosok kecil dengan seragam sekolah berlumuran darah. Rambutnya acak-acakan, wajahnya yang imut berubah bentuk karena dipukul. Pada seluruh tubuhnya terdapat luka lebam, dari ujung kepala sampai ujung kaki terdapat warna ungu yang berbeda dan tanda merah. Yang lebih menakutkan adalah tubuh bagian bawahnya berdarah. Maria kaget dan tersedak. "Apakah kau merasa kasihan? Adegan yang baru saja kau lihat adalah aku sebelum aku mati. Ketika semua orang datang untuk menyelamatkanku, aku berhenti bernapas. Tapi aku masih di sini karena Pangeran. Aku harus mencari tahu siapa yang melukaiku, dan aku harus membalas dendam!" ucap anak itu dengan mata yang merah. "Tapi kau dan satu orang lagi melihatku, aku akan mencari kalian berdua!" jerit anak itu. Maria bangun dengan napas tergesa-gesa, seluruh tubuhnya mengalirkan keringat yang deras. Orang di sebelahnya duduk dan memeluknya. Di d**a Axel, Maria melihat sekeliling dan menghela napasnya. Jadi itu hanya mimpi. "Apa kau mimpi buruk?" tanya Axel ketika melihat orang di dalam hatinya gemetar, ia merasa khawatir. "Sudahlah," ucap Maria masih sedikit gemetar, tetapi masih menarik suaminya untuk berbaring. Serangkaian pertanyaan muncul di benak wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN