CHAPTER 16

1537 Kata
"Ehem!" Suara lain di ruangan itu terdengar, keduanya berbalik ke arah ranjang rumah sakit, mereka melihat Marion duduk dengan mata terbuka dan sedang melihat ke arah mereka. Mereka berdua kaget dan berpisah satu sama lain, Marion melihat mereka dan menghela napasnya. "Kakak Pertama! Kakak Ipar! Jika kalian ingin lebih intim, pulanglah atau jika kalian tidak bisa menahannya, toilet ada di sana, rumah sakit sudah menyediakannya. Apakah kalian pamer kemesraan di sini seperti itu? Aku adalah anak di bawah umur, sangat disayangkan bisa melihat adegan itu!" ucap Marion kepada kedua kakaknya. "Em … itu?" Maria tersipu, kemudian menyalahkan suaminya. "Kakakmu ini biang keroknya ..." ucap Maria lagi sambil melirik Axel. Axel meletakkan tangannya di pinggang istrinya dan menariknya ke pangkuannya, membuat seorang anak merasa sakit matanya. "Lebih baik kau berterima kasih pada Kakakmu ini, Maria mengambil darahnya untuk menyelamatkanmu," ucap Axel kepada bocah laki-laki itu. "Menyelamatkanku dengan darah?" tanya Marion heran, ia tidak kehilangan darah tetapi kenapa harus mengambil darah kakaknya, pikir anak itu. "Kau tidak perlu banyak tahu, ketahuilah bahwa dia mengambil darahnya untuk menyelamatkanmu," ucap Axel lagi. "Kakak …. Terima kasih," ucap Marion terharu. "Kau istirahatlah! Kami akan kembali ke sini nanti," ucap Axel sambil memeluk pinggang istrinya hendak keluar dari kamar rawat, Maria menoleh ke arah adiknya. "Istirahatlah, di waktu senggang aku akan datang mengunjungimu," ucap Maria juga kepada adiknya. "Baiklah! Baiklah! Pulanglah! Kamar rumah sakit sudah dibayar untukku! Jelas!" teriak anak itu kesal karena kedua kakaknya hendak pulang dan meninggalkannya di kamar rumah sakit. "Hei!" Maria marah dan berniat kembali untuk memukulinya, lalu ditarik kembali oleh Axel. “Biarkan saja, dia hanya kesal,” ucap Axel. "Tunggu! Aku akan menghukummu nanti!" Maria berkata sambil mengangkat jari tengahnya, Marion menjulurkan lidahnya menggoda dari tempat tidur. Bagaimanapun, ia masih kesal karena kakaknya pulang. Dalam perjalanan pulang, Axel berkata bahwa ada sesuatu yang harus diselesaikan jadi ia harus pergi dulu, dan membiarkan Maria pulang sendiri. Hari itu cuaca cerah, tetapi Maria merasa bahaya akan datang. Ketika Maria menyeberang jalan untuk membeli air minum, sebuah mobil truk melesat dan menabraknya, menyebabkan ia jatuh ke jalan. Tubuhnya yang indah terbaring di atas jalan raya, matanya tak berkedip seperti boneka yang tak bisa bergerak. Maria mencoba bangun dengan wajah cemberut, bau antiseptik menggelitik hidungnya. Ia mengalami kesulitan untuk bangun dan melihat sekeliling, ini adalah rumah sakit. "Kakak! Bagaimana kau bisa tertabrak mobil?" Suara Marion, anak laki-laki yang duduk di ranjang rumah sakit di seberangnya. "Aku sepertinya tidak melihat anggota tubuhmu terluka atau berdarah, kenapa bisa seperti itu?" tanya anak itu lagi kepada kakaknya. Marion sedang berbicara, tiba-tiba telepon Maria berdering, ini nomor ibunya, atau apakah ada yang terjadi. Ia bertanya-tanya dan menekan tombol untuk mendengarkan, di sisi lain terdengar suara panik ibunya. "Maria! Cepat ke IGD!" ucap Ibu Merry panik. "Ibu! Apa katamu?" tanya Maria lagi. "Datang ke ruang IGD! Axel terluka!" ucap ibunya. Maria menutup telepon dan langsung hendak pergi. Marion melihat itu, ia langsung bertanya. "Kakak! Apa yang terjadi?" tanya Marion bingung. "Aku mau menemui Axel, aku pergi dulu," ucap Maria. "Kakak aku ikut, aku baik-baik saja," jawab Marion. Maria mengangguk, berlari ke sudut ruangan untuk mengambil kursi roda. Beberapa menit kemudian, Maria pergi ke ruang gawat darurat, melihat ibunya berjalan di pintu kamar rumah sakit, ia mendorong Marion dan memanggil ibunya. "Ibu! Mengapa Axel terluka? Mengapa bisa seperti itu?" tanya Maria. Mata bahagia ibunya menjadi sedih lagi. "Entahlah! Hari ini saat Ibu sampai di rumah, Ibu memanggilnya untuk mengunjungi Marion dan Ibu menemukan Axel sendirian di tempat tidur, tubuhnya banyak mengeluarkan darah, seluruh tubuhnya penuh luka," ucap Ibu Merry menjelaskan. Mendengarkan ibunya, jantungnya berdebar-debar. "Mengapa demikian? Bukankah dia sangat kuat? Dia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh, dan beruntung Ibu membantunya," pikir Maria. "Nona!" Suara Iris bergema di kepala Maria. "Mungkin Yang Mulia meminum obat untuk mentransfer semua rasa sakit yang kau rasakan kepadanya," ucap Iris. "Kenapa bisa begitu?" tanya Maria bingung. "Mungkin Tuan Haww yang melakukannya," ucap Iris lagi. "Maksudnya ..." ucap Maria. Ia tiba-tiba teringat, kemarin pria itu menciumnya dengan jelas, dan memperhatikan bahwa lidahnya lengket dengan bubuk obat. Maria memeluk wajah suaminya, ia merasa putus asa dan menangis. Maria menunggu lama, lampu di atas ruang operasi sebagai penanda bahwa operasi sedang berlangsung, belum juga dimatikan, dan setiap detik yang lewat Maria menjadi semakin gugup. "Kenapa dia bisa begitu bodoh? Mengapa dia harus menanggung atas kesakitanku? Haruskah aku mencari Pangeran Dunia Bawah Tanah atau tidak?" Berapa banyak pertanyaan yang berputar-putar di benak Maria. Marion dibawa ke kamarnya oleh ibunya, sedangkan Maria masih di depan ruang operasi sambil terus berdoa. "Nona! Apakah kau baik-baik saja?" Suara Leah bergema di kepalanya. "Aku baik-baik saja," jawab Maria. "Obat ini tidak bisa dipecahkan Nona," jelas Leah. Mata Maria tampak ragu-ragu. "Sejauh yang aku bisa lihat, aku yakin dia bisa diselamatkan!" ucap Maria. Tiba-tiba sebuah tangan hangat diletakkan di pundaknya. Maria mendongak, ternyata itu ibunya. Merry duduk di sebelahnya dan berkata kepada anak perempuannya itu. "Pulanglah dan ganti pakaian! Aku tahu kau sangat khawatir tentang itu, tetapi kau harus menjaga dirimu sendiri dulu. Ketika Axel bangun dan dia melihatmu seperti ini, dia bisa merasa sedih," ucap ibunya kepada Maria. "Ibu …." Maria bersandar pada ibunya, sudah cukup ia menangis, jadi ia hanya merasa lelah sekarang. "Baiklah! Pulanglah dan mandilah Sayang, aku akan berada di depan ruang operasi menunggu dia keluar," ucap ibunya sambil menepuk punggung anaknya dengan lembut. "Kalau begitu aku pulang dulu, nanti aku kembali ke rumah sakit lagi untuk menggantikan Ibu," ucap Maria. Setelah mengatakan itu, ibunya menuai kepalanya, ia juga bangkit dan pergi keluar ke pintu rumah sakit. Dokter dan perawat melihat masuknya ranjang putih ke ruang operasi, tubuh korban lain ditutupi selimut putih, hanya untuk menampakkan wajahnya. Mereka membawa korban ke ruang gawat darurat, tanpa menyadarinya sehingga seorang perawat berlari ke arah Maria, ia hanya membungkuk dan meminta maaf dan berlari mengejar ranjang itu. Anggota keluarga pasien lain berbisik dan berbicara. Mendengar itu Maria berjalan cepat keluar, ia masih memikirkan rumor itu dalam perjalanan pulang. Menurut mereka, ini adalah korban meninggal kelima dalam seminggu yang ditabrak oleh truk, di antara empat orang lainnya tewas. Beberapa yang selamat masih koma, ada yang masih gila saat bangun tidur, sehingga tidak bisa memberikan kesaksian. Anehnya, para korban tersebut tertabrak saat menyeberang jalan. Maria pergi ke tempat ia ditabrak truk, noda darah masih ada, polisi tidak bisa menangkap pengemudi dan truk itu. Maria melihat bahwa tidak ada orang di sekitar pada saat itu, ketika orang menemukannya, Maria juga tidak dapat mengenal truk itu. Saat itu, tidak ada darah di tubuhnya dan tidak ada luka-luka, orang yang membawanya ke rumah sakit menduga bahwa Maria menderita anemia, sehingga tidak perlu melapor ke polisi. Maria berjalan ke tempat ia jatuh, bahkan tanpa setetes darah pun saat itu. Tiba-tiba, suara truk datang dari arah berlawanan, kali ini hari sudah menjelang malam, kakinya tidak bisa bergerak, ada kekuatan yang menariknya menjauh dari sapaan mobil truk itu. Itu adalah Leah, badan Maria menempel di badannya, mobil itu melesat melewati keduanya. Maria melihat sekilas, di atas truk itu ada bayangan hitam, tetapi tidak terlalu jelas. Maria berlari mengejar truk itu tetapi tidak bisa terkejar, Leah mengikutinya. "Nona! Naiklah!" ucap Leah. Maria naik ke punggung Leah dan sudah berada di kursi truk semenit kemudian. "Leah! Di mana kau?" Maria berputar secara horizontal dan vertikal, tidak melihatnya di mana pun. "Nona! Aku ada dalam tubuh manusia ini! Ini truk yang menabrakmu!" ucap Leah. "Bagaimana mungkin seseorang yang membawaku ke sini dan bertemu denganku untuk pertama kalinya dalam tubuh lain?" tanya Maria bingung. "Saat itu aku belum terbiasa dengan tubuh baru, kau malah memasukkanku pada tubuhmu," ucap Leah. “Oh,” ucap Maria sambil mengangguk, ia bersandar di kursi, angin terus menerpa wajahnya, sekarang ia hanya bisa mengetahui bahwa mobil ini melaju kencang, pintu kacanya pecah. Maria menoleh ke kursi pengemudi dan melihat seseorang sedang mengemudi, dengan rambut hitam menutupi setengah dari wajah pria itu, ia tampak sangat tinggi. "Oh Tuhan siapa ini! Kenapa aku memikirkan ini dengan sosok itu?" Maria berpikir sambil menepukkan tangannya di pipinya. Tiba-tiba ia teringat bayangan hitam di atap mobil, ia mencondongkan tubuhnya setengah ke luar pintu, tangannya di atas atap, ia mencoba dengan hati-hati untuk mengangkat kepalanya untuk melihat siapa itu. Sosok itu adalah seorang pria, dengan sebagian rusak di kepalanya, dan darah kering di kepalanya. Setan itu menoleh pada Maria, wajahnya berlumuran darah, darahnya mengering sejak lama, pakaiannya compang-camping. Melihat Maria, pria itu tersenyum dan kemudian menghilang. Mobil itu tiba-tiba melaju, Maria nyaris terjatuh. Di depan ada tikungan, mobil sedang menuju ke tepi jurang, tempat ini tanjakan berkelok-kelok, hari sudah mulai gelap, sudah sedikit orang yang lewat, jika Maria terjatuh, akan lama sebelum bisa menemukannya. Maria masuk ke dalam mobil, ia mengguncang pengemudi itu dan berteriak. Saat ini, pengemudi itu baru terkejut, ia baru sadar bahwa ia berada di tikungan, dan tidak bisa mengerem tepat waktu. Kedua orang itu melompat keluar dari mobil, truk itu jatuh ke tebing, tidak lama kemudian meledak. Maria terengah-engah dan bangun dengan susah payah dan berjalan ke arah utara. "Paman! Kau baik-baik saja?" tanya Maria sambil memegang tangan pria itu membantunya untuk berdiri. Sopir itu berdiri dan menjawab pertanyaannya. "Aku baik-baik saja!" Sopir itu berbalik. Maria terkejut dengan mata berbinar. "Ya Tuhan! Tampan sekali," batin Maria.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN