Pada malam hari berikutnya, ketika Axel menjawab teleponnya dan pergi ke rumah sakit untuk bergantian menjaga Marion. Setelah suaminya pergi, Maria juga bangun. Leah harus memberi jalan baginya untuk pergi ke Dunia Bawah Tanah. Setelah mencapai wilayah Dunia Bawah Tanah, jalur gaib Leah menghilang, tetapi digantikan dengan yang lebih sulit, kedua sisi jalan adalah Sungai Asam untuk bisa masuk ke mansion milik Haww.
"Leah, apakah ini jalannya?" tanya Maria kepada iblis penjaganya.
"Nona, ini wilayah Dunia Bawah Tanah, jalanku hanya bisa sampai sini," jelas Leah yang masih berada di tubuh tuannya.
"Nona! Hati-hati! Ada setan!" teriak Iris langsung melompat dari t**i lalat Maria ke depan gadis itu untuk melindunginya. Leah juga keluar untuk menahan iblis itu.
"Cepatlah Nona! Kami di sini untuk menghadangnya!" teriak Leah.
Maria berlari ke depan, gerbang menghalangi jalan satu demi satu seolah menyambutnya. Dari berlari, berubah menjadi langkah yang lebih cepat, kemudian langkahnya ia ubah ke langkah normal.
"Selamat datang Nona ke wilayah Dunia Bawah Tanah," ucap Pangeran Dunia Bawah Tanah yang berdiri di gerbang mansion, dengan wajah tampan dan tersenyum.
"Apakah benar ini Dunia Bawah Tanah?" tanya Maria sambil menatapnya, mata indahnya bersinar memandang pria itu dari kepala hingga kakinya.
"Ya. Angin apa yang membawa Istri Putra Mahkota ke sini?" tanya Haww lagi.
"Aku membutuhkan bantuanmu," jawab Maria.
"Masuk dan katakanlah!" ajak Haww.
Ketika Maria memasuki aula—ruangan khusus untuk para tamunya, Maria melihat bahwa tempat ini sangat besar. Meski tak sebanding dengan istana Axel di Dunia Iblis, tetapi ia tetap harus mengakuinya bahwa ini sangat luas.
"Yang Mulia! Yang Mulia! Lewat sini!" ajak Haww membawanya ke labnya. Haww duduk di kursi, sedangkan Maria masih berdiri.
"Jangan hanya berdiri seperti itu, silakan duduk," ajak Haww.
"Tidak perlu, aku hanya datang sebentar," ucap Maria.
"Datang demi adikmu?" tanya Haww memastikan.
"Kenapa kau tahu itu?" tanya Maria bingung.
"Adik laki-lakimu dirasuki iblis. Tahap pertama akan menghasilkan listrik, dan segera kepalanya akan berpisah dari tubuhnya," ucap Haww dengan santai. Kata-katanya mencekik hati Maria.
"Adik laki-lakiku, apakah dia akan mati? Mustahil!" ucap Maria dengan raut sedih.
"Namun, bukankah selalu ada cara untuk menyelamatkannya?" ucap Haww sedikit menenangkan wanita itu.
"Apakah kau bisa membantuku?" tanya Maria. Haww mendengar ia mengatakan itu, matanya tampak terang.
"Itu menggunakan darahmu!" ucap Haww dengan senang hati.
"Darahku?" tanya Maria
"Ya. Kau yang memiliki t**i lalat berbentuk bunga, itu artinya kau bisa menyelamatkan siapa pun yang dirugikan oleh setan," jelas Haww.
"Oh begitu," ucap Maria sambil menganggukkan kepalanya.
Haww pergi ke meja lab, dan mengambil pisau kecil dan kembali mendekat pada Maria.
"Pikirkan baik-baik, sekarang kau memiliki segel Putra Mahkota. Jika kau terluka, rasa sakit dari lukamu akan berpindah kepadanya, tetapi luka itu masih ada padamu," jelas Haww.
“Aku ...” ucap Maria benar-benar ragu, ketika Maria terluka, Axel yang akan menderita kesakitannya, tetapi ia tidak bisa membiarkan Marion mati. Seolah-olah ia merasa bersalah untuk Axel, bisturi menggores tipis pergelangan tangan Maria. Darah menetes setetes demi setetes ke tabung reaksi milik Haww, Maria tidak pernah merasakan sakit apa pun.
Di rumah sakit, Axel merasakan denyutan di pergelangan tangannya, sinar bulan menyinari wajah tampan yang sedang merengut kesakitan. Ia sangat ingin pergi menemui Maria, Maria pasti terluka, tetapi tidak lama kemudian, rasa sakitnya hilang, tetapi ia masih khawatir. Jika ia tidak bisa menjaga Marion, ia akan mencari istrinya.
***
"Silakan minum ini," ucap Haww dalam laboratorium, luka di lengan sudah sembuh secepat itu, Maria langsung menghampiri Haww.
"Pasti adikmu akan mengamuk. Karena mungkin kadang dia tidak bisa mengendalikan diri," ucap Haww sambil membuat obat saat berbicara dengannya.
"Mengapa?" tanya Maria bingung.
"Apakah kau lupa bahwa walaupun tubuhmu memiliki kekuatan yang tidak dapat kau jelajahi sendiri?" ucap Haww kepada wanita itu.
"Aku ..." ucap Maria ragu.
"Ini …" ucap Haww menghampirinya, ia memberinya tabung obat berisi cairan merah.
"Beri dia minum itu, dia akan baik-baik saja," ucap Haww lagi.
"Sedangkan, obat yang baru saja kau minum, dapat menyembuhkan luka kulit. Mungkin Yang Mulia tidak akan tahu di mana lukamu," ucap Haww menjelaskan.
"Terima kasih." Maria mengucapkan selamat tinggal padanya dan pergi. Setelah Maria pergi, perasaan Haww masih merasa tidak enak.
Maria baru saja meninggalkan wilayah itu, tiba-tiba Axel muncul tepat di depan mansion Haww. Melihatnya datang, Haww langsung menghela napasnya.
"Istrimu baru saja pergi, dia akan mengobati adiknya," ucap Haww.
"Maukah kau mengizinkanku masuk ke rumahmu?" tanya Axel.
"Ya. Ayo masuk," ajak Haww.
Mereka masih di ruangan kedap suara yang sama, Axel duduk dengan mengangkat satu kaki, ia menerima gelasnya dari Haww sambil menyaksikan gelombang cairan di gelas dengan tatapan sedih.
"Apa yang terjadi?" tanya Haww membuka suara.
"Ada ikatan batin antara aku dan dia. Bisakah kau mengubahnya sedikit?" ucap Axel.
"Mengubah?" tanya Haww.
"Semua lukanya dan sakit kulitnya, biarkan aku yang menanggungnya," ucap Axel.
Setelah mengatakan itu, Haww langsung menuangkan semua anggur ke gelas kemudian langsung menuangkan ke mulutnya sendiri dan melihat pria di depannya, ia mendesah dan berpikir bahwa Axel sudah gila.
"Demi wanita, apakah itu sepadan?" tanya Haww lagi. Axel meletakkan gelas di atas meja dan menatap temannya.
"Dia yang paling aku cintai, aku tidak keberatan," ucap Axel.
Haww menghela nalas dan pergi ke nakas itu, ia mengeluarkan tas kecil. Ia berbalik kemudian melemparkannya ke arah Axel.
"Itu akan memindahkan semua lukanya kepadamu, cukup campur dengan air dan kalian berdua meminumnya. Jangan menyesali perbuatanmu hari ini!" ucap Haww mengingatkan Axel.
"Aku tahu, terima kasih," Axel mengambil tas kecil itu dan meninggalkan Dunia Bawah Tanah.
Sesampainya di rumah, ia tidak bisa melihat batang hidung istrinya, tetapi ia mendengar suara pancuran air di kamar mandi, ia tertawa melihat itu.
"i***t ini tidak pernah menutup pintu, apalagi mengunci pintu," gumam Axel berjalan ke pintu kamar mandi. Pintu terbuka untuk menampakkan sosok langsing dengan rambut panjang basah yang menempel di lekuk lembut tubuhnya. Melihatnya seperti itu tubuh Axel terasa panas, ia berjalan untuk membuka pintu kamar mandi, dan masuk kemudian mungkin mereka akan mandi bersama.
Keesokan paginya, Maria mencoba bangun pagi untuk mengunjungi Marion. Ia pergi ke rumah sakit, ia pergi ke kamar Marion dan tidak menemukan ibunya di sana. Sesampainya di depan ranjang rumah sakit Marion, Maria menghela napasnya.
"Ini adalah saudara laki-laki yang paling aku cintai, dia terbaring di tempat tidur seperti ini, aku tidak tahan melihatnya," gumam Maria sedih. Ia langsung mengeluarkan botol obat dari sakunya, ia menggunakan kapas untuk menyerapnya, dan meneteskan cairan dari kapas secara perlahan di sekitar mulutnya.
"Saudaraku, kau akan baik-baik saja," ucap Maria berbicara sendiri.
"Pasti akan baik-baik saja," kata suara di belakangnya. Maria terkejut dan berbalik, ternyata Axel sudah berdiri di belakangnya sejak tadi.
"Kapan kau datang?" tanya Maria.
"Tentu saja aku selalu di belakangmu," jawab Axel sambil mendekatinya. Axel masih berdiri di sana, ketika ia akan menciumnya, Maria menjadi semakin marah dan memelototinya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu," ucap Axel.
"Bicaralah cepat!" perintah Maria. Axel memeluk pinggangnya, dan mengusap kepala istrinya.
"Kenapa aku merasakan seperti ada rasa obat di mulutku kemarin saat aku menciummu?" bisik Axel. Seluruh tubuh Maria membeku, ia sangat terkejut.
"Bagaimana dia bisa tahu? Kemarin pasti gara-gara obat yang diberikan Haww, dan aku lupa memakan sesuatu terlebih dahulu untuk menutupinya. Tanpa diduga si i***t ini menyadarinya," batin Maria.
"Itu obat untuk membangkitkan fantasimu, percaya kan?" ucap Maria sambil menegakkan tubuhnya, kepala pria itu sedikit menunduk untuk memandangnya, jari-jarinya menyentuh bibir merahnya.
"Dasar genit ya! Pantas saja kemarin panas sekali!" ucap Axel berbohong dan membungkuk lebih dekat ke arah Maria, bibirnya ditutupi dengan ciuman.
"Ehem!" suara orang lain tiba-tiba mengagetkan pasutri baru itu.