CHAPTER 14

1151 Kata
Keesokan sorenya, perut Maria berbunyi, sejak pagi sampai sekarang ia belum makan, tetapi seseorang membuatnya tidak bisa turun dari tempat tidur. Maria mencoba turun dari tempat tidur dan berjalan, tetapi kurang dari tiga langkah ia terjatuh karena kakinya tidak kuat menopangnya saat berjalan. Axel keluar dari kamar mandi masih dengan tubuh yang basah, hanya dibungkus dengan handuk berwarna putih. Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Maria mendongak untuk melihatnya, pria s****n itu yang telah melumpuhkannya sepanjang malam sampai pagi tadi. Maria memelototinya dan berteriak kencang. "Aku hampir mati!" teriak gadis itu, dan dalam waktu kurang dari lima menit, Maria menangis sendiri karena tidak bisa bangun dari lantai. Axel menghela napas, ia mendatanginya, lalu menggendongnya ke tempat tidur. Setelah beberapa saat ia kembali masih hanya dengan handuk di tubuhnya, ia membawa baskom berisi air di tangannya dan handuk di sisi baskom. Hal pertama yang Maria pikirkan adalah mengapa tidak meletakkannya di kamar mandi tetapi menaruhnya di tempat tidur. Axel duduk di tempat tidur dan mengelap tubuh kekasihnya. Tangannya memegang handuk lembut yang dibasahi dengan air hangat bergerak di sekitar tubuh Maria, Maria sedikit menggigil. "Diamlah! Aku membersihkan tubuhmu dulu, aku akan membawamu ke suatu tempat sebentar lagi," ucap Axel terus mengelap tubuh Maria. "Aku lapar," ucap Maria pelan. "Baiklah. Kita makan dulu lalu berangkat," ucap Axel dengan lembut. Maria mendengarnya mengatakan itu, lalu ia tersenyum. Saat ini sudah pukul enam, setelah mereka selesai makan, dan mereka berdua naik taksi untuk pergi ke sana. Maria bertanya-tanya, mengapa Axel tampak lebih misterius, senyum di bibirnya juga menjadi lebih jelas. Sesampainya di pinggir sungai kecil, keduanya turun dari mobil dan mengikuti arus. Sedikit lagi, ada jembatan yang menghubungkan ke alam lain. Keduanya naik ke atas jembatan, sehingga Maria hampir terjatuh, untungnya Axel membantunya. Mereka menyeberangi jembatan itu ke dunia lain. Pemandangannya berkilauan, kunang-kunang bersinar terbang di udara. Maria terus-menerus mengangkat matanya untuk melihat kunang-kunang, tubuhnya masih bersandar pada kekasihnya. "Hei! Kenapa kau tahu tempat ini?" tanya Maria menoleh padanya. "Rahasia!" jawab Axel singkat sambil tersenyum. Maria menemukan ekspresi tampannya ini. Axel tiba-tiba berhenti, dan merendahkan bahunya membuat Maria juga berhenti. Maria tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Axel membawa gadis itu di punggungnya karena Maria kesulitan berjalan di belakang. Kali ini Axel menurunkan tubuh Maria dari gendongannya. Maria melihat di depannya, pria itu berdiri di depan sebatang pohon. Pohon ini begitu istimewa, sepertinya hawa dingin tidak mempengaruhinya, batangnya memiliki cahaya, daunnya hanya memiliki sedikit daun yang memancarkan cahaya merah jambu. Axel berbalik, dan berjalan ke arahnya dan membantunya melangkah maju. Axel senang dengan tatapan Maria ke pohon itu. "Itu indah, bukan? Ini adalah pohon cinta, pasangan di dunia iblis akan datang ke sini untuk memakai simbol cinta dan jika tanda itu bersinar. Pasangan itu akan bersama selamanya," jelas Axel. "Maksudmu, haruskah kita memasang simbol cinta di batang pohon ini?" tanya Maria. "Tidak, kita bangsawan, kita harus meletakkan simbol di daun pohon," ucap Axel lagi. Selembar daun jatuh dari pohon ke kepala Maria, Axel mengambil daun itu, ia menggores di jari telunjuknya sampai berdarah, kemudian ia mengelus daun itu. Maria melihat itu, jarinya juga digores sampai berdarahnya pada daun itu. Daunnya langsung terbang dan menempel di dahan kembali. Cahaya daun tadi yang cerah dan berkedip-kedip, dan kemudian daun itu lebih cerah dari yang lain. *** Setibanya di rumah, telepon Maria berdering. Ia mengangkat telepon, di tempat lain ada suara ibunya, suaranya bergetar, mungkin suasana hatinya sedang panik. "Maria! Cepat datang ke rumah sakit! Keadaan Marion sedang kritis!" Mendengar suara ibunya, Maria naik taksi dan menarik tangan Axel ke dalam mobil dan pergi ke rumah sakit. Axel duduk di dalam mobil, dan masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi. "Ada apa?" tanya Axel kepada istrinya. "Terjadi sesuatu dengan Marion. Tadi malam saat aku keluar, bocah itu mengantarku sampai depan gerbang, ketika itu dia tiba-tiba jatuh, wajahnya pucat dan matanya merah. Aku sangat khawatir. Aku ingin tahu apakah dia baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa dengannya." Maria berbicara dengan penuh kekhawatiran. Axel berpikir dan menarik napasnya pelan. Ternyata kemarin Maria tidak sengaja terlambat, tetapi karena Marion punya masalah. Axel memeluknya dan menghiburnya. "Tenanglah, anak laki-laki itu pasti akan baik-baik saja," ucap Axel. Ketika keduanya pergi ke kamar rumah sakit di mana Marion dirawat, mereka melihat dokter berdiri di depan pintu, dan di dalam sana sangat berisik. Ibunya melihatnya datang dan segera berjalan, ia mencengkeram tangan anaknya dan mengguncangnya. "Maria, Axel, ada apa dengan anak itu! Masuk dan lihat bagaimana itu!" ucap Ibu Merry panik. Ketika keduanya berjalan ke pintu depan kamar, Maria menutup mulutnya dan panik. Marion seperti tersengat listrik, mulutnya tersenyum lebar, kulitnya kebiruan. Yang lebih mengejutkan adalah Marion menyiksa seorang perawat dengan melukai tubuhnya dengan gunting. Untungnya, ini adalah lantai VIP, sehingga jika tidak, apa yang terjadi di sini akan menjadi hal yang mengerikan bagi pasien dan keluarga pasien lainnya. Para perawat dan dokter tidak berani turun tangan, hanya berdiri di sana dan menyaksikan pemandangan di depan mereka. Maria masuk, dan Axel segera berjalan di depannya, ia menggunakan tangannya untuk menghentikan langkah istrinya, menyebabkan Maria tetap di belakangnya. "Cukup! Marion berhenti sekarang!" teriak Maria dengan keras. Marion perlahan menoleh ke arah mereka berdua, ketika melihat ada Axel di sana, Marion tiba-tiba menjerit dan kejang kemudian jatuh ke lantai. Axel segera berlari untuk membantunya ke atas tempat tidur, perawat yang diserang itu buru-buru merangkak ke sudut dinding. Saat ini, perawat dan dokter yang di luar baru berani masuk untuk menyuntikkan obat penenang untuk Marion. Perawat lain berlari untuk membantu perawat yang diserang olehnya. Maria melihat adiknya seperti itu, di dalam hatinya timbul kesedihan. "Mengapa saudaraku begitu menyedihkan?" batin Maria. Setelah obat yang disuntikkan oleh dokter, dokter dan perawat keluar ruangan, Axel pun meminta ibu Maria untuk ikut dengannya. Hanya ada dua orang yang tersisa di ruangan itu, Axel mendatanginya dan meletakkan tangannya di bahu mertuanya sambil mengatakan sesuatu. "Mungkin bocah ini telah kerasukan," ucap Axel. "Kerasukan?" tanya Ibu Merry kepada pria itu sambil duduk di kursi dan memegang tangan Marion sambil bertanya-tanya dalam benaknya. "Mungkin dirasuki setan yang waktu itu! Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menemukan cara untuk menyelamatkan nyawa anak ini," ucap Axel kepada mertuanya lagi. Mereka berdua meninggalkan rumah sakit untuk pulang. Dalam mobil, Maria selalu bersandar pada d**a Axel, pikirannya terjungkirbalik entah ke mana-mana. Sesampainya di rumah, Axel memeluk istrinya dari belakang. "Jangan khawatir. Anak laki-laki itu akan baik-baik saja, ayo tidur," ajak Pangeran. Maria dan Axel melangkah ke kamar, Maria mandi dulu dan kemudian pergi tidur, suaminya mandi setelah Maria selesai. Pada saat itu, suara Iris terngiang-ngiang di kepala gadis itu. "Nona! Aku tahu kau mengkhawatirkan saudaramu, aku juga mengenal seseorang yang bisa membantumu!" teriak Iris dalam tangan Maria. "Siapa?" jawab Maria. "Haww!" teriak Iris. "Haww?" "Haww adalah pria yang tahu jawaban dari semua pertanyaan tersembunyi dan bisa membuat racun serta penawarnya. Aku pikir pria ini bisa membantu," jelas Iris. "Baiklah!" ucap Maria dengan semangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN