CHAPTER 13

1168 Kata
Axel berlari untuk menjatuhkan kepala dari kaki Marion, ia menarik rambutnya, dan menghancurkan kepala itu dengan tangan yang lain. Marion pingsan karena kehilangan banyak darah. Axel memandang setan itu dan bertanya. "Iblis macam apa kau?" tanya Axel. "Ngomong-ngomong, kau akan mati! Kau tahu, aku datang ke sini hanya untuk bersenang-senang, aku ingin segera mencapai tujuanku, misiku akhirnya selesai. Pangeran, aku menyarankan kepadamu, kau jangan bodoh!" teriak iblis itu yang ternyata masuk ke tubuh Maria. "Gadis ini akan disakiti dalam waktu dekat!” ucap Iblis itu selesai dengan pembicaraannya kemudian pergi dan menghilang. Malam ini, polisi kembali menyelidiki mayat baru di sekolah tersebut. Adapun gadis kecil yang dirasuki setan, tubuhnya ditemukan di halaman belakang itu. Beberapa waktu kemudian, segalanya juga mereda dengan ribuan pertanyaan yang masih belum terjawab. Sekolah yang menjadi tempat belajar Marion menjadi terkenal karena insiden itu. *** Hari ini 31 Oktober, malam Halloween segera datang, hari yang sama dengan rencana Axel, ia telah menunggunya lama sekali. "Kakak, apakah kau gugup?" tanya Marion kepada Axel yang duduk di sofa sambil makan dan bertanya. Kaki anak itu dengan tujuh jahitan telah sembuh, untungnya ia dibawa ke rumah sakit tepat waktu saat itu. Axel duduk di sampingnya, dan menjawabnya dengan tenang. "Santai saja," jawab Axel. "Apakah kau sudah membeli cincin?" tanya Marion lagi. "Aku Putra Mahkota, mengapa aku yang harus beli cincin? Aku punya cara sendiri!" jawab Axel. Jawabannya membuat Marion semakin penasaran, pada akhirnya Axel memberitahu bagaimana caranya. Ibu Merry dan Maria pergi berbelanja siang ini, jadi baru pada malam hari mereka memiliki banyak waktu bagi kedua bersaudara itu untuk menghabiskan waktu mereka di mansion. Sedangkan neneknya pergi mengunjungi teman-temannya, dan pembantu hanya fokus melakukan pekerjaannya. Sore hari, Ibu Merry dan Maria pulang ke rumah, dan selesai makan Axel langsung pergi. Maria merasa marah sekaligus penasaran dengan Axel, apalagi setelah mendengar adiknya berkata bahwa pria itu sedikit berbeda, ia seperti marah, saat pergi juga menunjukkan wajah misterius yang membuatnya semakin penasaran. Setelah makan malam, Marion mengantar Maria ke kamarnya dan memanggil ibunya untuk mengikuti mereka. Anak laki-laki itu dengan fasih meminta ibunya untuk memilihkan dua gaun yang terbaik untuk kakaknya. Gaun biru sedikit lebih pendek di atas lutut, dengan saku di d**a, dengan ikat pinggang yang terlihat sangat aktif. Gaun lainnya berwarna pink dengan corak di bagian belakang dan di pinggang. Maria hendak memilih gaun biru, tetapi Marion langsung tersentak di belakang dan memberinya gaun berwarna merah muda. Maria merasa ingin mengutuknya, lalu ia menyela. "Memangnya mau pergi ke mana?" tanya Maria. Rasa ingin tahunya tidak bisa diatasi, tetapi saudaranya adalah satu-satunya petunjuk, maka ia harus mendengarkannya. Maria selesai berganti pakaian, ia terlihat sangat cantik. Kulit putihnya serasi dengan gaun berwarna merah jambu itu, dan ia terlihat sangat lembut. Marion juga memaksanya untuk menggunakan make up, tetapi ia tidak suka, jadi ia hanya memakai lipstik. Marion memberikan alamat janji temu kepada kakaknya untuk menemui Axel di suatu tempat. Sesampainya mereka berdua di pintu gerbang, tiba-tiba wajah Marion bergaris-garis, matanya berkilat darah. Anak itu berteriak kesakitan dan jatuh ke tanah. Maria hanya heran, ia memanggil semua orang—Nenek, Ibu Merry, dan pembantunya berlari keluar dan segera membawa Marion ke ruang gawat darurat rumah sakit. Awalnya, Maria sangat mencemaskan adiknya, ia tinggal di rumah sakit menemani adiknya hingga larut malam. Ibunya melihat putrinya seperti itu, ia langsung menghampirinya. "Maria, bukankah Axel sedang menunggumu? Sekarang sudah terlambat," ucap Merry kepada anaknya. Sekarang, Maria tiba-tiba teringat, karena sebelumnya ia sangat mengkhawatirkan Marion dan melupakan janjinya dengan Axel. "Tapi bagaimana dengan Marion? Jika aku pergi, maka ..." ucap Maria kepada ibunya. "Yakinlah, Ibu akan berada di sini untuknya!" ucap ibunya sambil menepuk pundaknya. Maria mengangguk bingung kemudian pergi. Jelas tidak ada mobil pada larut malam seperti ini, jadi Maria harus berjalan ke tempat bertemu. Namun, ketika sudah dekat dengan tempat itu, Maria bertemu dengan seorang preman, dan Maria tidak membawa s*****a. "Hei cantik! Kau terburu-buru sekali, mau ke mana? Maukah pacaran denganku?" goda preman itu memegang tangan Maria meskipun ia mengabaikannya dan melangkah dengan cepat. "Lepaskan tanganku!" Sedikit kata-kata yang keluar dari mulut Maria begitu dingin sehingga pria itu merasa tertantang. Pria itu bahkan tidak tahu bahwa langit tinggi bersaksi melihat tingkah lakunya, dan tangan yang lain sudah ada di pinggang Maria. "Nona, kau tidak harus marah seperti itu? Aku akan memanjakanmu," ucap preman itu. Maria berbalik ke belakang, hendak mengayunkan tendangannya, tetapi saat itu pula lelaki itu tiba-tiba meronta, tubuhnya melambung tinggi, wajahnya seolah diremas oleh seseorang. Tubuhnya dengan cepat terlempar ke atap suatu rumah di sana, ia terguling dan jatuh lagi, serta kepalanya terbentur di jalan. Di belakang, terdengar suara yang akrab tetapi dengan dingin menembus hati Maria. "Kau terlambat!" ucap seorang pria. "Axel?" Maria berbalik, dan melihat tatapan dinginnya, Maria tiba-tiba merasa bersalah. Axel tidak mengatakan apa pun, tetapi ia segera menghampirinya, dan menggendong kekasihnya lalu berjalan pulang. Meskipun Axel berjuang, Maria tetap tidak datang ke hatinya. Axel membawa gadis itu di kedua lengannya sambil berjalan kaki menuju mansion. Saat mereka berdua sampai di rumah, gerbangnya terkunci, dan lampu listrik mati. Bagaimanapun, ia adalah Putra Mahkota, tetapi dalam wujud manusianya, ia tidak begitu memiliki kekuatan. Di depan pintu utama, kali ini ia harus menurunkan Maria dan membiarkan kekasihnya membuka pintu. Pintu dibuka, Axel berbelok sebentar ke lantai, Maria mengunci pintu dan kemudian mengikutinya. Maria memasuki ruangan, dan ia menemukan pria itu berdiri di depan jendela kecil sambil melihat ke arah halaman. Di bawah sinar rembulan ia terlihat begitu tampan, mata dingin yang bersinar oleh sinar bulan memancarkan semangat seorang raja yang tak seorangpun berani menyentuhnya. "Axel?" ucap Maria sambil mendekatinya, tangannya hendak menyentuh bahunya tetapi tidak berani. "Maria! Sepanjang hidup ini mungkin tidak ada yang bisa membuatku menunggu selama ini kecuali kau, tidak ada yang aku habiskan dengan kesabaran seperti aku menunggumu. Tapi tetap saja kau selalu terlambat. Mungkin kau tidak mencintaiku meski hanya sedikit pun?" ucap Axel sambil memunggungi Maria, mendengar ucapan Axel dari belakang pria itu tampak kesepian. Ekspresi wajahnya tidak bisa Maria lihat. Namun, Maria berpikir bahwa pria itu kecewa. Setelah mendengar pertanyaan Axel, Maria langsung memeluknya dari belakang dan berteriak. "Aku mencintai Pangeran ini!" teriak Maria melihat arah langit di luar jendela sambil memeluk Axel. Axel terkejut, alisnya terangkat, matanya menunjukkan ketidakpercayaan. Ia melonggarkan lengannya, dan berbalik menghadap Maria. Tangannya memegangi bahu wanita di depannya. "Akhirnya … aku bisa mendengarnya sekarang. Apakah kau benar-benar mencintaiku?" tanya Axel sambil memandang lekat mata gadis di depannya. Maria tersenyum kemudian menganggukkan kepala. “Aku senang sekali. Maria, akhirnya kau mengakui perasaanmu untukku," ucap Axel. Setelah mengatakan itu, Axel membungkuk, ia memberikan ciuman dalam di bibirnya. Lidahnya menyapu bagian dalam mulutnya. Maria tidak bisa bernapas, ia meninju tubuh kekasihnya, sehingga pria itu melepaskannya. Wajah Maria merah karena ciuman barusan, Axel mengangkat tubuh kekasihnya dan berjalan ke tempat tidur dan meletakkannya dengan pelan. Maria tersadar dan bangun ingin pergi. Axel menekannya, tetapi bahkan jika Maria bisa menumbuhkan sayap sekali pun, ia tidak bisa lari dari Pangeran Iblis di depannya. Axel menciumnya tidak dengan lembut tetapi dengan pantas seperti yang juga diinginkan oleh Maria.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN