22 : Kehamilan yang tak diharapkan

1440 Kata

Sikap Rafa membuat gue bingung.  Buat apa dia kekeuh mempertahankan gue disampingnya bila dia tak menganggap keberadaan gue?  Lihatlah, dia hanya diam membeku seperti patung es meski gue berbuat apapun disini.  Selama didalam kamar!  La iyalah, kamar ini dikunci.  Dan kuncinya ada di kantung celana Rafa.  b******k! Gue jenuh disini.  Mana perut gue lapar lagi!  Barusan perut gue berbunyi, untuk yang ketiga kalinya.  Dan Rafa masih asik mengutak-atik laptopnya, tanpa mempedulikan gue. "Rafaaaaaaa, lu enggak mendengar perut gue menjerit?" tanya gue gusar. "Hm," jawabnya singkat dengan mata tetap fokus pada layar laptopnya. Semenit, dua menit, gue tunggu reaksinya, tapi dia tak melakukan apapun. "Rafa, gue lapar," tandas gue langsung. Kali ini dia menoleh dan menatap gue malas. "Yang d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN