Gue bimbang. Hanya sesaat. Setelah melihat sorot putus asa di mata Rafa dan pandangan pongah milik Om, gue langsung memutuskannya. "Rafa, maaf," kata gue sembari menepis tangan Rafa di lengan gue. Tadi Rafa telah menurunkan gue dari pondongannya, kemudian tangannya menggenggam erat pergelangan tangan gue, yang baru saja gue lepas. Dia menatap gue nelangsa saat gue berjalan mendekati Om. "Luna, saya tahu kamu dapat membuat keputusan yang tepat," ujar Om dengan senyum puas tersungging di bibirnya. "Iya, Om. Kali ini Luna sudah mantap, tak akan berubah lagi," timpal gue yakin. Gue menatapnya serius, lalu berkata perlahan, "Maaf Om, ternyata kita tak berjodoh. Lebih baik Om kembali pada keluarga Om yang amat mencintai Om." Mata Om membelalak lebar. Dia tak menyangka gue mendekatin

