Gue tahu permasalahan ini akan berbuntut panjang. Berita terlanjur tersebar luas, mana mungkin orang tua gue kagak tau? Dan mereka marah karena tahunya dari media sosial, bukan dari mulut gue sendiri. Dan disinilah mereka, siap mengadili gue dan Tetet. Sialnya saat tadi mereka didepan pintu apartemen gue, Tetet yang membukakan pintu. Jadi wajar mereka mengira gue dan Tetet telah tinggal serumah. Dalam tanda petik. “Jadi kalian sudah kumpul kebo!” tuduh Dad sembari menatap tajam Tetet. “Kalau maksud Anda, kami tinggal serumah memang iya. Tapi bukan berarti seburuk yang Anda pikir. Kami serumah karena ...” Gue segera membungkam mulut Tetet. Astaga, jangan sampai Tetet bilang dia disini untuk melindungi gue. Dad bisa kambuh sikap

