Gue menanti dengan hati berdebar. Yang gue terima adalah pandangan menyelidik, bukan ciuman. “Apa kamu mabuk, Elly?” Gue menggeleng. “Gue enggak mabuk, Kak. Cuma .. hehehe ..dikit. Dikiiit sekaliii ...” Gue menunjukkan seujung jari. Kak Danu menghembuskan napas panjang. “Maaf, saya tak menyangka kalau Elly tak tahan minum anggur. Ayo, saya antar kamu pulang.” Dia menggandeng gue, menuntun ke mobilnya. Saat di parkiran mobil, jalan gue agak sempoyongan, kepala gue terasa agak pusing. Untung Kak Danu menahan pinggang gue. Posisi kami jadi dekat, kami saling bertatapan. Mengapa dari dekat begini, dia semakin tampan? Bibirnya seksi. “Kiss me ...” desis gue. Fix. Gue memang mabuk. Beraninya gue memin

