Sejak beberapa hari lalu baik Yasmin maupun Fuad tidak saling tegur sapa satu sama lain. Bahkan Fuad beberapa kali tidur di sofa ruang tamu setelah pulang dari kantor.
Yasmin sendiri membatasi aktivitasnya bahkan dia lebih banyak murung daripada melakukan live streaming seperti biasa. Yasmin hanya membuat konten-konten biasa saja. Dia juga mengambil cuti di bagian penyiar radio.
"Aku nggak tahu harus gimana lagi, Clau. Dokter memvonis aku akan sulit hamil."
"Hah? Kenapa? Kamu terlihat sehat, Yasmin."
"Aku mengidap penyakit PCOS atau nama panjangnya Polycystic Ovary Syndrome."
"Penyakit apa itu? Aku baru denger."
"Sejenis gangguan hormon yang terjadi saat menstruasi dengan timbulnya kista kecil-kecil. Penyakit ini diprediksi nggak bisa disembuhkan. Aku masih bisa hamil, tapi akan ada pre-eklampsia atau tekanan darah tinggi di usia kandungan 20 minggu. Ini juga fatal karena akan ada komplikasi serius yang bisa ngebahayain aku sama bayi aku," jelas Yasmin.
"Tapi semua penyakit pasti akan ada obatnya. Aku temani kamu berobat ke luar negeri, hm? Kamu butuh uang berapa, aku akan bantu kamu sebisa mungkin," kata Claudi meyakinkan Yasmin dengan menggenggam erat tangannya.
"Andai masalahnya hanya uang, kamu tau uangku sendiri lebih dari cukup kalau hanya untuk berobat. Tapi bukan itu masalah utamanya, Clau. Mas Fuad dan Ibu pasti nggak akan sabar sedangkan aku nggak boleh stres apalagi sampai ada kenaikan berat badan yang signifikan."
Tentu sebagai sahabat, Claudi sangat sedih. Segera dia memeluk Yasmin yang mulai menitikkan air matanya.
"Bahkan Mas Fuad nggak mau tidur di kamar, Clau. Beberapa hari ini dia tidur di sofa dan kamu tau, Ibu mertua aku pun cuek. Aku nggak pernah di tegur ataupun di sapa sejak hasil cek kandungan waktu itu. Masakan yang aku masak pun nggak pernah ada yang nyentuh baik Ibu maupun Mas Fuad. Aku harus gimana, Clau?" Isak Yasmin dalam pelukan sang sahabat. Selain kata sabar, memang tidak ada kata lagi yang bisa Claudi ucapkan.
Setelah puas menangis mengungkapkan isi hatinya, Yasmin pergi ke kantor Fuad untuk memberikan surprise karena anniversary pernikahan mereka yang keempat tahun.
"Semoga kejutan kecil ini bisa membuat hati Mas Fuad berubah," gumam Yasmin melihat isi paper bag dengan kado yang di dalamnya ada jam tangan rolex keluaran terbaru bahkan limited edition dari Singapura yang dia pesan lewat temannya beberapa minggu lalu juga ada mini cake untuk tiup lilin saat perayaan nanti.
Yasmin pun berjalan menuju toilet terlebih dahulu setelah bertanya pada satpam dimana ruang kerja Fuad karena selama menikah Yasmin hanya satu kali ke kantor Fuad dan itupun hanya sampai lobby saja. Dia ingin merapikan pakaian juga rambutnya.
"Gila ya tuh Pak Fuad sama Bu Echa udah uh ah lagi. Pagi gue denger mereka begitu sekarang begitu lagi."
"Emang nggak waras mereka tiap hari begitu. Andai aja CEO kita lewat ruangan Pak Fuad, pasti langsung dipecat."
"Tapi yang gue denger istri Pak Fuad itu jelek dan culun, jadi wajar aja kale dia begitu sama wanita lain."
"Betul, Bu Echa kan janda, bohay pula. Udah gitu punya jabatan yang bisa nguntungin Pak Fuad, pasti nggak akan nolak dia."
Mendengar percakapan tersebut, Yasmin langsung berlinang air mata seraya membekap mulutnya sendiri. Tentu saja dia tidak ingin percaya dengan apa yang dia dengar itu.
Beberapa tarikan napas dengan hembusan perlahan membuat Yasmin sedikit tenang dan segera mengusap air matanya lalu keluar dari toilet dan segera melangkah menuju ruang kerja suaminya, Fuad.
"Ah, Sayang … goyanganmu selalu memuaskan." Baru mau mengetuk pintu, Yasmin langsung membelalak mendengar suara suaminya yang menjijikkan.
"Kalau nggak memuaskan, mana mungkin kamu minta jatah tiap pagi siang sore malem, Sayang. Oh … senjatamu juga sangat perkasa, Sayang …." Lolongan panjang dari wanita yang Yasmin yakin itu adalah wanita yang bernama Echa membuat Yasmin kembali menitikkan air mata.
Cukup lama Yasmin mendengar jeritan-jeritan kenikmatan di depan pintu ruang kerja Fuad yang sedikit terbuka itu dengan tangan tremor. Dia sadar Fuad tidak pernah seintim itu dengannya saat di atas tempat tidur.
"Nggak, Yasmin! Nggak boleh begini. Kamu nggak boleh begini, Yasmina Sekar Dewi," ucap Yasmin dalam hati. Dia menguatkan diri untuk memergoki perselingkuhan suaminya.
Pintu ruang kerja yang menjadi saksi perzinahan suaminya dengan seorang janda itu pun terbuka lebar dengan hentakan suara cukup keras. Tentu saja kedua sejoli yang sedang menikmati surga dunia mereka pun terkejut.
"Yasmin," gumam Fuad dengan mata membelalak.
"Mas, mari kita bercerai. Kamu nggak usah khawatir dengan biayanya karena aku yang akan mengurus semua itu. Silahkan lanjutkan percintaan kalian. Have fun, Mas Fuad dan … janda gatel," ucap Yasmin penuh penekanan di akhir kata.
Echa ikut membelalak menoleh pada Yasmin yang sedang menatapnya penuh kebencian.
"Jaga mulutmu, Yasmin. Dia wanita baik-baik yang pasti akan memberikan aku anak. Bukan wanita sepertimu," sentak Fuad.
"Wanita baik-baik? Nggak ada wanita baik-baik yang merebut kebahagiaan wanita lainnya, Mas Fuad yang terhormat !" sahut Yasmin dengan suara serak.
"Hei, Culun binti Jelek! Sebaiknya kamu segera angkat kaki dari sini karena kamu mengganggu aktivitas percintaan kami!" kata Echa dengan nada kesal.
"Hei Nona Echa, seharusnya anda bercermin. Jadilah wanita yang bersinar tanpa meredupkan cahaya wanita lain. Tapi saya berterima kasih karena anda saya jadi tahu bagaimana bejatnya suami yang akan menjadi sampah itu," jawab Yasmin dengan jari telunjuk yang mengarah pada Fuad.
Tentu Yasmin tidak sudi melihat kedua manusia laknat setengah busana itu berlama-lama. Segera Yasmin pergi dengan membanting pintu.
"Astaghfirullah … ya Allah, hamba yakin ini yang terbaik untuk hamba," gumam Yasmin kembali dengan tangan dan mulut gemetar. Bahkan rasanya dia tidak sanggup barang selangkah pun pergi lebih jauh dari ruang kerja Fuad.
Namun sekuat mungkin Yasmin memaksa kakinya yang lemas bagai tak bertulang itu berjalan.
Tiba di ujung tangga, Yasmin tiba-tiba keluar keringat dingin. Tangan dan mulut masih bergetar hebat. Kini Yasmin bahkan merasa pusing yang luar biasa.
"Aku … aku pasti … pasti kuat. Aku nggak boleh lemah," ucapnya lirih dan tertatih. Namun sayang, kejadian memilukan yang baru dia lihat membuat Yasmin ambruk. Bukan di lantai, tetapi di tangan seorang pria matang dengan setelan jas cream yang kebetulan lewat.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanya pria tersebut seraya menepuk sebelah pipi Yasmin.
"Kamu benar-benar laki-laki b******k, Mas. Kamu nggak ada bedanya dengan ayahku. Kamu b******k, kamu bukan manusia, Mas. Kamu binatang. Aku menyesal, Mas. Aku amat sangat menyesal telah menikah denganmu," ucap Yasmin sangat pelan sebelum dia pingsan.
"Yasmin, kamu, kah?" gumam pria tersebut. "Siapkan mobil, kita bawa dia ke rumah sakit terdekat," titah pria itu kepada asisten pribadinya.