"Tuan, resepsionis minta data diri Nona ini," ucap Excel pada Tuannya sejak beberapa tahun silam.
Bukannya langsung pergi ke bagian resepsionis, Almeer, seorang pria matang yang menolong Yasmin beberapa saat lalu dan membawanya ke rumah sakit malah tersenyum manis seraya menatap wajah Yasmin yang masih pingsan.
"Tuan," lirih Excel lagi memastikan sang tuan mendengar apa yang dia katakan sebelumnya. Sebenarnya dia sendiri bisa mengisi asal, tetapi Excel tidak berani karena suatu alasan.
"Kenapa kamu akhir-akhir ini begitu nggak sabar, Excel. Lihatlah cinta yang aku sia-siakan dulu, kini ada dihadapanku. Bagaimana bisa aku begitu saja meninggalkan dia," jawab Almeer masih dengan wajah manisnya juga kedua mata yang tidak mau berpaling dari Yasmin.
"Hanya 5 menit saja, Tuan. Agar pemeriksaan bisa berlanjut," sahut Excel sedikit kesal. Dia tahu betul alasan Almeer kembali ke Indonesia setelah hampir enam tahun lamanya di Cina.
"Ck, baiklah. Jaga Yasmin dengan baik. Bahkan jangan sampai berkedip." Almeer pun berbalik badan setelah mengusap ujung kepala Yasmin sebelum benar-benar pergi ke bagian resepsionis. Almeer melirik sekilas Excel yang semakin kesal padanya. Namun seperti biasa, Almeer hanya menyunggingkan senyum kemudian keluar dari ruang UGD untuk mengisi data diri Yasmin.
Secarik kertas yang diberikan oleh seorang perawat pada Almeer telah diisi dengan lengkap. Bahkan dari tinggi badan juga golongan darah. Hanya satu yang belum Almeer isi, yaitu hubungan antara dia dengan Yasmin. Almeer sedikit bingung, tetapi pada akhirnya Almeer mengisinya dengan kata "teman" yang padahal dia ingin sekali menulis kata "suami" disana.
Setelah selesai mengurus administrasi, Almeer segera kembali ke UGD dan melihat Yasmin sudah membuka mata dengan wajah keheranan menatap Excel yang tentu saja tidak asing baginya.
"Hei, udah berapa lama kalian dengan raut wajah seperti itu, hm?" mendengar suara Almeer yang sedang berdiri diambang pintu, membuat Yasmin mengangkat satu alisnya.
"Almeer Edrich Shanshan, kamu …?" Yamin tidak melanjutkan bicaranya karena tiba-tiba rasa pusing menyerang. Yasmin merintih kesakitan seraya memegang kepala dengan kedua tangan. Tentu saja Almeer segera menghampiri Yasmin dengan raut wajah ketakutan.
"Cepat panggil Dokter!" tegas Almeer pada Excel yang segera keluar saat itu juga. "Tahan sebentar, Yasmin. Kamu akan baik-baik aja, Sayang," kata Almeer begitu lembut dengan tangan sedikit tremor bingung harus bagaimana menyikapi keadaan Yasmin yang mengaduh kesakitan. Akhirnya Almeer merengkuh kedua bahu Yasmin.
"Jangan sentuh aku, b******n!" teriak Yasmin. Sejak tadi pikirannya hanya ada bayangan Fuad yang menyatukan tubuhnya dengan wanita lain.
Almeer tersentak dan secepatnya mundur satu langkah menjauh.
"b******n seperti apa yang sudah membuat kamu sesakit ini, Yasmin?" lirih Almeer dengan bibir bergetar.
Tidak butuh waktu lama, Dokter masuk dan menyuntikan sesuatu pada Yasmin yang terlihat ketakutan dengan tangan yang masih menjambak rambutnya sendiri.
Yasmin membuka mata dan melihat wajah Almeer yang mana raut wajah itu sama seperti saat mereka harus terpaksa berpisah enam tahun silam. Setelah itu Yasmin pun kembali tertidur sebab efek suntikan yang diberikan oleh Dokter.
***
"Kamu udah bangun?" sambut Almeer saat Yasmin membuka matanya setelah hampir dua jam lamanya tertidur.
Namun Yasmin tidak langsung menjawab. Kedua matanya beralih menatap langit-langit ruang rawatnya yang telah berubah. Kini Yasmin sudah dipindahkan di ruang rawat khusus yang pasti ruang rawat itu adalah kelas vvip. Sebuah botol yang menggantung membuat Yasmin menyunggingkan senyum dan mengangkat tangannya yang terpasang jarum infus.
Yasmin kembali menatap Almeer yang masih setia menunggu jawabannya.
Ingatan demi ingatan harus dia tata sedemikian rupa. Baik itu tentang Fuad juga tentang seorang Almeer yang sedang duduk di sisi brankarnya. Namun Yasmin tiba-tiba terngiang dengan kata sayang dari mulut Almeer. Entah itu ingatan masa lalu, atau kata itu tiba-tiba terdengar kembali setelah sekian tahun tidak dia dengar, Yasmin hanya bisa menyunggingkan senyum.
"Aku mau pulang. Aku nggak mau dirawat seperti ini," ucap Yasmin berusaha tegar. Walaupun suaranya pelan, Almeer masih bisa mendengar dengan jelas.
"Tunggu sampai botol infus itu habis ya?" bujuk Almeer begitu lembut. Anehnya Yasmin mengangguk pelan. Seperti tahu betul apa yang dikatakan laki-laki itu.
Namun setelah botol infus yang dimaksud habis, Almeer benar-benar menuruti apa yang diminta oleh Yasmin sebelumnya. Walaupun keduanya hanya bicara seperlunya, Almeer mengikuti apa yang Yasmin mau bahkan mengantarkan dia pulang.
"Wanita nggak tau diri!" tegur Ibu Farah seraya menyeret koper keluar dari rumah dan mendorong begitu keras sampai koper itu terjatuh di depan Yasmin.
"Yasmin," gumam Fuad menatap iba. Rambutnya memang sedikit berantakan dan tubuhnya terlihat lemas juga berwajah pucat. Apalagi ada perban di punggung tangan Yasmin yang menandakan dirinya baru saja mendapatkan infus.
"Apa kalian mengusirku?" tanya Yasmin lemah. Sebenarnya dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi saat dirinya pulang.
"Wanita yang nggak bisa melahirkan anak tentu saja nggak pantas untuk tinggal disini lagi. Rumah ini juga atas nama Fuad, bukan nama kamu," sahut Ibu Farah seraya melipat kedua tangannya didada. Padahal rumah itu Yasmin yang beli dan menghadiahkan pada Fuad saat anniversary pernikahan mereka yang pertama.
"Statusnya masih seorang istri, tapi lihatlah Sayang, dia berani sekali pulang dengan seorang pria," kata Echa tiba-tiba menyela. Almeer sendiri tidak menanggapi apa pun.
"Maaf, Yasmin," ucap Fuad seraya tertunduk. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa bersalah pada Yasmin yang terlihat lemah itu. Dia bahkan tidak merespon apa yang baru saja Echa katakan. Empat tahun tentu saja bukan waktu yang singkat meski mereka sering bertengkar. Apalagi persatuan tubuhnya dengan Echa disaksikan langsung oleh Yasmin.
"Ngapain kamu minta maaf, Fuad? Bukannya kamu bilang dia tadi minta cerai? Bagus dong, ngapain kamu minta maaf?" tanya Ibu Farah menatap kesal sang anak. Yasmin pun menyunggingkan senyum dengan mata yang masih menatap sosok laki-laki yang mana dulu keduanya menikah memang karena sebuah keterpaksaan belaka.
Namun ada sebuah rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan. Dia tahu betul kalau Fuad selalu menuruti apa yang dimau sang Ibu.
Suasana di depan rumah mewah yang telah mereka huni tiga tahun lamanya itu tiba-tiba hening sesaat.
"Mas, menikah itu karena ingin hidup bersama dengan orang yang kita cintai, sedangkan ekonomi adalah bentuk perjuangan juga kerjasama dan anak adalah bonus. Punya atau tidak itu bukan suatu kesalahan. Memang benar orang bilang bahwa semua orang bisa menikah, tapi tidak semua orang bisa menua bersama," ujar Yasmin dengan pipi yang telah basah. Segera dia mengusap cairan bening tersebut karena kacamata ikut berembun. Yasmin tidak mau menangisi laki-laki bernama Fuad Rahmany itu.
"Maaf, aku nggak mau orang tuaku kecewa, Yasmin. Surga seorang laki-laki itu ada pada ibunya, kamu pasti tau betul hal itu. Aku setuju untuk bercerai," jawab Fuad masih tertunduk.
"Ck, bodoh! Surga suami memang ada pada ibunya dan surga istri ada pada suaminya. Tapi ingat! Tidak akan masuk surga suami yang menyakiti hati istrinya. Ya, aku harusnya yang membodohi diriku sendiri karena membelamu mati-matian di depan orang tuaku dulu, Mas. Baiklah, aku memang harus pergi. Aku pun muak melihat kalian semua. Nikmatilah jalan yang kamu pilih ini. Tapi tunggu saja hukuman dari semesta. Buat apa juga aku bicara panjang lebar disini. Nggak ada gunanya sama sekali, kan?"
Semua orang terdiam, kecuali Almeer. Dia mengambil koper yang dilemparkan oleh Ibu Farah dan meraih tangan Yasmin.
"Untuk apa berdiri terlalu lama disini, Yasmin? Katakan apa yang kamu mau, aku bisa mengabulkannya saat ini juga," ujar Almeer dengan raut wajah tidak biasa menatap bergantian Fuad, Ibu Farah juga Echa.
"Ck, ada pahlawan kesiangan," sahut Echa meremehkan.
"Kalau mau pergi, cepat pergi sana! Ngapain kamu masih berdiri disitu, hah?" ketus Ibu Farah dengan jari telunjuk yang mengarah ke gerbang.
Yasmin kembali menyunggingkan senyum dan mengeratkan genggaman tangan Almeer.
"Hukuman semesta nggak akan main-main. Ingatlah!" kata Yasmin lalu segera berbalik badan masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi.