Pindah Haluan

1130 Kata
"Kenapa kamu datang disaat aku berantakan, Al? Kenapa kamu harus melihatnya? Kenapa kamu tiba-tiba kembali? Istrimu pasti akan kecewa kalau lihat kita satu mobil, Al. Apalagi orang tua kamu, Al. Tiba-tiba kenangan itu … kenangan yang sudah mati-matian aku lupakan, sekarang kembali bermunculan, Al. Bagaimana ini, ya Allah," batin Yasmin masih menatap keluar jendela kaca mobil tanpa berani melirik apalagi menoleh pada Almeer yang duduk bersebelahan. Pikiran Yasmin benar-benar sedang kacau. Suara menjijikkan antara Fuad dengan Echa masih terngiang-ngiang. Padahal dengannya, Fuad tidak pernah seperti itu. Ditambah hal manis bersama Almeer juga terus terbayang. Hati dan pikiran Yasmin seperti sedang berperang. "Takdir seperti apa yang akan aku jalani kedepannya, Tuhan? Kenapa Engkau menghukumku dengan cara semenyakitkan ini? Kenapa dengan laki-laki b******n bernama Fuad dan Almeer yang tiba-tiba datang ini, Tuhan?" batin Yasmin lagi masih dengan posisi yang sama. "Takdir nggak bisa disalahkan. Apalagi menyalahkan Tuhan. Aku harap aku datang disaat yang tepat, Yasmina Sekar Dewi? Bisakah kita melanjutkan apa yang pernah kita rencanakan dulu?" tanya Almeer, tetapi hanya berani bicara dalam hatinya saja. Dia tahu pasti pernyataan itu bukan hal yang tepat untuk diungkapkan dengan kondisi Yasmin sekarang. Entah sudah berapa lama mobil yang dikendarai oleh Excel melaju mengelilingi ibu kota yang mulai macet sebab Yasmin tidak mengatakan kemana tujuannya dan Almeer juga diam tidak memberikan arah singgah. Excel juga tidak berani bertanya karena dia tahu betul sifat kedua orang yang sedang duduk bersandingan tanpa kata itu. Akhirnya Excel berinisiatif memutar sebuah lagu yang mana lagu itu adalah lagu kesukaan Almeer dan Yasmin dulu saat keduanya sedang menyusun konsep pernikahan. "Jangan putar lagu itu!" seru Almeer dan Yasmin bersamaan dengan lirikan sinis pada Excel. Namun akhirnya Excel lah yang lega sebab setelah ini dia bisa tahu kemana harus pergi. "Maaf. Saya bosan Tuan dan Nona. Apakah tidak ada yang ingin kalian bicarakan setelah perpisahan enam tahun kalian? Hari mulai gelap. Bisakah beritahu saya kemana kita akan pergi sebelum bahan bakarnya habis," ujar Excel buka suara karena memang sudah sangat muak dan capek berjam-jam mengemudi tanpa arah. Apalagi melihat raut wajah antara Almeer juga Yasmin. "Aku antar kamu ke hotel atau kamu punya tujuan lain, Yasmin?" Pertanyaan Almeer membuat Yasmin menoleh menatap Almeer dan mengubah posisi duduknya. Almeer pun menghela napas karena Yasmin mau merespon. Jelas dia khawatir dengan kondisi Yasmin. Apalagi Yasmin juga belum makan sejak bertemu dengan Almeer. "Ah, maaf, aku terlalu lama melamun. Bisa tolong antar aku ke apartemen West Vista? Nggak jauh dari jalan ini. Kita ambil yang jalan lurus itu ya, Cel," jawab Yasmin sedikit tersenyum menatap Excel yang kembali fokus mengemudi setelah susah payah mengungkapkan perasaannya. "Baik, Nona Yasmin," sahut Excel mengikuti arahan Yasmin. "Maaf merepotkan kamu, Al. Maaf juga atas kejadian tadi. Seharusnya kamu nggak melihatnya. Tolong jangan kasihani aku, Al," ujar Yasmin seraya melepaskan rambut juga tahi lalat palsu yang dia gunakan untuk menyembunyikan wajah aslinya. "Boleh tau kenapa kamu pakai semua itu?" Almeer balik bertanya. Namun Yasmin terlihat tidak ingin membahas. "Nggak apa-apa. Oiya, bagaimana kabar istri kamu, Al? Anak kalian udah umur berapa sekarang? Tolong sampaikan maafku pada istrimu atas kejadian hari ini. Kita tidak sengaja bertemu, bukan? Aku takut dia salah paham," lanjut Yasmin basa-basi sambil menyisir rambut bergelombangnya yang sedikit berantakan dengan jari-jemari. "Apa aku harus menjawab pertanyaan kamu, Yasmin? Kamu saja tidak menjawab pertanyaanku. Apa kamu sangat ingin tahu kabarnya atau pertanyaanmu hanya permainan kata karena malu padahal kamu sangat ingin tau kabarku, bukan?" Almeer balik bertanya membuat Yasmin terdiam sesaat dan melanjutkan menyisir rambut dengan jarinya. "Nggak perlu masuk, Cel." Tahan Yasmin saat Excel akan berbelok memasuki kawasan apartemen West Vista yang Yasmin maksud sebelumnya. "Aku turun aja. Aku mau beli sesuatu di FamilyMart. Terima kasih kalian udah menolongku hari ini. Aku harap kita nggak akan ketemu lagi setelah ini. Sekali lagi terima kasih." Yasmin membuang napas terlebih dahulu sebelum keluar dari mobil. "Bagaimana andai takdir kembali mempertemukan kita, Yasmin? Sama seperti hari ini. Aku baru saja tiba, tapi semesta langsung mempertemukan kita," sahut Almeer membuat Yasmin lagi-lagi terdiam sesaat. Entah sikap apa yang sedang mendominasi dirinya. Namun di lubuk hati yang paling dalam, Yasmin memang menginginkan pertemuan yang indah dengan Almeer, sang cinta pertama. Yasmin pun sedikit melebarkan senyum dan memandang sekilas wajah Almeer yang datar. "Semuanya telah diatur, Al. Bukankah kita hanya bisa menjalaninya saja? Tapi, ini bukan tentang kita enam tahun lalu, Al. Kamu sudah beristri dan aku telah gagal menjadi istri. Sekali lagi terima kasih. Semoga selamat sampai tujuan. Aku pamit. Hati-hati di jalan dan jangan terlalu ngebut saat berkendaraan." "Kamu masih sama sep-" belum Almeer menyelesaikan ucapannya, Yasmin buru-buru membuka pintu mobil dan segera mengambil koper yang telah dikeluarkan oleh Excel yang mendahuluinya keluar dari dalam mobil. Hanya sebuah anggukan kecil, Yasmin mengambil alih koper dari tangan Excel dan berjalan menelusuri trotoar menuju supermarket di dekat apartemen. Beruntungnya dia pernah berinisiatif membeli apartemen tersebut dan bisa dijadikan tempat tinggal saat ini. Itu juga atas saran dari Claudi yang memang selalu berprasangka tidak baik pada Fuad juga ibu Farah. Setelah kopi pesanannya siap, Yasmin celingukan terlebih dahulu di balik kaca untuk memastikan mobil Almeer benar-benar pergi. "Syukurlah mereka udah pergi. Aku merasa pasokan oksigen di dunia ini semakin sedikit. Apalagi saat di dekat Almeer. Siall … emang ya cowok kalau nggak jahat, pasti nyakitin. Bahkan ayah sendiri juga dengan tega nyakitin anak ceweknya yang cantik ini." Yasmin hanya bicara dengan dirinya sendiri seraya keluar dari supermarket. Ini memang bukan kali pertama Yasmin datang ke apartemen yang baru dia beli beberapa minggu lalu. Saat mempersiapkan isi juga kebutuhan di dalam apartemen, Yasmin hampir setiap hari datang. Namun kali ini dia datang tanpa rambut juga tahi lalat palsu. Dia datang dengan penampilan aslinya. Jadi pasti tidak ada yang kenal dengannya. Kartu akses masuk apartemen juga sengaja Yasmin titipkan pada resepsionis untuk mengantisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya hari ini karena pasti barang di kopernya termasuk barang berharga tidak dimasukkan oleh Ibu Farah. Lagi-lagi semua saran itu dari Claudi. "Ah, aku belum bilang apa-apa sama Claudi. Kalau dia tau kejadian ini, pasti dia marah besar sama aku. Apalagi kalau tau aku baru ketemu si Almeer," gumam Yasmin diiringi tawa kecil karena merasa lucu membayangkan raut wajah Claudi. Yasmin pun bergegas masuk lobby dan menemui resepsionis untuk meminta kartu akses kamarnya. "Permisi, mau ambil akses atas nama Yasmina Sekar Dewi, Kak." Tentu saja sang resepsionis tidak kenal. "Maaf, Kakak siapanya ya?" tanya resepsionis tersebut. "Oh, lupa. Sebentar." Yasmin kembali mengambil rambut juga tahi lalat palsu dan memakainya. Seketika sang resepsionis langsung paham. "Maaf, Kak! Soalnya beda banget. Ternyata cuma kepalsuan." Yasmin terkekeh dan meraih kartu akses yang disodorkan. "Yasmin!" Tiba-tiba dari arah pintu utama, suara teriakan mengejutkan Yasmin juga beberapa orang yang ada di lobby. "Ck, anda disini, Nona Yasmin? Bagaimana anda bisa melewati hari ini dengan sangat baik, hm?" Yasmin tersentak melihat siapa yang menyapanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN