"Clau, kok kamu tau aku disini?" tanya Yasmin heran. Padahal dia belum menghubungi Claudi. Namun melihat raut wajah Claudi yang marah tetapi menggemaskan baginya, Yasmin segera melebarkan senyum dengan menunjukkan deretan gigi putih dan menggaruk kepala yang tak gatal sebab bingung harus mengekspresikan dirinya yang sedang kacau itu.
"Oh, jadi anda mau bersembunyi dari saya, Nona Yasmin?" ujar Claudi seraya menyentil kening Yasmin yang masih bisa cengengesan padahal baru diusir oleh mertua juga suaminya. Claudi memang terlalu peka dengan keadaan Yasmin.
"Maaf, tapi harusnya kamu bisa nahan diri dengan nggak teriak manggil nama aku tadi, Clau. Ini tempat umum. Kasian itu orang-orang pada kaget gara-gara kamu," kata Yasmin mengalihkan pembicaraan.
"Aku lebih kaget lagi dengan apa yang baru menimpa sahabat aku ini. Cepat kita masuk karena aku butuh penjelasan, segera!" tegas Claudi masih bernada marah, tetapi Yasmin masih menganggap sahabatnya itu menggemaskan.
Yasmin pun bergegas meminta kartu akses miliknya dan berjalan menuju lift karena apartemen miliknya ada di lantai sembilan.
"Tadi aku ke rumah kamu dan ternyata tetangga kamu lagi ngomongin kamu yang baru aja di usir. Aku pun berinisiatif kesini karena ini pasti tujuan akhir kamu, tapi baru aku mau masuk parkiran, aku liat Excel nurunin koper kamu. Kalau manusia itu ada, artinya dia bersama Tuannya Almeer Edrich Shanshan. Apa kamu satu mobil dengan Almeer? Kenapa kamu bisa kembali berurusan sama mereka sih?"
Yasmin tidak langsung menanggapi ocehan Claudi di dalam lift itu. Bahkan sampai lantai 9 tepat di apartemen milik Yasmin, Claudi masih saja menekankan pertanyaan demi pertanyaan.
Setelah masuk ke apartemen, Yasmin segera melemparkan tubuh di atas tempat tidur dan menarik napas dalam-dalam agar bisa menceritakan semuanya pada Claudi dengan tanpa menangis. Dia sangat tahu air matanya itu terlalu mahal untuk laki-laki pengkhianat seperti Fuad. Claudi pun ikut berbaring di sisi Yasmin dan menatap langit-langit kamar bersama.
"Apa? Jadi Almeer …." Claudi terkejut untuk kesekian kalinya. Bahkan dia sampai bangun untuk duduk kemudian kembali berbaring dan begitu terus sampai Yasmin selesai bercerita.
"Clau … slowly. Keep calm dong. Kamu teriak-teriak terus dari tadi. Aku nggak mau kehilangan sahabat seperti kamu hanya karena kamu kena darah tinggi."
"Oh, Nona Yasmin yang terhormat, anda memang wanita luar biasa," puji Claudi segera memeluk erat tubuh Yasmin yang masih tiduran.
"Hei, kita dikira lesbian kalau kamu peluk aku dengan posisi seperti ini, Clau!" Tegas Yasmin agar Claudi melepaskan pelukannya.
"Nggak masalah karena nggak ada yang tau, jadi jangan protes karena aku sangat bangga sama kamu, Yaya." Keduanya tertawa.
Mereka pun bicara panjang lebar hingga larut malam. Bukan tanpa alasan, tetapi banyak sekali susunan rencana untuk membalas dendam pada Fuad juga Ibu Farah.
***
"Selamat pagi, Nona Yasmin. Maaf ada kiriman makanan dari Tuan Almeer dan memaksa saya untuk mengantarkan langsung kemari." Yasmin hanya bisa mengangkat satu alisnya dengan helaan napas berat. Mau heran, tetapi dia paham betul sifat Almeer.
Yasmin menatap resepsionis yang terlihat tertekan itu. Yasmin menebak kalau Almeer mungkin mengancam sang resepsionis agar memberikan sarapan untuknya.
"Terima kasih, Pak Edi. Maaf ya kalau merepotkan. Orang itu memang suka memaksa," jawab Yasmin berusaha sesopan mungkin walaupun dia sangat malas karena harus bangun pagi-pagi untuk membuka pintu dan menerima kiriman yang sebenarnya memang dia harapkan semalam.
"Kalau begitu saya pamit, Nona. Permisi." Pak Edi pun bergegas pergi.
Yasmin tidak langsung membuka paper bag berwarna hitam itu karena dia sudah tahu apa isinya jika kiriman makanan itu dari Almeer. Dia juga bukan wanita jorok yang langsung memasukan sesuatu ke dalam perutnya sebelum cuci muka dan gosok gigi.
Sebenarnya Yasmin ingin bangun lebih siang sebab malas. Hal wajar jika wanita sedang datang bulan, tetapi karena jam tidurnya diganggu, terpaksa Yasmin harus bangun lalu mengambil ponselnya untuk mengecek pesan juga berita.
"Nggak ada yang menarik," gumam Yasmin kembali meletakkan ponselnya. Namun karena sekarang dia punya banyak waktu luang, Yasmin pun memanfaatkan kiriman makanan dari Almeer untuk live streaming di t****k.
Setelah siap dengan beberapa alat bantu, Yasmin pun menyalakan fitur live. Tentu saja followernya yang sudah puluhan jutaan itu menyambut dan menyapa dengan suka cita.
"Hai … aku mau sarapan nih. Dapet kiriman makanan dari secret admirer." Sambil senyum-senyum bahagia, Yasmin membuka paper bag kiriman Almeer dan menunjukkan apa isi paper bag tersebut.
Sapaan dan sikap Yasmin langsung mengundang banyak pertanyaan. Bahkan banyak yang mengirimkan hadiah padanya karena weekend juga, jadi banyak follower yang join di livenya dan menumbenkan Yasmin live di jam pagi.
"Salad buah, Gaes. Makanan wajib aku kalau sarapan. Kalian baru liat aku sarapan ya? Salad buah ini adalah salad terenak yang pernah aku makan loh, karena ini dibuatnya dengan penuh cinta. Ini bukan endorse dan salad ini nggak ada di toko manapun "
Lagi-lagi banyak sekali yang mengajukan pertanyaan, tetapi Yasmin lebih memilih menikmati salad buah yang dibuat langsung oleh tangan Almeer.
Ingatan indah bersama Almeer pun muncul. Beberapa tahun lalu, Yasmin sakit dan tidak ingin makan apa pun. Almeer sempat bingung juga khawatir berlebih.
Yasmin tertawa geli mengingat raut wajah Almeer. Akhirnya Almeer berinisiatif membuat salad buah yang memang itu juga makanan kesukaanya. Sejak saat itu salad buah adalah makanan wajib bagi Yasmin.
Namun setelah berpisah dengan Almeer, Yasmin jadi jarang makan salad buah karena sering tidak punya waktu untuk membuatnya. Sekalinya ada waktu, rasanya tidak pernah sama dengan buatan tangan Almeer.
Hampir 30 menit livenya berlangsung dan sarapannya juga sudah selesai. Yasmin baru sadar ada kertas di dalam paper bag itu. Dia pun membacanya.
"Aku tau kamu selebgram dengan puluhan juta followers. Aku juga sering liat live streming kamu. Tolong temui aku di tempat dulu. Kantor yang kemarin kita ketemu sudah diambil alih oleh Shanshan Group. Ada kerjasama yang akan sangat menguntungkan untukmu yang jelas ini ada hubungannya dengan suami kamu juga pacarnya yang kebetulan manager disana. Datanglah setelah menghabiskan sarapan yang pasti sangat kamu rindukan itu."
Pesan dari secarik kertas yang diakhiri dengan icon smile membuat Yasmin seperti salah tingkah dan semakin membuat followernya penasaran. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa bahagia. Salad buah itu benar-benar jadi mood booster bagi Yasmin.
"Nanti lagi ya, Gaes. Aku harus pergi. Thank you and happy weekend. Bye!"
Yasmin mengakhiri livenya kemudian pergi mandi dan bersiap. Kali ini dia keluar tanpa penyamaran. Rambut juga tahi lalat palsunya sudah dia buang. Sebenarnya bukan Yasmin yang membuang barang-barang itu, melainkan Claudi.
"Mulai hari ini, dunia kamu harus berubah total, Yasmin. Jadilah lebih kaya dan punya kuasa. Almeer bisa kamu manfaatkan untuk balas dendam," ujar Yasmin menatap dirinya sendiri di cermin. Setelah itu dia pergi dengan ojek online karena mobil pribadinya belum dia ambil.