Kenangan Lalu

1121 Kata
"Tempat ini tidak berubah ya, Nona Yasmin," sapa Almeer seraya duduk di kursi kosong tepat di depan Yasmin karena yang sampai duluan adalah dia. Bahkan Yasmin memilih reservasi yang mana tempo dulu itu juga adalah tempat duduk favorit mereka berdua sebab jika mereka menatap keluar, disana ada taman bunga yang sangat indah untuk memanjakan mata. "Anda mau kangen-kangenan atau mau bisnis, Tuan?" tanya Yasmin dingin tanpa menatap Almeer. Pandangannya fokus keluar jendela. Kebetulan pagi itu bunga mawar merah, ungu, putih dan jingga sedang mekar dan masih terlihat segar karena guyuran hujan semalam. Disana juga ada beberapa anak kecil bersama orang tuanya sedang bermain kejar-kejaran sambil olahraga. Betapa ingin merasakan hal yang seperti itu tentunya, jadi Yasmin sedikit dingin pada Almeer padahal dia mau mengucapkan terima kasih atas kiriman sarapannya. "Apakah tidak bisa kita bersantai sebentar untuk sekedar ngopi seraya mencari inspirasi? Keuntungan yang akan kita dapatkan nanti bisa membuat Shanshan Grup unggul di dunia bisnis dan popularitas Nona Yasmin semakin naik daun, loh. Bukankah andai itu terjadi pastilah orang-orang yang membuang anda kemarin akan menangis darah juga nanah, hm?" Yasmin segera mengubah posisi duduknya dan menatap pria matang dengan setelan jas berwarna abu tua itu tersenyum padanya. Kemarin dia belum sempat menyelidik apakah ada banyak perubahan pada diri Almeer. Namun, Yasmin merasa Almeer semakin menarik dan semakin tampan. "Sadar Yasmin, dia suami wanita lain yang begitu beruntung. Dia bukan lagi cinta pertama yang kamu agungkan dulu.Kamu butuh dia agar kamu punya kuasa supaya bisa balas dendam dengan mudah," batin Yasmin kemudian tersenyum masam. "Masih suka kopi vanilla latte atau selera Nona Yasmin telah berubah?" tanya Almeer malah membuat Yasmin menyunggingkan senyum. "Selera saya tidak berubah sama sekali, Tuan. Walaupun enam tahun sudah terlewatkan," jawab Yasmin masih dingin dan sedikit kaku dengan gaya bahasa baku. "Baguslah. Artinya saya tidak perlu jadi indomie ya biar jadi selera kamu?" "Ck! Garing banget. Bisa kita segera bahas apa yang ingin anda bahas? Atau saya langsung tanda tangan kontrak saja karena disini kita akan saling menguntungkan. Tapi saya rasa PT. Nevada lebih banyak pansos pada saya nantinya. Bukan begitu, Tuan Almeer?" Kali ini Almeer yang tersenyum masam. Perusahaan yang berdiri baru empat tahun itu memang mengalami penurunan penjualan di satu tahun terakhir ini. Bahkan ada kabar jika gaji karyawan sering tertunda dan mengalami banyak potongan dengan alasan tidak masuk akal seperti untuk iuran ketenagakerjaan serta seragam karyawan. Padahal semua itu seharusnya sudah masuk insentif perusahaan. Maka dari itu Almeer beralasan kembali ke Indonesia untuk mengembangkan anak cabang perusahaan itu agar lebih unggul dari perusahaan lainnya dengan memanfaatkan popularitas Yasmin yang memang sedikit susah untuk diajak kerjasama sebab Yasmin tidak mau terikat kontrak dan diatur. Apalagi dengan kehidupan rumah tangganya bersama Fuad yang sudah banyak aturan itu. Walaupun demikian, Yasmin punya penghasilan yang cukup fantastik dengan menyembunyikan identitasnya. Jadi Almeer tahu betul apa yang dia lakukan itu karena sudah menyelidiki aktivitas Yasmin sebelumnya bersama Excel. "Waiters!" seru Almeer seolah mengalihkan pembicaraan. Seorang waiters pun datang dan meletakan daftar menu cafe tersebut di atas meja. "Hot Vanilla Latte saja dua ya. Satunya less sugar." Waiters itu pun pergi untuk menyiapkan pesanan Almeer. Setelah itu tidak ada pembahasan lagi antara keduanya karena Yasmin memilih kembali menatap keluar jendela dengan pemandangan yang belum berubah. "Daddy!" seru seorang anak kecil membuyarkan lamunan Yasmin. Segera Yasmin mencari sumber suara dan mendapati Excel sedang mengejar anak berusia 5 tahun yang menggunakan setelan jas hitam dengan dasi pita abu-abu senada dengan jas Almeer berlari ke arah Almeer. "Saya bosan. Koko Excel tidak bisa diajak bercanda. Dia terlalu galak dan susah sekali untuk tersenyum," katanya lagi dengan menggunakan bahasa Cina. "Bermainlah dulu dengan Ko Excel. Daddy masih ada pekerjaan sebentar dengan Cece cantik ini," jawab Almeer lembut dengan bahasa yang sama. Anak kecil itupun mengangguk paham walaupun dengan raut wajah sedih dan menurut untuk kembali keluar dari cafe bersama Excel. Yasmin memang tidak mengerti dengan percakapan mereka, tetapi melihat raut wajah sedih seorang anak kecil, tiba-tiba dia jadi ikut sedih. Setelah kepergian anak itu, Yasmin kembali memalingkan wajahnya menatap bunga-bunga di luar cafe. Sampai pesanan kopi mereka datang, Yasmin pun buka suara. Namun, bukan masalah pekerjaan melainkan masalah anak. "Bagaimana rasanya punya anak?" Pertanyaan Yasmin mampu merubah raut wajah Almeer menjadi sendu. "Mungkin … rasanya sangat bahagia," jawab Almeer langsung disambut dengan senyuman kesedihan. "Pasti bahagiakan? Kenapa ada kata mungkin?" "Karena kita nggak tau gimana rasanya," "Heh, ayah yang aneh." "Apa kamu nggak mau punya anak? Atau ….?" "Aku … aku divonis akan sulit hamil dan kemungkinan besar aku nggak akan punya anak sampai tua nanti karena hamil pun banyak resikonya. Sepertinya aku akan menua di panti jompo bukan dirawat anakku. Ck, miris sekali. Punya banyak uang juga seperti percuma kalau nggak punya anak. Mungkin inilah cara semesta menghukumku karena pernah menyakiti ibu. Beruntunglah kita dulu nggak jadi menikah," lanjut Yasmin seraya menyeruput kopi miliknya. Almeer tidak menjawab. Raut wajahnya terlihat sedih dengan kondisi Yasmin sekarang. Dia belum tahu sedalam dan serumit apa kehidupan Yasmin enam tahun yang dilewatinya. Apalagi setelah tahu kondisi kesehatan Yasmin. "Bukannya kamu bilang sendiri kalau anak itu bonus? Kenapa sekarang kamu jadi bersedih?" tanya Almeer dengan nada dan tatapan yang sama seperti enak tahun lalu. Yasmin hampir terhipnotis juga terbawa suasana. Namun, lagi-lagi Yasmin minum kopinya kembali untuk mengalihkan perasaan aneh yang muncul karena sikap Almeer. "Jadi, berapa persen yang saya dapatkan dari kerjasama kita ini, Tuan?" tanya Yasmin kembali pada topik utama. "Kalaupun kamu belum diberikan bonus anak, kamu bisa membiayai banyak anak di luar sana yang begitu mendambakan pendidikan tinggi, Yasmin. Jadi kamu harus tetap punya banyak uang," batin Yasmin sambil menunggu jawaban dari Almeer. "Baiklah, Nona. Ini berkasnya sudah saya siapkan. Anda bisa baca terlebih dahulu isi kontraknya. Anda juga tidak perlu buru-buru karena kita masih punya banyak waktu disini," jawab Almeer seraya memberikan berkas kontrak kerjasama mereka. Yasmin membaca perlahan poin demi poin kontrak yang tertulis disana. Bahkan beberapa kali Yasmin melirik Almeer yang sedang memegang gelas kopi dengan kedua tangannya. "Apa anda tidak salah, Tuan? Saya punya wewenang mengatur karyawan dan keuntungan saya sampai 60%? Ini mirip seperti saya sedang berinvestasi, Tuan, bukan sedang kontrak kerjasama. Apa anda punya tujuan lain?" kata Yasmin meletakkan berkas yang belum selesai dia baca itu. Baginya isi kontrak itu tidak masuk akal. "Saya membuat kontrak itu dengan penuh kesadaran diri. Saya juga sudah tanda tangan, bukan? Saya rasa Nona Yasmin tidak punya alasan untuk menolak kerjasama kita ini karena anda bisa masuk ke dalam daftar orang terkaya di Indonesia andai bisnis kita ini lancar," jelas Almeer dengan wajah datar. Yasmin terdiam sesaat tanpa memalingkan pandangan dari Almeer yang kini gantian menikmati pemandangan bunga-bunga mawar di luar. "Baiklah, saya akan tanda tangan." Yasmin pun mengambil pulpen dan menandatangani surat kontrak tersebut. "Syukurlah, jalan untuk merebut hatimu kembali, dipermudah," gumam Almeer.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN