"Fuad!" teriak Ibu Farah dengan nada amat kesal.
"Apa sih, Bu. Fuad kan lagi siap-siap mau berangkat ke kantor. Nanti Fuad telat," jawab Fuad masih kalem.
"Ini kenapa nasi gorengnya asin banget? Terus telurnya kenapa item-item gini?" protes Ibu Farah seraya mengangkat goreng telur yang sedikit gosong di piring dan melemparnya lagi dengan penuh rasa jijik. "Kamu tau kan ibu sukanya setengah mateng? Panggil Yasmin sana! Yasmin nggak pernah kasih Ibu makanan begini, Fuad! Masakan Yasmin selalu enak," lanjutnya lagi masih dengan nada marah karena sudah lapar.
"Ibu lupa udah usir Yasmin?" Fuad hanya bisa menghela napas. Walaupun masih agak aneh dengan aktivitas paginya, Fuad masih jadi anak yang berbakti. Padahal dia juga sudah bangun pagi-pagi hanya untuk masak sarapan sang ibu dan bersih-bersih rumah karena semalam dia dengan Echa mengadakan party kecil. "Fuad udah capek-capek masak Bu. Tinggal makan aja, Bu, daripada sakit maag Ibu kambuh."
Ibu Farah terlihat sedikit kesal dan kembali melirik nasi goreng yang dia acuhkan.
"Ya udah kamu delivery aja. Ibu laper tapi Ibu nggak mau makan itu. Harusnya kalau nggak bisa masak itu jangan maksain buat masak, Fuad. Sekarang apa-apa bisa dipesan secara online," sahut Ibu Farah kemudian melipat kedua tangannya didada.
Namun raut wajahnya terlihat sedikit sedih mendengar apa yang dikatakan Fuad tentang dia yang mengusir Yasmin. Mungkin ada sedikit penyesalan karena memang semua kebutuhan Ibu Farah selalu Yasmin penuhi.
Sedangkan Fuad segera meraih ponselnya untuk memesan sarapan. Tentu saja dia tidak pernah masak sebelumnya karena hari-harinya hanya tinggal makan apa yang telah Yasmin sediakan.
Belum Fuad menekan tombol pesan, ada sebuah panggilan masuk dari Echa. Mereka memang sudah janjian akan berangkat bersama karena motor milik Fuad ada di bengkel dan Echa menawarkan tumpangan. Sedangkan mobil BMW milik Yasmin yang tertinggal di kantor tidak bisa dia bawa sebab kunci mobil saat itu tentu ada pada Yasmin.
"Halo, Sayang! Kamu udah di depan?" tanya Fuad mengangkat panggilan dari Echa. "Oh, iya Sayang. Bentar ya." Fuad kemudian menutup panggilan tersebut. "Bu, Echa udah di depan. Fuad siapin berkas dulu. Tolong Ibu bukain pintu buat Echa." Ibu Farah mengangguk paham walaupun masih dengan raut wajah kesal dia berjalan menuju pintu utama.
"Selamat pagi, Bu! Ini Echa bawain sarapan sandwich sama s**u kambing. Semoga sesuai sama selera Ibu," sapa Echa begitu pintu dibuka seraya memberikan tote bag pada Ibu Farah.
"Ya ampun, repot-repot sekali," sahut Ibu Farah dengan riangnya karena dia memang suka sandwich dan s**u kambing.
"Nggak repot kok, Bu. Tadi sekalian buat sarapan Echa juga. Jadi Ibu aku buatin juga deh. Nggak tau sesuai nggak," ujar Echa masih dengan sopan santun.
"Terima kasih banyak lo ya. Kebetulan Ibu lagi laper banget. Tadi Fuad buat nasi goreng asin banget. Telurnya juga gosong. Padahal Ibu sukanya setengah mateng," keluh Ibu Farah membuat Echa tersenyum geli mendengarnya.
"Sayang, maaf agak lama ya. Kamu kenapa senyum-senyum gitu, hm? Jadi makin manis deh," Fuad menghampiri Echa dan mencubit kedua pipi lalu mencium keningnya.
"Kata Ibu kamu bikin nasi goreng keasinan, Yang. Terus telurnya juga gosong. Kamu nggak bisa masak ya? Aku pikir kamu serba bisa Sayang," kata Echa meledek Fuad.
"Padahal dulu Ibu selalu ajarin Fuad biar jadi laki-laki idaman. Tapi dasar dianya yang nggak bisa-bisa." Ibu Farah juga meledek Fuad.
"Tapi Fuad udah jadi idaman Echa, Bu. Dia laki-laki luar biasa yang pernah Echa kenal selama ini," kata Echa memuji seraya menatap wajah Fuad yang berseri-seri karena pujiannya.
"Terimakasih, Sayang. Kamu juga wanita hebat dan selalu bisa buat aku bahagia. Terutama desahan kamu itu,” jawab Fuad dengan mata genit.
“Ish … kamu nggak malu ada Ibu,” sahut Echa seraya mencubit pinggang Fuad yang langsung mengaduh manja.
“Nggak usah malu-malu sama Ibu mah. Yang penting kamu bisa kasih Ibu cucu segera biar nggak jadi bahan gunjingan tetangga,” ujar Ibu Farah.
“Iya, Ibu. Kita juga lagi usaha mati-matian bikinnya biar cepet jadi,” kata Fuad masih dengan nada genit.
Tawa bahagia pun membuat hangat suasana di pagi hari yang cerah itu. Baik Ibu Farah, Fuad juga Echa, terlihat seperti keluarga cemara.
"Wah harmonis sekali ya suasana di rumah ini sekarang." Tiba-tiba Yasmin datang. Kedatangannya tentu saja membuat Ibu Farah, Fuad juga Echa terkejut karena di halaman rumah ada dua mobil pengangkut barang dan dua puluh kuli berseragam.
"Punya muka elo kesini, wanita mandul! Ck, bergaya pake wig ungu segala lagi. Udah siap menjanda kayaknya," ledek Echa seraya memeluk lengan Fuad dan memiringkan kepalanya bermaksud bersandar di bahu Fuad untuk menunjukan betapa romantis dirinya dengan Fuad.
"Mau ngapain kamu kesini? Nggak ada tempat di rumah ini buat kamu. Apa-apaan pake bawa banyak orang segala, hah? Nggak punya malu apa kamu. Eh kamu nggak lupa kan rumah ini atas nama Fuad Rahmany?" kata Ibu Farah dengan nada meremehkan juga.
Sedangkan Yasmin hanya bisa menahan senyum dan rasa geli.
"Mas, kamu nggak pengen ngomong apa-apa? Tapi ya sebaiknya sih nggak usah ada omongan apa-apa, Mas, karena takutnya kamu jadi anak durhaka sama Ibu kamu, ck."
Bukannya takut, tentu Yasmin merasa semakin geli.
"Apa maksudnya ini, Yasmin?" tanya Fuad seperti tahu kerjanya orang-orang yang berjejer di belakang Yasmin tersebut.
"Duh Mas, aku tau kamu bukan orang g****k. Nggak perlu banyak tanya kayaknya udah paham deh. Tapi ya aku juga nggak mau buang-buang waktu disini karena banyak sekali pekerjaan yang menanti aku." Yasmin kemudian berbalik badan menghadap para kuli yang dia ajak tadi. "Yuk kerjain semua pekerjaan kalian. Inget ya, jangan sampe ada yang ketinggalan satu barang pun. Eh, televisinya nggak usah deh, takut ada yang nangis karena nggak bisa liat sinetron ikan terbang," kata Yasmin masih menahan tawanya.
"Baik, Nona!" kompak kuli yang memang disewa khusus oleh Yasmin. Mereka semua segera masuk ke dalam rumah, tetapi dihadang oleh Fuad.
“Apa-apaan ini? Kalian nggak diizinkan masuk ke rumah saya! Kalau kalian tetap masuk, maka saya akan panggil polisi!” tegas Fuad lagi-lagi membuat Yasmin tertawa geli.
“Aku lupa Mas kalau aku juga bawa polisi kesini. Mungkin sebentar lagi mereka datang. Aku bawa bukti kwitansi dan riwayat pembelian barang-barang yang semua atas nama aku, jadi ya kamu pasti paham lah maksudnya,” sahut Yasmin kini dengan nada sombong.
Fuad seketika seperti tidak bisa bernapas lagi. Dia sadar jika memang semua isi rumah itu tidak ada uang hasil dia bekerja selama ini. Bahkan nafkah untuk sehari-hari saja Fuad tidak memberikan semua gajinya pada Yasmin, tetapi mereka tidak pernah kekurangan. Mereka pindah ke rumah itu juga isi rumah sudah lengkap bahkan barang apa pun yang diminta Ibu Farah, selalu Yasmin turuti.
“Oiya, Bu, kan Ibu tau nih kapan waktunya bayar tagihan dan iuran, jadi jangan lupa kartu-kartunya masih di tempat biasa. Nggak akan aku pindahin kok. Jangan lupa juga ya Bu itu token listrik diliat. Nanti lagi asyik-asyiknya ituan, mati listrik kan gak lucu.” Lagi-lagi perkataan Yasmin mampu membuat mereka tidak berkutik. “Bapak-bapak, buruan masuk ya,” lanjut Yasmin. Setelah itu para kuli pun masuk dan melaksanakan tugasnya.