“Yasmin, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Bukan seperti ini, malu diliat tetangga,” kata Fuad memohon dengan suara lembut.
Namun, lagi-lagi Yasmin hanya menyunggingkan senyum seraya melirik ke depan pintu gerbang dan memang ada beberapa ibu-ibu yang sibuk berbisik disana.
“Ck, bicara masalah apa, Mas?” jawab Yasmin jutek.
“Yasmin, kenapa kamu harus mengambil semua perabotan di rumah ini? Memang mau kamu bawa kemana semuanya itu, Yasmin? Belagu amat udah kayak punya rumah lain aja. Paling kamu juga numpang di rumah teman kamu sekarang. Iyakan?” timpal Ibu Farah yang bukannya sedih malah semakin kesal melihat satu demi satu barang di rumah pindah ke dalam mobil.
“Kamu malu diliat tetangga, Mas? Tapi … kamu nggak malu diliat sama pencipta kamu udah zina dengan wanita yang bukan istri kamu, Mas? Kamu menodai pernikahan kita, Mas.” Yasmin menatap tajam wajah Fuad kemudian menoleh berganti menatap wanita paruh baya yang masih berstatus ibu mertua itu. “Oh, Ibu anggap seperti itu? Ya nggak apa-apa. Terserah Ibu, tapi yang jelas Yasmin nggak ikhlas lahir batin karena semuanya Yasmin yang beli. Lebih baik Yasmin buang ke pembuangan sampah daripada Ibu juga anak kesayangan Ibu itu yang pakai. Rumah ini aku anggap sedekah buat kalian yang membutuhkan,” lanjutnya masih dengan nada tak ramah.
Memang terkesan kasar dan Yasmin belum pernah berkata sekasar itu, tetapi itu harus dia lakukan karena sabarnya selama ini terlalu dalam.
“Sombong sekali kamu! Oh, jangan-jangan kamu udah dapet sugar Daddy ya? Hebat juga wanita culun dan jelek plus nggak bisa lahirin anak kayak kamu bisa dapet sugar Daddy dalam semalam. Murahan!” sahut Echa yang sebenarnya ingin sekali menjambak rambut Yasmin saking gregetan.
Yasmin pun menatap Echa dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas lagi lalu Yasmin terlihat seperti menahan tawa. Penampilan Echa jelas kalah jauh karena tubuh Echa sedikit berisi juga wajahnya yang lebih dewasa karena make up yang terlalu menor.
“Kamu pikir kamu mahal. Kamu lebih dari sekedar murah!” tegas Yasmin. “Kamu masih ingat apa yang aku ucapkan kemarin? Kalau lupa, biar aku ingatkan lagi Nona Echa yang terhormat, bahwa, wanita mahal tidak akan merebut apa yang dimiliki wanita lainnya dengan alasan apa pun itu. Tunggu saja Nona Echa, tunggu karmamu,” lanjut Yasmin dengan jari telunjuk yang berada tepat di depan wajah Echa.
Melihat Yasmin yang baginya telah menjadi orang lain itu, Fuad segera berdiri di depan Echa bermaksud untuk melindungi wanitanya saat ini.
“Yasmin, tolong … pelankan suara kamu. Echa nggak salah apa-apa. Ini semua aku yang mulai. Tapi seperti yang pernah aku bilang sebelumnya, aku hanya ingin berbakti pada Ibu, Yasmin. Kamu udah tau kan kalau Ibu yang besarin aku sendiri sampai aku kuliah. Semuanya Ibu, Yasmin. Semua Ibu lakukan tanpa sosok Ayah. Kamu sepakat untuk merawat dan menjaga ibu sebelum kita menikah dulu. Ibu cuma mau cucu, tapi kamu nggak bisa kasih. Wajar kalau aku cari wanita yang bisa lahirin anak aku. Aku cuma mau nunjukin bakti aku sama Ibu, Yasmin.”
Yasmin berdecak semakin kesal. Kali ini dia sudah tidak tahan lagi, tetapi karena semua ini adalah rencana Almeer, Yasmin harus tetap terlihat elegan. Dia tidak boleh terlihat lemah, apalagi kalau hanya uang, harga diri wanita yang merebut Fuad pun bisa dia beli saat itu juga.
“Jadi sepenting itu seorang anak? Kalau memang tujuan menikah adalah anak, nggak akan ada kata-kata ‘mari menua bersama’ sebab saat anak dewasa dia akan punya tujuan sendiri. Dia akan punya keluarga sendiri dan yang tetap ada disaat menutup mata di malam hari dan membuka mata di pagi hari hanyalah pasangan, Mas. Tapi percuma aku menjelaskan betapa pasangan juga sangat berharga dibandingkan anak. Aku udah ajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Kamu tunggu saja akta cerainya dan silahkan produksi anak yang banyak dengan wanitamu itu.”
Keadaan pagi itu mulai memanas saat kata demi kata yang Yasmin lontarkan cukup menusuk. Mereka semua hening untuk sesaat. Hanya ada suara mandor dari kuli-kuli yang sibuk memindahkan barang ke dalam mobil.
“Yasmin, mari kita bicarakan masalah harta gono-gini. Jangan langsung seperti ini. Tolong, suruh mereka pergi dulu. Lihatlah, orang-orang di depan rumah semakin banyak dan pasti mereka ngomongin kita.” Fuad masih berusaha membujuk Yasmin.
“Terserah! Toh aku nggak akan tinggal disini lagi. Dan masalah gono-gini? Ck, dasar laki-laki nggak tau diri. Memang berapa uang yang kamu kasih sama aku setiap bulannya, Mas? Kamu tau harga rumah ini beserta uang keamanan, iuran dan kebutuhan hariannya? Sadar, Mas! Sadar!”
“Iya, tapi kita harus bicara dengan kepala dingin dulu, Yasmin. Tolong hargai pernikahan kita yang udah berjalan 4 tahun ini,”
“Sudahlah, aku capek ngomong sama kamu. Silahkan nikmati hidup baru kamu, Mas. Tunggu saja, mulai besok akan ada kejutan yang buat kamu terkena serangan jantung. Tapi aku harap kamu bisa tetap sehat, Mas. Ya biar bisa rawat Ibu yang mungkin … ah, sudahlah! Bye!”
Yasmin hampir sesak napas menahan amarah yang bergejolak dalam dadanya. Segera dia berbalik badan setelah memakai kaca mata hitam. Tentu dia langsung masuk ke dalam mobil pribadinya tanpa menghiraukan teriakan Fuad juga Ibu Farah. Kebetulan saat itu polisi yang Yasmin panggil juga telah tiba demi melancarkan pengangkutan barang-barang.
“Fuad, kenapa kamu diem aja sih!” Ibu Farah menggoyangkan tubuh Fuad beberapa kali.
“Iya Sayang, kenapa kamu nggak bisa berbuat apa-apa sih? Kan kamu kepala keluarga. Kenapa kamu biarin wanita itu nginjak-nginjak harga diri kamu sih?” timpal Echa membuat Fuad semakin naik darah.
“Stop! Kalian bisa diem nggak sih? Aku pusing, aku semakin pusing kalau kamu sama Ibu ngomel. Tolong … jangan bebani pikiran aku dulu. Nanti aku cari cara lain.” Fuad segera masuk ke dalam mobil Echa dan begitu juga dengan sang pemilik mobil.
“Fuad, Ibu dirumah gimana, Fuad!” seru Ibu Farah yang sama sekali tidak direspon oleh anaknya karena Fuad malah menyalahkan mobil dan pergi begitu saja.
Selama perjalanan menuju kantor, mobil yang dikendarai Fuad pun melaju cukup kencang karena tidak ada kemacetan. Namun, saat Fuad hampir setengah perjalanan, dia ingat jika ada cafe yang menyuguhkan kopi yang enak. Cafe itu juga jadi tempat favorit Yasmin karena mereka dulu juga bertemu disana. Fuad akhirnya parkir.
“Sayang, kenapa berhenti disini?” tanya Echa heran.
“Aku mau beli kopi dulu. Aku ngantuk. Kamu tunggu aja disini!” Fuad segera membuka pintu mobil dan berjalan tanpa fokus masuk ke dalam cafe yang baru open order. “Ice coffee caramel macchiato pakai es krim stroberi coklat ya. Less ice and less sugar.” Fuad berdiri di depan kasir untuk memesan.
“Baik, Kak. Pesanannya sama dengan Kakak ini ya,” jawab kasir tersebut seraya melirik wanita cantik yang berdiri di sisi Fuad. Awalnya Fuad tidak tertarik, tetapi akhirnya menoleh dan langsung terpesona, pun jiwa keponya bergelora. Apalagi pesanan mereka sama. Padahal Fuad merasa kalau menu itu diciptakan oleh Yasmin.
“Em, sepertinya mood kita sama, Nona,” sapa Fuad. Yasmin menoleh dan tersenyum manis. Fuad membalasnya.
“Saya sedang bahagia, Tuan. Apakah Tuan … em ….”
“Fuad. Nama saya Fuad Rahmany, Nona … em Nona siapa?”
“Anda tidak kenal saya?” Fuad mengangkat satu alisnya.
“Nona ini Miss Y, Kak. Selebgram terkenal banget loh. Masa tidak kenal?” sahut kasir yang kemudian memberikan pesanan kopi Fuad juga Yasmin tadi. “Silahkan.”
Fuad dan Yasmin menerima pesanan kopinya dengan ramah.
“Biar saya yang traktir, Tuan Fuad.” Yasmin memberikan uang berwarna merah pada kasir itu. “Ambil aja kembaliannya, Mbak.” Yasmin tersenyum benar-benar manis seraya menyelipkan rambut panjang di belakang telinga.
“Ah, saya jadi tidak enak, Nona. Teri ….”
“Tidak perlu. Kita akan bertemu lagi, Tuan. Saya permisi dulu. Have a nice day, Tuan Fuad.” Tiba-tiba Fuad tertegun.
“Mirip sekali dengan suara Yasmin,” batinnya.