15

987 Kata
"kak,ado urang disiko kak?" (kak,ada orang disini kak?),ucap Irvanda di sepanjang perjalanan ke atas tetapi tidak ada satupun yang menyahutinya. Irvanda lalu kembali berjalan beberapa meter ke atas hingga menemukan dua orang wanita yang sudah terduduk lemas di antara pepohonan yang sudah tumbang. "bang tolong bang",ucap wanita itu. Wajah yang sudah pucat dan bibir membiru karena dingin serta beberapa bagian tubuh yang sudah mengelupas karena panasnya abu vulkanik membuat hati Irvanda sangat terpukul melihatnya. Tanpa fikir panjang Irvanda langsung membantu mereka berdiri kembali dan membawanya satu persatu ke bawah.Sesampainya di bawah Tita dan Widya sudah sangat kedinginan banhkan untuk duduk dan berdiri harus dengann bantuan Irvanda. Tita dan Widya masih terus menangis dan bergumam menyebutkan nama Divo. "kak minum lu kak , kumua- kumua sakali yo kak" (kak minum dulu kak,kumur- kumur juga ya kak),Irvanda menyerahkan botol minumannya kepada Tita dan Widya,minuman tersebut juga tidak bisa di pegang oleh mereka karena tangannya yang terasa kaku. Irvanda membukakan tutup botolnya lalu memberikan minuman tersebut satu- satu kemulut mereka masing- masing. "tanang yo kak,sabanta lai pasti tim tibo kasiko untuak manjapuik awak kak" (tenang ya kak,sebentar lagi pasti tim datang kesini buat menjemput kita kak),kata Irvanda berusaha menenangkan dua perempuan yang terus menangis di hadapannya. "kawan wak baduo masih banyak yang ado di ateh bang,baa kawan- kawan wak yang masih disitu bang" (teman kita berdua masih banyak yang berada di atas bang,gimana teman- teman kita yang masih disana bang), jawab Tita sesegukan. "iyo kak,kawan- kawan awak pun masih banyak yang ado di ateh kak tapi baa wak ka manolong nyo kalau awak masih kayak ko kak,wak turun ka bawah tu beko awak japuik kawan- kawan wak tu ka ateh kak" (iya kak,teman- teman saya pun juga masih banyak yang berada di atas kak tapi gimana caranya kita menolong mereka kalau kita aja masih kayak gini kak,kita turun dulu ke bawah nanti baru kita jemput teman- teman kita semua ke atas kak),Irvanda terus berusaha menenangkan mereka walaupun sebenarnya dia juga sangat memikirkan keadaan dari temannya.Bagaimana tidak ,Irvanda yang awalnya berangkat beranggotakan 18 orang dan sekarang dia hanya bisa pulang bersama 3 orang dari temannya itu. "tapi bang,kawan- kawan yang masih di ateh baa keadaannyo kini bang" (tapi bang,teman- teman yang masih di atas gimana keadaannya sekarang bang),sekarang giliran Widya yang angkat bicara.Widya duduk memangku tangannya sambil terus menangis menatap tanah yang sekarang di pijaknya . "jan di pikian yang indak- indak lu kak,insyaallah kawan- kawan wak tu bisa kuek kak,badoa se wak samo- samo untuk kawan yang masih disitu kak" (jangan pikirin yang gak- gak dulu kak,insyaallah teman- teman kita semuanya bisa kuat kak,kita sama- sama berdoa saja untuk mereka yang masih disana kak). "iyo bang,semoga sadonyo kawan- kawan yang masih ado di ateh bisa bertahan sampai tim tibo manjapuiknyo" (iya bang,semoga semua teman- teman kita yang masih berada di atas bisa bertahan sampai tim datang menjemput mereka). "aamiin",ucap mereka semua serentak. Hari semakin gelap,mereka tidak memiliki sedikitpun pencahaan disana.Bahkan baterai handpone mereka juga sudah habis ,jikalau ada mungkin itu bisa di gunakan untuk menjadi setitik penerangan bagi mereka. " Bang cubo caliak didalam tas wak bang, kalau ndak salah wak ado mambaok senter patang bang" (Bang coba liat di dalam tas saya bang, kalau gak salah saya ada bawa senter kemarin bang), Tita menunjuk tas warna biru yang berada di sampingnya. Namun senter yang di cari tas kunjung di temukan oleh Irvanda. Tita berusaha membantu Irvanda mencari senter miliknya walau gerak Tita masih terbatas karena perih di sekujur tubuhnya. "Duduak se lah kak, bia wak cari surang kak" (Duduk aja kak, biar saya cari sendiri kak), ucap Irvanda melihat Tita yang berusaha mendekatinya dengan cara mengesot. Akhirnya senter kecil bewarna ungu muda itu di temukan oleh Irvanda, Irvanda menyalakan senter di tengah- tengah mereka duduk. Widya yang duduk di sebelah Tita tampak menggigil kedinginan. "Isshh dinginnnn", gumam Widya. Irvanda memandang lama pada Widya, tubuh Widya tampak bergetar karena dinginnya udara malam di tambah juga dingin karena gerimis yang terus berjatuhan di sela- sela tangisan mereka Irvanda juga merasakan dingin yang begitu menusuk tulangnya, tetapi karena disana ada perempuan yang sedang menggigil dan membutuhkan pakaian tebal, Irvanda membuka jaket yang sedang di pakainya. Irvanda menyerahkan jaket itu kepada Widya, sedangkan Irvanda hanya memakai kaos pendek bewarna hitam, tubuh Irvanda sendiri hanya di lapisi oleh kaos tipis yang sedang di pakainya. "Masih dingin ndak kak, wak ndak lo ado jaket lai do kak" (Masih dingin gak kak, saya juga gak punya jaket lagi kak), ucap Irvanda sambil memakainya jaket pada Widya. "Lai lah agak angek badan wak stek bang, tu bang baa bang? " (Udah agak hangat badan saya sedikit bang, trus abang gimana bang?). "Ndak baa do kak, wak lai ndak ado maraso dingin do kak" (Gapapa kok kak, lagian saya juga gak ngerasain dingin kak), bohongnya. Tak lama dari itu,semuanya mengalihkan pandangannya pada Tita yang kembali bergumam mengucapkan dingin. "Dingin, ndak talok dingin banaaa.. " (Dingin, gak kuat dingin bangett..) , Tita mengucapkannya sambil duduk memejamkan mata seperti sedang tertidur. Irvanda dan Bima saling pandang, pasalnya semua jaket dan selimut sudah di gunakan untuk menghangatkan mereka masing- masing. "Baa lai ko Bim, jaket ndak ado salimuik ndak lo ado lai do" (Gimana ini Bim, jaket gak ada selimut juga gak ada lagi) . "Ndak ado caro lain lai do Van, paluak se akak tu Van" (Gak ada cara lain lagi Van, peluk aja kakak itu Van) . " sagan den nyo Bim, den ibo caliak nyo kedinginan tapi kok mode tu sagan lo wak samo akak tu Bim" ( gak enak gua Bim, gua kasian liatnya tapi kalau kayak gitu gak enak juga gua sama kakak itu Bim) "Tu baa lai Van, den takuik beko hipotermia nyo Van, ang paluak se lah nyo, suhu badan laki- laki ko kan angek dari padusi Van" (Trus gimana caranya Van, gua takut nanti hipotermia dia Van, lu peluk aja dia, suhu badan laki- laki kan lebih panas dari perempuan Van), bujuk Bima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN