Irvanda terus memberikan semangat bukan hanya kepada Fadli tetapi juga kepada Bima,Rofid dan Aditya yang sedang bersamanya. Mereka terus berjalan tertatih - tatih hingga menemukan sebuah pondok yang atapnya sudah bolong dan tampak akan roboh,pondok tersebut berada di pos 4.
Karena banyak di antara mereka yang semakin melemah,mereka lalu memutuskan untuk kembali berhenti sejenak sampai tenaga mereka kembali pulih.Irvanda sudah sangat pusing melihat luka pada tangan Fadli yang banyak mengeluarkan darah.
Waktu pada saat itu menunjukkan pukul 4 lewat,gerimis kembali datang membasahi tubuh mereka yang masih bergelimangan dengan abu. Sambil berteduh di pondok setengah roboh tersebut, Irvanda memberikan minuman kepada teman- teman yang berada disana berharap dapat sedikit membantu mereka agar tidak lagi merasakan dehidrasi dan panas pada kerongkongannya.
Ditengah gerimis dan angin yang bertiup kencang,Aditya kembali mencoba menghubungi tim penyelamat berharap disana dia bisa mendapatkan jaringan. Setelah melakukan panggilan beberapa kali,panggilan telfon dari Aditya bisa diterima langsung oleh tim penyelamat tetapi karena jaringan yang tidak stabil membuat pembicaraan mereka sering terputus.
"nyambuang telfonnyo bang?"
(nyambung telfonnya bang?),tanya Irvanda sambil menyerahkan sebotol air mineral kepada Aditya.
"tadi nyambuang sakali bang tapi alum jadi ngecek lah mati baliak"
(tadi nyambung sekali bang tapi belum jadi ngomong malah mati lagi),Aditya menerima botol minuman dari Irvanda tetapi tidak di minum langsung,dia memegang botol tersebut di tangan kanan sedangkan tangan kirinya terus mengubungi no dari tim penyelamat.
"cubo taruih bang,semoga se beko bisa tasambuang baliak walaupun cuma sakali sekedar untuak maagiah tau urang tu kalau awak membutuhkan batuannyo"
(coba terus bang,semoga saja nanti bisa tersambung lagi walaupun cuman sekali sekedar untuk memberitahu mereka kalau kita disini membutuhkan bantuannya).
Tak lama panggilan telfon dari Aditya kembali tersambung,Aditya langsung berdiri dan berjalan beberapa langkah agar ucapannya bisa didengar jelas oleh orang yang diseberang sana.
"pak,pak lai jaleh suaro wak pak?"
(pak,pak suara saya jelas gak pak?)
"pak...kami masih di marapi pak,tolong japuik kami pak"
(pak...kami masih di marapi pak,tolong jemput kami pak),ucap Aditya tetapi masih tidak di sahuti oleh tim yang berada di seberang sana. Aditya lalu melihat layar handponenya untuk memastikan apakah panggilan tersebut masih tersambung atau telah terputus,dan ternyata panggilan tersebut masih tersambung tapi di karenakan jaringan yang belum stabil kemungkinan apa yang di ucapkan Aditya tidak di dengar jelas oleh tim tersebut.
"pak..kami lah lamah sadonyo pak,tolonglah japuik kami capek pak"
(pak...kami udah lemas semuanya pak,tolong cepat jemput kami pak). Aditya diam sejenak ,setelah beberapa saat terdengar suara seorang laki- laki yang merespon perkataan dari Aditya.
"iyo nak,cari tampek berlindung yang paliang aman lu yo nak,beko pak japuik di simpang tigo aia angek batu palano,kini kalian ansua bajalan kabawah sampai kalian basobok tampek yang aman lu dih nak"
(iya nak,cari tempat berlindung yang paling aman dulu ya nak,nanti bapak jemput di simpang tiga aia angek batu palano,sekarang kalian terusin aja jalan ke bawah sampai kalian menemukan tempat yang aman dulu ya nak).
"iyo pak,tapi capek yo pak ,kami disiko lah"
(iya pak,tapi cepat ya pak,kami disini udah),panggilan kembali terputus dan baterai dari handpone Aditya juga sudah sangat lemah.
"baa kecek apak tu bang?"
(gimana kata bapak itu bang?),tanya Irvanda melihat Aditya yang sudah kembali ke tempat dia berdiri sebelumnya.
"jalan se lah wak kabawah lu bang,beko wak di japuik di simpang tigo aia angek"
(jalan aja kita ke bawah dulu bang,nanti kita di jemput di simpang tiga aia angek),jelas Aditya lalu mendudukkan dirinya di sebuah kayu bekas pondok yang sudah roboh.
"ndehh..baa kok ndak langsung di japuik kasiko dek petugas tu yo,ko kawan- kawan lah lamah bana fisiknyo a,alum lai yang masih di ateh baa caro lai tu ,ndeehh andeh.."
(yaahh...kenapa gak langsung di jemput petugas kesini aja ya,ini teman- teman udah sangat lemah fisiknya,belum lagi yang masih di atas gimana caranya,yaelah..).
"mungkin dek kondisi alum aman lai bang,baa lo urang tu ka naiak kok mode ko"
(mungkin karena kondisi belum aman bang,gimana juga caranya mereka naik kalau masih kayak gini). Aditya dan Irvanda kembali terdiam.Irvanda memandang ke arah teman- temannya yang sudah kedinginan karena gerimis yang makin lama makin deras.
"yo lah wak jalan se ka bawah lai,wak salamek an yang iko lu beko kok lah tibo di bawah baru wak japuik kawan- kawan tu ka ateh sadonyo bang"
(yaudah ayo kita jalan lagi ke bawah,kita selamatkan yang ini dulu nanti kalau udah sampai di bawah baru kita jemput teman- teman yang masih berada di atas semuanya).
Irvanda mengambil plastik yang berada di dalam tas nya untuk menutupi luka pada tangan Fadli. Irvanda takut jika dia sembarangan mengikat dengan kain nanti akan semakin memperparah keadaan tangan Fadli,Irvanda membungkus semua luka Fadli menggunakan plastik agar tidak basah oleh air hujan.
Jaket yang sedang di pakai oleh Irvanda sengaja di lepaskan olehnya untuk di pakaikan kepada Bima agar bima tidak mengalami Hipotermia. Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun drastis hingga di bawah 35oC yang akibatnya, jantung dan organ vital lainnya gagal berfungsi. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan henti jantung, gangguan sistem pernapasan, bahkan kematian.
Irvanda mengambil sehelai baju yang di simpan di dalam tasnya dan di berikan kepada Aditya,di karenakan sudah tidak ada yang bisa di gunakan untuk menghangatkan mereka,Irvanda memberikan selimutnya kepada Rofid.
Di antara mereka tidak ada yang membawa tenda jadi mereka mau tak mau harus kembali berjalan ke bawah daripada tetap kehujanan disana.
Sekitaran pukul setengah lima sore,langkah Bima kembali terhenti karena mendegar ada suara teriakan minta tolong di belakangnya.
"Nda,tu suaro urang mintak tolong ndak Nda"
(Nda,itu suara orang minta tolong bukan Nda),sentak Bima langsung menghentikan langkah dari Irvanda.
"tunggu tunggu,baranti lu wak dangaan samo- samo"
(tunggu tunggu,berhenti sebentar kita dengerin sama- sama),semuanya langsung berhenti menyimak suara yang di maksud oleh Bima.
"tolonggg....",suara teriakan yang terdengar sangat lirih
"iyo urang minta tolong tu mah Bim,den caliak ka ateh lu ,kalian tunggu se disiko sambia istirahat sabanta dih"
(iya itu suara orang minta tolong Bim,gua liat ke atas dulu,kalian tunggu saja disini sambil istirahat sebentar ya),tanpa fikir panjang Irvanda kembali berjalan ke atas untuk mengecek asal suara tersebut.
"iyo Nda elok- elok se Nda"
(iya Nda,hati- hati ya Nda).Semua kembali duduk di sana sambil memanggu tangan agar udara dingin tidak begitu menusuk tulang.
***
"kak,ado urang disiko kak?"
(kak,ada orang disini kak?),ucap irvanda di sepanjang perjalanan ke atas tetapi tidak ada satupun suara yang menyahutinya. Irvanda lalu kembali berjalan beberapa meter ke atas hingga menemukan dua orang wanita yang sudah terduduk lemas di antara pepohonan yang sudah tumbang.
"bang tolong bang",ucap wanita itu.
Wajah yang sudah pucat dan bibir membiru karena dingin serta beberapa bagian tubuh yang sudah mengelupas karena panasnya abu vulkanik membuat hati Irvanda sangat terpukul melihatnya.