Di saat derasnya hujan batu,Divo terus memberikan arahan kepada teman- temannya agar berlindung di tempat yang aman,mereka telah terpisah dari rombongan hingga hanya menyisakan Divo,Widya dan Tita.
'Ya Allah ...lindungi kami Ya Allah"
"Astagfirullah...Astagfirullah"
Tempat mereka berlindung masih di jatuhi batu- batuan panas,hingga Divo kembali mengajak Widya dan Tita untuk terus berlari ke bawah.Widya berlari di urutan pertama di susul oleh Tita dan Divo yang berada di belakangnya.
brukk
"Divooooo....",teriak tita melihat Divo yang sudah terjatuh di tanah karena kakinya yang terkena bebatuan.
"issshhhh....,lari Ta jan di tungguan den"
(issshhhh....,lari Ta jangan tungguin gua),Divo sedikit berteriak kepada Tita karena Tita yang kembali melihat ke belakang,Tita tidak melanjutkan berjalan ke bawah melainkan kembali berlari untuk mengecek keadaan Divo di belakangnya.
"capek lah Vo,bia den papah kalau ndak bisa ka bawah,capek lah tangak"
(cepat lah Vo,biar gua papah kalau gak bisa ke bawah,cepat ayo berdiri),Tita yang sedang berlari ke atas terus menyuruh Divo untuk segera berdiri agar mereka bisa kembali melanjutkan berlari ke bawah.
"ndak den ndak bisa do,jan kasiko Ta,dulu an lah ka bawah Ta,kaki den sakik di baok bajalan"
(gak gua gak bisa lagi,lu jangan kesini Ta,lu duluan aja ke bawahnya Ta,kaki gua sakit kalau di bawa jalan).
"capek lah Vo"
(cepat lah Vo),teriak Tita sambil menangis di tempatnya berdiri berharap Divo ingin kembali mendapatkan semangatnya untuk melanjutkan menyelamatkan diri mereka dengan berlari ke bawah.
"lai tadanga den mangecek Ta,TINGGAAN DEN SURANG DISIKO..."
(dengerin omongan gua Ta,TINGGGALIN GUA SENDIRI DISINI...).
"indak Vo,den ndak bisa maninggaan Divo surang disiko do"
(gak Vo,gua gak bisa ninggalin Divo sendiri disini),Tita kembali berjalan mendekati Divo tetapi Divo kembali berteriak dengan rawut wajah yang sudah memerah menahan marah.
"Tolong iyoan kecek den Ta,tinggaan den disiko"
(tolong turuti perkataan gua Ta,tinggaalin gua disini).
Tita hanya menatap Divo tanpa melanjutkan berjalan ke bawah maupun kembali ke atas mendekati Divo,disana Tita mengetahui kalau kaki Divo sudah patah ,Divo juga sudah tampak lemah karena banyak menghirup abu dari letusan gunung marapi.
"Vo ado batu ma arah ka awak Vo,capek lah tagak Vo"
(Vo ada batu yang mengarah ke kita Vo,cepetan berdiri Vo),ucap Tita lemah.
Tita sudah tidak memiliki semangat untuk kembali berlari ke bawah meninggalkan Divo sendirian.Divo dapat mendengar perkataan Tita walaupun Tita berbicara sangat pelan,Divo pun melihat ke belakang dan bebatuan tersebut sudah tampak banyak yang berjatuhan tak jauh beberapa meter di belakang Divo.
"TOLONG IYOAN KECEK DEN,TINGGAAN DEN DISIKO SURANG,IKO PERINTAH DARI DEN,TOLONG MANGARATI JO KECEK DEN"
(TOLONG TURUTI PERKATAAN GUA,TINGGALIN GUA DISINI SENDIRI,INI PERINTAH DARI GUA,TOLONG MENGERTI DENGAN PERKATAAN GUA).
Divo sudah sangat geram melihat Tita yang tidak mau mengikuti perkataannya,Divo melihat Widya yang berdiri tak jauh di belakang Tita.Sama halnya dengan Tita ,Widya juga sangat mencemaskan Divo tetapi Widya sudah tidak mampu berkata- kata karena saking takutnya melihat marapi yang terus mengamuk.
"baok Tita ka bawah Wid"
(bawa Tita ke bawah Wid),sekarang Divo yang memerintahkan Widya untuk membawa Tita ke bawah,Widya tidak menjawab perkataan Divo.Widya hanya menatap dalam pada Divo,Divo seakan paham maksud dari tatapan Widya lalu Divo mengangguk pelan pada Widya.
Widya mengenggam tangan Tita dan menuntun Tita untuk kembali berjalan ke bawah,mereka meninggalkan Divo dan melanjutkan berjalan ke bawah sambil terus menangis dan berdoa agar Divo bisa bertahan dan secepatnya di selamatkan oleh petugas yang sudah terlatih dalam bidangnya.
"JAN PERNAH CALIAK DEN DI BALAKANG"
(JANGAN PERNAH LIAT GUA DI BELAKANG),teriak Divo untuk terakhir kalinya.
"asyhadu an la ilaha illallah,wa asyhadu anna muhammaddar rasulullah ,aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah"
"laa ilaha illallah"
***
POV Bima
"LARII..."
Terdengar Irvanda yang berdiri paling depan memberikan arahan untuk segera berlari ke bawah.Bima bukannya langsung berlari malah membantu mengikatkan tas Fadli agar mereka bisa berlari dengan bebas.
Bima menggendong tas carriernya sedangkan di tangan kanannya memengang sebuah plastik yang berisi sampah mereka selama di gunung.
Bima mendengar ledakan dari marapi sebanyak dua kali dan di susul pleh suara gemuruh yang sangat keras.Sesaat kemudian terlihat bebatuan yang bertebangan makin lama semakin deras seperti hujan.
Bima langsung berlindung di sebuah batuan yang tingginya hanya selutut orang dewasa,Bima berjongkok disana melindungi kepalanya dari hujan batu.Plastik sampah tadi di letakkan di atas kepalanya berharap plastik sampah itu juga bisa menyelamatkan kepalanya dari hujan batu.Tas yang masih di gendongnya membuat punggung Bima menjadi aman dari batuan yang terus berjatuhan.
Bebatuan yang terus beterbangan sesekali mendarat hampir mengenai kaki Bima,Bima terus menggeser batu itu dengan menggunakan kakinya karena membuat hawa disekitarnya terasa tambah panas .Batu- batu tersebut seukuran kepala manusia,tidak hanya berbentuk bulat ada juga yang berbentuk runcing ,batu itu mengeluarkan asap dan warnanya seperti merah ke abu- abuan.
Tangan Bima yang tidak terlindung apapun menyebabkan kulit tangannya terasa sangat panas hingga tak sengaja tangan bima melepaskan plastik sampah yang digunakannya untuk melindungi kepala.
bukk
"awwhh"
Sebuah batu jatuh tepat di atas kepala Bima,kepala Bima terasa sangat sakit dan pandangannya sudah agar kabur karena pusing .Kepalanya terasa sangat sakit tetapi Bima tidak berani untuk memengang kepalanya,lalu kepala Bima yang terkena batu terasa berair dan kembali terasa nyeri seperti pertama terkena batu tadi.
"Ya Allah hamba sudah gak kuat Ya Allah"
"Sakit ya Allah"
"Ya Allah hamba sudah tidak kuat"
"Astagfirullah"
"Ya Allah"
"Astagfirullah"
Bima menangis sejadi- jadinya meminta ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa,Bima rela apabila harus meninggal disana daripada menahan sakit yang begitu sangat menyiksanya.Disaat Bima masih terus mengucapkan lafaz Allah,Abu terasa turun menyelimutinya.Bima lansung bersujud di sana dan menutupi mulut dan hidungnya dengan menggunakan jaket yang sedang di pakainya.
Bima merasa kesadarannya sudah hampir menurun,Bima bersujud lalu menutup matanya dan mengucapkan dua kalimat syahadat.
laa ilaha illallah"
"asyhadu an la ilaha illallah,wa asyhadu anna muhammaddar rasulullah"
"kawan- kawan"
Terdengar kembali suara Irvanda yang memanggil mereka,Bima yang awalnya sudah menutup dan mata pasrah langsung sadarkan diri akan apa yang telah di lakukannya.Bima kembali mendapatkan semangatnya,Bima mendengar tidak ada seorang pun yang menyahuti panggilan dari Irvanda.
Bima menegakkan kepalanya melihat sekeliling tetapi yang bisa ia lihat hanya lautan abu,semuanya sunyi seakan- akan tidak pernah terjadi apa- apa.Bima hanya melihat seorang laki- laki yang berdiri tak jauh darinya ,laki- laki tersebut bisa di pastikan bahwa dia adalah Irvanda.
"tungguan den Van"
(tungguin gua Van),teriak Bima.
"capek lah Bim,lapehan sado baban tu Bim"
(cepatan Bim,lepasin semua beban kamu Bim).
Seperti yang sudah di ketahui Bima langsung melepaskan tasnya, lalu mereka merosot ke bawah ke sekitaran 10 menit.
Disepanjang perjalanan Bima terus menangis seperti anak kecil,sudah tidak ada rasa malu bagi Bima untuk menangis seperti itu.Kepala Bima terasa sangat pusing sehingga dia jatuh berkali- kali ,Irvanda dengan cepat langsung membantu Bima dan memberikan semangat padanya.
Bima tidak berani untuk mengecek kepalanya sendiri sehingga Bima terus bertanya kepada Irvanda tetapi Irvanda tidak ingin membuat Bima takut dan mengatakan kalau kepala Bima tidak kenapa- kenapa.
Dari kisah mereka kita tahu kalau sahabat sejati memang ada nyatanya.Sahabat sejati bukanlah mereka yang selalu bersama kita di saat senang,tetapi mereka yang tetap menemani kita di saat susah dan di keadaan yang bahaya ,dan sahabat sejati adalah mereka yang rela mempertaruhkan nyawanya dengan menjadi garda terdepat untuk melindungi kamu dalam apapun bentuk marabahaya.