“Tidak… tidak… itu tidak mungkin,” teriakku histeris. “Jeng, tenang Jeng… tenang,” kata Kak Zaki yang berusaha menenangkan diriku. Pelukan Kak Zaki sangat hangat. Belaiannya juga terasa sangat lembut. Aku merasa nyaman di pelukannya. Walau, aku membayangkan berada di dalam pelukan lelaki lain. Lelaki yang harusnya aku lupakan. “Ehem… kalian sedang apa di sini?” terdengar suara laki-laki dari arah pintu masuk. Kami pun spontan, langsung melepaskan pelukan. Dan melihat ke arah sumber suara. “Dika?” kataku saat melihat laki-laki yang ada di depan pintu masuk. “Siapa Jeng?” tanya Kak Zaki penasaran. “Teman Kak.” Dika pun menghampiri diriku dan Kak Zaki. Mata Dika terus melihat ke arah Kak Zaki. Dia seperti sedang meneliti penampilan Kak Zaki. Dika melihat semuanya dari ujung kaki samp

