“Ayah ingin dia bertanggung jawab atas kamu,” paksa Ayah. “Enggak usah yah. Ajeng enggak mau berurusan sama dia lagi.” Aku terus membujuk Ayah untuk tidak melanjutkan rencananya. Aku lebih baik memilih sendiri selamanya. Dari pada harus hidup bersama Andrew. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku kelak, jika harus menikah dengan Andrew. “Ayah tenang saja. Saya yang akan bertanggung jawab. Saya akan menikahi Ajeng.” Seseorang yang baru saja bergabung dengan kami, langsung membuyarkan semua orang yang sedang fokus dengan ceritaku. “Assalamualaikum, Yah.” Ustad Khairil datang dan langsung mencium tangan Ayah. “Wa alaikum salam. Eh ada Pak ustad,” kata Ayah yang senang melihat calon mantunya yang gagal. “Enggak usah panggil ustad, Yah. Kan kita udah sepakat, saya manggil Pak Perd

