“Ayah… ini Ajeng Yah,” kataku sambil memegangi tangan Ayah yang terpasang selang infus di sana. Aku melihat banyak sekali alat-alat medis yang pasangkan di tubuh Ayah. Bahkan, Ayah juga mengenakan alat perekam jantung. Aku sangat sedih melihat kondisi Ayah saat ini. Tetapi jika aku menangis saat ini, akan membuat Ayah semakin buruk. Setidaknya, itu yang aku pikirkan saat mengingat ucapan dokter kemarin. “Ayah… Ajeng sayang sama Ayah.” Aku terus menatap wajah Ayah dengan sangat lekat. Hatiku sedikit ragu untuk menceritakan sesuatu yang dari tadi ingin aku sampaikan. Padahal selama di perjalanan, aku sangat ingin untuk segera sampai di sini. Tetapi saat ini, muncul keraguan di hatiku untuk memulai bercerita. “Ajeng… Rendi, kalian udah datang.” Bang Jaka baru saja masuk ke kamar Ayah in

