Aku berjalan di lorong rumah sakit sambil mencari ruangan tempat Ayah di rawat. Sampai, aku menemukan Kak Kiki, Bang Jaka dan Kak Rendi berdiri di depan sebuah kamar. Terlihat, wajah cemas di sana. Aku pun langsung berlari menghampiri mereka. “Kak, bagaimana keadaan Ayah?” aku langsung menghampir Kak Kiki. “Ayah lagi diperiksa sama dokter. Tadi tubuh Ayah sempat kejang kejang. Dan sekarang lagi ditangani oleh dokter,” kata Kak Kiki. “Ayah kenapa, Kak?” Aku bertambah panik setelah mendengar ucapan Kak Kiki. “Enggak tahu, semalam tiba-tiba Ayah pingsan saat tahu kamu selama di Bandung tidak ada di rumah Bibi,” kata Kak Kiki. “Kok Ayah bisa tahu?” tanyaku. “Ayah dengar pembicaraan kita semalam di telepon,” kata Bang Jaka. Dia merasa sangat bersalah atas yang terjadi tehadap Ayah. “Sema

