Pantang Mundur

1554 Kata

Cowok jangkung itu terlihat menutup pintu kamarnya rapat, melepaskan jaketnya dan melemparnya begitu saja pada sudut kamar. Langkahnya gontai dengan meringis samar merasa  ngilu pada sekujur tubuhnya. Apalagi tadi sempat ada yang menghantamkan balok pada punggungnya. Saat berkelahi tadi ia tidak terlalu kesakitan, tapi sekarang baru terasa. Sosok jangkung itu sejenak menatap pantulan dirinya pada cermin dengan mengusap rambut hitam legamnya ke belakang, menampakan jidatnya yang terluka, tergores sesuatu. Bibir tebalnya mendecak lirih lalu tangan kirinya terulur menyentuh kedua alisnya yang juga ada bercak darah di sana. "Besok sajalah," ujarnya sudah berjalan ke arah kamarnya lalu merebahkan tubuh bongsornya di sana. Tatapannya menyayu dengan terpaku pada satu titik di langit-langit kam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN