11. What's Wrong with Max?

1160 Kata
- Kamar Alleysa, 08.00PM - Suara ponsel berdering membuat Alleysa menghentikan bacaan novelnya yang baru sejak kemarin ia beli di toko buku. "Yeah, ini Aku" "Apa kau sibuk?" "Tidak. Ada apa?" "Aku akan menjemputmu sekarang" "Kau mau------" Zayn memutuskan panggilannya di saat Alleysa belum menyelesaikan kalimatnya. Alleya menatap ponselnya dengan kebingungan. Ada apa dengan Zayn? Tidak lama Alleysa menunggu suara berisik knalpot motor mengusik pendengarannya. Alleysa berjalan menuju jendela berwarna putih kecil di sisi kanan kamarnya. Alleysa menatap punggung lebar seorang pria yang sedang memakai jaket kulit dengan ponsel di tangannya. Yeah, itu Zayn. Ponsel Alleysa kembali berdering dam tentu saja itu adalah panggilan dari Zayn. "Yeah Aku sudah melihatmu" "Cepat turun!" Pinta Zayn dengan suara berat dan tegasnya. Alleysa turun hanya mengenakan piyama warna merah muda kesukaannya dengan bandana berwarna putih yang lengket di selah rambut coklatnya. "Kenapa kau masih pakai baju ini" Ucapan Zayn membuat Alleysa bingung. "Lalu Aku harus pakai apa? Aku tidak mengerti maksudmu di telepon tadi, Zayn" Alleysa melangkah maju tepat di hadapan Zayn. Wangi vanilla kini mengitari indra penciuman Zayn. "Aku ingin kau menemaniku kerumah Max sekarang!" Zayn menatap bola mata Alleysa yang berwarna keemasan. "Untuk apa?" "Ada sesuatu yang harus aku ambil disana" "Kenapa bukan Max yang membawakan mu?" "Tidak usah banyak tanya Alleysa!" Zayn membentak Alleysa yang membuatnya terdiam dan menatap sinis kearah Zayn. Alleysa menghela napas kasar dan kembali ke kamarnya mengganti pakaiannya sesuai dengan perintah Zayn. "Jangan lamaaaaa!" Teriak Zayn saat Alleysa hampir hilang dari pandangnnya. Alleysa turun dengan tanktop berwarna hitamnya dengan tali spagetti di bahunya, lalu ia padukan dengan rok mini jeans dengan sepatu kets hitam yang membalut kaki mulusnya. Sangat simple! Zayn menatap Alleysa yang baru saja muncul kembali di pandangannya. Zayn melepas jaket kulitnya lalu iya lemparkan ke arah Alleysa sebelum Alleysa sampai di motor sportnya. "Pakai itu! Ini sudah malam, kenapa kau pakai baju seperti itu!" "Yasudah, Aku ganti-----" "Tidak perlu, cepat naik!" Pinta Zayn dengan suara tegas yang membuat Alleysa mempercepat langkahnya dan naik di atas motor sport Zayn. Alleysa memeluk tubuh kekar Zayn di saat Zayn semakin meninggikan laju sepeda motornya. "Zayn pelan-pelan" Alleysa berbisik ke telinga Zayn tetapi hanya senyuman kecil yang Zayn perlihatkan padanya. Hanya membutuhkan waktu 35 menit, Zayn dan juga Alleysa tiba di sebuah rumah berwarna putih pucat yang di penuhi coretan-coretan dengan gambar-gambar yang aneh dan menyeramkan. Lalu sebuah pohon yang besar di sisi kanan rumah ini. "Aku tunggu disini saja" "Tidak! Kau harus masuk. Kau tidak akan pernah tau orang siapa yang akan kau temui jika kau menunggu di luar" Ucapan Zayn membuat Alleysa ketakutan dan mengikuti Zayn tepat di belakangnya. "Max??!!" Teriak Zayn. Seseorang dengan penuh tatto di tubuhnya turun dengan sebuah botol alkohol di tangan kanannya. Pria itu menatap Alleysa dari ujung rambut hingga kaki dengan tarikan kecil di ujung bibirnya. "Paul, dimana Max?" Paul hanya diam dan semakin menatap Alleysa. "Zayn" Bisikkan kecil Alleysa mampu menerobos pendengaran Zayn. Zayn menggeser tubuhnya ke samping hingga tubuh kecil Alleysa tertutupi olehnya. Paul merasa terganggu dengan tubuh Zayn yang membuat Alleysa menghilang dari pandangannya. "Paul, dimana Max?" Zayn kembali bertanya dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. "Hm.. Yeah dia ada di atas" Paul menjawab pertanyaan Zayn dengan suara yang sangat parau. Paul berjalan menuju Alleysa. Alleysa menarik kaos hitam yang Zayn kenakan. "Siapa yang menemanimu Zayn?" "Dia kekasihku!" Zayn menekan kalimat terakhirnya dan menatap tajam ke arah Paul yang sesekali masih meneguk kembali alkoholnya. Zayn menarik lengan Alleysa dan berjalan menaiki tangga demi tangga hingga bertemu Max di ujung tangga terakhir. "Max?" "Ohyeah, Zayn! Ada apa?" Max terlihat sangat pucat dan berbeda dari beberapa hari yang lalu saat Alleysa melihatnya. "Max, apa kau sakit?" Alleysa menatap Max khawatir. Zayn terlihat biasa saja melihat kondisi Max saat ini seakan sudah biasa melihatnya. Seseorang dengan tubuh yang kekar seperti Zayn keluar dari pintu berawarna merah pojok lantai 2 rumah itu. Berjalan sempoyongan menuju tangga dan lagi-lagi menatap Alleysa dengan tatapan yang membuat Alleysa ketakutan. Zayn kembali menarik lengan Alleysa. "Jangan terlalu jauh dariku!" Bisik Zayn. "Zayn, Aku ingin pulang" Alleysa kembali berbisik kepada Zayn. Tangan Alleysa bergetar ketakutan. Rumah yang ia datangi saat ini tidak layak di sebut rumah. Bangunan yang di penuhi coretan dan beberapa kata umpatan di dindingnya. Aroma rokok sangat tajam menusuk ke dalam indra penciuman. Dan beberapa pria yang di penuhi tatto terlihat sangat menyeramkan. Alleysa terkaget saat menoleh kesisi kiri ia mendapati seorang wanita dengan tatto di pundaknya sedang b******u di ambang pintu bersama seorang pria pemabuk. Wanita itu menatap Alleysa. Bukan! Dia menatap Zayn. Apa dia kenal dengan Zayn? Wanita itu menghentikan percintaan menjijikkannya dan berjalan menuju kearah Alleysa dan juga Zayn. "Hai, Zayn" Sapa July "Oh hai, Jul" Zayn menyapanya kembali di sela perbincangannya dengan Max. "Max, Aku kesini ingin mengambil barangku yang kemarin Aku titipkan" "Barang?" Max tampak kebingungan mencerna perkataan Zayn. Max seperti orang yang linglung . "Oh barang waktu kau kabur dari rumahmu, Zayn?" July memastikan barang yang Zayn cari pada Max. "Haaa?" Alleysa yang tadi hanya diam kini mulai bersuara akibat perkataan July. Zayn menatap Alleysa dengan tatapan datar dan tidak berarti. "Hem yeah" Zayn membalasnya singkat. "Ada di kamarku" Perkataan July lagi-lagi membuat Alleysa tersentak kaget. "Kenapa ada di kamarmu? Bukannya Aku menaruhnya di kamar Max?" Sama halnya dengan Alleysa, Zayn terkaget mendengar ucapan July. "Max, Kau baik-baik saja?" Alleysa meraih pundak Max. "Oh, Alleysa? Kau juga ada disini?" Alleysa semakin bingung dan takut saat Max berjalan kearahnya dan ingin memegang pundaknya tetapi dengan sigap Zayn menepis tangannya. "Max lebih baik kau kembali ke kamarmu. Aku rasa, hari ini bukan hari yang baik untuk menemuimu". Zayn memanggil seorang pria yang sejak tadi memandangi mereka berempat. "Jimmy! Tolong bawa dia ke kamarnya" Satu-satunya pria yang terlihat normal membawa Max dengan sekali perintah dari Zayn. Zayn memutar tubuhnya dan masih memegang lengan Alleysa dan berjalan menuruni tangga bersamaan dengan July yang menahan pergelangan Zayn. "Kau tidak jadi mengambil barangmu, Zayn?" "Nanti saja" Ucapan singkat Zayn membuat Alleysa menahan langkahnya. "Kau kenapa Alleysa?" "Ambil barangmu sekarang juga Zayn! Aku tidak ingin kau datang kembali ke tempat ini sendiri!" Pinta Alleysa kali ini mampu membuat Zayn mengiyakan dan melakukannya. "Kenapa kau melarang Zayn datang kemari? Tempat ini juga milik Zayn. Kau siapanya?" July terlihat kesal dengan ucapan Alleysa. "STOP!!!!" Zayn menghentikan keduanya. "July, ambilkan barangku dan bawa kesini sekarang juga!" July masih terdiam menatap sinis kearah Alleysa. "JULY!!!" Suara tegas Zayn membuat Alleysa dan July terdiam. July berjalan menuju kamarnya dan kembali lagi dengan sebuah tas ransel berukuran besar di pelukannya. "Ini" July menyerahkan tas milik Zayn. "Okay, Thanks" "Kalau kau kesini, jangan pernah bawa perempuan sial ini lagi Zayn" July mengakhiri kalimatnya dan meninggalkan Zayn dan Alleysa. "Maaf Alleysa, Aku tidak seharusnya membawamu kesini" "Hem... Aku yang minta maaf Zayn. Seharusnya Aku tidak berkata seperti itu. Sorry!" Jawaban polos Alleysa membuat Zayn menatapnya dengan tatapan yang mengandung arti tetapi Alleysa tidak dapat menangkapnya. "Aku antar kau pulang" Zayn mengusap puncak kepala Alleysa dengan senyuman kecil di bibirnya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN