- Kamar Zayn -
Zayn berlari mengikuti Alleysa yang sejak tadi meninggalkannya dengan wajah memerah.
Zayn membuka pintu kamarnya dan mendapati Alleysa yang duduk di atas ranjang berukuran king dengan memeluk tubuhnya sendiri. Kedatangan Zayn membuat Alleysa malu dan menutupi wajahnya dengan selimut.
Zayn tersenyum melihat Alleysa yang malu akibat mimpi mesumnya.
Belum sempat Zayn menarik selimut dari wajah Alleysa, Miranda nenek Zayn mengagetkan keduanya.
"Zayn?" Suara serak membuat Alleysa dan Zayn menatap Miranda bersamaan.
"Oh nona Haston, rupanya kau masih berada disini" Miranda menyapa Alleysa untuk pertama kalinya. Tetapi Alleysa merasa kebingungan dengan identitas Miranda yang belum ia ketahui.
Alleysa menatap Zayn bingung.
"Zayn ikutlah denganku" Ucapan Miranda terakhir sebelum meninggalkan kamar Zayn.
"Jangan kemana-mana. Tunggu disini!" Zayn memberikan perintah pada Alleysa bersamaan Mariam yang masuk ke dalam kamar Zayn membawakan pakaian Alleysa yang sudah di cuci.
"Ini nona baju anda" Mariam menjulurkan baju Alleysa kepadanya.
"Yeah. Thank U" Alleysa tersenyum dan membiarkan Mariam keluar agar ia bisa mengganti pakaiannya.
Zayn kembali ke kamarnya setelah berbincang tentang sesuatu dengan Miranda.
Zayn tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, berjalan menerobos masuk kedalam kamarnya yang saat ini Alleysa sedang mengganti pakaiannya.
Hal pertama kali Zayn lakukan setelah membuka pintu kamarnya ialah menatap punggung kecil milik Alleysa yang mulus.
Alleysa tampak tidak menyadari keberadaan Zayn yang berada di belakangnya.
Zayn melangkah menuju Alleysa yang berada disisi kanan ranjang milik Zayn yang sedang memasang kembali pakaiannya.
Masih dalam keadaan setengah memasang bajunya, tangan kasar Zayn menyusuri perut kecil Alleysa yang membuat Alleysa tersentak kaget merasakan sebuah tangan mengitari perutnya.
Zayn menarik perut Alleysa dan memeluknya dari belakang.
"Omg, Zayn! Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Alleysa merasa geli saat tangan kasar Zayn seakan menggelitik perutnya.
Wajah Zayn semakin dekat hingga ia mencapai tengkuk Alleysa dan menghembuskan nafas kasarnya.
"Zayn... Hentikan" Alleysa mencoba melepas pelukan Zayn tetapi tidak pernah berhasil.
Alleysa bahkan belum memakai semua pakaiannya.
Zayn membalikkan tubuh Alleysa dan mendorongnya hingga terjatuh di atas ranjangnya.
"Zayn, kau mau apa?!" Alleysa panik saat Zayn menindih tubuhnya yang belum sempurna memasang bajunya.
"Kenapa kau selalu membuatku gila Alleysa, kenapa?" Zayn tampak frustasi melihat Alleysa yang menjadi candunya sejak beberapa minggu yang lalu.
Zayn memiringkan kepalanya dan membuat wajahnya semakin dekat ke wajah Alleysa. Hembusan napas keduanya tereskpos bebas di wajah keduanya.
Zayn mendapat bibir Alleysa yang sudah menjadi favoritenya. Zayn mengulum dan menikmati bibir Alleysa yang tipis.
Tangan besar Zayn kini meraba perut Alleysa dan sesekali Alleysa merasa geli seperti di serang oleh segerombolan kupu-kupu yang mengitari perutnya.
Ciuman manis membuat Alleysa dan Zayn menikmatinya hingga mata keduanya terpejam.
Kini Alleysa selalu menerima ciuman Zayn tanpa penolakan seperti sejak pertemuan pertama mereka.
Apakah Alleysa juga menjadikan Zayn candu baginya?
Zayn merasa lega saat Alleysa tampak tenang menikmati permainan lidahnya.
Zayn menindih tubuh Alleysa, hingga posisi kini berganti menjadi Alleysa yang menindih tubuh kekar Zayn.
Zayn meraih tengkuk Alleysa dan memperdalam ciumannya. Kedua tangan Zayn meraba dan meremas b****g Alleysa. Zayn merasakan sebuah benda yang kenyal menempel dengan sempurna di atas dadanya.
Leher jenjang Alleysa menjadi tempat favorite Zayn memberikan mark kiss-nya.
"Aaahhh" Alleysa mendesah pelan.
Ponsel Alleysa berdering hingga menyadarkan keduanya.
"Shiiitttt!" umpat Zayn kesal.
Alleysa berdiri dari posisinya dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas disamping ranjang Zayn.
"Yeah? Ini Aku"
"....."
"Yeah, i'm sorry. Aku lupa mengabarimu. Okay, Aku pulang sekarang!"
Alleysa mematikan panggilannya dan memakai kembali bajunya yang tadi belum terpasang sempurna di tubuhnya.
"Siapa yang menelponmu? Kenapa kau lupa memberinya kabar? Apa kekasihmu?" Zayn penasaran dan melontarkan beberapa pertanyaan pada Alleysa.
"Vaaro. Aku lupa mengabarinya. Dia mencariku" Alleysa memasang jaketnya dan menyisir rambutnya yang tampak berantakan.
"Kakakmu?"
Alleysa mengangguk.
"Aku harus pulang, Zayn"
"Aku akan mengantarmu!" Zayn berdiri dari ranjangnya dan berjalan keluar dengan Alleysa yang mengekor di belakangnya.
Langkah Zayn terhenti begitupun Alleysa saat melihat Miranda dengan tongkat kayunya duduk di sofa dengan secangkir teh di tangan kanannya.
"Aku pergi dulu, Aku harus mengantar Alleysa kerumahnya"
Belum sempat Miranda membalas ucapan Zayn, Zayn lebih dulu berjalan meninggalkannya.
Alleysa merasa sikap Zayn sangat kasar pada neneknya membuat Alleysa yang berjalan di belakangnya merasa tidak enak dan menyapanya.
Alleysa menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Miranda. "Aku permisi pulang dulu, Nyonya" Tubuh Alleysa membungkuk sopan ke arah Miranda.
Miranda tersenyum dan menyuruh Alleysa duduk disampingnya.
"Seringlah datang kesini nona Haston" tangan keriput Miranda yang lemah menarik tangan Alleysa dan menggenggamnya.
Alleysa bingung.
"Aku rasa nanti kita akan sering bertemu nona Haston" Miranda tersenyum dan sesekali meneguk kembali tehnya.
"Yeah. Aku minta maaf, kalau kedatanganku semalam membuatmu tidak nyaman. Aku tidak sadarkan diri setelah meneguk vodka milik Zayn hingga aku sendiri tidak tau kenapa Aku bisa berada dirumah Anda" Alleysa menjelaskan secara rinci kepada Miranda. Tetapi Miranda hanya tersenyum dan mengangguk.
"Apa kau tahu Nona Haston. Aku baru melihat seorang gadis dirumah ini dan itu kau" Miranda lagi-lagi tersenyum menatap Alleysa.
"Tapi maaf nyonya. Apa Zayn selalu melakukan sikap kasarnya kepadamu?"
"Apa maksudmu Nona Haston?"
"Hem, tadi Aku melihat saat ia mengatakan kalau dia ingin mengantarku tetapi belum sempat Anda menjawabnya Zayn berjalan meninggalkan Anda" Alleysa terbata-bata takut menyinggung perasaan Miranda.
"Yeah... Dia memang sering seperti itu. Dia sering melukai harga diriku".
Alleysa tampak kesal pada Zayn.
"Sama sekali tidak menghormati orang tua!" Perkataan Alleysa dengan suara mengecilnya mampu menerobos indra pendengaran Miranda.
Miranda terkekeh.
Tampaknya ia menyukai sikap Alleysa.
"Dia memang mempunyai sifat seperti itu. Sifat yang dimiliki oleh Ayahnya putra kandungku. Aku sudah terbiasa dengan sifat seperti itu dari anak hingga cucuku".
"Tapi tetap saja nyonya. Dia tidak sopan padamu. Harusnya di usia seperti ini dia lebih fokus menjagamu, dia adalah cucumu satu-satunya. Tapi, dia malah asyik bermain bersama teman dan para wanitanya".
Miranda kembali menyipitkan kedua matanya dan tersenyum kepada Alleysa.
"Alleysaaaa!!!!" Teriakkan Zayn memanggil Alleysa terdengar ke telinga Miranda dan menyuruh Alleysa segera ke Zayn.
Miranda sudah mengetahui sifat arogan cucunya.
"Zayn memanggilmu nona Haston, cepat kesana. Dia sangat berbahaya kalau sedang marah" Kekehan Miranda membuatnya tersedak.
Alleysa dengan spontan memberikannya teh miliknya dengan raut wajah khawatir.
"Anda baik-baik saja nyonya?"
"Yeah. Terima kasih nona Haston" Miranda meneguk kembali tehnya. "Ayo cepat kesana".
"Baik Nyonya. Aku minta maaf dan terima kasih juga kepada Anda" Alleysa berdiri dari kursi yang ia duduki dan kembali membungkukkan tubuhnya secara sopan kearah Miranda.
"ALLEYSAA!" Suara Zayn terdengar kembali dengan nada tangkasnya membuat Alleysa berlari.
"Kenapa kau lama sekali, Alleysa. Apa yang kau lakukan?" Zayn berjalan masuk menuju kursi pemudi. "Ayo cepat masuk!".
Sepanjang jalan menuju rumah Alleysa ia tidak berbicara sepatah katapun. Hingga mobil Zayn berhenti di depan rumah Alleysa yang terlihat besar dan mewah tetapi tetap kalah dari Mansion milik Zayn.
"Terima kasih, Zayn" Alleysa mengucapkan kalimat terakhirnya hingga ia menutup pintu lamborghini Zayn.
-----