9. Alleysa di Perkosa?

1244 Kata
- Mansion D'founzo - Zayn menggendong tubuh Alleysa dan membawanya masuk. Sekitar 12 pelayan yang masih berjaga dini hari menatap bingung saat melihat Zayn membawa seorang gadis ke dalam mansionnya. Suara ketukan tongkat menghentikan langkah Zayn saat menginjakkan kakinya di dua anak tangga. "Zayn? Siapa yang kau bawa?" Nenek Zayn, Miranda menatap keheranan melihat cucunya yang tidak seperti biasanya membawa seorang gadis kerumahnya. Zayn menoleh. "Ini temanku" dan kembali menaiki tangga demi tangga menuju kamarnya meninggalkan Miranda yang masih menatap punggung cucunya. Zayn merebahkan tubuh Alleysa dengan hati-hati. Zayn melepas jaket yang Alleysa kenakan hingga pundak mulus Alleysa terekspos bebas di mata Zayn. Alleysa sudah menjadi candu Zayn sejak ciuman pertama dengannya. Zayn menahan dirinya untuk tidak menyentuh Alleysa tetapi ia tidak bisa. Zayn mengecup bibir Alleysa dan mencari bau vanilla yang menjadi ciri khas Alleysa tetapi yang Zayn dapatkan hanyalah bau alkohol dan asap rokoknya yang memenuhi tubuh Alleysa. ----- "Aaaahhhhh" Alleysa mendesah kuat saat sebuah kepalan tangan meremas kedua bukit kembarnya secara kasar. Kedua kaki Alleysa di buka secara paksa dengan sebuah tubuh kekar menindihnya. Kecupan demi kecupan Alleysa rasakan. Bibirnya di lumat begitu kasar hingga ia merasakan kesakitan. "Aaaaahhhhhhh" Desahan hebat membuat mata Alleysa perlahan membuka dan mendapati Zayn berada di atas tubuhnya. Zayn menjelajahi isi mulut Alleysa dengan remasan yang begitu kuat di p******a Alleysa. Zayn melepas baju yang Alleysa kenakan dan membuka pengait bra hitam yang Alleysa kenakan saat ini. Kedua bukit kembar Alleysa terekspos dengan jelas di mata Zayn membuat semakin gila dan liar. Alleysa bagaikan seorang mangsa yang ia siap untuk terkam. Perlahan-lahan Zayn membuka celana yang Alleysa kenakan, menanggalkannya dengan bebas hingga bagian inti Alleysa terpampang nyata di hadapannya. Zayn kembali mencium bibir Alleysa yang saat ini hanya pasrah mengikuti permainan Zayn. Bibir Zayn turun membasahi leher jenjang milik Alleysa dan tangan kirinya masih meremas p******a sintal Alleysa. "Aaaahhhhhhhh... Sakiiittttt" Alleysa merasakan sakit saat bibir Zayn turun dan memainkan p****g Alleysa dan sesekali gemas menggigitnya. Rambut Zayn di cengkram kuat oleh Alleysa saat merasakan gigi Zayn tergesek di putingnya. "Aaaahhhhhh... Zayn" Alleysa mendesah nama Zayn, sengatan listrik kini memuncak menuju otak Zayn. Tangan Zayn mulai turun kepusat kewanitaan Alleysa, membuka celana dalam Alleysa dan menggesek jarinya tepat di bawah sana yang basah sejak tadi. Zayn memasukkan satu jarinya kedalam inti Alleysa membuat Alleysa menggelinjang hebat dengan menutup kedua matanya. "Aaaaahhhhhhhhhh" Desahan hebat datang dari mulut Alleysa. Zayn menggeseknya secara pelan hingga kasar saat kedua jarinya masuk dan mengocoknya hingga cairan kental itu membasahi kewanitaan Alleysa. "Aaaaahhhhh sakiiittt Zayn" Alleysa berteriak bersamaan Zayn mengeluarkan kedua jarinya saat Alleysa merasakan orgasmenya yang pertama. Zayn mencium kening hingga pipi Alleysa. "Al.. Kau siap?" Zayn mengambil ancang-ancang dan siap menghujamkan miliknya pada bagian inti Alleysa. Alleysa mengangguk siap dan saat itulah kejantanan Zayn menerobos masuk secara paksa kedalam pusat kewanitaan Alleysa yang sempit dan basah. "Aaaakkkkkkkkkhhhhhhhhhhhh" ----- "TIDAAAKKKKK!!!!!!" Alleysa berteriak dan membuka matanya secara paksa dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Alleysa menatap sekeliling kamar yang begitu luas berwarna putih dengan coretan yang berada di sisi kanan kamar ini. Alleysa melihat tubuhnya yang terbalut selimut berwarna abu-abu tampaknya sudah berganti pakaian. "Ini pakaian siapa?" "Aku ada dimana?" "Kenapa aku berganti pakaian?" "Ya Tuhan tolong, Aku! Apa yang terjadi? Aku tidak mungkin berbuat hal seperti itu" "Zayn?" "Apakah ini rumah Zayn? Dimana dia?" Alleysa beranjak dari kasur secara tergesa-gesa menarik dirinya yang saat ini hanya memakai baju kaos hitam polos tanpa bawahan. Karena ukuran kaos yang begitu besar hingga menutupi paha Alleysa. Berlari menyusuri setiap kamar mencari keberadaan Zayn dengan tangisan kecilnya dan rasa ketakutannya yang menyelimuti dirinya. Semua pelayan yang mendapati Alleysa menatapnya kebingungan. "Ada apa nona? Ada yang bisa saya bantu?" Seorang ketua pelayan, Mariam mendatangi Alleysa dengan sopan. "Ini dimana?" "Anda berada di kediaman D'founzo nona" Mariam kembali menjawab pertanyaan Alleysa dengan sopan. "Siapa D'founzo? Ehm... Apa kau kenal Zayn?" "Yeah. Tuan muda berada di ruangannya. Di belakang mansion ini, Nona" Mariam menunjuk ke arah jendela dan terdapat sebuah bangunan tunggal di belakang mansion milik D'founzo. Alleysa secepat mungkin berlari menuju bangunan itu dengan segukkan kecil menghiasi tangisnya. Sesekali Alleysa menghapus air matanya kasar, dengan jantung yang berdebar begitu hebat dan rasa takut menyelimuti tubuhnya. "Zayynnnn!!! Zayyynnn!!!" Teriakkan Alleysa menggiringnya sampai di bangunan yang Mariam tujukkan tadi. Pintu terbuka dengan kasar membuat Zayn tersentak dan menoleh yang mendapati tubuh Alleysa berdiri menegang di ambang pintu. "Alleysa?" Zayn mendekat dengan wajah khawatir melihat wajah Alleysa yang begitu pucat pasih dan genangan air mata di pipinya. Tangisan Alleysa pecah saat melihat wajah Zayn, seolah-olah apa yang ada ingatan Alleysa benar terjadi padanya. Zayn semakin khawatir dan menangkap tubuh Alleysa yang bergetar ketakutan. "Kau kenapa?" Alleysa menangis histeris saat merasakan tangan kasar Zayn meraih pundaknya. Alleysa memukul d**a Zayn dengan kasar dan sesekali terdengar segukkan di mulutnya. Zayn semakin heran tetapi pria jangkung itu tetap menerima pukulan Alleysa yang mengarah ke d**a bidangnya. "Kau jahat!!! Kau jahat Zayn! Aku membencimu! Kenapa kau tega melakukan itu kepadaku? Kenapa Zayn?!!!" Alleysa menangis, menangis sekencang ia bisa dengan beberapa pukulan di d**a Zayn. "Melakukan apa Alleysa? Apa yang kau maksud?" "Kau memperkosaku!!!!" Tangisan Alleysa kembali pecah saat mengeluarkan kata yang terdengar menjijikkan. "APAAAAA?!!!!" Bukannya shock atau panik, Zayn malah tertawa geli menatap Alleysa. Raut wajah Alleysa yang tadinya panik dan takut berubah menjadi bingung. "Kenapa kau tertawa?" "Aku memperkosamu?" Zayn kembali memastikan apa yang barusan ia dengar. "Iya. Kau memaksaku melakukannya. Dan Ak---aku...." Alleysa menggantung ucapannya. "Dan kau? Kau menikmatinya?" Zayn menggoda Alleysa yang sepertinya bisa membaca fikiran Alleysa. Alleysa menunduk malu, pipinya yang tadi memucat kini berubah warna menjadi merah muda. Zayn tertawa terbahak-bahak saat Alleysa ketahuan menikmati cumbuan Zayn. Zayn menarik tubuh Alleysa dan memeluknya. "Ihh.. Lepaskan Zayn!" Alleysa mencoba melepaskan pelukan Zayn tetapi Zayn tidak membiarkannya. Zayn merasa gemas dengan tingkah Alleysa yang begitu lucu menuduh memperkosanya. Padahal semalam Zayn berusaha keras untuk tidak mengikuti hawa nafsu untuk menyentuh Alleysa yang terkulas tidak berdaya di atas ranjangnya. Hal lain yang membuat Zayn menarik bibirnya tersenyum saat ia bisa menebak mimpi Alleysa yang menikmati cumbuannya. "Ternyata dia juga menikmati saat b******u denganku" Alleysa sudah menenangkan dirinya begitupun Zayn yang melepas pelukannya. Zayn menghapus lembut air mata Alleysa di pelupuk matanya. "Itu hanya imajinasimu Alleysa. Ternyata ciumanku mampu membuatmu bermimpi yang tidak-tidak denganku" Zayn menggoda Alleysa kembali bersamaan dengan pipi Alleysa yang semakin memerah. "Apa benar aku hanya mimpi?" "Tapi, kenapa itu sangat nyata buatku?" "Shiiitttt!! Kalau itu benar mimpi, Aku sangat malu pada Zayn" "Tunggu! Tapi, bajuku? Kenapa bajuku berganti?" Alleysa mendongak menatap Zayn yang masih dengan ukiran senyuman yang sempurna di bibirnya. "Tapi, kenapa baju seperti ini?" Zayn tersenyum dan menggodanya kembali. "Aku yang menggantinya Alleysa. Bajumu sangat bau asap rokok dan alkohol" Zayn berusaha menahan tawanya saat melihat kedua bola mata Alleysa yang sebentar lagi membesar. Alleysa mundur dan menyilangkan kedua tangannya tepat di dadanya. "APAAAAAA??!!" "KYAAAAAAA! KAU MELIHATNYA?" Zayn menggangguk dengan senyum meledek ke arah Alleysa. "Semuanya? Kau melihat semuanya?" Mata Alleysa semakin membesar. Zayn kembali mengangguk dengan wajah merah menahan tawanya yang kini memuncak. "Heeemmm... Aku rasa anakmu nanti akan kesusahan mendapatkan asi mu" "KYAAAAAAA!!!!!!" Alleysa berteriak bersamaan dengan ledakkan tawa Zayn yang sejak tadi ia tahan, menunggu waktu yang pas agar Alleysa tidak curiga padanya. Alleysa malu. Alleysa berlari memunggungi dan meninggalkan Zayn yang masih tertawa hingga matanya berkaca-kaca. "Ternyata dia sangat polos. Sangat mudah untuk dibodohi" Zayn masih belum bisa mengontrol tawanya. "Astaga... Aku sampai lupa kapan aku tertawa seperti ini" Zayn menggeleng kepalanya dan berlari mengejar Alleysa yang sejak tadi berlari menyembunyikan malunya.  *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN