- De'laluna Club, 11:00 PM -
Suasana gemerlap di sebuah club malam ternama di Australia membuat kerlap kerlip lampu yang menyilaukan mata serta suara dentuman musik yang sangat menusuk tajam ke indra pendengaran setiap orang yang mendengarkannya membuat mereka yang sedang bercengkrama harus mengeraskan suara mereka agar terdengar satu sama lain.
Seorang wanita dengan blouse tali spagetti berwarna merah di balut rok jeans mini putih sedang menari dengan anggun di tengah lantai dansa club ini. Rambut panjang terurai dengan elegan menutupi punggung mulusnya.
Carla dan Hito berada di sisi kiri club itu sedang meneguk beberapa vodka yang tertata rapi di atas meja berukuran besar setengah lingkaran.
"Kenapa kau melakukannya?" Carla berteriak di telinga Hito karena suara musik yang begitu berisik menenggelamkan suaranya.
"Biarkan saja sayang, Aku penasaran bagaimana Alle kalau ia sedang mabuk" Hito tertawa puas dengan apa yang ia perbuat kepada Alleysa.
Carla panik saat Hito memberitahunya kalau ia tadi menukar gelas minuman Alleysa dengan miliknya. Carla sangat tahu bagaimana Alleysa sangat di luar kendali jika sedang mabuk.
Carla kembali menghadapkan pandangannya ke arah sahabatnya yang masih menari dengan indah di lantai dansa bersama dengan kerumunan orang lain yang sedang menari.
"Jangan panik Carl, santai saja" Hito menenangkan Carla yang masih terus saja memandangi punggung Alleysa.
Carla meneguk segelas alkohol dengan kadar rendah berbeda dengan Hito.
Seseorang dengan punggung lebar bersama ketiga temannya berjalan kearah Hito dan Carla.
"Zayn?" Carla menyapa Zayn terlebih dahulu.
Zayn duduk di sofa tanpa mengetahui kalau Alleysa sedang mabuk dibawah sana.
"Kau berdua saja?" Tanya Zayn sambil meneguk vodka yang Max pesankan untuknya.
"Hem? Aku bertiga, bersama Alleysa dibawah sana". Mata Zayn seakan di paksa untuk membesar saat mendegar nama Alleysa yang Hito sebutkan.
"Alleysa?" Zayn kembali memastikannya kepada Hito.
"Yeah.. Dia ada di bawah sana sedang mabuk" Kekeh Hito yang dibalas oleh tatapan sinis Zayn dengan sepuntung rokok di tangan kanannya.
Zayn melihat ke arah tengah dan mendaratkan pandangannya ke salah satu wanita yang sangat ia kenali tubuhnya.
Alleysa masih asyik menari hingga seorang pria mendekatinya dan tersenyum.
"Hai"
Alleysa mengacuhkannya dan terus menari menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan.
Zayn menatapnya dengan tatapan mengintimidasi dari kejauhan.
Lengan pria itu menarik pinggang Alleysa hingga perut mereka bersentuhan.
Alleysa mendorongnya.
"Minggir!"
"Kau ini siapa?"
Pria itu terus mendekati Alleysa dan membelai punggung mulusnya.
Alleysa semakin mabuk, kini ia menutup kedua matanya dan menari-nari hingga ia tidak sadari bahwa pria itu sudah sangat dekat dengannya dan memeluknya.
Zayn mulai gerah dan risih melihat pemandangan di lantai dansa tetapi ia tetap bersikap tenang dan berjalan menuju tempat Alleysa berdiri.
Sebelum Zayn sampai pria itu lebih dulu menciumi bibir Alleysa.
Ciuman yang kasar hingga Alleysa merintih.
Pria itu semakin gila karena sensasi bibir Alleysa, kedua tangannya turun ke b****g Alleysa. Tetapi, sebuah tangan kasar mendorongnya secara paksa hingga pria itu frustasi kehilangan bibir lembut Alleysa.
"Shiiiiitttt!!!!" Pria itu mengumpat kesal.
Zayn menarik lengan Alleysa yang kini terlihat lemas dan tidak sanggup lagi menopang dirinya sendiri.
Pria itu marah dan tidak terima kalau wanita yang memberikannya hasrat yang menakjubkan diambil oleh pria lain.
"Dia milikku!" Pria bertubuh besar itu mengatakan dengan lantang kepada Zayn.
Zayn hanya mengulas senyum tipisnya.
"Dia kekasihku!"
Pria itu tampak tidak percaya dengan perkataan Zayn.
"Really? Kau sangat beruntung memiliki kekasih dengan bibir yang lembut seperti dia. Aku bahkan masih ingin menikmati bibirnya. Boleh Aku pinjam untuk malam ini saja?"
Ucapan yang tak terduga keluar dari mulut pria itu membuat mata Zayn berapi-api.
Alleysa hanya milikku!
Tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhnya!
Hanya Aku!
Zayn menjadi kalap dengan ucapan pria itu dan langsung mendaratkan tinjuannya tepat di hidung pria itu.
Berdarah? Hidung pria itu mengeluarkan darah.
FUCK!!!
Pria itu tidak terima dan kembali memukul Zayn. Dan yeah, itu berhasil mengenai sudut bibir Zayn yang tergores.
Hito, Max, Jimmy dan juga Carla terperanjat dari sofanya dan bergegas melerai Zayn.
"Kau disini! Jangan kemana-mana!" Pinta Hito dengan nada tegas kepada Carla.
"Tapi, Alleysa?" Carla panik melihat keadaan club menjadi kacau akibat perkelahian Zayn dan salah satu pengunjung club.
"DIAM DISITU CARLA!"
Carla terdiam dan hanya pasrah duduk melihat keadaan di bagian tengah club itu.
Hito berhasil melerai perkelahian Zayn hingga Alleysa yang tiba-tiba terkulas pingsan dan tidak sadarkan diri karena vodka yang ia minum tadi.
"ALLEYSA!" Zayn menangkap tubuh mungil Alleysa sebelum tersungkur ke lantai.
Pria itu ingin menyerang Zayn kembali tetapi berhasil di halau oleh Max.
Zayn mengangkat Alleysa menuju sofa yang Carla tempati tadi.
"Kenapa dia bisa mabuk seperti ini, Carl?"
"Tadi Alleysa meminum minuman Hito" Carla bohong, suaranya menjadi terbata-bata dan menatap marah kearah Hito.
"Lebih baik kau membawanya pulang, Zayn" Ucapan Max yang langsung di iya kan oleh Zayn.
Zayn menggendong tubuh Alleysa dan berjalan meninggalkan Hito, Carla, Max dan juga Jimmy.
"Ini semua karna kau!" Carla marah dan mengambil tas kecil berwarna hitam disamping sofa lalu meninggalkan Hito.
"Maafkan Aku, Carl. Aku tidak tau kalau akan jadi seperti ini" Hito mengekor dan memohon kepada Carla yang semakin mempercepat langkahnya.
*****
- Mansion D'founzo, 01.20 AM -
Zayn membaringkan tubuh Alleysa di atas kasur berukuran kingnya dengan secara perlahan.
Pandangan Zayn menjadi salah fokus akibat tali baju Alleysa yang turun hingga di lengannya membuat sebuah gundukkan milik Alleysa terekspos di hadapan Zayn.
"Damn! Shitttt!"
"Apa yang harus ku perbuat dengan wanita ini? Sial! Dia selalu membuatku tidak karuan" Zayn menggerutu dan mengacak rambutnya.
Zayn selalu terobsesi dengan tubuh Alleysa.
Zayn menyapu lembut lengan Alleysa dan membenarkan kembali letak tali baju Alleysa.
Suara ponsel berdering mengusik pendengaran Alleysa dan secara perlahan mencoba membuka kedua matanya yang begitu berat.
Alleysa meraba dengan kedua tangannya mencari keberadaan ponselnya tapi ia tidak menemukannya.
Rasa mual kini menggerogoti perut Alleysa serta rasa pusing di kepalanya.
Belum mendapatkan ponselnya, Alleysa berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Awww.. Kepalaku pusing" Rintih Alleysa.
Alleysa berjalan kembali menuju ranjang setelah memuntahkan isi perutnya. Dan tersadar kalau ia sedang berada di sebuah kamar yang bukan kamarnya.
Alleysa menyusuri setiap sudut kamar Zayn dan teringat beberapa minggu lalu akan tempat ini.
"Bukannya ini kamar Zayn?"
Mata Alleysa terarah pada seorang pria yang sedang tertidur pulas di atas ranjang tepat di sebelah kiri ia tadi.
"Zayn?"
"Kenapa Aku ada disini?"
"Bukannya Aku sedang bersama Carla dan Hito? Lalu dia?"
Alleysa berjalan menuju ranjang dan menaikinya secara perlahan.
Alleysa kaget melihat wajah Zayn yang terlihat mengenaskan, terlihat memar dibagian pipinya hingga sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
Alleysa menyentuh sudut bibir Zayn hingga Zayn merintih kesakitan dan terbangun.
Mata Alleysa membesar saat kedua mata Zayn terbuka dan menatapnya.
Zayn menangkap tangan Alleysa dan menjauhkannya dari bibirnya.
"Zayn kenapa dengan wajahmu?" Alleysa memperbaiki posisi duduknya diikuti Zayn.
"Ini karena ulahmu!"
Alleysa kaget dengan ucapan Zayn yang mengatakan kalau wajahnya seperti itu akibat ulah Alleysa.
"Kenapa Aku?"
"Karena kau seperti orang gila di club tadi. Sudah Aku bilang, tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhmu! Kenapa kau malah pergi mabuk dan menari di club tadi Alleysa?!" Nada Zayn mulai meninggi.
"Aku? Yeah, tadi Aku pergi ke club bersama Hito dan Carla tapi... Tapi Aku tidak mabuk Zayn" Alleysa mencoba mengingat kejadian tadi tetapi ia tidak mendapat apa-apa.
"Kalau kau tidak mabuk, tidak mungkin Kau berada disini Alleysa!"
"Sudahlah! Percuma juga! Besok ingatanmu akan kembali. Tidurlah!" Zayn kesal dengan Alleysa. Karena ia mabuk seorang pria berhasil menikmati bibirnya yang menjadi candu buat Zayn.
Zayn kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Alleysa.
Alleysa menunduk dan menghela napas.
"Apa benar Aku mabuk?"
*****