Alleysa menarik lengan Zayn hingga tubuh Zayn memutar dan berbalik ke arah Alleysa.
"Sini Aku obati lukamu" Ucapan lembut Alleysa membuat pertahanan Zayn melemah.
"Dimana kotak obatnya?"
"Dilemari pojok kamarku" Zayn menunjuk sebuah lemari pojok kayu di sisi kanan kamarnya.
Alleysa mengambil sebuah kotak persegi dan membawanya ke atas ranjang untuk mengobati luka Zayn.
"Duduk sini" Pinta Alleysa.
Alleysa mengoles dengan lembut sudut bibir Zayn yang berdarah diikuti gerakkan tubuh Zayn yang berusaha menahan perih obatnya.
Alleysa meniupnya agar Zayn tidak terlalu merasa perih, tetapi Zayn menjadi salah fokus dengan bibir Alleysa yang saat ini sudah tidak terbalut lipstik merahnya.
Mata keduanya saling menatap, biru dan keemasan itulah warna bola mata Zayn dan Alleysa.
Alleysa salah tingkah setelah beberapa detik mata mereka saling menatap dan menurunkan pandangannya membuat Zayn frustasi.
"Sudah selesai, Kau bisa tidur. Aku harus pulang" Alleysa berjalan menaruh kembali kotak obat di tempat tadi ia mengambilnya.
"No! Kau tidur disini, menemaniku!"
"Aku harus pulang Zayn"
"Tidak Alleysa! Aku sudah menolongmu, tapi kau tidak bisa membalas perbuatanku!" Zayn menarik selimut dan menyuruh Alleysa tidur disampingnya.
"Temani Aku disini, tidur disampingku"
"Aku tidak suka mengulang ucapanku!" Ucapan Zayn lagi-lagi tidak terbantahkan oleh Alleysa.
Kini tubuh Alleysa sudah terbaring disamping Zayn.
Raut wajah kemenangan terlihat di wajah Zayn.
"Jangan macam-macam Zayn" Ucapan Alleysa membuat tawa Zayn meledak.
"Bukannya kemarin kau sudah memimpikannya Alleysa? Kau menikmatinya juga, kan?" Zayn menggoda Alleysa yang terihat tegang disamping Zayn.
Mata Alleysa membesar dan pipinya memerah. Rasa malu kini memenuhi wajah Alleysa.
"KAU!!! LUPAKAN MIMPI ITU!" Alleysa menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya.
Zayn tertawa puas melihat wajah Alleysa yang memerah menahan malu.
"Tidak usah malu Alleysa. Aku bisa melakukannya sekarang kalau kau mau. Kita jadikan mimpimu menjadi kenyataan" Zayn lagi-lagi menggoda Alleysa dengan menggeser tubuhnya hingga semakin dekat kepada Alleysa.
"ZAYN! MINGGIR! Berhenti menggodaku!" Alleysa berteriak di dalam selimut yang masih menutupi wajahnya.
Zayn hanya biasa tertawa melihat tingkah lucu Alleysa hingga rasa perih di sudut bibirnya kembali mengganggunya.
"Awww"
Alleysa menarik selimut yang menutupi wajahnya dan melihat wajah Zayn yang tadi ia obati.
"Kau kenapa?"
Zayn menarik sudut bibirnya dan tersenyum saat Alleysa panik dengan rintihannya.
"Kau khawatir padaku, Alleysa?" Zayn kembali menggoda Alleysa.
"Stop Zayn! Kalau kau seperti ini Aku tidak bisa tidur"
"Okay... Okay! Tidurlah"
Alleysa memunggungi Zayn.
"Jangan menghadap kesana Alleysa, balikkan badanmu!"
"Kau terlalu banyak perintah Zayn"
"Dan kau harus selalu mengikutinya Alleysa" Zayn menarik senyum di bibirnya.
Alleysa tidak lagi membalas perkataan Zayn.
Matanya kemudian tertutup dan Alleysa tertidur.
Zayn mengamati wajah cantik Alleysa dengan senyuman kemenangan di wajahnya.
Zayn narik tubuh Alleysa dan memeluknya. Mengusap puncak kepalanya dan sesekali menciumnya.
-----
Sinar matahari pagi ini memaksa masuk kedalam kamar yang berukuran luas dengan seorang pria dan wanita yang masih tertidur pulas di atas ranjang berukuran king-nya.
Alleysa merenggangkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya. Wajah seorang pria yang terlihat sangat sempurna kini berada di hadapannya. Tidak bisa dipungkiri kalau Alleysa juga membenarkan ketampanan Zayn.
Alleysa tersenyum menatap wajah Zayn yang masih tertidur.
Imajinasi Alleysa buyar saat sebuah memori di kepalanya tiba-tiba terlintas.
Hari ini adalah ujian untuk kelas Alleysa. Ia harus segera bergegas ke kampus.
Alleysa mencari ponselnya dan mendapatkannya.
Terlihat ada 17 panggilan tak terjawab dari Carla.
Alleysa panik.
Ia ingin membangunkan Zayn, tetapi ia sangat takut kalau Zayn akan marah.
Alleysa memberanikan diri dan membangunkan Zayn.
"Zayn, bangun!
Alleysa beberapa kali menggoyangkan tubuh Zayn untuk membangunkannya.
Mata Zayn terbuka dan melihat Alleysa yang berada di hadapannya.
Bukannya marah, Zayn malah tersenyum dan menarik Alleysa hingga Alleysa berada di atas d**a bidangnya.
"Zayn, Aku harus pulang. Aku ada-----"
"No!"
"Tapi, hari ini Aku harus ujian Zayn" Alleysa memohon.
"Really? Kenapa kau tidak mengatakannya tadi malam Alleysa?"
"Aku juga baru ingat setelah melihat ponselku banyak panggilan dari Carla"
Zayn melepas pelukan Alleysa dan bergegas mengantar Alleysa pulang lalu ke kampus.
-----
Carla mengoceh kepada Alleysa sejak kedatangan Alleysa yang telat hingga ujian berakhir.
"Iya... Carl. Sorry! Aku tidak mendengar panggilanmu" Kalimat yang sudah 10 kali Alleysa ucapkan pada Carla. Tetapi Carla masih terus memarahi Alleysa.
Carla berhenti mengoceh saat melihat dari kejauhan seorang pria jangkung berjalan ke arahnya.
"Ayo kita pergi, Al"
Carla menarik Alleysa bersamaan lengannya yang di tarik oleh Hito.
"Carl... Aku minta maaf"
"Kalian berdua kenapa?" Alleysa menatap wajah Hito yang terlihat memohon kepada Carla.
"Al, Aku minta maaf kejadian kemarin malam saat Kau mabuk"
"Apa maksudmu, Hito?"
"Sorry. Aku menukar gelas minumanku dengan punyaku"
"Whaaaattt?!!!!" Alleysa kaget mendengar kejujuran Hito.
"Keadaan menjadi kacau karena ulahku, begitupun Zayn yang sempat berkelahi dengan seorang pria yang sedang mencumbuhimu di lantai dansa"
"HAAAA???!!!" Alleysa tidak dapat lagi mengontrol nada suaranya.
"Pria mencumbuhiku? Siapaa? Zayn? Jadi karena itu wajah Zayn memar dan berdarah?" Alleysa melanjutkan kalimatnya dengan wajah keheranan.
"Maafkan Aku Al. Aku-----"
"Sedang apa kalian?"
Ucapan Hito menggantung setelah Zayn memotong pembicaraannya.
Hito dan Carla panik, karena ia membohongi Zayn kemarin malam tentang minuman Alleysa.
Carla dan Hito mengira kalau Alleysa akan berkata sebenarnya kepada Zayn, tetapi sepertinya Alleysa sudah hafal dengan sifat emosional Zayn yang tidak bisa ia kontrol.
"Hem... Tidak apa-apa. Hito meminta maaf kepada Carla karena tidak mengangkat panggilannya"
"Itu bukan hal yang buruk, Hito" Zayn menepuk pundak Hito dan tersenyum.
"Ahyeah.. Btw, kau terlihat sangat senang hari ini. Ada apa? Kau sudah tidur dengan wanita barumu lagi?" Zayn membungkam mulut Hito dan menginjak kaki Hito dengan kasar.
"Haaa?!!!" Alleysa tersentak dengan perkataan tak terduga Hito.
"Shiiittt!!!" Zayn mengumpat.
Zayn menarik Hito dan menghilang dari pandangan Alleysa dan Carla.
"Kau kenapa Al?"
"Hem... Tidak apa-apa, Carl" Alleysa berusaha tersenyum tetapi fikirannya masih terarah pada perkataan Hito.
"Apa Zayn masih melakukannya dengan perempuan lain?"
"Jika iya, dia lagi-lagi membodohiku!"
Ponsel Alleysa berdering dan ia melihat nama seseorang disana.
Zayn.
Alleysa me-reject panggilan Zayn.
"Siapa yang menelpon, Al?"
"Bukan orang yang penting, Carl. Ayo!"
Langkah Alleysa dan Carla terhenti di hadapan seorang pria dengan tubuh yang sempurna di depannya.
"Zayn?" Carla menyapa Zayn lebih dulu.
"Bukan orang yang penting?" Zayn mengulang kembali ucapan Alleysa tadi dengan nada sinis.
Alleysa terdiam dan menarik tangan Carla untuk meninggalkan Zayn.
"Carl, Ayo!"
"STOP!"
Satu kata yang membuat Alleysa dan Carla menghentikan langkahnya.
Zayn menarik tangan Alleysa dengan kasar lalu mencengkramnya.
"Aww... Sakit Zayn"
"Aku bukan orang yang penting, Alleysa?"
Mata Carla dipaksa membesar saat mendengar perkataan Zayn yang terhubung dengan ucapan Alleysa tadi.
Carla menyadari bahwa seseorang yang menelpon Alleysa tadi adalah Zayn.
Tapi?
Kenapa Zayn menelpon Alleysa?
Ada apa?
"Apa aku tidak penting, Alleysa?" Zayn mencengkram tangan Alleysa begitu kuat hingga cap merah kini menempel di lengan mulusnya.
"Zayn lepaskan! Sakit, Zayn!"
Alleysa merintih dan memohon. Sifat arogan Zayn kembali lagi.
Menyakiti Alleysa.
"JAWAB AKU ALLESYA!"
"Iya, Kau bukan orang penting buatku!"
Zayn marah.
Tangannya mengepal, emosinya tersulut akibat perkataan Alleysa. Zayn tidak dapat mengontrol emosinya dan menarik Alleysa meninggalkan Carla yang mencoba melepaskan tangan Alleysa dari cengkraman Zayn.
Zayn membawa Alleysa dan memaksanya masuk kedalam mobil sport berwarna merahnya.
"MASUK!"
Alleysa kembali merasakan tubuhnya ketakutan dam bergetar hebat. Perasaan yang ia dapatkan saat pertama kali bertemu dengan Zayn di gedung tua belakang kampusnya.
Alleysa mencoba menahan air matanya. Tetapi berat.
Kantung matanya sudah tidak bisa lagi menampung genangan air yang sudah ia keluarkan.
Alleysa menangis bersamaan Zayn menginjak pedal gas-nya dengan ganas.
*****