6. Sisi Lain Seorang Zayn - I

1176 Kata
"JANGAN PAKSA AKU, ZAYN!" Zayn kembali mencengkram lengan Alleysa hingga Alleysa merintih kesakitan. "Awwwhhh" Zayn kembali mendekatkan wajahnya, tapi hasilnya tetap sama bibirnya hanya mampu menjangkau pipi Alleysa. "ALLEYSA!!" Alleysa bergetar ketakutan saat Zayn mencengkram pundaknya, dan menatapnya dengan tatapan mematikan. Alleysa bergetar hebat, air matanya sudah berada di pelupuk matanya siap untuk terjun bebas di pipinya yang berubah memucat. Alleysa tidak berani menatap wajah Zayn yang saat ini terlihat sangat marah di abaikan oleh Alleysa. "Tolong jangan membentakku, Zayn" Suara Alleysa mengecil dan terdengar parau saat ia menahan tangisannya. Zayn meremas rambutnya frustasi. Alleysa menunduk dan sesekali menghapus air matanya secara kasar. "BERHENTI MENANGIS ALLEYSA! AKU BAHKAN BELUM MENYENTUHMU!" Alleysa semakin menangis, mendengar Zayn yang semakin kasar kepadanya. "Berhenti meneriakki ku Zayn, Aku mohon" "BERHENTILAH MENANGIS!" ucapan Zayn mampu membuat Alleya mengentikan tangisannya. Zayn mengangkat wajah Alleysa hingga mereka saling bertatapan dengan wajah Alleysa pucat dengan air mata yang memenuhi mata sembabnya. "Ssstttttt!!!!" Zayn mulai menenangkan dirinya dan mengatur napasnya bersamaan dengan Alleysa yang sudah menghentikan air matanya yang membasahi pipi pucatnya. Zayn menginginkan Alleysa. Permainan 'Truth or Dare' membawa candu bagi Zayn untuk selalu ingin mencumbuhi Alleysa. Ciuman yang belum pernah membuat jantung Zayn berdegub hebat, serta ciuman yang membuat Zayn merasa nyaman. Ciuman yang membuat Zayn merasakan sesuatu saat Alleysa berada di dekatnya. Zayn kembali mengecup bibir lembut Alleysa tanpa penolakkan. Membuat hati Zayn melemah. Alleysa hanya bisa diam, karena jika ia menolak Zayn kembali. Bisa saja Zayn berbuat hal nekat kepadanya. Alleysa hanya pasrah saat bibirnya di kecup oleh Zayn. Orang yang paling iya benci sejak pertemuan pertama mereka. Zayn melepas bibir Alleysa bersamaan kedua matanya terbuka. Merasa lega karena tidak ada penolakkan dari Alleysa membuat Zayn tenang dan mengelus puncak kepala Alleysa. Jantung Alleysa berdegub sangat hebat. Ada apa dengan Zayn? Kenapa ia jadi seperti ini? Ada apa denganku? Kenapa jantungku seperti ini? Apakah aku punya penyakit jantung? Aaahh... Sudahlah Otak Alleysa menimbang perlakuan Zayn malam ini kepadanya. "Kau terlihat manis saat menjadi penurut seperti ini Alleysa" . Alleysa hanya menatap Zayn lalu berlari meninggalkan Zayn yang tersenyum puas. ***** Suara kicauan burung mulai mengganggu pendengaran Alleysa di pagi hari. Alleysa terbangun dan mendapati Carla yang belum pulang sejak tadi malam membuatnya panik. Alleysa keluar dari tendanya dengan tergesa-gesa mencari Carla, tapi saat Alleysa keluar dari tenda Carla dan Hito sudah berada di luar sambil bercengkrama dan sesekali tawa kecil Carla membuat Hito tersenyum. "Selamat siang, Alleysa" Alis Alleysa mengerut. "Apa? Selamat siang?!" Batin Alleysa bingung dan di liatnya jam tangannya sudah menunjukkan pukul 12 siang. Carla mendapati Alleysa yang sudah bangun menghampirinya dengan menyodorkan sebuah roti padanya. "Aku pikir kau tidak akan bangun sampai besok, Al" Ucapan Hito mengundang tawa Carla dan juga Zayn yang tersenyum kecil menatap kondisi acakkan Alleysa bangun tidur. Alleysa merasa malu, karena ia selalu saja telat bangun dimanapun ia berada. "Makan ini!" Carla menyodorkan roti miliknya untuk Alleysa. Alleysa mengambil roti itu lalu kembali ke dalam tenda dengan wajah yang memerah. Sejak kejadian di gedung itu, saat Zayn menyuruh Carla membuka semua pakaiannya hati Hito seakan tercambuk melihat Carla yang menuruti semua perkataan Zayn. Hito awalnya marah kepada Zayn perlahan-lahan mulai menyadari sifat kasar dan oragan Zayn karena kondisi keluarganya yang nyaris hancur. Hati Hito mulai sedikit lemah kepada Carla yang sudah dua tahun ini iya peralat, dan akhirnya ia sadar kalau ia benar-benar jatuh cinta kepada Carla. Gadis lugu. ***** Suasana malam kembali menyelimuti Wenthworth Falls angin bertiup sangat kencang. Semua orang berlomba-lomba menutupi tubuhnya yang kedinginan. Alleysa memakai berlembar-lembar pakaian untuk menghangatkan tubuhnya tapi tetap saja ia masih dapat merasakan suasana dingin menembus kulit mulusnya. Alleysa mencari Carla karena Alleysa ingin meminta Carla untuk menemaninya buang air kecil yang berada sekitar 2km dari perkemahan mereka. Tapi, Alleysa tak kunjung menemukan Carla. "Aku takut kalau harus pergi sendirian" Alleysa takut akan kegelapan. Ia berdiri dengan kaki yang ia silangkan untuk menahan pipisnya. Alleysa tidak punya pilihan lain. Alleysa tampak melihat Zayn tengah asyik bermain gitar bersama teman-temannya dan mendekat ke arahnya. Max melihat Alleysa yang mendekat memberikan kode kepada Zayn hingga Zayn menoleh dan mendapati Alleysa. "Mau apa kau?" Alleysa tersentak saat mendengar nada suara Zayn yang kembali terdengar kejam berbeda dengan malam kemarin saat Zayn berubah menjadi lembut kepadanya. "Ehm... Aku mencari-----" Kalimat Alleysa menggantung saat Zayn memotong perkataannya. "Carla tidak ada disini, begitupun dengan Hito. Kau cari ditempat lain saja!" Ucapan kejam Zayn membuat Alleysa kesal. Tapi, ia harus bersikap lembut karena ia tidak mempunyai pilihan lain selain meminta bantuannya. Alleysa hanya mengenal beberapa dari teman-teman kampusnya. Dan tentu saja itu hanya Carla, Hito dan Zayn. "Ehm... Aku mau minta bantuan" "Berisik sekali kau ini! Bantuan apa?" Zayn menggertak Alleysa hingga Alleysa tersentak kaget. "Aku ingin buang air kecil, biasanya Aku ditemani Carla. Tapi, Aku tidak menemukannya. Bisa kau menemaniku sebentar saja, Zayn?" Ucapan Alleysa membuat Zayn yang berbalik seraya tadi memunggungi Alleysa. "Max?" Dengan sigap Max berdiri, ia mengerti bahwa Zayn menyuruhnya untuk menemani Alleysa. Tapi, Alleysa belum terlalu nyaman bersama Max dan tidak mengenalinya. "Apa tidak bisa kau saja, Zayn?" Alleysa melembutkan suaranya, kakinya bergetar seraya tadi menahan pipisnya. Zayn tertawa. "Memangnya Aku ini siapamu Alleysa? Jangan fikir dengan ciuman kemarin malam membuat kau bisa seenaknya denganku!" "Whaaatt??!!!" Alleysa mulai kesal. "Dasar b******k!!! Sorry, Max. Aku bisa pergi sendiri" Alleysa pergi setelah memaki Zayn yang melontarkan kalimat kejam kepadanya. Alleysa memberanikan diri berjalan menyusuri hutan yang dingin, lembab dan gelap. Angin bertiup kencang menerbang beberapa helai rambut Alleysa yang panjang berwarna cokelat.  Sesekali Alleysa menggerutu dan mengumpat, merasa menyesal telah meminta bantuan kepada Zayn yang telah melecehkannya. Suara lolongan bintang mulai menakuti Alleysa yang berjalan sendirian ditengah hutan, bulu kuduknya meremang setelah mendengar lolongan binatang itu. Alleysa berusaha menahan air matanya yang bergetar ketakutan. "Carla!!! Kau dimana!" "Kenapa dari tadi Aku berjalan, tapi tidak Aku temukan tempat aku pipis kemarin?" Alleysa mulai panik saat 15 menit ia berjalan tapi tak kunjung juga ia dapatkan tempat itu. Hanya di bantu oleh cahaya ponselnya Alleysa kembali menyusuri hutan itu. Alleysa menyadari bahwa seseorang mengikutinya tepat di belakangnya. Alleysa menyadari sejak pagi tadi, Lucas selalu mencuri pandang kepadanya dengan mata yang mengamati seluruh tubuh Alleysa. Apakah Lucas? Lucas adalah seorang pria yang Zayn bully di gedung saat Alleysa pertama kali bertemu Zayn. Lucas juga menyaksikan saat Alleysa perlahan-lahan menanggalkan pakaiannya sesuai perintah Zayn saat itu. Alleysa mempercepat langkahnya. Ia ketakutan. Alleysa memeluk sendiri tubuhnya dengan terpaan angin yang begitu kencang. Alleysa ingin berteriak tapi ia takut kalau orang yang berada di belakangnya akan berbuat jahat kalau Alleysa menyadari kehadirannya. Suara langkah kaki dan rumput yang diinjak semakin cepat mengikuti langkah kaki Alleysa membuat Alleysa semakin takut dan akhirnya berlari. Pria itu ikut berlari mengejar Alleysa. Tidak!!! Alleysa ketakutan. Alleysa tidak sanggup berbalik. Ia hanya menangis dan berlari secepat mungkin hingga kakinya terlilit rumput dan terjatuh. "PERGI!!!!" Alleysa teriak dan menutup kedua matanya dengan isak tangisnya. "Aku mohon pergi!" Lagi-lagi Alleysa menyuruhnya pergi, tapi suara langkah kaki itu bukannya menjauh malah semakin dekat ia rasakan. "AAAAAAAAAAA!!!" Alleysa berteriak sekencang mungkin dan terdiam saat tangan yang kasar merengkuh bahunya dan menutup mulut Alleysa. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN