"DIAM ALLEYSA!"
Alleysa mengenali suara itu.
Zayn?
Apakah itu dia?
Alleysa perlahan-lahan membuka kedua matanya dan melihatnya Zayn berada di hadapannya menatap wajah pucatnya.
Alleysa merasa lega dan memeluk tubuh keras Zayn.
Dag
Dig
Dug
Suara jantung Zayn nyaris terdengar.
Alleysa menangis sekencang mungkin sambil memeluk tubuh Zayn dengan kencang hingga Zayn merasakan sesak di dadanya.
Alleysa menyadari dan buru-buru melepas pelukannya lalu menghapus air matanya dengan punggung tangannya yang kotor.
"Zayn, Aku rasa tadi ada orang yang mengikutiku. Apa itu bukan Kau? Apa kau ingin mengerjaiku lagi?"
"Yeah Aku tau. Makanya Aku mengikutimu sampai disini. Dan sudah tentu bukan Aku pelakunya. Dan kau tidak perlu tau"
"Apa benar kau yang melakukannya?"
Zayn menghela napas kasar lalu berbalik dan hendak meninggalkan Alleysa.
"Kau mau kemana? Tolong jangan tinggalkan Aku sendiri disini" Alleysa berdiri dari posisinya yang duduk di atas rumput akibat terjatuh tadi.
"Kau menuduh ku Alleysa! Buang-buang waktu ku saja menolongmu!"
Zayn kesal. Tapi lengannya di tarik paksa oleh Alleysa yang masih bergetar ketakutan.
Merasakan lengannya bergetar, Zayn menoleh dan melihat kondisi Alleysa yang mengenaskan. Kotor dan wajahnya yang di penuhi air mata.
"Cengeng! Berdiri!"
Zayn membantu Alleysa berdiri dengan membersihkan celana putih Alleysa dari sisa sisa rumput yang lembab dan kotor. Zayn juga merapikan rambut Alleysa yang tampak berantakan akibat terjatuh tadi.
Memisahkan helai demi helas rambut Alleysa hingga menampakkan wajah Alleysa yang memerah dan basah akibat air matanya yang mengalir begitu deras.
Sesekali Zayn tersenyum melihat Alleysa yang tampak kacau.
Zayn kembali merasakan hal aneh dalam dirinya. Candu Alleysa kini menggema di kepala Zayn.
Zayn menarik pinggang Alleysa dan mendekatkannya ketubuhnya. Alleysa bingung harus berbuat apa selain menatap mata biru Zayn.
"Zayn, celana ku kotor. Kau juga bisa ikutan kot----"
Kalimat Alleysa menggantung saat Zayn mendaratkan bibirnya ke bibir manis Alleysa. Bukannya marah atau meronta seperti Alleysa yang biasanya. Ia malah menutup kedua matanya, merasakan sekaligus menikmati bibir kecil Zayn yang memaksa bibirnya untuk terbuka.
Alleysa meberikan akses pada lidah Zayn agar masuk menyusuri setiap rongga mulut Alleysa.
Sesuatu yang sejak kemarin malam Zayn inginkan pada Alleysa, yaitu memberi Zayn akses untuk menyusuri mulut Alleysa.
Zayn meraih tengkuk Alleysa dan memperdalam ciumannya. Tangan Zayn mulai turun untuk meremas b****g sintal Alleysa dan sesekali Alleysa mendesah kesakitan akibat remasan Zayn yang kasar.
Zayn semakin terobsesi dengan Alleysa. Melumat dan semakin memperdalam ciumannya membuat Allesya kewalahan mengikuti permainan mulut Zayn.
Alleysa mendorong Zayn hingga mulut keduanya terpisah.
"Huuufffftttt"
Allesya mengambil oksigennya kembali lalu membuangnya.
Zayn tersenyum kecil dan merasa puas dengan ciumannya kali ini.
Zayn menarik lengan Alleysa dan memeluknya. Mengusap puncak kepala Alleysa.
Alleysa sudah menjadi candu bagi Zayn.
Wajah Alleysa memerah.
"Awwww"
Rintihan Alleysa membuat Zayn tersentak.
"Kau kenapa?"
"Dari tadi Aku belum pipis" Alleysa mengatakan dengan raut wajah malunya.
Zayn tertawa melihat wajah Alleysa.
"Kau terlalu jauh berjalan, Alleysa" Zayn terkekeh lalu menarik lengan Alleysa hingga tiba di sebuah bangunan segiempat kecil yang tertutup dan remang. Tempat yang sejak tadi Alleysa cari.
*****
Carla menatap Alleysa yang sejak tadi melamun memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Al?"
Alleysa bergumam dan menggeleng kepalanya.
Alleysa memikirkan sikap Zayn kepadanya yang seperti bunglon berubah-ubah. Kadang ia bersikap kasar dan arogan. Kadang juga ia bisa lembut, sampai Alleysa sendiri bingung. Tapi, yang anehnya Alleysa malah menyukai sifat Zayn yang lembut seperti itu.
Tapi jika sifat arogannya kembali, Alleysa merasa Zayn adalah lelaki yang paling tidak bisa menjaga perasaan orang lain.
"Al?"
"Alle?"
Alleysa tersadar.
"Hem... Yeah?"
Carla cemberut.
"Kau kenapa?"
Alleysa terseyum dan memeluk tubuh sahabatnya yang hampir mirip dengannya.
"Tidak ada apa-apa, Carl. Kita lebih baik tidur, besok saatnya balik ke kasur yang empuk"
Ucapan Alleysa membuat Carla tertawa dan memeluk tubuh Alleysa kembali.
*****
- Dendelion University, Australia -
Tanpa ditemani Carla seperti biasanya Alleysa berjalan seorang diri menuju kelasnya dengan outfit kasualnya.

Seseorang memanggil nama Alleysa.
"Al?"
"Allesya?"
Allesya berbalik dan mendapati Hito yang tak jauh dari tempat Alleysa berdiri.
"Ada apa?"
"Kenapa kau sendirian? Dimana Carla?"
Hito berjalan mengikuti langkah Alleysa yang pelan.
"Sejak pulang dari camp kemarin, Carla sakit. Mungkin ia tidak cocok dengan suhu disana"
Hito kaget mendengar perkataan Alleysa.
Kenapa Carla tidak memberitahunya?
"Apa sekarang Carla ada dirumah?"
Alleysa membalasnya dengan anggukkan dan secepat kilat Hito telah menghilang di sampingnya.
Alleysa tersenyum puas. Karna Hito benar-benar menyayangi Carla.
Alleysa melanjutkan langkahnya menuju kelas, hingga ia berhenti disebuah kelas kosong saat mendengar suara pria yang ia kenali dari sana.
Suara itu semakin jelas, hingga Alleysa di hadapkan oleh sebuah jendela yang sedikit terbuka memamerkan punggung lebar seorang pria yang tinggi dan di hadapan pria itu seperti pria yang tidak asing menurut Alleysa.
"Sepertinya aku pernah melihat pria itu"
Alleysa memaksa otaknya mengingat siapa pria itu hingga ia benar-benar mengingat pria itu saat wajah pria yang memunggunginya berbalik tapi dengan cepat Alleysa menyembunyikan wajahnya dibalik jendela.
Yeah! Itu pria yang dipukul Zayn waktu pertemuan pertama Alleysa dengannya.
Lucas.
"Kenapa kau mengikuti Alleysa malam itu?"
Alleysa tersentak saat Zayn menyebut namanya.
"Apa? Malam itu? Malam yang mana?"
"Apa mungkin malam kemarin? Di hutan itu?"
Alleysa menyipitkan kedua matanya dan memasang telinganya dengan seksama.
"Jawab Aku, bodoh! Kenapa kau mengikuti Alleysa?!" Suara teriakkan berat Zayn menggemang di dalam kelas kosong yang hanya di penuhi beberapa meja dan kursi yang sudah berdebu.
"Aku tidak mengikutinya, Zayn. Aku juga ingin buang air kecil. Sama halnya dengan Alleysa"
"Apa?!!! Kau ingin buang air kecil? Sama halnya dengan Alleysa? Dari mana kau tau kalau Alleysa ingin buang air kecil?"
Zayn lagi-lagi menggertak Lucas yang masih mematung dengan wajah pucat.
"Hem.. Ak-akuu.."
"AKU APA?! CEPAT JAWAB AKU BODOH!" Zayn memukul perut Lucas hingga Lucas memundurkan langkahnya.
Alleysa melihatnya tidak tega. Jujur, Alleysa tidak menyukai pria yang selalu bermain fisik dengan orang lain.
"Kau mau berniat jahat kan sama Alleysa? Kenapa saat Alleysa berlari kau juga ikut mengejarnya? Bukannya kau ingin buang air kecil? Harusnya kau berhenti, karna Alleysa sudah melewati tempat itu. Kenapa kau menakutinya?!"
Zayn kembali tersulut emosinya dan menendang meja hingga meja itu terseret hingga pojokkan kelas itu.
"Jadi bukan Zayn yang mengerjaiku? Tapi Lucas memang yang berada di belakangku?"
"Tapi kenapa? Kenapa Lucas melakukannya?"
"Alleysa?" Suara serak mengangetkan Alleysa yang sedang menunduk di jendela.
"Hem... Yeah. Max"
Max bingung melihat raut wajah Alleysa yang panik.
"Apa yang kau lakukan disitu?"
Alleysa memutar bola matanya mencoba mencari alasan tapi otaknya blank mendengar percakapan Lucas dan Zayn.
"Hem... Tidak apa-apa. Aku pergi dulu"
Alleysa meninggalkan Max yang masih menatapnya bingung hingga Max menyadari bahwa Zayn dan Lucas berada di dalam kelas itu.
*****