- Laluna Club, 11:00 PM -
Alleysa bersama Carla sedang menikmati dentuman musik yang membangkitkan semangatnya. Alunan musik yang membuat semua orang menari mengikutinya.
Malam ini hanya Alleysa dan Carla yang mendatangi salah satu club favoritenya.
"Al... Jangan minum terlalu banyak!"
Alleysa tersenyum lalu meneguk kembali minumannya.
Carla mengambil ponselnya dan membalas pesan yang ia terima dari kekasihnya, Hito.
"Aku berada di Laluna bersama Alleysa. Kemarilah"
Ditengah kebisingan suara club, Alleysa perlahan-lahan menceritakan bagaimana ia bisa dekat dengan Zayn.
Carla mengamati setiap kata yang terlontar dari bibir Alleysa, mencernanya dengan seksama.
"Haaa? Zayn membawamu kerumahnya?"
Carla tampak kaget saat mengetahui kalau Alleysa sudah beberapa kali datang kerumah Zayn.
"Al... Tidak seorangpun yang pernah mengunjungi rumah Zayn. Bahkan Hito sekalipun belum pernah. Zayn tidak akan membiarkan orang yang ia kenal datang kerumahnya. Sedangkan, kau? Yang baru ia kenal sejak pertama masuk kampus, Zayn membawamu kerumahnya?"
"Hemm.. Yeah. Nenek Zayn juga berkata seperti itu"
"Kau bertemu dia?"
"Yeah" Alleysa mengangkat kedua bahunya dan menghela napas kasar.
Alleysa ingin melanjutkan kembali percakapannya bersama Carla tetapi seseorang datang dan memotong pembicaraannya.
"Hey, kau. Dimana Zayn? Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku?"
Alleysa menoleh dan mendapati seorang wanita berambut pirang yang jelas ia kenali.
July?
Alleysa menatapnya sinis.
"Kau mengenalnya Al?"
"Yeah"
"Dimana Zayn? Kenapa dia tidak pernah mengangkat panggilanku? Kau melarangnya?" July menatap Alleysa dengan tatapan tajam yang menusuk dan sesekali mengisap kembali rokok yang ia pegang di tangan kanannya.
"Aku tidak tau dia ada dimana sekarang. Dan Aku tidak pernah melarang dia melakukan apa-apa"
July tersenyum licik.
"Dasar jalang!"
"Whaaattt?!!!" Alleysa tersentak dengan ucapan July yang seakan memaki dirinya.
"July...?"
Suara berat seorang pria menyebut nama July.
"Hito? Kau mengenal perempuan ini?" Carla heran dengan situasi saat ini. Hanya dia yang tidak mengenal July.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku hanya menikmati malamku, dan kebetulan melihat wanita sial ini lagi. So, Aku menanyakan keberadaan Zayn kepadanya. Karena, Zayn tidak pernah lagi mengangkat panggilanku sejak kedatangan wanita ini ketempat Max"
Hito tampaknya mengerti dengan perkataan July.
"Zayn tadi sedang bersamaku. Dan sekarang dia mempunyai urusan penting. Kau jangan mengganggu Allesya lagi" Hito berbohong agar July berhenti mengganggu Alleysa.
"Aku tidak mengganggunya, Aku hanya bertanya padanya" July menatap sinis kearah Alleysa.
"Kau! Telpon Zayn sekarang!" July menyuruh Alleysa untuk menelpon Zayn.
"Kenapa Aku harus menelpon Zayn?" Mata Alleysa menyipit dan sudah terlihat kesal.
"Karena Aku yakin kalau kau yang menelponnya dia pasti akan menjawabnya. Ayo, cepat!" July memajukan langkahnya tetapi Hito berada di hadapan Alleysa untuk melindunginya.
Carla menjadi khawatir melihat penampilan July yang terkesan menyeramkan.
"Wait! Kenapa Aku harus mengikuti perintahmu? Lalu, kalau Zayn menjawabnya apa yang akan kau lakukan?"
"Lihat saja nanti" July menarik senyum di bibir tebalnya.
"Aku saja yang menelponnya" Hito mengajukan dirinya.
Hito takut kalau July sampai melukai Alleysa. Hito mengetahui kegilaan July yang sejak dulu terobsesi kepada Zayn.
Hito menelpon Zayn tetapi Zayn tidak mengangkatnya.
Julu merampas ponsel Alleysa yang Alleysa genggam di tangannya. Goresan kecil di tangan Alleysa terbentuk akibat kuku July yang begitu tajam.
"Aaawww"
July menelpon Zayn dengan ponsel Alleysa dan yeah tentu saja Zayn langsung menjawabnya yang membuat July semakin marah.
"Ada apa sayang? Apa kau rindu percintaan kita lagi?" Ucapan Zayn membuat July menatap Alleysa dengan tatapan luapan amarah.
"Jadi, kau sudah berhasil bercinta dengannya? Wooww... Kau sungguh hebat Zayn"
Carla menatap shock kearah Alleysa.
"July? Kau! Apa yang kau lakukan? Kenapa ponsel Alleysa ada sama kau?"
"Aku tidak perlu jawab pertanyaanmu. Hanya saja Aku sedikit kesal karena kau langsung mengangkat panggilannya sedangkan Aku? Aku menelpon beberapa kali sejak minggu lalu tapi kau tidak pernah mengangkatnya"
"Kau sekarang ada dimana? Aku akan menemuimu"
"Sepertinya ini club kesukaan kekasihmu" July menatap Alleysa kembali dengan rahang yang mengeras.
Alleysa menjadi takut melihat July yang menjadi menyeramkan. Lebih seram saat pertemuan pertama mereka.
"Laluna?"
"Waaahhh... Aku sangat iri denganmu Alleysa. Zayn sampai tahu club kesukaanmu"
Zayn yang mendengarkan perkataan July kepada Alleysa menjadi panik kalau July akan melukai Alleysa. Zayn tahu siapa July sebenarnya.
"Damn! July! DON'T TOUCH HER!!!!"
"Kemarilah, Aku akan menunggumu. Sepertinya bermain dengan kekasihmu sangat menyenangkan Zayn"
"JULY!!!!!"
July mematikan ponselnya dan memberikannya pada Alleysa tetapi tubuh besar Hito menghalangi July dan Alleysa saling kontak fisik.
"Apa yang kau lakukan, Hito?!" July terlihat kesal dengan Hito yang melindungi Alleysa dibelakang tubuhnya.
"It's okay Hito. Aku baik-baik saja" Alleysa berbisik ke telinga Hito dan sangat berhati-hati Hito menggeser tubuhnya kesamping Alleysa.
"Kau mau apa dariku?" Alleysa memberanikan diri bertanya pada July.
"Mau ku?" July tertawa. Sebuah tawa yang membuat orang yang melihatnya menjadi kesal.
"Aku mau Zayn yang dulu!! Apa yang sudah kau lakukan padanya? Kenapa Zayn berubah? Apa karna percintaan sialmu dengannya? Apa kau menjual dirimu padanya sehingga dia tidak datang lagi padaku setelah apa yang kuberikan padanya???!!!" Amarah July meluap, matanya seakan dipenuhi luapan api yang menyala.
"Apaaa??? Percintaan sial? Menjual diri?" Alleysa merasa terlecehkan dengan ucapan July.
"Aku tidak menjual diri kepada siapapun. Aku tidak melakukan s*x pada sembarangan orang. Aku hanya melakukannya sama Zayn. Berbeda dengan dirimu!" Alleysa tidak kuat lagi menahan amarahnya.
Hito menjadi panik saat suasananya tiba-tiba menjadi panas.
"Hey... Stop!!! Hentikan July, Alle!!!!"
"Berbeda? Kau sebut dirimu berbeda dariku? Kau sama saja dengan wanita Zayn yang lain diluar sana. Kau hanya sebagai pemuas nafsunya. Kau tidak tahu kan Zayn seperti apa? Dia tidak bisa kalau tidak bercinta seminggu! Dan saat dia butuh dia pasti mencari wanita lain yang bisa memuaskan nafsunya. Kau fikir kau istimewa buat dia?" July semakin diluar kendali, perkataannya semakin mengoyak hati Alleysa.
Apa yang Alleysa takuti terjadi saat orang menilainya sama seperti wanita Zayn yang lain.
Alleysa terdiam menahan gumpalan air mata yang membuat penglihatannya menjadi kabur.
Alleysa tidak dapat lagi berkata apa-apa.
"CUKUP JULY!!!!!!" Suara lantang yang tegas di tengah dentuman musik yang begitu keras mampu membuat semua mata tertuju pada Zayn.
*****