18. I Love You... Alleysa

1016 Kata
"CUKUP JULY!!!!!!" Suara lantang yang tegas di tengah dentuman musik yang begitu keras mampu membuat semua mata tertuju pada Zayn. July menoleh ke arah Zayn mengikuti langkah demi langkah yang terarah kepadanya. "Apa kau gila?!" Zayn membentak July dengan suara tangkasnya. "Yeah! Aku memang gila. Gila karenamu Zayn! Kau melupakan ku begitu saja karena wanita sial ini" July mendorong tubuh Alleysa hingga Alleysa mundur beberapa langkah kebelakang. "Don't touch her!!!" Suara dingin Zayn membuat July ketakutan. Ditengah keributan Zayn dan July, Allesya menangkap sesuatu di kepalanya. "Apakah Zayn dan July ada hubungan sebelumnya?" "Wait! Apa kalian punya hubungan?" Alleysa memberanikan dirinya untuk bersuara. "No!" Dengan cepat Zayn menjawabnya. "Yeah... Kami memang tidak mempunyai hubungan seperti Kau dan dia. Karena hubunganku sama Zayn lebih dari itu. Karena kami memuaskan satu sama lain. You know what i mean" July tersenyum sinis saat menyelesaikan kalimat terakhirnya. Alleysa menghela napas kasar. Alleysa marah. Alleysa tahu kalau Zayn memang sering melakukan s*x pada wanita lain. Dan Zayn juga mengakuinya kalau ia pernah melakukannya bersama July. Tapi apakah sampai sekarang Zayn masih melakukannya tanpa sepengetahuan Alleysa? "July... Stop!!! Kau sudah terlalu banyak berbicara!" Zayn sudah tidak dapat lagi menahan amarahnya. Zayn menyeret July keluar dari club meskipun July meronta ingin di lepaskan. Mata Alleysa berair. Carla menjadi khawatir. "Carl... Aku ingin pulang. Bukan ini yang ku cari malam ini disini" Carla mengusap punggung Alleysa. "Aku akan antar kalian" Hito mengajukan dirinya untuk mengantar Alleysa dan Carla pulang. Sebelum sampai di mobil Hito, Zayn menghalangi jalan Alleysa dan menghentikan langkah Carla dan juga Hito. "Al... Kau tidak percaya July, kan?" Zayn menggegam tangan Alleysa yang sedingin es. "Zayn, bisakah kita berbicara nanti saja? Aku lelah, Aku ingin pulang" Alleysa hanya menuduk. Ia tidak sanggup menatap mata Zayn. "Tidak! Aku harus berbicara padamu Sekarang Alleysa!" Sifat arogan Zayn kembali saat ia membentak Alleysa. "Kenapa kau selalu membentakku Zayn?! Kenapa Aku harus selalu mengikuti perkataanmu?! Aku selalu menghargaimu, tapi kau sama sekali tidak pernah menghargaiku, tidak pernah memikirkan perasaanku! Aku benci saat kau membentakku!" Luapan Alleysa memuncak saat Zayn lagi-lagi membentaknya. Alleysa menangis dan berlari ke dalam mobil Hito. Zayn terdiam. Ia sadar, ia selalu membentak dan bersikap kasar pada Alleysa yang saat ini sudah menjadi kekasihnya. Carla mengikuti Alleysa masuk kedalam mobil Hito. Hito terdiam ia tidak berani meninggalkan Zayn yang masih terpaku dengan ucapan Alleysa. "Hitoooo... Ayoooo!!!" Carla meneriakkinya dari dalam mobilnya. "Pergilah. Antar dia pulang" Ucapan Zayn seperti perintah bagi Hito. Hito menepuk pundak Zayn lalu meninggalkannya. ***** Beberapa hari ini mata Alleysa tampak sembab. Puluhan panggilan tak terjawab kini memenuhi layar ponselnya. 47 panggilan tak terjawab Sejak kejadian di Laluna 2 hari yang lalu, Zayn menelpon Alleysa tetapi tidak ia jawab. Alleysa masih tidak tahu harus berbuat apa. Harga dirinya dilukai oleh July. Alleysa bukan wanita yang seperti July katakan. Alleysa berbeda dengan wanita Zayn yang lain. Alleysa hanya melakukannya dengan orang yang ia cintai. Waktu yang berlalu begitu cepat, perlakuan lembut Zayn membuat Alleysa jatuh cinta padanya. Alleysa mencintai Zayn. Tapi ia menjadi ragu akibat ucapan July yang menganggapnya hanya sebagai pemuas nafsu Zayn. Karena Alleysa tahu kalau Zayn memang sering melakukan 's*x' dengan wanita lain. Ponsel Alleysa lagi-lagi berdering dan tentu saja itu adalah panggilan dari Zayn. Alleysa memeluk tubuhnya di atas ranjang dengan segukkan kecil dari mulutnya. Suara bunyi bel mengharuskan Alleysa membuka pintunya. Berjalan dengan pelan sambil menghapus air matanya dengan punggung telapak tangannya. Pintu terbuka Mata Alleysa membulat saat melihat Zayn yang berada di balik pintu rumahnya. Belum sempat Alleysa menutupnya, kaki Zayn menghalangi pintunya menutup. Dan berhasil! Zayn memajukan langkahnya hingga ia berhasil masuk kedalam rumah Alleysa. Alleysa meninggalkan Zayn dan berjalan menuju kamarnya di ikuti Zayn di belakangnya. "Ada apa kau kesini?" "Aku ingin bicara padamu Alleysa.. Please aku mohon" Pertama kalinya Zayn memohon kepada Alleysa. "Kau ingin bicara apa Zayn?" Alleysa duduk di atas ranjangnya dengan memeluk bantal berwarna merah muda miliknya. "Aku ingin kau tidak menjadikan perkataan July untuk menjauhiku. Kau tahu, kan? Aku sudah menceritakannya padamu dan kau juga sudah melihatnya bagaimana diriku sebelumnya. Yeah, yang dikatakann July memang ada benarnya tapi itu semua belum tentu benar Alleysa. Aku sudah tidak pernah lagi melakukan s*x dengan wanita lain selain dirimu" Zayn memegang tangan Alleysa dengan suaranya yang menjadi lembut. "Yeah! Tapi aku benci saat orang mengatakan kalau Aku sama dengan wanitamu yang lain, wanita yang hanya menjadi pemuas nafsumu Zayn" "Alleysa... Kau jangan terlalu membebani fikiranmu dengan perkataan orang lain. Mereka hanya melihatmu dari luar, mereka hanya menilai apa yang mereka lihat. Sulit untuk membuat orang lain menilai kita baik. Kita melakukan hal baikpun kadang masih salah dimata orang lain. Lakukan apa yang menurutmu baik untuk kau lakukan. Aku memang kacau Alleysa, Aku sudah muak dengan orang-orang yang selalu menilaiku. Jadi, Aku mohon tolong jangan pernah menghindariku hanya karena perkataan seseorang. Dan kau jangan pernah merendahkan dirimu. Aku benci saat orang merendahkanmu, tetapi aku lebih tidak suka kalau kau merendahkan dirimu sendiri. Kau istimewa Alleysa". Perkataan Zayn meluluhkan Alleysa. Zayn benar, Alleysa terlalu sering memikirkan perkataan orang lain tentang dirinya. Zayn menarik dagu Alleysa hingga kedua sepasang mata bertemu. Zayn memeluk Alleysa yang saat ini terlihat kacau dengan wajah bengkaknya. "Sulit untuk mengucapkannya, tapi Aku sangat mencintaimu Alleysa. Aku mohon, Kau percaya padaku" Bisikkan Zayn semakin membuat hati Alleysa tenang. "Aku memang bukan pria yang mudah mengutarakan isi hatiku, itu karena aku sudah terlalu lama menyendiri sejak kematian kedua orang tuaku. Aku menjadi arogan, posesive, kasar dan susah mengontrol emosiku. Aku minta maaf kalau Aku kadang membentak dan bersikap kasar padamu. Beberapa kali Aku coba menghilangkannya tetapi sulit Alleysa. Aku minta maaf, tapi Aku akan berusaha demi kau" Zayn mengutarakan semua yang ia rasakan selama ini. Zayn menyadarkan kepalanya kepundak Alleysa. Alleysa mengusap puncak kepala Zayn dengan penuh kasih sayang. Alleysa sadar banyak hal yang ia belum ketahui mengenai Zayn. Alleysa harus lebih mengenal sisi Zayn yang lainnya. Kedua pasang mata saling menatap dan melontarkan senyuman. "Tolong jangan pernah menghidari ku lagi Alleysa. Jangan pernah mengabaikan panggilanku" Zayn memohon. "Dan jangan pernah membentakku juga" Alleysa memasang wajah cemberutnya yang menggoda. Zayn menarik senyum di bibirnya dan mengusap puncak kepala Alleysa. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN