Patah Hati

1118 Kata
Prof Dhena Saat kami berjalan melalu koridor untuk kembali ke kelas tiba-tiba seseorang menegur kami. "Eh Kalian....!" Ucap seorang wanita. "Kami kak" aku dan pita mencoba menengok ke belakang, dan seorang wanita cantik blasteran sedang menatap kami dengan tajam. "Iya, lo tuli yah" bentak wanita itu yang berjalan mendekati kami yang masih mematung di tempat kami berdiri tadi. "Siapa nama Lo?" tanyanya dengan angkuh. "Dhena kak" aku berusaha sopan untuk menjawabnya. "Lo jangan suka kecentilan mondar-mandir koridor ini yah, semua siswi di sini ngak suka!" ngak suka, kak Clara doang kali yang ngak suka batin ku. "Eh.. iya kak, maaf" jawab ku pelan. "Dan loe Pita, kita ngak mau liat loe pake baju ketat kayak gitu, ngerti ngak kalian masih kelas X jadi kurang pantas Ngerti!" padahal kalau ku lihat pakaian kak Clara lebih kurang bahan lagi dari pada pita. "Iya kak ngerti" jawab pita lebih berani dari ku. "Dan satu hal lagi kalian jangan pernah lewat atau nonton tim basket atau volly kesayangan kami paham!" "Ba-" baru saja kami berdua akan menjawabnya tiba-tiba terdengar suara lantang dari arah belakang kami. "Hei kalian atas dasar apa ada peraturan seperti itu!" tegur pria dengan lantang. "Eh kak itu, em tadi kami cuma bercanda kok kak" ucap Clara sambil tersenyum. "Sekali lagi gw denger kelakuan kalian kayak gini, kalian akan berurusan sama guru BK/Kepala Sekolah kalo perlu" Ancam pria tersebut. "Ja-jangan kak" Clara dan teman nya pun bergegas meninggalkan kami. Baru saja kami tersadar dan menengok ke arah belakang untuk mengajarkan terima kasih, tapi pria tersebut sudah tidak terlihat bahkan bayangan nya pun tidak, dan kami berdua spontan berteriak. "HANTU....!!!!" **** Dhena mulai mencari tahu tentang kak Randy, pria yang sangat tertutup sepertinya sangatlah susah untuk dapat dekat dengannya, maka saat kak Leo mengajak Dhena untuk menjadi pacarnya dia dengan cepat mengiyakan ajakan itu dengan harapan Dhena bisa lebih dekat dengan kak Randy. "Eh loe denger ngak si Leo jadian sama adik kelas kita" ujar yusuf tiba-tiba. "Eh yang bener Lo, siapa-siapa Clara ?" tanya Beni penasaran, dan Randy masih diam saja diantara obrolan mereka. "Parah dia, yang cakep-cakep di embat semua, mana yang ini polos banget lagi " Randy mulai penasaran kali ini, dia menatap temannya Yusuf yang sedang berbicara. "Polos maksud Lo?" tanya beny. "Itu si dhena anak kelas X, dah cakep bening denger-denger ayahnya pejabat" Rasa nyeri tiba-tiba menghantam dadanya, Begitu sakit hingga Randy ingin berteriak, tapi pria itu tahan karena tidak mungkin bersikap seperti itu dihadapan teman-temannya. "Eh tuh orangnya nongol, kita pinta Pajak jadian bro" Beny dan Yusuf lalu melakukan TOS, sedang Randy menatap ke arah Leo dan Dhena yang datang menghampiri mereka. "Widhi kantin gratis nih bro?" ujar Yusuf. "Gampang, eh kenalin nih Dhena adik kelas kita" tukas Leo. "Gw Yusuf, ini Beny dan Randy" ujar Yusuf mengenalkan kami pada Dhena. "Dey, mereka semua teman satu klub volly ku sekaligus sahabat ku" Leo menambahkan. "Hai, saya Dhena" Dhena memperkenalkan dirinya dengan tersenyum. Sungguh senyum yang sangat menyakitkan untuk Randy. "Ayo kita ke kantin" ajak Leo pada mereka. "Ugh..ugh... Sorry nih, gw ngak bisa ikutan, nyokap gw tadi telpon minta gw buat balik cepat, ada urusan biasa emak-emak" ucap Randy, berusaha santai. "Yah ngak asik lo Ran, di undur aja kalo gitu" Beny meminta pendapat Leo. "Okeh, besok yah kita kumpul habis pulang latihan, kamu besok ngak ada acara kan Dena?" tanya Leo pada Dhena sambil menggenggam tangan nya. "Iya aku besok bisa kok kak" jawab Dhena dengan canggung dia bingung apa yang dilakukannya benar atau salah. Hari ini Randy memutuskan untuk ke perpustakaan pemerintah dan tidak langsung ke rumah, Dia memang berbohong tadi saat bilang ingin cepat pulang ke rumah. Disinilah tempat Randy mengeluarkan kesedihannya, mushola yang ada di gedung perpustakaan ini tempat yang damai untuknya berdoa pada Tuhannya. Lokasinya tidak cukup ramai dengan pengunjung sehingga Randy bisa bebas menangisi hidupnya sendiri. Randy tau sampai kapan pun dia tidak akan bisa dekat dengan Dhena, wanita pertama yang bisa menarik perhatian dan separuh hati nya. Dia juga tau jika dia jujur dan mengutarakan isi hati nya, Dhena juga pasti tidak kan mau menerima perasaan Randy, atau mungkin Randy akan kehilangan senyum manis Dhena untuk selamnya. Apalah Dia hanya seorang anak yatim dan hidup serba kekurangan, masa depan pun belum terlihat sama sekali, Aku dan Leo sangat lah berbeda, Leo dilahirkan dari keluarga berada ayahnya juga mempunyai perusahaan dan otomatis Leo akan mewarisinya tanpa harus berusaha keras seperti ku. Pantas Dhena tidak menolak cinta Leo, Aku tersenyum getir jika mengingat kejadian siang tadi. Setelah selesai sholat Randy kembali ke lantai bawah untuk sekedar membaca buku, tapi tanpa Randy sadari ada sepasang mata indah yang menatapnya dari kejauhan. Hari berikutnya masih dengan alasan yang sama Randy menolak ajakan Leo untuk mentraktir mereka. "Udah ngak usah nungguin gw, kalian jalan aja, jadwal gw padat" tukas Randy. "Sok sibuk Lo, satu kali aja Ran biar gw ngak hutang sama Lo" "Ya Udah gw telepon ibu gw dulu, kalo gw pulang telat, puas Lo yah alasan apa gw" Randy mengeluarkan benda pipih dari saku celananya. Sampailah mereka di sebuah Cafe di dekat tempat mereka latihan volly, tapi kali ini dhena belum terlihat batang hidungnya. "Eh Leo, Dhena jadi datang kan?" Tanya Beni. "Bilangnya sih gitu, pesan aja dulu nanti juga datang dia" jawab Leo sambil tersenyum. Saat makanan telah siap di hidangkan di meja, Dhena akhirnya datang, tanpa bisa Randy cegah hatinya membuncah seketika seulas senyuman muncul di bibir manisnya, di saat bersamaan Dhena juga menoleh ke pada Randy, tapi kali ini wajahnya terlihat sendu. Mereka mulai menyapanya tapi Dhena hanya diam dan duduk menuju bangku kosong yang sudah Leo siapkan di sampingnya. Pada saat makan mereka berbicara sambil di iringi canda tawa, mereka mulai mengenang awal pertemuan kami berempat dan bagaimana prestasi kami di sekolah. Dhena hanya mendengarkan dan kadang tersenyum kepada mereka tapi tidak ke arah Leo ada apa dengannya Dhena batin Randy. "Eh Ran ngak lo terima aja cintanya Ajeng, dah klepek-klepek tuh dia sama lo, tiap hari yang di tanya lo terus kalo ketemu kita Hahaaa" ucap yusuf tiba-tiba. "Randy mah mana doyan sama cewek kecentilan macam gitu, lah Clara yang cantik aja dia kasih Leo Ups sorry!" tukas Beny. "Kurang ajar loe Ben, Clara nya yang bilang udah ngak tertarik lagi sama Randy jadi gw pacari dia" tukas Leo "Udah ah kalian bahas apan sih, ngak baik ngomongin cewek di depan cewek orang" Randy yang merasa tak enak langsung memotong pembicaraan mereka. "Besok Turnamen kita terakhir kan kita harus fokus, jangan karena masalah wanita kita jadi ngak kompak, thanks yah Leo traktirannya semoga hubungan kalian langgen, sorry gw cabut duluan" ucap Randy yang berdiri dan meninggalkan mereka. "Woy Ran kok jadi lo yang ngambek sih, kita ikut tunggu Ran" Beny dan Yusuf langsung mengejar Randy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN