Cinta Monyet

1014 Kata
Prof Dhena Hari ini Pak Setu mengantarku ke sekolah, tapi karena dia mendapatkan telepon dari mama tiba-tiba di suruh balik kanan katanya Mama minta antar ke pertemuan ibu-ibu dan harus segera. Yah mau tidak mau aku menaiki kendara umum hari ini, aku yakin pasti penuh sesak di dalamnya, dan pasti bau aku sangat tidak menyukainya. Tapi apa boleh buat, jika aku naik ojek nanti siang aku tidak bisa makan di kantin, karena hari ini aku lupa membawa bekal. "Aarrrcchhh Mama Papa ku sangat tidak adil" aku mengumpat pelan, kak Dina dan Dilla di belikan kendaraan sendiri, sedangkan aku harus menaiki transportasi umum. Setelah lima menit menunggu aku melihat ada bus yang akan melintasi ke arah ku, aku berusaha menghentikannya dan naik ke dalamnya. Dan seperti dugaan ku busnya penuh dan sudah pasti tidak ada satu bangku pun yang kosong. Aku mulai risih saat beberapa pasang mata pria menatap ku seolah aku akan dimaksa oleh mereka. Tiba-tiba seseorang berdiri dan memberikan bangkunya pada ku, dengan senang hati aku menerimanya. Dan tau kah kalian jika pria itu cukup menarik perhatian ku, badanya tinggi besar dengan kulit coklatnya kesan pertamaku dia pria yang sangat manis saat dan sopan, semoga ini hari keberuntungan ku. Bahkan d**a ku bergemuruh, saat pandangan kami tak sengaja bertemu, tapi apa mungkin aku menyukai pria sederhana sepertinya, Saat aku turun dari bus, ternyata dia juga satu tujuan dengan ku, jantungku makin berpacu saat dia mensejajarkan langkahnya di sampingku. "Lain kali bawalah jaket untuk menutupi paha mu yang terbuka" tukas pria itu, Apa karena itu jadi semua pria melihat kearah ku, oh betapa malunya aku wajah ku pasti merah sekali saat ini, humf semoga saja dia tidak melihatnya, jika ada sumur aku ingin masuk kedalamnya untuk bersembunyi. "Kak Randy" Oh namanya Randy ucapku dalam hati. Iya aku mendengar beberapa wanita menegur namanya, ternyata pria ini banyak fansnya juga, dan aku sangat tidak suka saat dia tersenyum membalasnya, rasanya perutku mual. "Randy tangkap!" kali ini dapat ku dengar suara seorang pria berteriak bersamaan dengan sebuah bola voly yang melambung ke arah kami. "Humffh" Aku berhenti dan memejamkan mata sambil membuang nafas kasar ku, Saat aku membuka mataku pria itu menatap ku tajam, ah aku berusaha mengalihkan pandangan ku, aku hanya tidak mau jadi pusat perhatian banyak orang. Untung saja tangan Kak Randy tepat menangkap bola tersebut, kalau tidak habislah wajah ku. Kedua pria itu berdebat tapi aku tak mau ambil pusing dan memilih untuk meninggalkan mereka. Tapi belum juga jauh melangkah, salah satu dari mereka menghampiri ku. "Hai gw Leo, anak baru yah dari kelas berapa?" sudah salah tingkah saja, ku pikir Randy yang datang tapi pria tengil bernama Kak Leo dia mengulurkan tangannya dan mau tak mau aku membalasnya, bisa di bilang sombong satu sekolah kalau aku menolaknya, karena setau ku Kak Leo adalah ketua OSIS dan juga aktif di beberapa kegiatan sekolah, banyak wanita mengidolakannya tapi aku tidak!. "Iya kak, nama saya dhena dari kelas X-b" mau tak mau aku memperkenalkan diri, sikapnya ramah pada Leo. "Gw duduk di kala XII-a kalo ada apa-apa bisa cari gw, kebetulan gw sama sobat gw ini pengurus OSIS di sekolah ini" oh jadi kak Randy juga pengurus OSIS di sekolah ini. "Hi... Hello?" kak Leo melambai-lambaikan tangannya ke wajah ku. "Oh iya kak, semoga ngak ada apa-apa sama Dhena, kalau gitu saya permisi dulu kak, Assalamualaikum" Lebih baik aku segera pergi dari mereka. "Walaikum salam" jawab kedua pria itu bersamaan. Jam istirahat di mulai "Kenapa Lo Dey?" tanya Pita. "Ngak apa-apa cuma lagi gabut aja" Aku teringat semua kejadian pagi ini, sungguh yang sangat menyebalkan sekaligus mengesan kan bagi ku. "Dari pagi tadi kebanyakan bengong nya Lo, kenapa ada yang Lo taksir yah di sekolah ini" bisik Pita. "Lah, mana ada cowok selera gw di sekolah ini Pi-ta" aku terkekeh. "Awas Lo yah, kalo sampai gw denger Lo jadian sama-" pita mulai menaikan intonasinya. "Apa Dhena jadian?!" teriak Bayu, emang yah tuh cowok mulutnya kayak cewek! aku langsung menutupi kepala ku dengan buku. "Woy Dhena jadian woy" timbal Agung dan siswa lain pun mengerubungi meja ku. "Sama siapa Dey? Novi kali ini bertanya. "Ih Apaan sih Hoax tau ngak! percaya aja sama Pita" Mata ku melotot kearah pita dan pita si biang kerok hanya cengar cengir di sampingku. "Makanya kita tanya Dey" Bayu "Wah Liam pasti sakit hati lo, cie cie" Bayu menimpali ucapannya. "Berisik ih, sana-sana gw mau makan!" usir ku pada mereka. "Galak amet perawan!" Ucap Bayu ketus, hampir saja aku balas tapi Tedi menghampiri Bayu. "Udah ayo ah kita ke bawah ada pertandingan basket Sama volly hari ini" Agung menarik bahu Bayu. "Oh iya Kak Leo and the gank main dong Aaauuuww" teriak para teman wanita ku, bukan sekali dua kali aku melihat para gadis heboh jika Kak Leo, Randy and the gank beraksi. Aku makan ditemani Pita, yah walaupun aku sempat marah dengan nya karena peristiwa tadi tapi bagaimana pun aku tidak mau terbawa perasaan alias Baper. "Hmm ... Dey" Aku menengok ke sumber suara. "Iya Liam" Ketua kelas ku. "Ngak ke bawah ikutan nonton" tanya nya. "Ngak ah, kenapa?" jawabku. "Kirain ngefans sama salah satunya juga" tukas Liam. "Gw, idih! ngak deh Li makasih" dulu sih iya, tapi semenjak bertemu dengan kak Randy aku rasa aku ingin melihat dia bermain volly juga batin ku. "Dah selesai kan Pit, anterin gw ke perpustakaan yuk ngembaliin buku" ajak ku. "Okey bentar" jawab Pita. "Btw kita jalan dulu yah Li, ngak pengen ikut kan?" ajak Pita merasa tidak enak. karena dia tau aku tidak akan menawarkan pada Liam, karena aku merasa dia ada sedang mendekati ku, tapi aku belum siap untuk dekat dengan pria mana pun. "Ngak Pit, lain kali aja thanks" Lalu kami berdua pergi meninggalkan nya. Hiruk pikuk kami dengar suara penonton yang sedang menyaksikan pertandingan volly dan basket di lapangan bawah, perpustakaan memang terletak di lantai bawah, sebelah koridor ruang komputer dan ekskul lainnya. Aku mencoba melirik ke arah lapangan pertandingan, tapi tak aku temukan pria bernama Randy, bukan kan kata mereka kak Randy salah satu pemain volly tim sekolah lalu dimana dia, hati kecilku mulai bertanya apakah aku benar-benar menyukainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN