Prof Randy
Saat kejadian itu aku merasa malu akan diri ku sendiri, aku sedikit tertutup dan menjauh dari teman-teman ku, inginku bersikap seperti dulu seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi saat orang lain merendahkan ku dan membully ku dengan mengatakan aku adalah anak yatim, orang miskin, Bau dan kotor. Sedih rasanya mendengar hal itu, tapi apa yang bisa aku lakukan untuk merubah hal ini, tidak ada bukan! Jika aku berkeluh kesah dengan Ibu ku, pasti dia akan sangat sedih dan aku tak ingin itu terjadi.
Tapi kini aku telah dewasa dan cukup mengerti tentang keadaan yang terjadi di hidup ku, cukuplah aku yang mendengar dan merasakan kepahitan hidup ku ini.
Seperti biasa selesai aku membatu ibu di pasar, aku berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Uang yang aku hasilkan hari ini aku berikan ke ibu ku sebagian dan sebagian lagi aku simpan.
"Sudah pegang saja nak, nanti pulang sore lagi kan, uangnya buat beli makan untuk buka puasa nanti" Bukan kali pertama Ibu menolak pemberian ku, belakangan ini Ibu selalu menolak pemberian ku, dia berdalih kegiatan sekolah ku banyak jadi aku harus banyak makan yang bergizi.
"Baiklah bu, Randy berangkat dulu yah" aku tidak pernah menolak apa yang ibu katakan,emang uang ini aku terima tapi aku akan menyimpannya untuk acara karya sekolah nanti.
Kali ini aku menaiki bus untuk menuju ke sekolah, badan ku letih sekali jika aku paksakan berjalan kaki ke sekolah. Saat di dalam Bus aku tak sengaja melihat gadis cantik itu, tapi kali ini wajahnya cemberut sepertinya mobil yang di milikinya sedang dalam masalah. dan aku tercengang saat dia memberhentikan bus yang aku naiki, semua mata laki-laki melihat kearahnya, hati ku berdesir tidak terima hal itu, memang siapa aku? batin ku dalam hati.
Karena semua bangku sudah penuh aku memberikan tempat duduk ku ke padanya.
"Duduklah" Sapa ku, tanpa melihat wajahnya.
"Oh terima kasih" sedikit aku melirik, wajah malu-malunya membuat ku terpesona, sepertinya dia tidak mengenali diriku, tapi baguslah, dia akan jijik berada di dekat ku nanti jika sadar aku adalah kuli panggul pada saat itu.
Kami berdua hanya diam dalam Bus, dan kulihat dia memperhatikan ruas jalan sepanjang jalan, tidak ada kata yang bisa aku ucapkan untuknya. Sampai akhirnya bus kami berhenti di depan sekolah ku, tanpa aku sadari gadis ini mengikuti langkah ku dari belakang. 'Apakah gadis ini bersekolah di SMA ini juga' tanya ku dalam hati.
Aku melambatkan jalan ku hingga kami sejajar, tapi dia sama sekali tidak melihat ke arah ku.
"Kak Randy" beberapa wanita menegur nama ku, dan aku hanya tersenyum membalasnya.
"Randy tangkap!" Suara Leo yang pasti sangat kami hapal, kapten voly di sekolah kami dan juga ketua Osis dia berada dari keluarga terpandang dan perusahaan Ayahnya menjadi salah satu donatur tetap di sekolah kami. Satu buah bola melambung dan hampir saja mengenai gadis itu,jika tidak ku tangkap.
"Humffh" Gadis itu berhenti dan memejamkan matanya terdengar helaian nafas yang keluar dari mulut nya, aromanya terasa manis menerpa pipi ku, aku seperti terhipnotis kalau saja bola itu tidak terjatuh dari tangan ku.
"Lo apa-apaan sih Leo jangan bercanda! masih pagi kalo mau main" Ucapku sambil menatapnya, aku tau aku berhadapan dengan siapa tapi Leo tau tidak akan pernah cari masalah denganku.
"Weeitt sorry, ngak usah ngegas kali bro, btw siapa itu cewek cantik juga ade kelas baru kayaknya yah" aku mengikuti arah pandang Leo yang menatap gadis itu.
"Ngak tau, tanya aja sendiri" jawab ku berbohong, sejujurnya aku tidak mau Leo dekat dengan gadis itu, karena pasti akan jadi batu loncatan dalam diary percintaannya.
"Beneran ngak tau kalo gitu gw mo cari tau ah" Leo langsung berlari dari hadapan ku.
"b******k!" sambil mengumpat aku melempar bola basket itu sembarang arah.
"Hai gw Leo, anak baru yah dari kelas berapa?" Leo mengulurkan tangannya dan gadis itu membalasnya, sungguh pemandangan yang tak ingin ku lihat, dan kini aku berjalan di belakang Leo.
"Iya kak, nama saya dhena dari kelas X-b" gadis itu memperkenalkan diri, sikapnya ramah pada Leo.
"Gw duduk di kala XII-a kalo ada apa-apa bisa cari gw, kebetulan gw sama sobat gw ini pengurus OSIS di sekolah ini" ingin muntah rasanya aku mendengarnya terlalu Lebay.
"Oh iya kak, semoga ngak ada apa-apa sama Dhena, kalau gitu saya permisi dulu kak, Assalamualaikum"
"Walaikum salam" aku dan Leo menjawab bersama.
"Gila tuh cewek, dah bening, cakep sholehah pula" ucap Leo yang tak berkedip memandang kepergian dhena, membuat hati ku geram.
"Woiii... kedip bro, bisa kering tuh mata kalo melotot terus!" ucapku ketus lalu meninggalkan Leo yang masih berdiri pada tempatnya.
"Tunggu Ran, sewot banget Lo mentang-mentang yang duluan kenalan, tapi selama belum ada ikatan gw masih bisa sikut yah" Leo merangkul kan sebelah tangan ke pundak ku.
"Terserah Lo aja gw ngak mau ambil pusing" aku menepis tangannya dan berjalan semakin cepat meninggalkannya.
***
'Ternyata namanya dhena nama yang cantik seperti parasnya' gumam ku dalam hati saat pelajaran sekolah telah berlangsung.
"Randy bisa bantu bawakan buku ini ke ruang guru" wali kelas ku pak Yuniar memberikan perintah kepada ku, di kelas ini memang aku di tunjuk sebagai ketua kelas jadi wali kelas ku sudah terbiasa memberikan perintah kepada ku. Padahal hari ini sesi latihan untuk pertandingan antar sekolah yang akan di laksanakan sebentar lagi.
"I-iya Pak saya segera menyusul" jawab ku.
Saat telah selesai dari ruang guru aku ke toilet sebentar untuk berganti pakaian olahraga baru aku akan keluar dari pintu toilet aku mendengar percakapan beberapa anak wanita.
"Dan Lo jangan kecentilan yah, ngak boleh rambut Lo gerai kayak gitu, kalo ngak bawa kunciran gw punya karet gelang" Aku mendengar teriakan wanita yang sudah ku kenal jelas dari suaranya.
"Eh lo tuli yah" bentak Clara, satu sekolah juga tau bagaimana perilaku geng Clara.
"Eh iya kak saya ngerti" tapi yang membuat aku tidak percaya suara lawan bicaranya itu, bukan kah itu Suara Dhena.
"Dan satu hal lagi kalian jangan pernah lewat atau nonton tim Volly kesayangan kami paham" ucapan Clara yang dapat ku dengar jelas.
"Hei kalian! atas dasar apa ada peraturan seperti itu!" tukas ku mulai keluar dari tempat dimana aku berdiri.
"Eh kak itu, ehm- tadi kami cuma bercanda kok kak" Clara dan teman-temannya langsung tersenyum dan terlihat salah tingkah di hadapan ku.
"Sekali lagi gw denger kelakuan kalian kayak gini, kalian akan berurusan sama guru BK/Kepala Sekolah kalo perlu" Aku tak peduli betapa kaya nya keluarganya, jika memang itu salah aku tidak akan tinggal diam.
"Jangan-jangan Kak" ucap Clara.
"Iya Kak jangan please" teman wanitanya ikut memohon.
"Selesaikan baik-baik, tidak harus dengan cara intimidasi di sekolah ini" Aku mengatakan hal itu sambil berlalu menuruni tangga dan kembali ke ruang kelas ku.