Prov Randy
Sudah dua bulan ajaran baru tiba dan aku merasa waktu ku sangat sibuk akhir-akhir ini, dimulai dari adanya beberapa tambahan jam belajar sekolah, tugas sekolah yang selalu di berikan dan beberapa kegiatan yang aku ikuti di sekolah salah satunya pencak silat di mana aku menjadi ketua di organisasi tersebut, entahlah bagaimana aku bisa suka olahraga tersebut kata ibu saat aku kecil om Farhan tetangga kami yang bekerja sebagi security sering mengajari ku olah raga ini, jadi saat aku masuk SMA ekskul ini yang aku ikuti, walaupun belajar secara otodidak aku dengan cepat dapat menguasai beberapa metode dan teknik bela diri dan pelatihku percaya akan bakat dan kemauan yang aku miliki sehingga aku sering mewakili sekolah untuk lomba kejuaraan pencak silat dari antar sekolah hingga Provinsi, sehingga tim sekolah kami sering menyumbangkan mendali pada cabang olahraga ini, dari olah raga ini juga aku bisa sedikit menabung untuk biaya sekolah ku.
Di sekolah aku juga mengikuti ekskul volly dimana tim kami masuk ke kejuaraan antar sekolah. Karena kesibukan ku ini aku jadi merasa bersalah pada ibu, karena jarang membantunya bekerja di pasar. Kadang aku kasihan melihatnya jam 3 pagi sudah berangkat bekerja menjajakan beraneka ragam sayuran, Aku harap suatu saat nanti aku bisa menghasilkan uang yang halal untuk membahagiakan Ibu ku.
"Pulang sore lagi hari ini" tanya ibu sambil merapikan sayuran di lapak kecil yang kami sewa di pasar.
"Iya Bu, maafin Randy yah Bu" jawab ku merasa tak enak, karena sudah belakangan ini aku tidak membantunya saat libur.
"Kok ngomong gitu, nikmatilah masa akhir SMA mu sebentar lagi kan anak ibu lulus, Ibu masih kuat kok kalau gini aja kan sudah biasa" jawab ibu lembut seperti itulah ibu ku, tidak pernah mengeluh dalam keadaan apapun.
"Aminn doain Randy yah Bu" ucap ku sambil menggotong beberapa karung sayuran ke dalam sebuah truk langganan yang setiap seminggu membeli sayuran segar ibu ku.
"Kuat sekali kamu nak, makin besar saja otot-otot mu ini, beh kalah lah aku sebentar lagi" Ucap bang Togar supir truk itu dengan logat bataknya.
"Biasa hidup sulit bang, kalau ngak kuat bisa mati nanti" jawab ku asal.
"Nah cocok lah kau jadi tentara nanti" langkah ku terhenti sejenak mendengar ucapan dari bang Togar.
"Bu.. sudah selesai, Randy pamit yah bu" ucapku pada ibu
"Iya nak, hati-hati yah di jalan jangan lupa kasih kabar kalau ada apa-apa" tukas ibu.
"Iya Bu, Randy berangkat dulu Assalamualaikum" Randy lalu mengecup punggung tangan ibunya.
"Walaikumsalam" Ya Alloh mudahkanlah anak ku dalam menuntut ilmu, sehatkan lah badan ku dan lapangkan lah rezeki kami aku hanya ingin melihat anak ku sukses sebelum aku menghadap Mu.
"Huk.. huk.. hug" Ibu Tari batuk dan ketika dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, gumpalan darah kental keluar dari mulutnya.
"Ibu tidak tau sampai kapan Ibu bisa bertahan dan menyimpan rahasia ini, tapi Ibu hanya minta pada Tuhan semoga Ibu masih bisa melihat mu menjadi seseorang yang mandiri, bertanggung jawab dan bahagia" Ucap Ibu Tari lirih.
"Bah kau belum bilang rupanya tentang penyakit kau ini!" tegur Bang Togar yang melihat ke arah bu Tari.
"Ust! biarlah bang, Randy jangan sampai tau dulu, kasian nanti dia harus mengubur cita-citanya demi berobat saya, tabungan kami tidaklah banyak bang, randy masih panjang masa depannya" jawab Bu Tari.
"Tari-tari tidak bisa egois seperti itu, justru dia akan menyalahkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada mu, bicaralah baik-baik cari lah jalan keluarnya. Kau jangan terus membohonginya, justru nanti dia kan membencimu, coba kau pikirkan perkataan Abang" Bang togar berusaha menasehati bu Tari.
"Baiklah bang, sepertinya benar ucapan mu kali ini, nanti aku akan mencoba jujur padanya tapi tolong sebelum itu rahasiakan dulu yah bang, minimal sampai randy selesai ujian akhir" tukas Ibu Tari.
"Terserah mu sajalah tari, aku hanya ingin kau segera sembuh dan randy bisa jadi orang yang berguna tanpa ada penyesalan nanti" ucap bang Togar sambil berlalu meninggalkan bu Tari yang masih duduk termenung di tempatnya.
***
Seperti biasa aku berjalan kaki pagi ini menuju arah halte yang letaknya 1 km dari pasar tempat ibu berjualan.
Belum sampai ke sekolah keringat mulai membasahi tubuh ku, aku kadang malu untuk berdekatan dengan seseorang terlebih lagi teman lawan jenis ku, karena aku merasa selama ini orang enggan berdekatan terlalu lama dengan ku karena aroma yang tidak enak keluar dari tubuh ku. Walaupun aku sudah sering mandi tapi tetap saja tidak bisa banyak membantu, ingin membeli bedak anti bau badan, roll on atau pun minyak wangi tapi apa daya uang ku lebih baik aku belikan kebutuhan yang lebih penting.
Pagi ini cuaca tidak bersahabat, masih 2 kilo meter perjalananku menuju sekolah, tiba-tiba saja hujan jatuh dan mulai membasahi kami, aku ingin segera berteduh di sebuah ruko yang masih tertutup, tapi saat ingin menyebrang sebuah mobil silver berhenti di sebelah ku.
"Kak Randy ayo masuk kak, ke buru basah kuyup" ajak Clara dia membuka kaca mobilnya dan mengajak ku untuk ikut ke dalam mobilnya, aku hanya kenal namanya dia adik kelas ku di sekolah.
"Tidak usah, aku berteduh saja" jawab ku berusaha menolaknya secara halus.
"Ayo kak, jangan sungkan 15 menit lagi jam masuk sekolah" aku melirik arloji ku yang sudah usang, benar katanya dan yang lebih jengkel lagi ada tugas yang harus aku kumpulkan sebelum guruku datang. "Siit" Dengan berat hati aku menaiki mobil mewah itu.
"Maaf yah, baju saya sedikit basah" ucap ku merasa tidak enak.
"Ini kak tisu" Clara menyodorkan tisu dari dalam tasnya.
"Terima kasih" jawab ku.
Dan sampailah kami di sekolah, aku pergi terlebih dahulu untuk menyerahkan tugas ku, untung saja masih belum terlambat.
Saat berjalan menuju ruang kelas aku teringat Clara dia memang idola dikalangan para siswa di sekolah ku, tidak aku pungkiri parasnya memang cantik di tambah hatinya yang baik siapapun pasti akan jatuh hati padanya. Tapi seketika penilaian ku berubah saat aku mendengar sendiri apa yang dia bicarakan tentang ku kepada beberapa teman wanitanya.
"Yang bener Clara? bukannya dia cukup ganteng" suara teman wanita Clara.
"Iya Sueerr.... dia Bau banget, gw langsung suruh supir gw buat steam mobil, pokoknya ngak lagi-lagi deh gw nawarin dia naik" tersinggung mungkin iya, tapi Clara bukan orang pertama yang mengatakan itu. Hanya aku tidak suka jika harus mendengar dari belakang, lalu membicarakan tentang keburukan ku kepada orang lain dan sikap pura-pura baiknya membuatku jengah dan malas dengan gadis seperti itu.