Keputusan Gelano tetap membiarkan Meira belajar di tempat itu membuat Faris bimbang berhari-hari. Alhasil hari ini Faris menyempatkan diri untuk pergi menemui Meira sambil membawakan beberapa makanan dan minuman. Sampai di sana Faris melihat Meira sedang bermain bersama teman-temannya. Tidak, bukan bermain, lebih tepatnya didesak. Meira berada di tengah-tengah sementara anak-anak lain mengerumuninya.
Faris melongak-longok mencari-cari Lily, pengasuh Meira. Sudah dicari ke segala arah tetapi matanya tak menemukan tanda-tanda keberadaan Lily. Semakin didekati suara-suara hinaan itu semakin didengarnya. Di sana Meira menutup telinga, matanya berkaca-kaca.
“Meira anak haram, Meira anak haram, Meira anak haram!” Semua orang di sana menyoraki Meira. Mengejek Meira menggunakan kata ‘haram’ sebagai bahan utama ejekan.
“Eh tau gak? Katanya ibunya Mei itu kegatelan, godain Paman Gelano. Aku tetanggaan sama Meira. Kasian Paman Gelano, jadi harus tanggung jawab.”
“Enggak! Ibu Mei enggak kegatelan! Mama sama Daddy saling cinta, Mei bukan anak halam! Kalian itu jahat! Mei malah sama kalian!” teriak Meira sekencang mungkin. Kedua tangannya mengepal seiring lengkingan dari suara Meira. Berputar-putar, memandangi satu persatu temannya.
“Anak haram? Hahahaha.” Faris tertawa terbahak-bahak. Lucu dengan kata ‘haram’ yang dilontarkan anak-anak di sini. Orang tua mereka yang mengajari mereka berkata seperti itu, menghina orang lain. Namun, pepatah kembali membenarkan kalimatnya ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ yang mana, anak akan mengikuti kebiasaan orang tua; baik dan buruknya.
Anak-anak yang sedang berada di taman bermain spontan menoleh, termasuk Meira. Raut wajah bingung tercetak di wajah mereka, beberapa di antara mereka ketakutan. Berbeda dengan Meira, gadis itu diam saja.
“Anak sekecil ini tau apa itu anak haram? Belajar saja yang bener, Nak. Minta ibu kalian sekolah lagi,” sambung Faris.
“Duh, gatel. Pengen hajar, tapi kasian masih kecil,” batin Faris gemas. Lagi-lagi dia dihadapkan situasi mengenaskan seperti ini.
Faris menghardik orang tua anak-anak ini, terutama kepada mereka yang berani menyebarkan gosip. Ada asap berarti ada api, ada sebab ada akibat. Orang tuanya yang memercikkan api ke bensin. Ibarat, bensin itu anak mereka sendiri. Sudah begitu, api akan semakin besar. Lihatlah hasilnya sekarang? Gelano pasti akan marah besar mendengar berita ini. Dia sudah bilang pada Gelano untuk memindahkan Meira, tapi Gelano lebih memilih pendapat Meira daripada kesehatan mental anaknya sendiri. Meira itu pintar dan berbakat, tajamnya seperti pisau. Jika pisau dibiarkan begitu saja akan berkarat, namun jika terus diasah pisau itu akan semakin menajam. Ucapan-ucapan mereka bagai air hujan yang bisa membuat pisau itu berkarat.
“Kalian kan belajar nih, di sini. Kalian belajar agama; ngaji, sholat, puasa? Apa kalian mau capek-capek belajar eh masuk neraka karena udah fitnah temen kalian. Kalian mau ya masuk neraka?” tanya Faris mengangkat dagunya. Memandangi satu persatu wajah anak-anak di sini. Mereka semua menggeleng ragu. “Kamu mau Meira? Kamu mau masuk neraka karena kamu diem aja? Allah enggak suka sama orang yang lemah, mama kamu di surga juga enggak suka lihat putri kesayangannya Cuma bisa diem. Lawan mereka semua!”
Meira mendongkak menatap Faris takut-takut, tidak lama kemudian Meira menunduk kembali.
“Kalau kamu lawan kamu dapat dua kebaikan, sadarin mereka yang udah jahatin kamu dan buat mama kamu seneng di atas sana. Sekarang, di mana Lily?” Faris mempercayai Lily, karena dia yakin sekali Lily bisa menjaga Meira di sini. Dugaannya salah, entah kemana Lily sekarang sampai Meira dibully seperti ini saja Lily tidak ada di samping Meira. “Ayo Meira, kita pulang sekarang juga. Langsung ke kantor ayah kamu, Om enggak mau kamu ada di tempat ini lagi.” Diraihnya lengan Meira. Namun Meira berupaya melepaskan genggaman tangan Faris. Meira menggelengkan kepalanya lemah.
“Enggak, enggak mau. Mei mau tetep di sini, di sini kan ada Kak Lily. Kak Lily lagi ke kamal mandi bental, Om pulang aja ya? Mei enggak papa, jangan bilangin Daddy. Nanti Daddy malah sama Mei, oh iya Daddy juga lagi sibuk. Bental lagi Daddy mau nikah sama Tante Keyla,” tolak Meira. Mengetuk-ketukkan kedua jari telunjuknya.
Menikah?
Jadi Gelano melanjutkan rencana pernikahannya?
“Ayo kita duduk di sana sebentar. Om mau ngomong sama kamu,” tunjuk Faris langsung dibalas anggukan oleh Meira. Faris mengajak Meira ke kursi panjang di bawah pohon. Sampai di sana Faris mengangkat tubuh Meira, mendudukkan gadis itu di kursi panjang.
Keputusan Gelano menikah kembali sudah tepat. Meira masih sangat kecil dan membutuhkan sosok ibu sambung. Lagi pula Keyla adalah pilihan Permata, sudah pasti baik. Sekarang yang jadi pertanyaannya adalah, apakah Meira bisa menerima Keyla sebagai ibunya dan Keyla menerima Meira sebagai anaknya? Semuanya belum bisa Faris pastikan. Entah keputusan ini benar atau tidak. Hanya Meira yang dia pikirkan saat ini.
“Sayang, kamu setuju Tante Keyla jadi mama kamu?” tanya Faris pelan-pelan.
Gadis itu mengangguk dengan sangat semangat. Air mata di pipi gadis itu sudah mengering terembus angin. “Tadinya Daddy nolak, tapi pas Mei bujuk Daddy akhilnya Daddy mau juga.”
“Kamu dipaksa orang? Siapa? Kamu jangan paksain diri, kalau kamu belum siap punya ibu baru bilang dari sekarang.”
“Enggak, ini Mei sendiri yang bujuk. Enggak ada yang suruh-suruh. Mei emang enggak akan bisa gantiin posisi Mama Gresia di hati Mei, tapi Mei bisa posisiin Tante Key setelah Daddy,” jawab Meira berbohong. Banyak-banyak merapal dalam hati, meminta ampun karena telah membohongi banyak orang.
***
Ting!
Adrian❤️
: Nanti dandannya jangan cantik-cantik ya, Babe. Aku enggak mau mereka suka sama kamu.
Anda : Iya
Adrian❤️: Kamu lagi badmood ya? Mau aku telepon?
Anda : Bukan lagi badmood, tapi lagi sibuk. Udah ya, sampai jumpa nanti malam.
Keyla menutup layar handphone-nya, benda pipih itu ke dalam tasnya kembali. Sedikit drama berhasil mengelabui Permata. Dia berbohong pada Permata hanya untuk kabur. Fitting gaun pengantin sudah selesai, awalnya Permata ingin mengajaknya pergi ke toko perhiasan. Dari sinilah awal mula drama terjadi. Berpura-pura ada masalah di outlet agar bisa pergi.
Dalam hitungan hari lagi dia resmi menjadi istri dari Gelano Ardeno Aditchandra dan ibu tiri dari Meira Gessi Aditchandra. Alur hidup yang sudah susah payah dia rakit hancur berantakan. Sekilas dia melirik cincin yang melingkar di jari manisnya. Sebuah cincin pertunangannya dengan Gelano. Tangannya gemetar, melepas cincin itu dan mengganti cincin itu dengan cincin pemberian Adrian. Cincin berlian yang dibeli dari hasil keringat Adrian sendiri akan dia lepas sepenuhnya. Membayangkan Adrian akan menikah dengan orang lain saja membuat Keyla gila.
Keyla tidak kuat, suatu hari nanti Adrian akan menggandeng wanita lain. Aneh sekali, dia tidak ingin Adrian menikah dengan orang lain sementara dirinya akan menikah dengan orang lain. Memikirkan kemarahan Adrian saja membuatnya takut, apalagi melihatnya secara langsung.
“Mbak.”
“Mbak?”
“Mbak Keyla?” Nada panggilan itu semakin meninggi. Tubuh Keyla tercengang lantas segera menoleh ke sumber suara. Mendapati seorang wanita lebih muda darinya berdiri tepat di hadapannya sambil membawa selembar kertas.
“Oh, Meli? Ada apa? Maaf saya tadi bengong?”
“Ini laporan keuangan yang terjadi dalam beberapa hari, Mbak. Menurut saya lumayan, setiap harinya ada perkembangannya. Tadi saya dapat telepon, Mbak dari channel televisi swasta katanya mau datang ke sini buat review makanannya. Ini kan seluruh Indonesia nih, Mbak, apa kita kasih gratis Sempel makanan. Itung-itung ucapan terima kasih? Karena mereka datang tanpa diundang,” jelas Meli, penanggung jawab di outlet ini. Memberikan saran untuk perkembangan.
Berkat Adrian dan Permata dia bisa sampai dititik ini. Keduanya sama-sama penting dan dia tidak bisa memilih salah satu di antara mereka.
“Iya, nanti keluarin menu-menu istimewa aja. Kemungkinan besar saya tidak akan ada di sini, kamu urus semuanya ya? Nanti saya juga mau undang beberapa vloger ke sini,” jawab Keyla menyetujui ide dari Meli. Mengambil lembaran kertas itu, meneliti satu persatu pengeluaran dan pemasukan. “Okay, atur aja ya? Saya kan tinggal di kota ini, kemungkinan besar saya akan sering datang ke sini daripada outlet yang di Bogor.”
Meli mengangguk. “Ngomong-ngomong, Mbak. Maaf ya saya enggak sopan nih, emangnya betul Mbak beberapa hari lagi mau nikah?”
“Enggak, kata siapa kamu?” elak Keyla berpura-pura sibuk memperhatikan catatan berupa print out.
“Oh, enggak. Maaf Mbak kalau enggak bener. Saya Cuma denger-denger gosip, awalnya saya seneng denger kabar in—“
“Kembali kerja aja, Mel,” potong Keyla malas, menyodorkan lembaran kertas itu pada Meli. Wanita itu merasa sangat bersalah telah bertanya itu, mengambil kertas-kertas itu lalu pergi meninggalkan Keyla.
Kabar pernikahannya sudah sampai ke sini. Tidak lama lagi akan terdengar sampai ke telinga Adrian. Satu permohonannya, semoga Adrian tahu kabar ini setelah acara pernikahannya selesai.
Semoga.
***
Malam pun tiba, Keyla sudah tampil menggunakan dress pemberian dari Adrian. Dress simpel berwarna pink pastel. Terlihat soft dan sangat cocok dikenakan Keyla. Berikut high heels tak terlalu tinggi dengan warna sama seperti dress. Rambutnya tergerai indah, halus dan mengkilap saat terkena cahaya lampu. Di depan outlet, Keyla menunggu kedatangan Adrian. Dapat diperhatikan, para karyawannya kepo mengintip di jendela kaca. Keyla menoleh, beberapa di antara mereka bersembunyi. Satu yang ketahuan, seorang gadis remaja tersenyum sambil berpura-pura membersihkan jendela kaca.
Keyla berdecak sebal. Tidak lama mobil Adrian berhenti di hadapannya. Ketika kaca mobil turun, Keyla menghalangi Adrian. Dia yakin sekali para karyawannya kepo ingin tahu dengan siapa dia akan jalan malam ini. Tanpa ba-bi-bu, dia masuk ke dalam mobil. Begitu dia lihat sosok Adrian yang tampil memukau malam ini, mulutnya terbuka.
Ini kekasihnya? Mengapa begitu tampan?
Setelan jas berwarna abu-abu serta rambut klimis yang disisir rapi.
“Keyla, aku mau bicara sesuatu sama kamu. Penting,” kata Adrian seraya menarik pedal gasnya, melaju membelah jalanan kota.
Kening Keyla mengernyit. “Bi-bicara apa? Bicara aja? Kenapa muka kamu serius gitu?” tanya Keyla khawatir. Raut wajah Adrian tiba-tiba berubah menjadi serius.
Tunggu? Apakah Adrian sudah mengetahuinya? Mengetahui tentang pernikahannya dengan Gelano?
“Dan malam ini, aku tidak akan membiarkanmu lepas lagi.”
Oh Tuhan! Apa yang akan terjadi?!