Bab 33

1800 Kata
Sudah kali ketiga Adrian meneleponnya tapi tidak Keyla angkat. Pandangannya kosong memandang ke arah layar handphone yang berkedip-kedip. Air mata tak kunjung surut. Semakin Adrian gencar menelepon dan mengiriminya pesan, semakin pula air matanya mengalir deras. Suara isak ditahan dengan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Panggilan telepon berubah menjadi panggilan video. Tetap saja Keyla tak mengacuhkan panggilan itu. Diam, diam dan diam, hanya itu yang bisa Keyla lakukan saat ini. Mimpinya akan hancur sia-sia. Bayangan akan memiliki keluarga kecil, bermain-main di halaman belakang alias kebun itu sirna. Bayangan dia akan berbahagia bersama Adrian dan anak-anaknya kelak, hilang bak ditelan bumi. Apa salahnya? Dia hanya ingin berbahagia tetapi dia tidak bisa menentang keputusan Permata. Ini keputusannya sendiri. Dia yang sudah mengecewakan kedua belah pihak, pilihannya akan mengecewakan sebelah pihak. Hal memungkinkan adalah Adrian, orang yang akan Keyla kecewakan. Esok malam dia harus bertemu dengan Adrian dan menceritakan semuanya, tapi .... Adrian pasti akan menolak pernikahan ini. Pasti, dan pria itu akan sangat marah. Tangannya bergetar hebat, sambil memejamkan mata dia mematikan daya handphone-nya. Sesaat dia ingin menyentuh icon matikan daya, tiba-tiba dia teringat akan suatu kejadian. Saat itu dia ada di Bogor, handphone-nya tidak aktif tanpa tanggung-tanggung Adrian langsung menyusul ke Bogor. Sama seperti ini, Adrian akan datang ke rumahnya lalu terjadilah keributan besar. Tidak jadi. Dia tidak jadi mematikan daya. Jari telunjuknya menggeser icon hijau, menerima panggilan dari Adrian. “Halo! Sayang, kamu tidak apa-apa ‘kan? Aku teleponin kamu dari tadi, tapi enggak kamu angkat. Aku udah siap di mobil, mau ke rumah kamu padahal.” Dugaannya benar. Adrian nekat, bisa melakukan apa pun sesuai kehendaknya. Lihat saja sekarang, andai dia tidak mengangkat telepon lalu bagaimana nasibnya nanti? Sampai tahu, Adrian akan membuat keributan besar. Kemarahan dari rasa cemburu saja sudah menyeramkan apalagi kemarahan dia menikah dengan orang lain. Keyla tidak bisa dan mampu membayangkan bagaimana marahnya Adrian. Membunuh pun mungkin bisa. Ya Tuhan, berikan jalan petunjuk. Dirinya tak mampu melihat jalan mana, jalan yang terbaik untuknya. “Hai Adrian, maaf aku enggak lihat handphone. Aku lagi fokus nonton drama, nih sampe nangis sesenggukan,” dustanya. Padahal sedari awal dia memerhatikan handphone, bahkan berapa kali Adrian menelepon pun dia tahu karena dia hitung. Adrian mengembuskan nafas lega. “Syukurlah ya Tuhan. Aku sampai tidak bisa berpikir jernih, aku takut kamu kenapa-kenapa. Lain kali, simpan handphone di dekatmu. Aku kan sering khawatir, sering kangen, sering nething, kamu harus siap kapan pun aku telepon kecuali emang keadaan mendesak.” “Iya, Adrian. Maaf ya udah buat kamu khawatir. Kamu naik lagi aja ke apartemen. Di luar dingin banget, nanti kamu masuk angin. Kamu capek, abis pulang dari luar negeri, jangan sok kuat deh.” Dengan sangat terpaksa Keyla tertawa pelan. Sebuah tawa yang amat menyakitkan. “Kamu benar-benar enggak papa ‘kan? Jangan terus nonton drama yang sedih, aku enggak suka lihat kamu nangis apalagi sama drama. Soalnya aku enggak bisa hajar orang-orang yang ada di drama itu,” ujar Adrian serius, “sekarang tutup laptop. Sikat gigi, cuci kaki lalu tidur.” “Adrian! Aku bukan anak kecil lagi!” Kesal Keyla mendengkus kesal. “Diam kamu. Cepet, lakuin apa yang aku mau. Tapi jangan matiin sambungan teleponnya!” perintah Adrian. Di sana terdengar langkah kaki dan bunyi ‘klik’ pertanda Adrian sudah berada di apartemennya. Suara decitan pintu pun mulai mengiringi. Keyla menuruti perintah Adrian. Masuk ke kamar mandi lalu menggosok gigi, mencuci muka dan terakhir mencuci kaki. Handphone yang dia letakan di samping cermin dibawa kembali ke luar kamar mandi. “Udah?” “Iya udah, aku udah ada di kasur. Jadi apa yang akan kamu lakuin? Ngobrol-ngobrol sampai aku tidur atau mau ngedongeng kayak anak kecil? Oh, ngedongeng ya? Kamu kan suka banget nganggap aku anak kecil. Biar aja, biar kamu pacaran sama anak kecil ini. Nanti disangka p*****l bau tau rasa,” oceh Keyla, menarik selimut sampai ke d**a. Menjatuhkan kepalanya di bantal tebal. “Cuma aku yang anggap kamu anak kecil, Key. Orang-orang lihat kamu manusia super dewasa, bahkan sebelum dewasa kamu dianggap dewasa karena sifat kamu yang dewasa. Tapi, aku tetap anggap kamu anak kecil yang harus diperintah-perintah.” Seulas senyuman terukir di bibir Keyla. Berat sekali mengetahui bahwa dia akan meninggalkan Adrian, sangat-sangat berat. “Adrian, aku sayang kamu,” ucap Keyla, lepas begitu saja tanpa memikirkan jangka panjang. Dia berucap seperti itu sama saja semakin membuat Adrian berharap. “Aku tahu, Babe. Kamu sangat mencintaiku dan aku sangat mencintaimu. Oh ya, kamu sudah bilang ke mama kamu? Aku akan menyiapkan seserahan besok, dan aku tidak sabar bertemu dengan keluarga angkatmu.” Deg! “A-aku—“ gagap Keyla kebingungan sekaligus panik. Tangannya semakin bergetar. Bagaimana ini? Apa yang harus dia katakan pada Adrian? “Kenapa kamu gugup hm?” “Aku belum memberitahu karena kesempatannya belum tepat. Sekarang mood mama lagi anjlok banget, abis marah-marah jodohin Gelano sama wanita pilihannya malah Gelano nolak. Ini udah wanita keberapa.” Hening. Entah mengapa dia takut sekali. Takut Adrian akan mengetahui semuanya. “Jangan sampai kamu ikut dijodohin. Oh, Key, rasanya gila mikir kamu bakal direbut orang lain. Berkali-kali aku mimpi kamu bakal tinggalin aku, kamu enggak bakal lakuin itu kan sayang? Kamu tahu kan aku orangnya gimana?” Glek! Keyla meneguk ludahnya kasar. “Enggak kok, kamu mikir apa Adrian? Aku enggak bakal ninggalin kamu, dan aku juga enggak bakal dijodohin karena mama pernah bilang aku boleh pilih calon sendiri. Soal Gelano itu, umurnya sudah matang tapi belum niat menikah dan terang-terangan bilang tidak akan menikah,” lagi dan lagi Keyla berbohong demi keselamatannya. “Aku lega, Key. Mimpi buruk itu sungguh menyeramkan. Aku bahkan bisa mati terus-menerus diberi mimpi seperti itu.” “Kamu sabar aja ya, Adrian. Nanti aku kabarin kalau aku sudah siap bilang ke Mama. Aku tahu kamu orangnya sabar.” “Kata siapa? Aku orangnya enggak sabaran Keyla. Cepatlah beritahu mama kamu, aku ingin segera menikahimu dan berkeluarga denganmu. Kabari aku jika kamu memang kesulitan, aku akan langsung datang dan meminta izin sen—“ “Aku aja Adrian!” potong Keyla panik, “aku akan memberitahu Mama, pasti. Kamu jangan dahuluin aku, nanti Mama marah dan aku enggak bisa lihat Mama marah. Kamu tahu kan aku sesayang itu sama Mama. Please, jangan nekat.” “Okay, aku beri waktu kamu seminggu. Kalau seminggu kamu belum juga berani, aku sendiri yang nekat datang ke rumah kamu bawa.” Seminggu? Baiklah. Adrian akan tahu setelah dia menikah nanti. “Iya Adrian. Makasih waktunya, nanti aku Kasih kabar kamu secepat mungkin.” “Okay, aku tunggu ya? By the way, besok malam kamu jadi kan ya? Aku jemput kamu di rumah?” “Jemput aku di outlet baru. Aku mau sampai malam di sana.” “See you, and ... good night.” “Good night.” Tut! Keyla melempar handphone, melanjutkan aktivitas menangisnya. “Maaf, maafin aku Adrian. Maafin aku. Kamu orang baik dan aku orang jahat, sangat-sangat jahat! Aku kecewain kamu, maafin aku Adrian ... maafin aku!” Keyla menyeka air matanya. “Maafin aku ... maafin aku.” “Ya Tuhan aku tidak bisa melihat kekecewaan Adrian! Berikan petunjukmu!” “Berikan petunjukmu.” *** “Sayang! Hari ini kamu jangan ke outlet dulu ya, Mama mau ngajak kamu fitting baju juga. Enggak ada waktu lagi!” teriak Permata berjalan cepat menghampiri Keyla yang tengah bersiap menggunakan sepatu sneaker. Keyla mendongkak, menatap Permata. Alangkah terkejutnya Permata melihat wajah Keyla sembab. “Kamu, muka kamu? Kamu habis nangis? Kamu semaleman nangis Key? Kamu pasti enggak tidur ‘kan?” Permata duduk di sofa, di sebelah Keyla. Dengan wajah lesu Keyla tersenyum. “Aku semaleman nonton drama, Mah. Terus sedih banget.” Dua orang yang Keyla sayang dibohongi. Kehidupan bahagia Keyla akan terenggut. Sekarang? Fitting pakaian? “Duh, jangan dibiasain dong. Enggak boleh terlalu bawa perasaan apalagi nonton sampe begadang. Kamu kan sering capek, malam itu kamu fokus istirahat. Sekarang kamu jangan pergi ke outlet dulu, Mama mau aja kamu fitting baju. Beberapa hari lagi lho, Key. Beneran enggak ada waktu lagi,” ajak Permata sedikit mendesak. “Iya, Ma. Tapi aku enggak bisa lama-lama ya? Soalnya mau langsung ke outlet cabang sini.” Terpaksa, Keyla menyetujui. Sejak semalam mood Keyla hancur. Ketika seseorang dihadapi oleh kebahagiaan yang begitu meluap-luap lalu tiba-tiba secara mendadak berganti menjadi kesedihan, maka seseorang itu akan merasakan jatuh sampai ke beberapa bagian dalam bumi. Kecewa. Patah. Keyla tidak sanggup melihat Adrian malam ini. Melihat bagaimana Adrian tertawa bahagia menantikan pernikahannya. Kesedihannya pasti akan terlihat oleh Adrian. Bagaimana jika Adrian curiga? Ada sesuatu terjadi padanya dan berakhir mencari tahu penyebab kenapa Keyla bersedih? “Kamu masih mau ke outlet Key? Abis fitting kamu langsung pulang aja, istirahat. Nanti sakit lho. Sebentar lagi kamu akan menikah, hari bahagia kamu. Sekali seumur hidup.” “Key enggak sakit Ma, dan enggak akan sakit sampai hari-H nanti. Mama enggak usah khawatir. Kalau begitu, Ma, ayo kita berangkat. Semakin cepat semakin baik.” Bukan bahagia, tetapi hari kesialan untuknya dan juga untuk Adrian. *** “Kamu itu anak haram ya, Mei? Kata ibu aku kamu anak haram. Ih, jijik ada anak haram.” Meira yang sedang bermain bersama teman-temannya pun diam, begitu pun yang lainnya. Malah yang lainnya ikut menghindar, berlagak jijik. Seorang gadis bertubuh kurus dan paling tinggi di antara murid lainnya berbisik-bisik. Semua orang yang awalnya asyik bermain, tiba-tiba menjauh. Meira menggeleng tegas. “Enggak! Mei bukan anak halam! Mei punya mama, punya daddy. Memangnya apa salah Mei? Kenapa Ovi tuduh Mei kayak gitu?” “Kata bunda, bener kok. Meira emang anak haram. Mangkanya aku enggak dibolehin deket-deket sama Mei. Nanti katanya jadi sial. Ya Lina percaya aja,” timpal seseorang bernama Lina. “Yang bener Mei? Kamu anak haram?” “Ih, aku enggak mau temenan sama anak halam. Enggak boleh, kata Bu Gulu kalau halam itu halus dijauhin, kayak babi itu kan halam jadi enggak boleh dideketin.” “Liatin tuh, mau nangis.” “Meira anak haram, Meira anak haram, Meira anak haram!” Dan yang lainnya ikut menyoraki Meira. Meira menggelengkan kepalanya, berputar menatap satu persatu temannya yang sudah membuat lingkaran. Ditutup kedua telinga Meira. Menepis semua sorakan itu. “Eh tau gak? Katanya ibunya Mei itu kegatelan, godain Paman Gelano. Aku tetanggaan sama Meira. Kasian Paman Gelano, jadi harus tanggung jawab.” “Enggak! Ibu Mei enggak kegatelan! Mama sama Daddy saling cinta, Mei bukan anak halam! Kalian itu jahat! Mei malah sama kalian!” “Anak haram? Hahahaha.” Tiba-tiba seseorang pria dewasa tertawa terbahak-bahak. Anak-anak yang sedang berada di taman bermain spontan menoleh, termasuk Meira. “Anak sekecil ini tau apa itu anak haram? Belajar saja yang bener, Nak. Minta ibu kalian sekolah lagi.” “Duh, gatel. Pengen hajar, tapi kasian masih kecil,” batin pria itu gemas. Lagi-lagi dia dihadapkan situasi mengenaskan seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN