Bab 32

1610 Kata
Sudah ketahuan memakan cokelat, maka Meira wajib mendapatkan hukuman. Tanpa disuruh Gelano, gadis itu diam sambil menjewer kedua telinganya. Satu kakinya terangkat ke atas melakukan hal yang sama ketika dia mendapatkan hukuman dari almarhum ibunya dulu. Bekas cokelat tadi dia simpan di atas meja. Cokelat yang begitu lezat dan nikmat tadi, kini berhasil ada di genggaman tangan Gelano. Wajah Gelano murka. Namun pria itu tetap diam saja memandangi putrinya intens. Duduk di kursi sambil bersedekap d**a. Meira tidak menangis seperti anak-anak lainnya ketika makanan kesukaan direbut. Bukan Gelano yang menyuruh Meira mengangkat sebelah kakinya sedari menjewer telinga melainkan atas kemauan anak itu sendiri. Kebiasaan dari kota tempat tinggal Meira dulu. Gresia mungkin menghukum Meira dengan cara ini. Sisa cokelat itu Gelano genggam kuat sampai cokelat itu hancur di dalam genggaman Gelano. Bangkit lalu melempar sebatang cokelat itu ke dalam tong sampah. Tetap dalam keadaan menunduk Meira masih bisa melihat keadaan yang sedang terjadi. Dia tidak menyayangkan cokelat masuk secara sia-sia ke dalam tong sampah, tetapi dia sangat sedih melihat Gelano marah. Katanya memakan cokelat tidak baik bagi kesehatan gigi terutama bagi anak kecil. Meira mengerti itu, hanya saja rasa dari cokelat membuatnya kecanduan. “Dari siapa cokelat ini? Ini cokelat luar, dari siapa?” tanya Gelano berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan tinggi Meira. Diraihnya tangan Meira, menyuruh gadis itu berhenti melakukan hukuman. “Mei salah, jadi Mei halus dihukum.” Meira mengembalikan tangannya ke telinga, kembali menjewer telinganya sendiri. “Cukup Meira, Daddy enggak mau lihat kamu kayak gini. Turunin tangan dan kaki kamu, jawab pertanyaan Daddy sekarang. Dari mana cokelat itu?” henti Gelano, mengulangi pertanyaannya. “Co-cokelat,” gagap Meira, kepalanya masih menunduk. Dia tidak bisa memberitahu siapa yang memberinya cokelat. Namun di hadapan ayahnya Meira tidak bisa berbohong atau Gelano akan semakin marah, “Daddy maafin Mei, Mei yang salah. Mei yang maksa Tante Keyla buat kasih Mei cokelat. Daddy jangan malah sama Tante Keyla, malahin aja Mei. Mei yang salah, Mei mau kok dihukum Daddy. Hukuman apa aja, nanti Mei—“ Mulut Meira ditutup Gelano. Meira tampak sangat merasa bersalah. Cokelat adalah salah satu kesukaan Meira. Akan terasa sulit menghentikan Meira memakan cokelat. Diusap perlahan rambut Meira. “Sht, kamu jangan mau dihukum Daddy, Nak. Daddy itu pemarah. Kamu tahu ‘kan Daddy larang makan kamu cokelat karena apa?” Meira spontan mengangguk. “Iya, apa pun yang Daddy larang ke kamu pasti ada alasannya sayang. Kamu boleh makan cokelat, tapi sebulan sekali. Enggak boleh lebih. Karena cokelat itu bisa merusak gigi kamu. Kamu mau memangnya sakit gigi?” tanya Gelano dibalas gelengan cepat oleh Meira. “Maafin, Mei ya, Dad. Tapi Daddy enggak boleh malahin Tante Keyla ya? Tante Keyla udah baik banget, ngasih Mei cokelat nanti kalau Daddy malahin Mei. Tante Keyla marah sama Mei. Tante Keyla kan sebental lagi mau jadi anak Tante Mei,” mohon Meira. Menggenggam tangan Gelano, meski tidak bisa menggenggam seutuhnya. Hanya ¼ dari tangan Gelano. Ah, ibu .... Istri? Gelano akan memiliki istri? Demi Meira Gelano berani membuat keputusan seperti ini. Keyla adalah pilihan ibunya dan pilihan ibunya pasti yang terbaik. Namun bukankah wajar saja dia masih curiga. Seperti kisah di dongeng-dongeng, ibu dan anak tiri. Kisah yang sering dia baca dan tonton. Melihat itu menjadikan trauma tersendiri untuknya. Dia takut Keyla akan berlaku jahat pada Meira. Sesungguhnya ibu tiri tidak akan pernah bisa menggantikan ibu kandung. Justru ibu tiri bisa menjadi Monster. Menurut ibunya Keyla sangat baik dan sempurna, di balik itu Gelano menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Sikap Keyla seperti dibuat-buat. Haus akan simpati dan pujian, ya, Gelano melihat itu. Entah tebakannya salah, atau pendapat Permata tentang Keyla salah? Selama ini Gelano mengenal banyak jenis orang. Mudah tahu yang mana yang tulus atau sekadar topeng. Wanita seperti Keyla itu banyak dia temui. Ternyata kebaikan yang ditampilkan ke publik berbeda dengan sifat aslinya. “Iya, Daddy enggak akan ngomelin Tante Keyla. Sekarang kamu sikat gigi, terus tidur. Besok sekolah.” “Daddy!” teriak Meira kesal, “kok tidur! Mei kan mau hafalan dulu.” Meira marah, membuang muka tanda kesal. “Yaudah sayang. Kamu ke kamar mandi, sikat gigi lalu hafalan. Mau Daddy bantu Mei sikat gigi?” tawar Gelano dibalas gelengan oleh Meira. “Mei bisa sendili kok, Daddy. Mei kan anaknya mandili. Daddy tidul duluan aja, nanti abis apalan Mei langsung tidul. Janji!” Gadis itu mengacungkan jari kelingkingnya. Gelano mengulas senyum, mengikat jari kelingkingnya di jari kelingking Meira. “Beneran ya? Nanti Daddy ke sini lagi, periksa kamu udah tidur atau belum. Yaudah sayang, Daddy keluar dulu ya.” Gelano berdiri, mengecupkan bibirnya di kening Meira. Mengusap rambutnya perlahan lantas pergi meninggalkan Meira. Sebelum Gelano menutup pintu kamar, dia mengulas senyuman lebar. “Semangat belajar!” *** Keyla memandangi foto Adrian dan fotonya di handphone. Tersenyum bahagia memikirkan tak lama lagi hubungannya akan naik satu tingkat menjadi pernikahan. Menjadi suami seorang Adrian Permana dan—memiliki anak-anak manis. Sibuk mengkhayal sampai lupa diri. Tok. Tok. Tok! Pintu kamar terketuk, refleks Keyla menyimpan handphone-nya dan menoleh ke arah pintu. Menunggu suara dari luar pintu. Dia tidak tahu siapa yang mengetuk, entah maid, Permata atau Adrian. “Nak, ini Mama sayang. Kamu sudah tidur? Mama mau bicara sama kamu,” kata seseorang dari balik pintu. Senyumnya mengembang. “Iya, Ma. Masuk aja!” Setelah mendengar interupsi dari Keyla, Permata masuk ke dalam kamar Keyla. Menutup pintu secara hati-hati. Baru saja Keyla ingin menghampiri Permata. Membicarakan sekaligus meminta izin untuk pernikahannya dengan Adrian. Ternyata Permata mendahuluinya, datang sendiri ke kamarnya. Padahal Permata tidak perlu bersusah payah karena beliau bisa memintanya datang melalui pesan maid. Wanita paruh baya itu duduk di tepi kasur. Berdampingan dengan Keyla. Dia menatap Keyla dengan senyuman. Ketika matanya melirik ke arah tangan kiri Keyla, senyumannya surut. Keyla melirik tangannya, cincin Gelano dan cincin Adrian tidak ada di jemarinya. Sengaja dia menyimpannya, dia tidak ingin Permata salah paham. Keyla bangkit dari duduknya, mengambil cincin Gelano di kotak perhiasan lalu menyerahkannya pada Permata. Kerutan di kening Permata semakin terlihat. Tampaknya wanita paruh baya itu kebingungan. “Kenapa kamu mengembalikan cincin ini ke Mama, Key?” Bukankah seharusnya Permata mengerti? Mengapa Permata masih mengharapkan pernikahan ini? “Mama, hubungan ini sudah berakhir. Mama bisa cari calon istri terbaik pilihan Kak Gelano sendiri. Mama, Key enggak mau menikah dengan Kak Gelano karena terpaksa. Lagian Key ud—“ “Gelano menarik kembali segala ucapannya dan mau menikah dengan kamu, Key,” potong Permata cepat. Jdar! Menarik ucapannya? Gelano? Tidak-tidak! Keyla sudah memperburuk keadaan dan sudah memberikan banyak harapan pada Adrian. Sampai tahu pria itu akan sangat mengamuk, sangat-sangat. Matanya memanas ingin mengeluarkan cairan tapi dia tahan. Permata mengambil tangan kiri Keyla, memasang kembali cincin itu di jari manis. Senyuman lebar nan merekah terukir di wajah Permata. Sementara Keyla diam, bergeming memandangi cincin yang kembali dipasang di jari manisnya. “Pernikahan kalian tinggal beberapa hari lagi. Mama enggak ada waktu lagi buat persiapan kalian. Undangan akan disebar dalam satu hari. Besok kalian akan sibuk, menyiapkan ini dan itu, memilih WO, hm, fitting gaun? Ah banyak sekali yang mesti diurus,” kata Permata memijat kepalanya bingung sekaligus bahagia. Pernikahan anak-anaknya sebentar lagi, dalam hitungan hari Keyla resmi menjadi menantunya. “Kamu harus jaga kesehatan sayang. Nanti Mama suruh Gelano tinggal di apartemen, calon pengantin enggak boleh tinggal satu rumah dulu.” Mimpi? Ini mimpi? Kedua sudut bibir bawahnya dipaksa terangkat. “Sayang, Mama bahagia banget. Akhirnya Gelano berubah pikiran.” “Tidak! Aku ingin menikahi kekasihku bukan Gelano! Dasar wanita tua! Apa kau tidak bisa mengerti perasaanku?!” teriak Keyla di dalam hati, memaki di dalam hati. Namun dia sadar, semua ini adalah kesalahannya bukan kesalahan. Bukan kesalahan Permata. Di awal-awal Permata tidak memaksanya menikah dengan Gelano tapi dirinya sendiri yang mencemplungkan diri ke dalam masalah. Keyla tidak bisa apa-apa. Dia hanya bisa diam, diam dan diam. Menolak? Tidak, dia tidak bisa melakukan itu. Permata sangat berharap, tapi di sisi lain Adrian juga berharap. Bodohnya dia sudah membuat banyak harapan. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Bagaimana kondisi Adrian nanti saat tahu tunangannya menikahi orang lain? “Ma, Mama enggak paksa Kak Gelano ‘kan?” tanya Keyla ragu. Dia bisa menjadikan alasan ini untuk menolak, namun gelengan dari Permata menghancurkan harapannya. “Mama enggak paksa Gelano, malah tiba-tiba dia sendiri dateng ke Mama katanya dia siap menikahi kamu. Kamu tenang aja sayang, Gelano mengambil keputusan ini atas keinginan dia sendiri bukan keinginan Mama. Kalau begitu, Mama keluar dulu ya? Mama mau telepon pihak catering.” Permata bangkit dari duduknya, mengecup kening Keyla lalu keluar dari kamar Keyla. Perlahan, dengan langkah gontai Keyla berjalan ke pintu. Mengunci pintunya lalu menyandarkan punggung di pintu. Tes Air mata pertama jatuh mengaliri pipi kanan. Keyla menangis sambil menutup mulutnya sendiri, membiarkan kesesakan ditanggung dirinya sendiri. Ini murni kesalahannya, selalu ingin menjadi terbaik di depan semua orang terutama Permata. Tubuhnya melorot ke bawah. Memeluk lututnya sendiri, menangis terisak-isak di sana. Melampiaskan emosi ke dirinya sendiri, mulai jadi memukul-mukul d**a, menjambak rambut, menonjok lantai. Selintas bayangan Adrian muncul di benaknya. Pria yang bisa berkorban apa pun untuknya, menyayangi setulus hati, menjaganya, mendukungnya tapi dia malah mengecewakan. Ibarat seekor singa yang sedang tertidur, kala bangun maka habislah sudah. Bagaimana Adrian nanti? Hancur? Pasti, pria itu sangat hancur mendengar kabar ini. Maka itu dia tidak akan memberitahu soal ini sebelum dirinya resmi menikah dengan Gelano. Sungguh membayangkannya saja membuat dirinya meringis. Adrian sangat pemarah, pria itu bisa melakukan apapun ketika marah. Drtt ... Drrtt ... Drtt Handphone-nya berdering. Dia bangkit, melangkah pelan ke arah handphone yang terletak di atas kasur. Terlihat nama ‘Adrian❤️’ muncul di layar. Tubuhnya kembali ambruk ke bawah. Adrian? Bagaimana? Bagaimana ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN