“Lihat ini Keyla, ini sangat cantik untukmu. Aku pakaikan ya?” Izin Adrian seraya menunjuk kotak berisikan jam tangan mewah.
Keyla mengangguk cepat. Melepaskan jam tangannya lalu mengulurkan tangannya ke Adrian. Semestinya Keyla sudah pulang dari tadi tapi Adrian selalu menahannya, malah menunjukkan oleh-oleh yang dibeli Adrian dari Singapore. Sebuah jam tangan berwarna gold dengan desain simpel. Dipakaikan jam tangan cantik itu ke pergelangan tangan kiri Keyla. Jam tangan apa pun akan indah jika Keyla yang memakaikannya. Pria itu tersenyum puas melihat kecocokan jam tangan yang dia beli di tangan Keyla.
Beralih ke hal lainnya, Adrian mengambil sebuah dress berwarna merah maroon. Lagi dan lagi Keyla dibuat terkesima oleh pilihan Adrian. Semua pilihan Adrian sesuai dengan semua seleranya. Barang apa pun itu, Adrian selalu pandai memilih dan menerka kecocokannya. Dibanding dirinya sendiri, Adrian lebih pintar memilih barang terutama pakaian yang cocok untuk Keyla, high heels, plat shoes, warna lipstik, dan lain-lain. Tipe suami idaman semua wanita. Beruntung sekali Keyla memiliki kekasih seperti Adrian. Bukan untuk main-main saja, pria itu sudah menunjukkan keseriusannya sejak awal. Sosok pria gentle yang tidak mempermainkan wanita.
Belum pernah Keyla melihat Adrian selingkuh. Justru dia pernah menangkap basah wanita cantik bak model menggoda Adrian. Namun Adrian langsung membentaknya dan menyeret pergi wanita itu tanpa adanya rasa simpati. Keyla waktu itu tidak sengaja bertemu Adrian di cafe, awalnya dia mencurigai Adrian tapi saat sikapnya terhadap wanita lain seperti itu, dia langsung sadar. Di hadapan orang lain Adrian dingin, tak acuh, memikirkan diri sendiri, banyak bekerja daripada berbicara berbeda ketika di dekatnya seakan semua itu menjadi kebalikan. Adrian tak acuh pada orang lain, tapi acuh padanya. Senyum hangat Adrian seolah diperuntukkan hanya untuknya seorang.
Adrian membalikkan badan Keyla, menempelkan dress tadi ke punggung Keyla. “Good, cocok. Dress ini kamu pakai saat kita bertemu lagi ya. Mungkin besok malam atau lusa? Ah Key, besok malam. Di perusahaanku sedang ada acara. Ya, pesta kemenangan. Aku berhasil meyakinkan client. Di sana aku akan mengenalkanmu pada semua orang.” Adrian memegang bahu Keyla, menyuruh Keyla berbalik lagi—menghadapnya.
Berhasil meyakinkan client? Keyla terkikik, ucapan Adrian itu seperti hipnotis. Siapa pun akan terhipnotis termasuk para client. Di perusahaan mana pun Adrian akan dibutuhkan, karena skill Adrian dibutuhkan. Adrian pekerja keras, disiplin, menghargai waktu, tidak neko-neko, selalu bekerja terbaik, cekatan dan masih banyak lagi. Seperti katanya tadi, Adrian pandai menghipnotis orang untuk menyukainya. Keyla saja terhipnotis, sama saat ini cintanya untuk Adrian.
“Besok malam?”
“Ya besok malam. Kamu lagi enggak ada acara apa pun ‘kan? Aku harap kamu bisa Key, aku mau pamer ke semua orang kalau aku punya tunangan sehebat dan secantik kamu,” harap Adrian memuji Keyla.
Setiap kali mendengar pujian Adrian, Keyla langsung salah tingkah. Kerap dia bercermin, memperhatikan dirinya sendiri dari atas sampai bawah, atas lagi sampai bawah, melihat apakah benar dirinya secantik itu? Namun ternyata Keyla tidak secantik itu, Keyla wanita biasa-biasa saja. Pujian Adrian selalu berlebihan, menganggapnya seperti wanita paling cantik sedunia. Benar ternyata, di mata orang yang tepat kita akan dianggap cantik.
“Tapi aku enggak secantik itu, Adrian. Nanti teman kamu di sana mikir aku pelet kamu. Kamu wow tapi aku dih,” sanggah Keyla merasa tidak percaya diri. Tentu saja, disandingkan dengan Adrian akan terasa jomplang. Apalagi disandingkan dengan Gelano.
Adrian merangkul Keyla erat. “Insecure hm? Mangkanya kalau ngaca itu ngaca yang bener. Malah aku loh yang kelihatan minder, cewek sehebat kamu ternyata tunanganku.”
“Minder? Aku kadang lucu gitu dengernya. Kamu minder?”
“Kita sama Keyla. Tanpa kamu aku ini bukan siapa-siapa. Kamu udah temenin aku dari nol loh, saat kita masih jadi teman. Kamu jadi penyemangat aku setiap hari sampai aku bisa secinta ini sama kamu. Waktu itu kamu insecure-insecure-an. Kita sama-sama berjuang dari nol Key. Aku bangga sama kamu, dan kamu bangga sama aku. Kita sama-sama bangga dan bersyukur,” tutur Adrian menatap Keyla sambil tersenyum. Menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Keyla.
“Dulu aku pikir kamu itu pendiem, pelit senyum, jutek, selalu menyendiri ternyata kamu perhatian, murah senyum, penyayang, posesif, cemburu akut dan pemarah.”
“Except, orang lain Babe. Aku kayak gini ke kamu doang, ke orang lain ya kayak orang biasa walau enggak sekaku dulu,” sangkal Adrian. Selain pada Keyla sikapnya akan berubah seperti apa yang tadi diucapkan Keyla. To the point ketika bicara, tidak suka basa-basi, tidak ingin berbaur dengan orang asing.
“Iya! Pas sama aku, senyum kamu itu kayak barang obralan tapi aku suka sih. Aku tahu senyum kamu itu spesial untukku. Aku mencintaimu.” Dipeluk tubuh Adrian erat. Menghirup aroma parfum memabukkan di kemeja Adrian. Aroma parfum Adrian membuat Keyla enggan melepaskan pelukannya. Setelah menikah, dia bisa sepuasnya memeluk Adrian seperti ini. “Kamu pakai parfum apa, Adrian?”
“Seperti biasa, parfum yang kamu pilihin dulu. Aku sering membelinya karena aku tahu kamu suka aroma itu. Tapi Key, jangan dihirup gitu. Udah kecampur keringat,” jawab Adrian, menatap Keyla yang masih menempelkan wajahnya di d**a Adrian.
“Kok tambah wangi?”
Adrian terkekeh. “Aku ini cowok lho, Key. Lepasin jangan pancing-pancing nafsu aku, nanti kamu nyesel sendiri. Aku susah kendaliin diri.”
Spontan Keyla langsung melepaskan pelukannya. Membalikkan badan, merasa sangat malu sekaligus bodoh. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya berembus tak beraturan. Setelah keadaan membalik, dia membalikkan badannya kembali melihat Adrian yang sudah bersedekap d**a sambil menumpu badannya di kursi.
“Apa kita bercepat aja? Soalnya aku udah enggak sabar, Key?” saran Adrian dengan nada menggoda. Keyla menutup wajahnya sendiri, menutupi rasa malu. Wanita itu memeluk lengan Adrian. “Aku anter kamu pulang aja ya? Takutnya kelepasan. Sebentar, aku masukin semua oleh-oleh kamu dulu.”
Seharusnya Keyla tidak memeluk Adrian tadi. Sejujurnya dia masih ingin ada di sini dan mengobrol bersama, tapi dia tahu Adrian sangat lelah. Adrian mengambil paper bag paling besar. Memasukkan oleh-oleh yang Adrian beli khusus untuk Keyla. Mulai dari dress, kaos biasa, beberapa batang cokelat dan gantungan kunci perak.
“Ayo Key,” desak Adrian.
“Kamu ngusir aku?”
Adrian menghela nafasnya pasrah. “Kamu tidak boleh berpikiran kayak gitu Key. Tolong mengerti, oh maaf aku tidak bisa mengantarmu ke pulang, aku akan pesankan taks—“
“Aku mengerti, baiklah aku pulang dulu. Aku sendiri yang akan memesankan taksi. Bye!” Diambil paper bag itu lalu berlari keluar dari apartemen.
“Nanti malam aku jemput kamu!”
“Iya!”
“Jangan marah!”
“Iya Adrian see you!” teriak Keyla yang sudah tak terlihat lagi batang hidungnya, “nanti aku kabarin kapan kamu bisa bertemu mama!”
***
Keyla meloncat-loncat bak anak kecil kesenangan. Turun dari mobil taksi sampai masuk ke dalam rumah, Keyla bersenandung. Memandangi jam tangan pemberian Adrian. Tidak lama lagi, dia akan menjadi suami Adrian. Segala mimpi-mimpi akan segera terwujud. Mengingat ekspresi Adrian tadi membuatnya gemas sendiri. Dia paham maksud Adrian, maka dari itu dia langsung pergi.
Sampai tiba di rumah, Keyla melihat seorang wanita asing sedang bermain bersama Meira, anak Gelano. Bermain sambil belajar di ruang keluarga dipandu oleh wanita berhijab. Tawa Meira terdengar begitu menyenangkan di telinga Keyla. Sejenak dia menghampiri Meira. Duduk di sofa sambil memperhatikan mereka. Meira yang menyadari kehadiran Keyla pun langsung menoleh. Begitu juga dengan wanita itu yang tersenyum ramah ke arah Keyla.
“Tante Key? Tante Key abis pulang ya? Tante Key pasti capek, mau Mei buatin minum?” tawar Meira seraya bangkit dari duduknya.
Keyla menggeleng pelan. Diambilnya dua batang cokelat dan disodorkan ke arah Meira. Mata Meira langsung berbinar saat melihat cokelat. “Ini buat kamu.”
“I-ini buat Mei? Benelan Tante? Tapi nanti Mei diomelin sama daddy. Tapi kalau Tante Key maksa, Mei mau.” Gadis kecil itu menerima cokelat ragu-ragu. Melirik ke kanan dan ke kiri, takut tiba-tiba ada Gelano. Keyla mengulas senyum, lucu melihat tingkah Meira. “Makasih-makasih banyak! Mei boleh peluk Tante Key?”
“Iya, boleh.”
Meira bersorak kesenangan. Berhambur ke pelukan Keyla yang sengaja turun ke lantai memudahkan Meira memeluk Keyla.
“Tante makasih banyak ya. Mei sayang Tante Key.”
Hanya dengan dua batang cokelat Meira sudah luluh dan bilang kalau gadis itu menyayangi Keyla? Apakah semua anak kecil seperti ini? Kapan-kapan Keyla akan mengajak Meira berbelanja dan makan-makan bersama, karena Meira rencana pernikahannya dengan Gelano batal. Gadis kecil ini sudah menyelamatkan hubungan yang akan retak. Dia sangat-sangat berterima kasih pada Meira.
Dilepaskan pelukannya. Meira tersenyum begitu lebar menatap dua cokelat itu.
“Makannya ngumpet-ngumpet, nanti kamu ketahuan sama Daddy kamu. Tante enggak mau tanggung jawab ya kalau Daddy kamu marah,” ujar Keyla memberitahu. Akan sangat marah Gelano tahu dirinya yang memberi Meira cokelat.
Meira mengangguk. “Siap! Makasih Tante.”
“Kalau kamu Tante ajak makan-makan mau? Kita berdua? Mau enggak?”
Mata Meira semakin berbinar, anggukan cepat menunjukkan seberapa antusias Meira diajak olehnya. “Mau! Meira mau dan bisa kapan pun Tante ngajak.”
“Tante istirahat dulu ya. Kamu lanjut main aja.” Keyla beranjak dari duduknya, melenggang pergi menuju kamarnya.
***
Diam-diam Meira memakan cokelatnya. Gadis itu bersembunyi di kolong meja belajar. Lebih enak cokelat ini daripada cokelat yang biasa dia beli di warung-warung berwarna merah berukuran kecil atau cokelat berbentuk payung dan koin. Lebih enak cokelat ini daripada cokelat yang dibeli oleh Haris. Namun setiap cokelat yang dia makan memiliki tempat tersendiri di hatinya. Meira menyukai cokelat, entah itu cokelat batangan, cake cokelat, permen cokelat atau minuman rasa cokelat.
Setiap gigitan dikunyah baik-baik lalu ditelan, menikmati setiap kelezatan yang terkandung di cokelat ini.
“Ya Allah, enak banget.”
Ceklek!
Terdengar suara pintu terbuka. Sekelasnya Meira menyembunyikan sisa cokelat itu di kantung celananya.
“Meira?”
Meira tidak menyahut.
“Meira Gessi Aditchandra, Daddy tahu kamu makan cokelat. Keluar dari kolong meja sekarang sebelum Daddy marah!”
“Haduh!” Runtuk Meira menepuk keningnya sendiri. Habis sudah.