Bab 30

1676 Kata
Hari ini adalah hari kepulangan Adrian. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di Singapura, hari ini Adrian dikabarkan akan pulang ke Indonesia. Di tangan Keyla sudah penuh, kiri memegang bunga dan kanan memegang sebuah papan bertulis ‘Adrian Permana’ di bawah nama Adrian ada tulisan tiga kali lebih kecil dari tulisan nama ‘i miss you’. Keyla sangat merindukan sosok Adrian. Pelukan hangat serta senyuman indah yang berbeda dari senyuman lainnya. Adrian selalu mengistimewakan Keyla, di mana pun dan kapan pun itu. Berada di dekat Adrian membuat Keyla merasa damai sekaligus candu. Mimpi yang dia rakit bersama Adrian akan terwujud. Seorang pria jangkung berhenti di jarak beberapa meter. Matanya mengedar, mencari-cari sosok Keyla. Setelan jas berwarna abu-abu tua yang dipakai pria itu terlihat keren dan berwibawa. Keyla tetap diam, menunggu detik-detik pria itu menemukan namanya. Ketika mata pria itu bertemu dengan papan nama ‘Adrian Permana’ senyum di wajah pria itu terbit. Digeret koper menghampiri Keyla. Sampai tiba Adrian di hadapan Keyla. Melirik singkat tulisan kecil di bawah nama. Sudut bibir Adrian semakin tertarik ke atas. Kedua tangan Adrian menangkup wajah Keyla. “I miss you too, babe,” Adrian membalas tulisan yang dia baca di papan nama. Mata Keyla berkaca-kaca, berhambur ke pelukan Adrian. Pria itu membalas pelukan Keyla. “Kenapa kamu menangis? Apa yang membuatmu menangis? Katakanlah?” Dilepas pelukan Keyla. Menghapus air mata Keyla yang baru saja turun mengaliri pipi kekasihnya. “Aku hanya merindukanmu Adrian.” “Sebegitu kamu merindukanku?” tanya Adrian menggoda Keyla. “Sangat, sangat, sangat! Ayok pulang, pasti kamu capek banget. Oh, ini buat kamu.” Keyla menyerahkan sebuket bunga mawar merah ke Adrian sebagai tanda penyambutan kepulangan Adrian. “Thanks, Babe,” ucap Adrian seraya mengambil buket bunga mawar itu. Sembari menggeret koper, Adrian merangkul Keyla keluar dari bandara. Keyla mengarahkan Adrian ke mobil yang Keyla bawa. Tiba-tiba tangan Adrian terulur. Kening Keyla mengernyit bingung. Lewat tatapan Keyla bertanya, Adrian meminta apa? Sebelum Keyla sadar apa yang Adrian minta. Dia menyerahkan kunci mobilnya ke Adrian. “Kamu enggak capek Adrian? Kalau capek biar aku aja yang nyetir,” Keyla bertanya khawatir. Adrian sudah lelah bekerja di sana, dia ingin Adrian istirahat. Lihat saja wajah Adrian sudah pucat. Dibalur senyum pun masih sangat terlihat betapa lelahnya pria itu. Adrian menggeleng lalu menjawab, “tidak ada kata lelah untukku, sayang. Kemarikan kuncinya. Kita harus bergegas ke apartemen dan memberikan oleh-oleh untukmu.” Ragu, Keyla menyerahkan kunci mobilnya ke Adrian. Pria itu membuka bagasi, mengangkat koper besar ke dalam bagasi. Keyla masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Adrian. Keyla tidak sabar memberitahu kesiapannya tentang pernikahan mereka berdua. Rencana pernikahannya dengan Gelano sudah resmi batal total, tidak ada kemungkinan lagi dia menikah dengan Gelano. Fakta yang sebenarnya adalah dia akan menikah dengan Adrian. Selamanya, mewujudkan impian yang sedari dulu terancang. Dengan Adrian dia bisa melakukan apa pun. Mobil Keyla membelah ruas jalanan. Terlihat sepi hingga Adrian leluasa mengendarai mobil milik Keyla. Meski Adrian tidak setampan Gelano, tapi cintanya untuk Adrian lebih dari apa pun. Adrian mampu membuatnya bahagia. Jalan pikir Adrian tidak tertebak terutama soal rencana kejutan. Tidak hanya itu, masalah kelicikan Adrian selalu unggul. Beberapa menit dilalui setelah mereka berdua berbincang-bincang hangat, mobil Keyla masuk ke dalam basement apartment Adrian. Di lantai 20 apartemen Adrian berada. Adrian membawa kopernya, sementara Keyla membawa buket bunga mawar tadi dan rantang makanan. “Aku tebak kamu bawa makanan?” Oh, pertanyaan bodoh apa itu? Adrian jelas melihat Keyla membawa rantang makanan. Lagi tercium aroma masakan yang bisa membuat perut orang keroncongan. Keyla mengangkat rantangnya ke atas. “Ya pasti, ngapain aku bawa ini kalau enggak bawa makanan? Aneh banget kamu.” “Lama rasanya aku enggak makan masakan kamu. Kebetulan aku lagi lapar, udah feeling kamu bakal bawain makanan jadi di sana enggak makan dulu. Lagian aku mau cepet-cepet pulang dan ketemu kamu, oke ini lebay memang tapi begitu adanya,” balas Adrian diiringi suara tawa ringan. Namun tawa itu berakhir menjadi tawa hambar. “Aku sangat mencintaimu, Key.” “I know, aku juga sangat mencintaimu Adrian. Sangat,” balas Keyla, menggandeng lengan Adrian. Menyandarkan kepalanya di lengan kekar Adrian. “Cintaku lebih besar darimu Keyla,” bisik Adrian. Dibuka pintu apartemen menggunakan kartu akses berwarna gold. Sampai di dalam Keyla berdecak kagum melihat seisi apartemen Adrian. Ini sudah kali ketiga Keyla datang ke apartemen Adrian, tapi dia masih terkagum-kagum dengan detail dekorasi dan penempatan. Adrian mengajak Keyla ke meja makan. Menyimpan kopernya di sisi kursi, lalu duduk. Mirip seperti anak kecil yang meminta makan pada ibunya. Keyla berjalan ke pantry, mengambil piring dan sendok untuk Adrian. Di rumah Keyla memasak lontong, rendang dan sayur daun singkong. Rendang salah satu makanan kesukaan Adrian. Pria itu terdiam, melihat rantang di hadapannya yang sudah tersaji makanan lezat. Keyla memotong lontong, menyajikannya ke piring ditambah rendang dan sayur daun singkong. “Tada! Makanan kesukaan pacarku sudah siap! Ayo, cobain terus kasih review. Aku mau denger review dari kamu.” “1000/10,” ucap Adrian membuat Keyla melotot. Memukul pelan lengan Adrian kesal. “Kamu belum makan! Mana bisa review! Berarti bohong!” ketus Keyla marah. Adrian terkekeh, melihat Keyla marah. “Belum makan aja aku udah tau gimana rasanya. Aku makan, pasti rate-nya akan naik.” Diambil sendok dan garpu, memotong rendang menjadi bagian kecil-kecil lalu disatukan dengan potongan lontong. Adrian memakannya perlahan. Kepalanya mengangguk-angguk, wajah Adrian yang semula antusias sekarang berubah datar. Keyla ketar-ketir. Apa makanannya tidak enak? “Ke-kenapa muka kamu kayak gitu? Pasti enggak enak ya? Kalau enggak enak udah jangan dimakan,” henti Keyla, hendak mengambil piring Adrian tapi ditahan. Adrian menyendokkan lontong dan rendang ke mulut Keyla. Dikunyah perlahan. Tidak ada yang salah. Apa mulut Keyla sedang bermasalah mangkanya semua makanan terasa enak di mulutnya. “Gimana? Kamu udah ngerasain seenak apa makanan kamu? Enak aja main geser.” Kesal Adrian kembali memakan makanannya. Keyla tersipu malu, pipinya memanas. Begitu senang sekali Keyla melihat Adrian makan. Sendok dan garpu yang Adrian pegang diletakan di sisi piring. Bangkit dari duduknya, membuka jas dan rompi lalu meletakkannya di sandaran kursi. Dia duduk, mengambil sendok dan garpunya kembali. Keyla mengulas senyum. Menumpu wajah menggunakan sebelah tangannya, memandangi Adrian makan. Lengan kemeja putih Adrian mengganggu aktivitas makan. Terlihat Adrian kesal dengan kemejanya sendiri. Sigap, Keyla menggulung lengan kemeja Adrian. “Makasih, Key,” ucap Adrian, “ngomong-ngomong kenapa kamu enggak ikut makan? Aku suapin mau?” “Mau!” teriak Keyla dalam hati. Ingin dia mengatakan itu, tapi dia urungkan. “Enggak deh, aku udah makan di rumah. Kamu aja yang makan.” Dan berakhir, Keyla menolak. Keyla tidak berbohong, di rumah dia sudah sarapan bersama keluarga Gelano. Namun tidak bisa dipungkiri dia ingin makan dari suapan Adrian. Meski Keyla menolak, Adrian tetap menyuapi Keyla. Wanita itu melotot kaget. Keyla melihat Adrian tidak ingin ditolak. Pria itu ingin tetap menyuapi Keyla seperti ini, mau tidak mau Keyla menerima suapan itu dengan senang hati. Sekali menyuapi Keyla, sekali menyuapi dirinya sendiri. “Aku memimpikan segala hal bersamamu. Makan masakan buatan kamu setiap hari, melihat senyumanmu kapan pun aku mau, dan melakukan aktivitas menyenangkan. Aku ingin segera menikahimu, Key. Aku sudah memiliki segalanya, aku sudah membangun rumah impian, kebun impian, mobil impian untukmu, karier mapan dan saat menikah denganmu aku akan mendirikan perusahaan sendiri, membangun dan saling support. Aku menantikan itu, Keyla,” harap Adrian. Menghentikan aktivitas makannya karena perutnya sudah terisi penuh. Piring di hadapannya pun sudah kosong. Keyla mengusap punggung tangan Adrian. Semua mimpi itu akan segera terwujud, sebentar lagi semua mimpi-mimpi itu akan terwujud. “Aku siap Adrian, aku siap menikah denganmu,” kata Keyla pelan. Adrian menatap Keyla. “Sekali lagi? Ucapkan sekali lagi? Aku tidak mendengarnya Keyla?” desak Adrian menuntut. “Aku siap! Aku siap menikah denganmu Adrian! Aku siap mewujudkan semua mimpi-mimpiku dan juga mimpi-mimpimu karena mimpi kita sama!” teriak Keyla sekencang-kencangnya. Keduanya diam. Hening melanda mereka seketika. Dengungan AC yang semakin menghanyutkan suasana canggung mereka berdua. Derit kursi tiba-tiba terdengar, Adrian bangkit lalu menarik lengan Keyla ke dalam dekapannya. “Sekali lagi Key, sekali lagi. Aku masih tidak mendengarnya,” bisik Adrian. Nada suaranya melemah. Pria itu tampak kebingungan menunjukkan ekspresi bahagia. Keyla melepaskan pelukannya. “Adrian! Aku bilang, aku mau menikah denganmu. Adrian! Adrian! Adrian! Aku mau menikah denganmu!” teriak Keyla semakin keras. Namun baru wanita itu ingin membuka mulutnya lagi, Adrian langsung meraih tengkuk wanita itu lalu menciumnya. Impian yang selama ini Keyla rencanakan akan terwujud. Begitu juga dengan impian Adrian. “I love you, Babe. I love you. Aku berjanji aku akan selalu membahagiakanmu, sekarang dan nanti. Nona Keyla Flawati, kita akan menikah! Makasih banyak sayang, memberikan kabar baik hari ini.” Adrian mengambil tangan Keyla, memberikan kecupan bertubi-tubi di punggung tangan kekasihnya. “Jadi kapan aku bisa melamarmu Keyla? Kapan aku bisa datang ke rumahmu? Meminta restu calon mertua.” “Secepatnya. Nanti aku ngomong dulu sama Mama Permata, takutnya nanti kamu dateng tiba-tiba terus Mama kaget dan syok. Dia marah lagi sama aku, enggak bilang-bilang punya pacar tiba-tiba langsung dateng buat ngelamar.” “Uh, Key. Kenapa aku jadi berdebar gini? Padahal aku Cuma ketemu sama mama kamu. Menurut kamu Key, mama kamu bakal setuju punya menantu kayak aku?” Adrian bergerak gelisah. Menyisir rambut menggunakan jemarinya. Bagaimana bisa Adrian gugup? Seorang Adrian Permana gugup? Mustahil rasanya. “Kenapa kamu ragu gitu? Mama aku pasti terima. Kamu baik, kamu bisa bahagiain aku, kamu nyaris sempurna Adrian. Rasanya malah aku yang mider loh, Adrian. Kamu nikahin aku? Yang buk—“ “Bukan apa-apa? Katamu bukan apa-apa? Wanita mandiri punya usaha itu bukan apa-apa? Di mata aku kamu udah jadi yang terbaik, lebih dari terbaik,” sela Adrian. Wanita se-perfect Keyla minder? “Kamu selalu ngomong begini, Adrian. Udah, lupain, mending tunjukin itu oleh-olehnya.” “Kamu harus kabarin aku secepatnya, Keyla.” “Iya Adrian. Sekarang oleh-olehnya mana!” teriak Keyla kesal. Bukannya ditunjukkan, Adrian malah memeluk Keyla lagi. “Setelah menikah nanti aku janji tidak akan melepaskanmu,” bisik Adrian, “akan aku buat kamu tidak bisa berjalan di malam pertama.” “Adrian!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN