Bab 29

1620 Kata
Semalaman otak Gelano seperti berputar sampai kerjaan hari ini pun diambang kekacauan. Ingin berhenti sejenak dan menyuruh orang lain menghandle tapi dia tidak suka mengabaikan pekerjaan hanya masalah sepele. Di sandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil memejamkan mata. Tidak lama Gelano membuka matanya kembali, menatap ke langit-langit ruangan. Putrinya meminta agar dia menikah dengan Keyla. Tatapan memohon itu, bagaimana bisa Gelano tidak mengabulkan permintaan kecil Meira? Seketika ucapan-ucapan Permata terlintas. Mengatakan dia sangat egois karena tidak memikirkan Meira. Ternyata memang benar adanya. Dia amat sangat egois. Meira membutuhkan ibu sambung. Usianya masih cukup muda untuk kehilangan seorang ibu. Sepintar apa pun Gelano menjadi ayah sekaligus ibu bagi Meira, tapi hal yang sebenarnya terjadi adalah seorang ayah tidak bisa menjadi seorang ibu. Pintu ruangan lagi-lagi terbuka tanpa terketuk. Tubuh Gelano diposisikan kembali seperti sejak kala. Matanya langsung tertuju ke seorang wanita paruh baya berpakaian modern. Dress selutut berwarna merah maroon merekat di tubuhnya. Meski umurnya sudah tua, beliau tetap terlihat cantik. Permata masuk membawakan dua kotak bekal. Meletakkan dua kotak bekal itu di hadapan Gelano. “Ini buat kamu, Lan. Mama masak banyak, mimpi Mama searah mau ke butik jadi Mama mampir ke kantor kamu. Kalau gitu Mama langsung pulang ya?” jelas Permata, hendak berbalik tapi Gelano menahannya. “Ma, Lano mau ngomong sesuatu. Mama ada waktu?” Permata mengangguk. “Tentu sayang. Mama selalu punya waktu buat kamu. Kamu ngomong aja.” “Kita duduk di sofa, Ma. Mama mau minum apa? Biar Lano buatin Mama dulu?” tawar Gelano mengarahkan Permata untuk duduk di sofa. “Enggak perlu, Lan. Mama baru minum, kembung perut Mama kalau minum lagi,” tolak Permata sambil tertawa kecil. Duduk di sofa yang ada kantor Gelano. Menerka dalam hati apa yang akan katakan putranya kali ini. Dilihat dari raut wajah kebingungan Gelano, hal yang akan dibicarakan pasti sangat penting. Gelano duduk di samping Permata, menghadap serong agar bisa menatap Permata tanpa harus menoleh. “Begini Ma ...,” ucap Gelano menggantung. “Soal Meira?” “Iya soal Meira. Anak itu meminta seorang ibu, dan memintaku menikahi Keyla. Apa Mama yang menyuruh Meira melakukan ini?” lanjut Gelano menuduh dengan tenang. Bukan maksud Gelano menuduh Permata. Dia sangat mempercayai Pertama. Namun demikian, kali ini cukup memungkinkan Permata yang menyuruh Meira meminta ini. Wanita paruh baya itu menggeleng kuat. Kerutan di kening semakin berkerut, merasa tuduhan yang dilayangkan putranya tidak mendasar. Lantas segera menyangkalnya, “kenapa kamu bisa berpikir kayak gitu Lan? Mama emang sering ngobrol sama Meira, tapi Mama enggak pernah ngomongin soal pernikahan kamu sama Keyla. Walau Mama ingin pun Mama enggak akan minta sama Meira. Semua itu keputusan kamu, bukan Meira.” Benar, Permata tidak mungkin menyuruh apalagi memaksa putrinya. “Maaf Ma, Lano enggak bermaksud tuduh Mama sembarangan. Soalnya Meira minta itu ke Gelano, mendadak dan tiba-tiba. Jadi Ma, Lano enggak ada pilihan lain selain kabulin permintaan Meira. Sebenernya Lano ragu, hati Lano masih untuk Gresia jangan sampai Keyla yang menjadi sasarannya.” Kepala Gelano tertunduk sejenak, lalu beralih menatap Permata lagi. Sementara Permata tidak bisa berkata apa-apa. Berekspresi bahagia, matanya berkaca-kaca tak percaya. “Nak, cinta ada karena terbiasa. Lambat laun kamu juga bisa mencintai Keyla. Keyla itu wanita yang sangat baik, mudah Keyla menjatuhkan hati kamu. Keputusan kamu tidak salah, Nak. Ini juga demi kebaikan Meira. Meira butuh ibu,” balas Permata semakin meyakinkan keputusan Gelano. Permata tak mampu berkata-kata lagi, dia amat sangat bahagia. Dipeluk tubuh Gelano erat. “Makasih Lano, makasih banyak-banyak! Akhirnya pikiran kamu terbuka, Mama kayaknya harus berterima kasih ke Meira karena udah buka pikiran kamu. Dengan kamu enggak batalin pernikahan ini, kamu udah selamatin reputasi keluarga dan juga Keyla. Mama bangga sama kamu, Lan.” Permata melepaskan pelukannya. “Mama keputusan Lano sudah benar?” tanya Gelano linglung. “Benar sayang.” “Lano udah jadi ayah terbaik Meira?” Permata mengangguk yakin. “Kamu ayah terbaik Meira. Meira bangga punya ayah kayak kamu.” *** Lily adalah seorang anak pemilik panti asuhan Cahaya. Sifatnya ramah, sopan dan tegas. Lily juga bisa membolak-balikkan ucapan orang lain. Pandai bersilat lidah layaknya seorang pengacara hebat yang sedang memperjuangkan keadilan. Terdidik dengan baik sebagai wanita kuat nan tangguh. Lily mengenal Gelano karena Gelano adalah donatur terbesar panti asuhan milik orang tuanya. Keseharian Lily hanya bermain bersama anak-anak panti, mengajari anak-anak, memasak makanan untuk anak-anak. Saat Gelano meminta Lily menjadi asisten pribadi putri Gelano, tentu saja Lily senang begitu juga dengan Liana—ibunya. Jasa Gelano kepada panti ini sangatlah besar, tanpa dibayar pun Lily mau. Namun Gelano menawarkan pendapatan yang sangat memuaskan. Sekadar menjaga Meira dari pagi sampai sore, dalam sebulan dia bisa mendapat gaji lebih besar dari pekerja kantoran. Meira anak yang aktif dan periang. Akan sangat mudah menjaga dan mengawasinya. Awalnya Lily mengira menjaga anak Gelano akan sangat menyulitkan, lantaran Gelano memberikan penghasil yang sangat besar. Pikirnya putri Gelano nakal. Tidak masuk akal Gelano memberikan pendapatan besar andai kata putrinya sepintar, sebaik, sepenurut Meira Gessi Aditchandra. Di balik jendela kaca kelas, Lily memerhatikan Meira yang sedang bercerita di depan kelas. Sambil bercerita, Meira berekspresi sesuai apa yang diceritakan. Bibir Lily melengkung membentuk senyuman. Dia mendengar Meira sering di-bully, tapi ... bagaimana bisa? Bagaimana bisa gadis mungkin pintar itu dibully? Orang gilalah yang berani membully Meira. “Kamu siapanya Meira?” tanya seseorang membuat Lily membalikkan badannya. Tersenyum ramah seraya menunduk singkat sebagai salam sapa. Seorang wanita paruh baya berambut sebahu meneliti Lily dari bawah sampah atas. “Saya asisten Meira,” jawab Lily ramah. Wanita paruh baya itu masih memandangi Lily, dari atas sampai bawah, dari bawah sampai atas. Lily membiarkan wanita itu menilik dirinya. Terlihat sekali wanita itu sedang meremehkan dirinya. Meremehkan? Ingin Lily tertawa keras. Meremehkan? “Huh? Pasti anak itu ngadu ke Gelano. Dasar pengadu,” cela wanita paruh baya itu. Melipat kedua tangannya di d**a. Lagi-lagi wanita itu memandangnya dengan pandangan remeh. “Kamu kan cewek baik-baik, masih muda. Dia itu anak haram.” “Haram? Memangnya Ibu tidak mengaca? Bukannya Ibu pernah berselingkuh ya? Suami ibu tahun enggak kalau ibu pernah selingkuh?” Lily membalikkan ucapan sarkas. Berkat bantuan Haris yaitu teman Gelano, dia bisa mendapatkan informasi tentang beberapa orang yang sudah berkata tidak-tidak kepada Meira. Mencari keburukan orang itu, dan membalikkan ucapan agar ter-sekakmat. Wanita paruh baya itu terdiam. Raut wajahnya berubah menjadi panik. Semakin wanita itu menatap Lily, semakin pula wanita itu panik. Suara air liur ditelan terdengar sampai telinganya. Lily mengulas senyuman manis. “Sama aja ‘kan? Menurut agama selingkuh setelah menikah itu haram. Berani sekali Ibu mengatai anak Pak Gelano haram, memangnya Ibu siapa? Apakah Ibu di rumah tidak memiliki cermin? Boleh saya beritahu su—“ “Sialan!” maki wanita itu marah. “Seandainya anak Ibu yang dikatai seperti itu, apa Ibu diam saja? Tidak Bu, saya mendengar orang lain dikatai kata tersebut aja enggak terima apalagi Meira yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri? Ibu tidak tahu ‘kan? Pak Gelano bisa lakuin apa? Jangan seenaknya Ibu mengatai anak Pak Gelano, andai berani silakan bicara dengan Pak Gelano.” Wanita itu menahan malu. Pasalnya pembicaraan kali ini didengar oleh para wali murid yang sedang menunggu anaknya. Wanita itu menutup wajahnya, berlari pergi ke arah kamar mandi. Sementara Lily mengulas senyuman ramah, melempar senyum pada para wali murid. “Ibu Ria kenapa? Kamu apain Bu Ria sampai nangis begitu? Apa kamu tidak memiliki sopan santun, kamu wanita alim, berhijab, seharusnya kamu bisa menjaga sikap,” tegur salah satu wali murid. Mengenakan jilbab segi empat dengan ujung diikat ke belakang memperlihatkan gundukkan besar di d**a. Lagi, wanita itu melanjutkan ucapannya, “dan lagi, kamu tidak tahu apa-apa soal Meira. Betul kata Bu Ria, anak Pak Gelano itu hasil dari perbuatan dosa ya berarti hasilnya juga dosa, sebut aja haram.” Senyuman di wajah Lily tidak hilang. Segera dia membalas ucapan wanita itu, “lalu bagaimana dengan Ibu sendiri? Ibu juga berhijab tapi suka menghina orang lain? Menyebarkan gosip hoax? Hijab itu kewajiban seluruh wanita muslim mengenakannya. Kalau ada wanita berhijab tapi masih berbuat dosa itu salahkan orangnya bukan hijabnya. Soal Meira ... ah, coba bayangkan anak Ibu ada diposisi Meira? Gimana perasaan Ibu? Ibu kan sudah dewasa ya, seharusnya Ibu mengerti dong? Memangnya Ibu tidak pernah belajar agama ya?” Jika ada orang lain berujar buruk tentangnya, tentang keluarga, tentang orang yang dia cintai terutama tentang Meira, dia tidak akan segan-segan mengeluarkan kata-kata pedas. “Kamu berani mengajari orang tua?!” Nada wanita itu meninggi. Orang lain, berkerumun melihat apa yang sedang terjadi. “Kalau itu yang bisa membuat ibu mengerti dan paham, saya akan mengajari ilmu-ilmu bermanfaat. Ibu bisa belajar agama sama saya. Maaf Ibu, itu aurat Ibu terlihat,” balas Lily sopan. Tangannya terangkat, menunjuk pakaian tipis yang wanita itu gunakan. Lagi dia menunjuk celana, “ketat semua Bu. Lebih baik perbaiki diri sendiri dahulu, sebelum mencaci orang lain seakan hidup Ibu sudah benar saja.” Jleb! “Tahu Pak Gelano ‘kan ya? Orang hebat dia. Kemarin marah besar denger putri dan wanita yang dicintainya dibully. Untung enggak sampai bakar rumah kalian.” Setelah mengatakan itu, Lily masuk ke dalam ruang kelas. Berdiri di belakang sambil memperhatikan para murid yang sedang belajar. Diperhatikan wajah kesal wanita itu dari jauh. Emosi, marah dan kesal. Lily lagi-lagi tersenyum. Dia tidak emosi mengatakan semua itu. Dalam ketenangan mulutnya bekerja dengan baik. Sering kali orang lain mempermasalahkan soal hijab. Ada seorang terkena kasus, melihat berhijab pasti refleks ngomong— “Padahal berhijab kok bisa ya?” Padahal hijab itu tidak menunjukkan akhlak seseorang. Memakai hijab itu kewajiban seluruh wanita muslim. Namun orang-orang salah kaprah, menganggap dirinya masih belum baik karena itulah tidak berhijab. Akan tetapi, hal yang sebenarnya terjadi; hijab bukan untuk orang baik saja, hijab untuk seluruh wanita muslim dan wajib memakainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN